Sepsis adalah kondisi yang membahayakan nyawa. Gangguan medis ini disebabkan oleh respons tubuh terhadap infeksi.

Sistem imun berfungsi melindungi tubuh dari banyak penyakit dan infeksi. Sepsis terjadi ketika zat-zat kimia dalam sistem imun dilepaskan ke pembuluh darah untuk melawan infeksi, dan menyebabkan peradangan. 

Sepsis neonatorum adalah sepsis yang dialami oleh bayi baru lahir, di bawah usia 28 hari. Kemunculan gejala sepsis neonatorum umumnya dapat terlihat sebelum bayi berusia 72 jam.

Pada kasus yang berat, sepsis neonatorum dapat mengakibatkan syok septik. Kondisi ini membutuhkan pertolongan medis secepatnya.

Beberapa gejala sepsis neonatorum meliputi:

  • Perubahan suhu tubuh., misalnya demam di atas 38 derajat Celcius atau suhu tubuh di bawah 36 derajat Celcius.
  • Sesak napas.
  • Bayi menjadi kurang aktif.
  • Bayi malas menyusu.
  • Kejang.
  • Muntah.
  • Detak jantung yang lambat atau cepat.
  • Kulit dan bagian putih mata yang tampak kuning.
  • Diare atau konstipasi.
  • Kadar gula darah yang rendah.

Penyebab sepsis neonatorum adalah infeksi bakteri, khususnya bakteri streptococcus. Selain itu, bakteri-bakteri lain juga bisa memicu kondisi yang juga dikenal dengan istilah sepsis neonatal ini. Misalnya Escherichia coli (E. coli), dan Listeria.

Selain bakteri, virus herpes simplex (HSV) juga dapat menyebabkan infeksi berat pada bayi yang baru lahir. Hal ini dapat terjadi karena sang ibu yang baru terinfeksi. Bayi kemudian akan terinfeksi dari sang ibu pada sebelum dan saat melahirkan.

Beberapa faktor berikut ini dapat meningkatkan risiko bayi yang terinfeksi sepsis sebelum kelahiran:

Bayi yang menderita late onset (onset lambat) sepsis biasanya terinfeksi setelah dilahirkan. Risikonya bisa meningkat apabila bayi:

  • Diinfus dalam waktu yang lama.
  • Menjalani rawat inap di rumah sakit untuk waktu yang lama.

Jika dicurigai mengalami gejala sepsis neonatorum, dokter akan melakukan serangkaian tes untuk memastikan diagnosis sekaligus menentukan tingkat keparahan infeksi. Beberapa jenis pemeriksaan tes yang dilakukan sebagai proses diagnosis sepsis nenatorum meliputi:

  • Tes darah untuk mendeteksi adanya infeksi, gangguan pembekuan darah, fungsi ginjal dan hati yang tidak normal, dan ketidakseimbangan mineral (elektrolit).
  • Pemeriksaan untuk mengecek apakah ada penurunan jumlah oksigen atau tidak.
  • Rontgen.
  • CT scan.
  • USG.
  • MRI.

Pengobatan sepsis neonatorum adalah dengan memberikan antibiotik secepatnya. Berikut penjelasannya:

  • Bayi baru lahir yang memiliki risiko tinggi mengalami infeksi akan menerima infus antibiotik intravena meski tidak menunjukkan gejala apapun.
  • Bayi di bawah usia empat minggu yang mengalami demam atau gejala infeksi lainnya akan diberikan antibiotik intravena.
  • Apabila ditemukan bakteri dalam darah atau cairan tulang belakangnya, bayi akan menerima infus antibiotik selama tiga minggu. Namun durasi pengobatan dapat dipersingkat jika tidak terdapat bakteri.

Sementara pada dugaan sepsis yang disebabkan oleh infeksi virus herpes simplex, dokter akan memberikan obat antivirus seperti acyclovir

Apabila terlambat ditangani, sepsis neonatorum dapat memicu komplikasi berupa kecacatan hingga kematian.

Sebagai tindakan pencegahan sepsis neonatorum, Anda bisa menerapkan beberapa langkah di bawah ini:

  • Pemeriksaan kehamilan secara berkala dan sesuai anjuran dokter. Dengan ini, infeksi pada ibu hamil bisa terdeteksi dan ditangani dengan cepat.
  • Menjalani proses melahirkan di fasilitas kesehatan yang terjamin.
  • Proses kelahiran bayi harus dilakukan dalam waktu 12-24 jam setelah pecah ketuban.

Healthline. https://www.healthline.com/health/sepsis#newborns
Diakses pada 4 Oktober 2019

Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/007303.htm
Diakses pada 4 Oktober 2019

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/978352-overview
Diakses pada 4 Oktober 2019

Artikel Terkait