Infeksi

SARS

Diterbitkan: 18 Mar 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image SARS
Sejak tahun 2004, tidak ada lagi kasus baru SARS yang dilaporkan.
Severe acute respiratory syndrome (SARS) merupakan infeksi berat pada saluran pernapasan dan dapat bersifat fatal. Berbagai gejala yang muncul pada penyakit SARS sebagian besar disebabkan oleh virus, walaupun bisa saja disebabkan oleh bakteri.SARS yang bersifat sangat menular pertama kali ditemukan di Cina pada November 2002. Dalam beberapa bulan, penyakit ini menyebar dengan cepat ke seluruh dunia melalui turis yang datang ke Cina maupun masyarakat setempat yang melancong ke luar negeri. SARS menjadi wabah yang menyebar hingga ke 26 negara pada awal tahun 2003. Tercatat ada sekitar 8.098 kasus SARS yang terjadi dan 774 orang di antaranya meninggal dunia karena penyakit ini.Para petinggi organisasi kesehatan dari seluruh dunia pun bekerja sama untuk mengendalikan wabah SARS. Wabah ini akhirnya dapat terkendali dan dihentikan penyebarannya. Sejak tahun 2004, tidak ada lagi kasus baru SARS yang dilaporkan.Hingga saat ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) terus memantau SARS di seluruh dunia. Apabila wabah SARS terulang, pengendalian akan dilakukan agar penyebaran penyakit ini dapat dibatasi seminimal mungkin.Baca juga : MERS dan SARS, apakah sama dengan corona? 
SARS
Dokter spesialis Penyakit Dalam, Paru
GejalaGejala seperti flu, demam tinggi, sesak
Faktor risikoBerpergian ke daerah dengan SARS, kontak dengan penderita SARS
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, X-ray
PengobatanTerapi suportif, antivirus
Obatlopinavir-ritonavir
KomplikasiKematian
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami gejala SARS
Gejala awal SARS mirip seperti influenza, dan biasanya muncul 2-7 hari setelah infeksi virus, meliputi:
  • Demam tinggi (38 oC atau lebih)
  • Menggigil
  • Sakit kepala
  • Menggigil
  • Nyeri otot
  • Mencret atau diare
  • Mual
  • Muntah
  • Mudah lelah
  • Nafsu makan menurun
Namun, pada pasien SARS dengan kondisi imunitas yang menurun seperti penderita diabetes melitus atau gagal ginjal, gejala demam bisa tidak terjadi di minggu pertama. Setelah gejala-gejala awal, infeksi virus akan mulai menyebar ke paru-paru serta saluran pernapasan, kemudian menyebabkan keluhan gangguan pernapasan berupa:
  • Batuk kering
  • Sesak napas atau kesulitan bernapas
  • Kadar oksigen dalam darah menurun drastis.
Pada kasus yang parah, kondisi ini bahkan dapat menyebabkan kematian.
SARS merupakan penyakit yang awalnya berasal dari hewan, tapi menular pada manusia (zoonotik). Sebagian besar penyakit zoonotik berasal dari hewan liar. Salah satu strain atau jenis virus yang dikenal sebagai Coronavirus terkait SARS (SARS-CoV) yang menyerang mamalia, diduga kuat menjadi penyebab terjadinya penyakit ini.Coronavirus umumnya menyebabkan penyakit saluran pernapasan atas dengan gejala ringan hingga sedang pada manusia, tetapi dapat menyebabkan penyakit pernapasan, pencernaan, hati, dan neurologis pada hewan. Meski begitu, ketika menularkan virus pada manusia, hewan yang terinfeksi dapat terlihat sehat dan tidak menunjukkan gejala. Virus ini dapat menyebar melalui partikel kecil yang terdapat di udara ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara. SARS juga dapat ditularkan melalui kontak dekat, misalnya ketika Anda merawat penderita atau tinggal serumah dengan penderita.Infeksi virus ini juga dapat menyebar lewat benda-benda yang sudah terkontaminasi oleh virus. Misalnya, gagang pintu, telepon, atau tombol lift. Bahkan di beberapa kasus, penularan terjadi apabila seseorang terpapar kotoran dari penderita dan tidak mencuci tangan dengan benar.Ketika virus menyerang manusia untuk pertama kali, manusia belum memiliki pertahanan tubuh terhadap virus tersebut. Hal ini menyebabkan munculnya gejala SARS. Kemudian, tubuh secara alami akan membentuk antibodi untuk melawan virus. Wabah akan terhenti ketika manusia sudah memiliki antibodi terhadap virus dan vaksin telah ditemukan.Walau demikian, virus dapat berubah dan berkembang menjadi strain yang lain. Pada tahun 2019, ditemukan SARS akibat virus corona tipe terbaru yang disebut SARS-CoV-2. Virus ini pertama kali ditemukan di Cina dan menyebabkan pandemi Covid-19. Meski begitu, SARS dan Covid-19 adalah dua kondisi yang berbeda.Baca juga : Fakta Tentang Varian Baru Corona B117, Mutasi Virus COVID-19 dari Inggris. Lebih Menular?
Menurut WHO, seseorang dapat dikatakan mengalami SARS apabila memenuhi keempat kriteria diagnosis di bawah ini:
  • Demam tinggi, setidaknya 38 derajat Celcius
  • Mengalami satu atau lebih gejala gangguan saluran pernapasan bawah, yaitu batuk, sulit bernapas, atau sesak napas
  • Hasil rontgen paru-paru membuktikan adanya pneumonia
  • Tidak ada kemungkinan penyakit lain yang dapat menjelaskan kondisi penderita
SARS merupakan penyakit langka dengan gejala yang menyerupai penyakit pernapasan lain, seperti influenza dan pneumonia. Dokter biasanya tidak mencurigai adanya penyakit ini kecuali penderita baru saja bepergian atau berada di lingkungan dengan wabah SARS.Apabila mencurigai pasien menderita SARS, dokter akan melakukan konfirmasi diagnosis dengan pemeriksaan penunjang berupa
  • Tes laboratorium darah
  • Rontgen paru
  • Pemeriksaan sampel dahak yang dilanjutkan dengan Reverse Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) untuk mendeteksi virus dari dahak. RT PCR juga bisa mendeteksi virus SARS dari tinja dan urin,
  • CT scan
Hingga saat ini, belum ditemukan pengobatan SARS secara spesifik. Namun penelitian mengenai vaksin SARS terus dikembangkan.Pasien yang dicurigai menderita penyakit ini harus dirawat di rumah sakit sesegera mungkin dan akan diisolasi dengan pengawasan ketat. Penanganan bagi pasien SARS yang dianggap paling penting adalah terapi suportif dengan:
  • Obat untuk menangani gejala pasien seperti obat penurun demam, obat analgetik, dan obat batuk
  • Pemberian obat antibiotik dan antivirus seperti ritonavir, remdesivir,lopinavir
  • Pemberian obat steroid dosis tinggi untuk mengurangi pembengkakan pada paru-paru
  • Penggunaan mesin ventilator untuk mengalirkan oksigen dan membantu pernapasan, pada kondisi yang berat

Komplikasi:

  • Pneumonia
  • Gangguan ginjal
  • Gagal hati
  • Gagal napas
  • Gagal jantung
Ada beberapa upaya pencegahan SARS dapat Anda lakukan. Apa sajakah itu?
  • Menghindari bepergian ke wilayah dengan wabah SARS
  • Tidak melakukan kontak dekat dengan pasien SARS hingga kurang lebih 10 hari setelah gejala tidak lagi dirasakan oleh penderita.
Selain itu, Anda juga bisa menerapkan sederet cara mencegah penyebaran virus di bawah ini:
  • Mencuci tangan secara menyeluruh dengan sabun dan air bersih yang mengalir. Bila tidak tersedia, Anda bisa menggunakan hand sanitizer yang berbahan dasar alkohol. Lakukan hal ini sebelum Anda menyentuh mata, wajah dan makan.
  • Menutup mulut dan hidung ketika bersin atau batuk.
  • Menggunakan disinfektan untuk membersihkan permukaan barang atau tempat tertentu yang sering disentuh oleh penghuni rumah.
Pada situasi tertentu, penggunaan sarung tangan, masker, dan kacamata pelindung untuk mencegah penularan SARS juga mungkin diperlukan.Baca jawaban dokter: Benarkah cuci tangan 6 langkah ampuh bersihkan kuman?
SARS merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian. Apabila Anda mengalami gejala infeksi saluran pernapasan atau keluhan seperti influenza yang disertai demam, sesak atau kesulitan bernapas terutama setelah bepergian ke luar negeri, segeralah berkonsultasi dengan dokter.
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat bepergian yang baru-baru ini Anda lakukan. 
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini.
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait SARS, yaitu riwayat bepergian ke negara lain?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?  
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis SARS. Dengan ini, pengobatan bisa diberikan secara tepat. 
WHO. https://www.who.int/csr/resources/publications/SARSNEWGUIDANCE/en/
Diakses pada 5 Maret 2021
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/7543
Diakses pada 5 Maret 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sars/symptoms-causes/syc-20351765
Diakses pada 5 Maret 2021
SARS Reference. http://sarsreference.com/sarsref/prevent.htm
Diakses pada 5 Maret 2021
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK558977/
Diakses pada 5 Maret 2021
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/sars/
Diakses pada 23 Desember 2019
WebMD. https://www.webmd.com/lung/lung-what-is-sars#1
Diakses pada 23 Desember 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/7543.php
Diakses pada 23 Desember 2019
Medline Plus. https://www.medicalnewstoday.com/articles/7543.php
Diakses pada 23 Desember 2019
CDC. https://www.cdc.gov/sars/about/faq.html
Diakses pada 5 Maret 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email