Severe acute respiratory syndrome atau SARS adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh coronavirus. Penyakit ini merupakan jenis pneumonia (infeksi saluran pernapasan bawah) yang berbahaya, menular dan seringkali mematikan.

SARS pertama kali ditemukan di Cina pada November 2002. Dalam beberapa bulan, penyakit ini menyebar dengan cepat ke seluruh dunia melalui turis yang datang ke Cina maupun masyarakat Cina yang melancong ke luar negeri. 

SARS menjadi wabah yang menyebar hingga ke 26 negara pada awal tahun 2003. Tercatat ada sekitar 800 orang yang meninggal dunia karena penyakit ini.

Para petinggi organisasi kesehatan dari seluruh dunia pun bekerja sama untuk mengendalikan wabah SARS. Wabah ini akhirnya dapat terkendali dan dihentikan penyebarannya. Sejak tahun 2004, tidak ada lagi kasus baru SARS yang dilaporkan.

Hingga saat ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) terus memantau SARS di seluruh dunia. Apabila wabah SARS terulang, pengendalian akan dilakukan agar penyebaran penyakit ini dapat dibatasi seminimal mungkin.

Gejala SARS mirip seperti influenza, dan biasanya muncul 2 hingga 7 hari setelah infeksi virus. Akan tetapi, gejala ini juga bisa muncul hingga 10 hari setelah infeksi virus.

Secara umum, gejala SARS meliputi:

  • Demam tinggi
  • Rasa lelah
  • Sakit kepala
  • Menggigil
  • Nyeri otot
  • Nafsu makan hllang
  • Mencret atau diare

Setelah gejala-gejala di atas terjadi, infeksi virus akan mulai menyebar ke paru-paru serta saluran pernapasan, kemudian menyebabkan keluhan gangguan pernapasan berupa batuk kering dan kesulitan bernapas.

Kadar oksigen dalam darah penderita juga akan menurun drastis. Pada kasus yang parah, kondisi ini bahkan dapat menyebabkan kematian.

Penyebab SARS adalah Coronavirus. Virus ini dapat menyebar melalui partikel kecil yang terdapat di udara ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara. 

SARS juga dapat ditularkan melalui kontak dekat, misalnya ketika Anda merawat penderita atau tinggal serumah dengan penderita.

Infeksi virus ini juga dapat menyebar lewat benda-benda yang sudah terkontaminasi oleh virus. Misalnya, gagang pintu, telepon, atau tombol lift.

Menurut WHO, seseorang dapat dikatakan mengalami SARS apabila memenuhi keempat kriteria diagnosis di bawah ini:

  • Demam tinggi, setidaknya 38 derajat Celcius
  • Mengalami satu atau lebih gejala gangguan saluran pernapasan bawah, yaitu batuk, sulit bernapas, atau sesak napas
  • Hasil rontgen paru-paru membuktikan adanya pneumonia
  • Tidak ada kemungkinan penyakit lain yang dapat menjelaskan kondisi penderita

SARS merupakan penyakit langka dengan gejala yang menyerupai penyakit pernapasan lain, seperti influenza dan pneumonia. Dokter biasanya tidak mencurigai adanya penyakit ini kecuali dalam penderita baru saja bepergian atau berada di lingkungan dengan wabah SARS.

Apabila mencurigai pasien menderita SARS, dokter akan melakukan konfirmasi diagnosis dengan pemeriksaan penunjang berupa tes laboratorium, rontgen paru, atau CT scan.

Hingga saat ini, belum ditemukan pengobatan SARS secara spesifik. Namun penelitian mengenai vaksin SARS sedang dikembangkan.

Pasien yang dicurigai menderita penyakit ini harus dirawat di rumah sakit sesegera mungkin dan akan diisolasi dengan pengawasan ketat. Penanganan bagi pasien SARS yang dianggap paling penting adalah terapi suportif yang terdiri atas:

  • Mesin ventilator untuk mengalirkan oksigen dan membantu pernapasan
  • Pemberian obat antibiotik dan antivirus
  • Pemberian obat steroid dosis tinggi untuk mengurangi pembengkakan pada paru-paru

Ada beberapa upaya pencegahan SARS dapat Anda lakukan. Apa sajakah itu?

  • Hindari bepergian ke wilayah dengan wabah SARS.
  • Hindari kontak dekat dengan pasien SARS hingga kurang lebih 10 hari setelah gejala tidak lagi dirasakan oleh penderita.

Selain itu, Anda juga bisa menerapkan sederet cara mencegah penyebaran virus di bawah ini:

  • Mencuci tangan secara menyeluruh dengan sabun dan air bersih yang mengalir. Bila tidak tersedia, Anda bisa menggunakan hand sanitizer yang berbahan dasar alkohol.
  • Menutup mulut dan hidung ketika bersin atau batuk.
  • Jangan berbagi makanan serta minuman, atau saling meminjamkan alat makan.
  • Menggunakan desinfektan untuk membersihkan permukaan barang atau tempat tertentu yang sering disentuh oleh penghuni rumah.

Pada situasi tertentu, penggunaan sarung tangan, masker, dan kacamata pelindung untuk mencegah penularan SARS juga mungkin diperlukan.

SARS merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian. Apabila Anda mengalami gejala infeksi saluran pernapasan atau keluhan seperti influenza yang disertai demam setelah bepergian ke luar negeri, segeralah berkonsultasi dengan dokter.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat bepergian yang baru-baru ini Anda lakukan. 
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait SARS, yaitu riwayat bepergian ke negara lain?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?  
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis SARS. Dengan ini, pengobatan bisa diberikan secara tepat.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sars/symptoms-causes/syc-20351765
Diakses pada 23 Desember 2019

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/sars/
Diakses pada 23 Desember 2019

WebMD. https://www.webmd.com/lung/lung-what-is-sars#1
Diakses pada 23 Desember 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/7543.php
Diakses pada 23 Desember 2019

Medline Plus. https://www.medicalnewstoday.com/articles/7543.php
Diakses pada 23 Desember 2019

CDC. https://www.cdc.gov/sars/about/faq.html
Diakses pada 23 Desember 2019

Artikel Terkait