Kulit & Kelamin

Selulitis

Diterbitkan: 16 Nov 2020 | dr. Joni Indah SariDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Selulitis
Selulitis adalah infeksi selulit yang bisa menyebabkan radang kulit
Selulitis adalah infeksi pada kulit dan jaringan lunak di bawahnya. Kondisi ini termasuk sering ditemukan.Infeksi ini disebabkan oleh bakteri yang masuk dan menyebar ke dalam kulit. Akibatnya, muncul tanda-tanda peradangan, seperti pembengkakan, warna kemerahan, rasa nyeri, atau terasa hangat ketika disentuh.Selulitis tidak menular antarmanusia. Seseorang dapat terkena infeksi ini apabila ia mengalami cedera pada kulit (misalnya, goresan, sayatan, atau luka terbuka lain), lalu tidak membersihkannya dengan baik sehingga bakteri dapat tumbuh.Bila terlambat ditangani, infeksi dapat menyebar lewat kelenjar getah bening dan masuk ke aliran darah. Jika sudah menyebar ke seluruh tubuh, selulitis bisa memicu komplikasi yang berakibat fatal. 
Selulitis
Dokter spesialis Kulit, Bedah
GejalaNyeri, kulit merah, kulit membengkak
Faktor risikoCedera kulit, sistem imun rendah, riwayat penyakit kulit lain
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes darah, kultur darah
PengobatanObat-obatan, rawat inap, operasi
Obatdikloksasilin, amoksisilin, sefaleksin
KomplikasiGangren, amputasi, syok
Kapan harus ke dokter?kulit yang berwarna kemerahan, membengkak, terasa sakit
Secara umum, tanda dan gejala selulitis meliputi:
  • Nyeri pada daerah yang terinfeksi
  • Kulit memerah dan meradang
  • Ruam yang menyebar dengan cepat
  • Kulit yang membengkak
  • Kulit yang terasa hangat saat disentuh
  • Terdapat nanah
  • Demam
Mungkin saja ada tanda dan gejala selulitis yang tidak disebutkan. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan keluhan tertentu, konsultasikanlah dengan dokter. 
Penyebab utama selulitis adalah infeksi bakteri. Bakteri dapat memicu infeksi pada lapisan kulit yang lebih dalam melalui luka. Contohnya luka karena gigitan serangga, operasi, trauma, atau ulkus.Bakteri yang paling sering menyebabkan selulitis adalah Streptococcus dan Staphylococcus. Kondisi ini juga paling sering terjadi pada betis.

Faktor risiko selulitis

Terdapat sejumlah faktor yang bisa meningkatkan kemungkinan seseorang untuk mengalami selulitis. Faktor-faktor risiko ini meliputi:
  • Cedera pada kulit, seperti luka gores, patah tulang, luka bakar, atau luka sayat.
  • Sistem imun yang rendah, misalnya karena mengidap diabetes, kanker, HIV/AIDS, dan kondisi medis lainnya.
  • Kondisi kulit tertentu, seperti eksim, tinea pedis (athlete’s foot), dan cacar air.
  • Pembengkakan pada kaki yang kronis atau limfedema. Kondisi ini biasanya dapat terjadi setelah pembedahan.
  • Pernah mengalami selulitis.
  • Kegemukan atau obesitas.
Baca Juga: Tidaklah Sama, Pahami Perbedaan HIV dan AIDS Ini 
Diagnosis selulitis dapat dipastikan ketika dokter memeriksa bagian yang terinfeksi. Pemeriksaan ini bisa memperlihatkan pembengkakan, kemerahan, dan rasa hangat pada kulit. Demikain pula dengan kelenjar di sekitarnya yang membengkak.Dalam beberapa kasus, dokter juga bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang yang berupa:
  • Tes darah

Pemeriksaan darah bertujuan menilai kadar sel darah putih, laju endap darah, C-reactive protein, kreatinin, kreatinin fosfokinase, serta bikarbonat.
  • Kultur darah

Kultur darah dilakukan untuk mengetahui bakteri penyebab infeksi. Langkah ini biasanya diperlukan pada penderita selulitis yang berat, mengalami selulitis pada wajah (terutama di sekitar mata), pernah terpapar air yang terkontaminasi, dan mmeiliki sistem imun rendah.
  • Pencitraan

Pemeriksaan pencitraan meliputi USG, CT scan, dan MRI. USG dapat membantu mendeteksi abses (kantong nanah) yang belum terlihat oleh mata telanjang. Dengan ini, kondisinya dapat ditangani sedini mungkin.Bila terjadi necrotizing fascitis, pencitraan dengan teknologi lebih canggih mungkin dibutuhkan. Misalnya, CT scan dan MRI.
  • Biopsi

Pemeriksaan ini termasuk jarang dan hanya disarankan bagi penderita selulitis yang mengalami bula (lentung), diabetes, sistem kekebalan rendah, gigitan serangga, atau tidak merespons terhadap obat antibiotik. 
Cara mengobati selulitis umumnya akan tergantung pada tingkat keparahan penyakit dan seberapa lama pasien sudah mengalami kondisi tersebut. Secara umum, langkah penanganan dari dokter meliputi:

Obat-obatan

Pilihan obat yang digunakan untuk mengatasi selulitis bisa berupa:
  • Obat antibiotik minum

Obat antibiotik minum akan diresepkan oleh dokter untuk menangani selulitis derajat ringan, yakni tanpa luka basah atau abses. Contoh obatnya meliputi dikloksasilin, amoksisilin, atau sefaleksin.Namun sebagian dokter juga dapat memberikan antibiotik suntik terlebih dahulu lalu dilanjutkan dengan antibiotik minum.
  • Obat antibiotik suntik

Selulitis derajat berat memerlukan antibiotik suntik. Jenisnya meliputi sefazolin, sefuroksim, seftriakson, nafsilin, atau oksasilin.Penggunaan obat antibiotik harus sesuai dengan anjuran dokter. Jangan pernah berhenti atau mengurangi dosisnya tanpa konsultasi karena dapat memicu bakteri yang kebal terhadap antibiotik (resistansi antibiotik).

Rawat inap

Penderita selulitis dianjurkan untuk menjalani rawat inap di rumah sakit jika mengalami tekanan darah rendah dan atau hasil tes darah yang menunjukkan:
  • Peningkatan kadar kreatinin
  • Peningkatan kadar kreatinin fosfokinase
  • Kadar CRP >1,3 mg/dL
  • Kadar bikarbonat yang rendah
  • Peningkatan sel darah putih dengan dominansi neutrofil

Operasi

Operasi dianjurkan bagi penderita yang mengalami selulitis dengan kulit yang mengalami nekrosis (warna lebih gelap daripada kulit di sekitarnya), krepitus (suara berderak ketika selulitis ditekan), nyeri berat, atau memiliki risiko necrotizing fasciitis.

Perawatan lainnya

pasien juga dapat melakukan beberapa langkah penanganan di bawah ini untuk mempercepat penyembuhan dan mengurangi gejala:
  • Mengistirahatkan bagian yang terkena selulitis
  • Mengangkat area selulitis untuk mengurangi pembengkakan, misalnya mengangkat kaki di atas kursi ketika duduk
  • Mengonsumsi obat pereda nyeri, seperti paracetamol

Komplikasi selulitis

Bila tidak ditangani dengan benar, selulitis dapat menyebabkan komplikasi serius berupa:
Baca Juga: Hati-hati! Minum Obat Sembarangan Bisa Picu Resistensi Antibiotik 
Cara mencegah selulitis yang bisa dilakukan dengan:
  • Menjaga kebersihan kulit
  • Menggunakan sepatu dan kaus kaki yang pas
  • Tidak berjalan tanpa alas kaki di luar ruangan
 
Anda sebaiknya menghubungi dokter apabila mengalami kulit yang berwarna kemerahan, membengkak, dan terasa sakit. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait selulitis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis selulitis agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Healthline. https://www.healthline.com/health/cellulitis
diakses pada 30 November 2018.
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cellulitis/diagnosis-treatment/drc-20370766
diakses pada 30 November 2018.
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/cellulitis/#
diakses pada 30 November 2018.
WebMD. https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/guide/cellulitis#1
diakses pada 30 November 2018.
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Cacar Monyet: Memahami Perbedaan Monkeypox dengan Impetigo

Cacar monyet sempat menggemparkan Inggris. Cacar monyet monkeypox dan cacar monyet impetigo adalah dua penyakit yang berbeda. Cacar monyet monkeypox merupakan salah satu penyakit dengan virus yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia serta memiliki gejala yang hampir serupa dengan cacar.
02 May 2019|Anita Djie
Baca selengkapnya
Cacar monyet atau monkeypox dengan impetigo adalah penyakit yang berbeda

4 Jenis Infeksi Jamur Kulit Ringworm yang Bikin Gatal dan Tak Nyaman

Jamur menjadi salah satu mikroorganisme yang bisa menyerang kulit. Salah satu kelompok infeksi jamur kulit tersebut adalah ringworm. Bagaimana gejalanya?
16 Dec 2019|Arif Putra
Baca selengkapnya
Infeksi jamur kulit ringworm dapat menyerang kaki, area kelamin, kulit kepala, dan bagian tubuh lainnya

Punya Masalah Kutu Air di Kaki? Ini Cara Ampuh Mengatasinya

Memiliki kutu air di kaki bukan hanya memalukan, tapi bisa membuat Anda tersiksa karena rasanya yang gatal. Namun tenang, sebab Anda dapat mengatasinya dengan cara berikut ini.
10 Apr 2020|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
Kutu air di kaki bisa menyebabkan rasa gatal yang tak tertahankan