Sindrom Asperger adalah suatu kelainan perkembangan saraf yang berdampak pada perilaku, komunikasi, dan pola interaksi sosial seseorang.

Sebenarnya sindrom Asperger bukanlah kelainan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sekelompok kelainan yang dikenal sebagai Autism Spectrum Disorders (ASD) atau gangguan spektrum autisme.

Gejala sindrom Asperger pada umumnya baru tampak jelas ketika anak sudah memasuki usia sekolah, yaitu ketika anak sudah lebih banyak berinteraksi secara sosial. Beberapa gejala yang dapat muncul, di antaranya:

  • Ketidaktertarikan untuk bersosialisasi
  • Sulit untuk berteman
  • Tidak peka terhadap lingkungan secara sosial
  • Menghindari kontak mata
  • Sulit mengekspresikan perasaan atau pikiran
  • Sulit memahami komunikasi nonverbal
  • Melakukan gerakan repetitif yang khas, misalnya sering melambaikan tangan
  • Sensitif terhadap sentuhan, suara, bau, rasa, atau rangsangan visual
  • Memiliki ketertarikan, bahkan obsesif, terhadap suatu hal tertentu yang menjadi pusat perhatiannya

Penyebab sindrom Asperger belum diketahui secara pasti sampai saat ini. Namun sindrom Asperger dikaitkan dengan genetik karena dapat ditemukan menurun dalam keluarga.

Selain itu, sindrom Asperger juga dikaitkan dengan faktor infeksi dan paparan zat berbahaya ketika di dalam kandungan, serta masalah dalam kehamilan atau persalinan.

Diagnosis sindrom Asperger ditegakkan melalui wawancara dokter dengan pasien, observasi oleh tenaga ahli, serta wawancara dokter dengan keluarga pasien. Belum ada uji yang spesifik untuk mendiagnosis sindrom Asperger. Salah diagnosis seringkali terjadi.

Belum ada obat yang spesifik untuk mengobati sindrom Asperger. Obat diberikan sesuai masing-masing kasus dan digunakan untuk mengurangi gejala berupa perilaku yang mengganggu, seperti:

  • Guanfacine, olanzapine, naltrexone, untuk mengurangi hiperaktivitas
  • Risperidone, untuk mengurangi insomnia dan agitasi
  • Selective serotonin reuptake inhibitors, untuk mengurangi perilaku/gerakan repetitif
  • Aripiprazole, untuk mengurangi iritabilitas

Selain pengobatan, juga dibutuhkan terapi agar anak siap untuk terjun ke dalam masyarakat, seperti:

Karena penyebab yang belum diketahui, tidak ada tindakan pencegahan khusus untuk sindrom Asperger. Namun karena keterkaitannya dengan faktor genetik dan toksik dari lingkungan selama kehamilan, perlu diupayakan kehamilan yang sehat sejak dari pembuahan.

Segera berkonsultasi kepada dokter jika menemukan kecurigaan terhadap sindrom Asperger pada anak.

Siapkan beberapa pertanyaan dasar untuk ditanyakan kepada dokter, seperti:

  • Bagaimana tumbuh kembang anak saya?
  • Apakah anak saya memiliki sindrom Asperger?
  • Pemeriksaan apa saja yang harus dilakukan?
  • Pengobatan apa saja yang dapat membantu?
  • Terapi apa yang harus dilakukan?
  • Bagaimana saya bisa membantu anak saya?

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang mungkin diajukan dokter saat konsultasi:

  • Bagaimana perkembangan bicara anak?
  • Apakah anak terlambat berbicara?
  • Bagaimana interaksi sosial anak dengan orang lain?
  • Apakah anak kesulitan berteman di sekolah?
  • Bagaimana ekspresi muka anak ketika berbicara?
  • Apakah anak sering terlibat percakapan dengan orang lain?
  • Bagaimana sikap anak dalam menghadapi perubahan?

Medicinenet. https://www.medicinenet.com/asperger_syndrome/article.htm
Diakses 19 September 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/asperger-syndrome#treatment
Diakses 19 September 2019

WebMD. https://www.webmd.com/brain/autism/mental-health-aspergers-syndrome#1
Diakses 19 September 2019

Artikel Terkait