Penyakit Lainnya

Secondary Aldosteronism

Diterbitkan: 24 Dec 2019 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Secondary Aldosteronism
Aldosteronism adalah suatu kondisi kelainan hormon yang menyebabkan peningkatan tekanan darah. Kondisi ini terjadi ketika kelenjar adrenal menghasilkan terlalu banyak hormon bernama aldosteron. Ada dua tipe aldosteronism, yaitu primer dan sekunder. Primary aldosteronism disebabkan oleh gangguan pada kelenjar adrenal, sedangkan secondary aldosteronism terjadi karena penyebab lain di luar kelenjar adrenal tersebut.Hormon aldosteron memiliki fungsi penting, yaitu menjaga keseimbangan kadar natrium dan kalium dalam tubuh. Bila jumlah hormon ini berlebihan, akan terjadi ketidakseimbangan pada kedua mineral ini terganggu. Sebagai akibatnya, peningkatan volume darah dalam tubuh akan terjadi. Volume darah yang meningkat inilah yang bisa berujung pada tekanan darah meningkat.
Secondary Aldosteronism
Dokter spesialis Lainnya
Pada beberapa kasus secondary aldosteronism, hipertensi menjadi satu-satunya gejala. Pembengkakan juga dapat dikeluhkan oleh pasien.Beberapa gejala lain yang disebabkan oleh kadar kalium yang rendah meliputi:
  • Kelemahan tubuh
  • Sensasi mati rasa
  • Lumpuh sementara
  • Tetany, yakni kontraksi otot yang tidak disengaja
Pada secondary aldosteronism, kelenjar adrenal menghasilkan hormon aldosteron dalam jumlah yang berlebihan. Kondisi ini disebabkan oleh gangguan di luar kelenjar adrenal.Gangguan tersebut berkaitan dengan aliran darah ginjal yang menurun akibat beberapa hal di bawah ini:
Pada pasien dengan gejala secondary aldosteronism, dokter akan melakukan pemeriksaan kadar aldosteron dan renin dalam darah. Peningkatan kedua hormon ini akan ditemukan pada pasien dengan penyakit ini.Selain itu, beberapa pemeriksaan lain akan dilakukan untuk memastikan diagnosis dan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain. Pemeriksaan ini meliputi:
Penanganan secondary aldosteronism yang utama adalah mengatasi penyebab dari kondisi ini. Misalnya, obat jenis aldosterone antagonist untuk mengendalikan tekanan darah. Spironolactone dan eplerenone merupakan contoh obat aldosterone antagonist.
Upaya pencegahan yang bisa Anda lakukan adalah mengatasi efek negatif dari kadar aldosteron yang berlebih dalam tubuh. Berikut contohnya:
  • Mempertahankan pola makan yang sehat

Mengonsumsi makanan yang sehat dan seimbang sangat disarankan. Misalnya, memperbanyak asupan serat (seperti, buah, sayur, dan gandum utuh), serta membatasi konsumsi garam.
  • Berolahraga secara teratur

Olahraga yang konsisten selama 30 menit per hari bisa membantu Anda dalam menurunkan tekanan darah. Contohnya, berenang, berjalan kaki, jogging, dan banyak lagi.
  • Mengurangi konsumsi kafein dan alkohol

Kedua kandungan ini bisa meningkatkan tekanan darah, sekaligus menurunkan keefektifan sejumlah obat penurun darah.
  • Berhenti merokok

Tak hanya mempertinggi tekanan darah, merokok juga dapat memicu berbagai gangguan medis lainnya.
Segeralah berkonsultasi dengan dokter apabila Anda mengalami gejala secondary aldosteronism.
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait secondary aldosteronism?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Bila iya, apa saja pengobatan yang sudah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis secondary aldosteronism. Dengan ini, pengobatan bisa diberikan secara tepat.
MSD Manuals. https://www.msdmanuals.com/professional/endocrine-and-metabolic-disorders/adrenal-disorders/secondary-aldosteronism
Diakses pada 23 Desember 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/hyperaldosteronism
Diakses pada 23 Desember 2019
Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/000330.htm
Diakses pada 23 Desember 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Memahami Efek Samping Amlodipin, Obat untuk Atasi Hipertensi

Setiap obat memiliki risiko efek samping, termasuk amlodipin untuk tekanan darah tinggi. Efek samping amlodipin ada yang umum, namun ada pula yang serius.
23 Sep 2020|Arif Putra
Baca selengkapnya
Amlodipin memiliki berbagaimacam efek samping

Daging Kambing Menyebabkan Darah Tinggi, Cuma Mitos atau Fakta?

Melimpahnya daging kambing dan sapi usai Idul Adha membuat konsumsi kedua daging tersebut meningkat dalam masyarakat. Namun, ada mitos yang berkembang sejak dahulu yang menyatakan bahwa mengonsumsi daging kambing dapat menyebabkan darah tinggi.
29 Jul 2020|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
Daging kambing bukan pemicu darah tinggi, namun dapat menimbulkan efek termogenik atau panas dari metabolisme tubuh

Sistem Peredaran Darah dan Cara Kerjanya pada Tubuh Manusia

Sistem peredaran darah terdiri dari jantung dan pembuluh darah. Jantung akan memompa darah, sementara pembuluh darah akan mengalirkan darah dari dan ke jantung.
09 Oct 2019|Armita Rahardini
Baca selengkapnya
Sistem peredaran darah terdiri dari jantung dan pembuluh darah