Bila sel radang ini menjadi sebuah kumpulan, kumpulan ini disebut granuloma. Granuloma yang berukuran besar akan terlihat seperti benjolan.
Bila sel radang ini menjadi sebuah kumpulan, kumpulan ini disebut granuloma. Granuloma yang berukuran besar akan terlihat seperti benjolan.

Sarkoidosis adalah sebuah kondisi yang jarang terjadi, di mana adanya pertumbuhan abnormal dari sel-sel radang yang membentuk kumpulan yang disebut granuloma pada berbagai organ di seluruh tubuh. Bila kumpulan sel radang ini berukuran besar, maka akan terlihat seperti benjolan. Lokasi tersering tempat munculnya granuloma ini adalah paru-paru dan kelenjar getah bening, namun tetap bisa tumbuh di organ tubuh mana saja.

Sarkoidosis dapat terjadi dari respon berlebihan pada sistem imun tubuh terhadap benda asing (kemungkinan besar yang dihirup dari udara) ataupun infeksi dan menyebabkan terbentuknya banyak granuloma, sehingga dapat memengaruhi struktur dan fungsi organ tubuh. Jika kondisi ini dibiarkan menahun, maka dapat menyebabkan timbulnya jaringan parut (fibrosis) permanen pada jaringan organ tubuh.

Belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit ini, tetapi kebanyakan orang merespons dengan baik hanya dengan pengobatan minimal. Pada umumnya, sarkoidosis dapat menghilang dengan sendirinya, tetapi terkadang pada kasus, sarkoidosis dapat menetap selama beberapa tahun dan menyebabkan kerusakan organ.

Penyakit ini biasanya timbul pada usia 20-50 tahun dan jarang terjadi pada anak-anak.

Gejala Sarkoidosis sangat bervariasi tergantung organ yang terkena. Timbulnya gejala dapat perlahan-lahan lalu menetap, dan dapat berlangsung selama bertahun-tahun, timbul secara tiba-tiba lalu menghilang dengan cepat, atau bahkan ada yang tidak bergejala sama sekali (5% kasus). Pada 10-15% kasus, gejala menetap sampai bertahun-tahun dan menyebabkan kerusakan organ.

Gejala awal yang biasanya dirasakan tanda–tanda klasik yang dikenal sebagai Sindrom Lofgren yang ditandai dengan demam, pembesaran kelenjar getah bening, pembengkakan dan nyeri pada sendi, radang sendi, dan eritema nodosum (benjolan yang timbul dan merah serta nyeri pada kulit, biasanya pada bagian depan kaki, dan terjadi pembengkakan dan nyeri pada sendi terdekat).

Selain itu, terdapat gejala umum lainnya, yaitu batuk kering yang menetap, mudah lelah, dan sesak napas. Gejala ini berkaitan dengan lokasi tersering terjadinya Sarkoidosis, yaitu pada paru-paru.

Gejala umum:

  • Mudah lelah
  • Demam
  • Penurunan berat badan
  • Nyeri sendi
  • Mulut kering
  • Mimisan
  • Pembengkakan kelenjar getah bening (leher, ketiak, lipat paha), bisa disertai nyeri

Gejala pada paru-paru:

  • Batuk kering menetap (pada beberapa orang bisa batuk berdahak)
  • Sesak napas menetap terutama saat beraktivitas
  • Mengi (bunyi ‘ngiiik’ saat buang napas)
  • Nyeri dada

Gejala pada kulit:

  • Ruam berwarna kemerahan/benjolan ungu - kemerahan yang nyeri, biasanya pada wajah, lengan, dan betis
  • Luka yang membuat cacat pada kulit di hidung, pipi, telinga, dan bibir
  • Terdapat daerah pada kulit yang lebih terang atau gelap
  • Benjolan di bawah kulit (nodul) terutama sekitar jaringan parut atau tato
  • Rambut rontok
  • Jaringan parut (bekas luka) yang timbul

Gejala pada mata:

  • Pandangan kabur
  • Nyeri mata
  • Mata merah dan berair (pada beberapa orang bisa terdapat gejala mata kering)
  • Mata gatal
  • Sensasi terbakar pada mata
  • Sensitivitas terhadap cahaya meningkat
  • Pada beberapa orang dapat berlanjut menjadi katarak, glaukoma, sampai kebutaan

Gejala pada jantung:

  • Nyeri dada
  • Sesak napas
  • Pingsan
  • Mudah lelah
  • Aritmia (irama/detak jantung tidak teratur)
  • Berdebar-debar
  • Bengkak (pada wajah, tangan, perut, kaki, hingga seluruh tubuh)

Gejala pada saraf:

Gejala pada saraf tergantung dari daerah yang terkena dan dapat memiliki tanda dan gejala yang serupa dengan multiple sclerosis. Secara umum, jika sarkoidosis mengenai saraf otak maka akan menyebabkan:

  • Penurunan pendengaran
  • Demensia (pikun)
  • Sakit kepala
  • Pusing atau vertigo.
  • Disorientasi atau linglung.
  • Penurunan kesadaran
  • Kejang
  • Gangguan mental (perubahan perilaku, halusinasi, delusi, perubahan mood)

Gejala pada hati:

  • Gatal-gatal pada kulit
  • Demam
  • Mual, muntah
  • Menurunnya berat badan
  • Kuning (bisa dilihat pada mata maupun kulit)
  • Nyeri perut
  • Kadang dapat terjadi pembengkakan pada perut
  • Hepatomegali (pembesaran hati yang terjadi pada hampir 20% pada pasien dengan sarkoidosis yang mengenai hati)

Perjalanan penyakit dapat dilihat dari gejala yang timbul. Jika hanya terdapat gejala umum, biasanya akan cepat menghilang dan intensitasnya ringan. Sementara itu jika mengenai organ tertentu, biasanya akan lebih parah dan cenderung menetap.

Penyebab pasti penyakit ini belum jelas. Beberapa teori mengatakan bahwa penyakit ini disebabkan oleh respon imun yang tidak normal terhadap antigen (zat asing yang dapat merangsang respon imun) sehingga menyebabkan peradangan dan pembentukan granuloma, bahkan terkadang dapat terjadi jaringan parut atau fibrosis. Antigen yang merangsang respon imun tersebut pun belum diketahui pasti, namun beberapa antigen yang dianggap dapat menjadi penyebab, di antaranya adalah:

  • Mikroba seperti bakteri (yang tersering adalah bakteri Mycobacterium spp.), virus, jamur, parasit
  • Antigen lingkungan seperti debu, lumut, serbuk bunga, pestisida, partikel logam, dan lain-lain

Sementara itu, beberapa faktor yang meningkatkan risiko individu terkena Sarkoidosis adalah sebagai berikut:

  • Genetik (gen yang menyebabkan kerentanan sistem imun, dimana terjadi kelainan respon imun)
  • Riwayat keluarga dengan Sarkoidosis. Penelitian membuktikan bahwa orang yang memiliki saudara kembar yang menderita Sarkoidosis, besar kemungkinan orang tersebut akan terkena Sarkoidosis di kemudian hari
  • Ras (keturunan Afrika-Amerika lebih sering terkena Sarkoidosis)
  • Jenis kelamin (wanita lebih banyak menderita Sarkoidosis dibandingkan pria)

Jadi, individu yang memiliki faktor-faktor risiko tersebut jika terapapar dengan antigen-antigen di atas akan memiliki risiko yang besar untuk menderita Sarkoidosis.

Penyakit ini sulit didiagnosis karena umumnya gejala tidak spesifik. Gejala yang timbul biasanya mirip dengan gejala pada penyakit lain, seperti penyakit paru, penyakit kulit, dan lain-lain tergantung organ yang terkena. Sehingga, diagnosis Sarkoidosis ditegakkan dengan menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit lain yang menyebabkan timbulnya gejala tersebut.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan:

  • Pemeriksaan fisik: meliputi pemeriksaan kulit, paru-paru, jantung, mata, dan pemeriksaan apakah ada pembesaran kelenjar getah bening
  • Pemeriksaan penunjang:
    • Pemeriksaan darah: untuk menyingkirkan adanya penyakit lain, menilai fungsi ginjal dan hati.
    • Pemeriksaan urine
    • Pemeriksaan fungsi paru karena paru–paru yang terkena sarkoidosis tidak akan dapat berfungsi normal.
    • EKG untuk menilai fungsi jantung karena hampir 50% orang dengan sarkoidosis mempunyai kelainan pada EKG. Oleh sebab itu, pemeriksaan lanjutan diperlukan.
    • Echocardiogram merupakan USG pada jantung, dan digunakan untuk melihat kerja jantung dalam memompa darah.
    • X-ray (rontgen) dada: untuk melihat jika ada kelainan pada paru dan pembesaran kelenjar getah bening.
    • CT scan: biasanya dilakukan jika X-ray kurang memberikan gambaran yang jelas terkait paru-paru dan kelenjar getah bening.
    • PET scan (Positron Emission Tomography) seringkali digunakan untuk membantu mendiagnosis cardiac sarcoidosis (sarkoidosis pada jantung) dan menemukan tempat yang bagus untuk biopsi.
    • MRI: jika dokter mencurigai adanya keterlibatan jantung, tulang, sistem saraf pusat (otak dan saraf tulang belakang), serta organ tubuh lainnya.
    • Biopsi: tes ini dilakukan dengan mengambil sedikit jaringan dari bagian tubuh atau organ yang dicurigai terkena Sarkoidosis. Misalnya jika ada kelainan pada kulit, maka sampel bisa diambil dari tempat tersebut. Pada Sarkoidosis, maka akan ditemukan granuloma (kumpulan sel radang) pada sampel.
    • Bronkoskopi dan biopsi pada paru-paru: pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukan pipa ke dalam saluran pernapasan yang menuju ke paru-paru. Tujuannya adalah untuk melihat keadaan saluran napas, mengambil sampel jaringan untuk biopsi, dan sampel lain seperti sputum untuk menyingkirkan adanya infeksi paru.

Terdapat tiga kriteria untuk mendiagnosis Sarkoidosis, yaitu:

  1. Gejala maupun hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dengan Sarkoidosis.
  2. Hasil biopsi menunjukkan granuloma (kumpulan sel radang).

Tidak ada penyakit lain dengan gejala dan hasil pemeriksaan yang mirip seperti infeksi atau keganasan.

Sarkoidosis belum dapat disembuhkan, namun penyakit ini sering sembuh sendiri tanpa pengobatan. Sarkoidosis tersebut dapat hilang selamanya atau muncul kembali dikemudian hari. Pengobatan biasanya digunakan untuk mengontrol gejala, mencegah komplikasi, meningkatkan hasil pengobatan pada pasien dengan sarkoidosis persisten atau menetap dan pengobatan dilakukan pada sarkoidosis dengan gejala berat atau yang sampai mengganggu fungsi organ. Namun, baik bagi pasien yang membutuhkan pengobatan maupun tidak, tetap dianjurkan untuk mengecek kesehatan secara berkala.

Obat-obatan yang dapat digunakan:

  • Kortikosteroid: digunakan untuk mengurangi peradangan dan merupakan obat lini pertama yang dianjurkan dan merupakan obat yang paling efektif dalam menangani sarkoidosis. Pengobatan dengan kortikosteroid dapat meredakan gejala dalam beberapa bulan. Kortikosteroid yang paling sering dipakai adalah prednisolone dan prednisone. Pemakaiannya dapat dengan diminum, inhalasi (dihirup ), dioleskan di kulit, dan tetes mata.
  • Obat penekan sistem imun mengurangi peradangan dengan cara menekan sistem imun tubuh. Selain itu, obat ini dapat meredakan gejala serta mencegah kerusakan lebih lanjut dari organ tubuh. Obat ini digunakan ketika kortikosteroid tidak lagi efektif. Obat penekan sistem imun yang biasa digunakan meliputi methotrexate, azathioprine, dan mycophenolate mofetil.
  • Obat antimalaria seperti hydroxychloroquine dan choloroquine kemungkinan besar lebih efektif pada orang dengan yang mempunyai gejala pada kulit, paru – paru, sistem saraf, atau mempunyai kadar kalsium tinggi dalam darah.
  • Tumor necrosis factor – alpha (TNF – alpha) inhibitors. Obat ini biasanya digunakan untuk mengobati peradangan yang berhubungan dengan arthritis (radang sendi) dan dapat membantu untuk mengobati sarkoidosis yang tidak merespon pengobatan lain.
  • Antibiotik digunakan untuk mengobati sarkoidosis dengan gejala pada kulit.

Jika fungsi organ terganggu atau sudah terjadi kerusakan organ yang tidak dapat diperbaiki, dapat dilakukan transplantasi organ.

Karena penyebab penyakit ini belum diketahui, maka penyakit ini tidak dapat dicegah. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi perkembangan penyakit dengan memeriksakan kesehatan secara berkala, terutama jika memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga dengan Sarkoidosis

Jika ada gejala-gejala seperti di atas sebaiknya memeriksakan diri ke dokter.

Sebelum berkonsultasi, sebaiknya Anda membuat beberapa daftar mengenai:

  • Mencatat gejala yang dirasakan, waktu timbulnya, dan perubahannya dari waktu ke waktu
  • Mencatat pengobatan yang telah atau sedang dijalani
  • Membawa berkas kesehatan pribadi
  • Mencatat pertanyaan yang ingin ditanyakan ke dokter

Dokter akan menanyakan secara lebih detail tentang gejala yang dirasakan, riwayat penyakit pribadi, riwayat penyakit keluarga, dan lain-lain. Setelah itu akan dilakukan pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis. Anda mungkin akan dirujuk ke spesialis tertentu sesuai dengan organ yang terkena.

AAFP. https://www.aafp.org/afp/2016/0515/p840.html

Diakses pada 7 November 2018

Best Practice. https://bestpractice.bmj.com/topics/en-us/109

Diakses pada 7 November 2018

Cedars Sinai. https://www.cedars-sinai.edu/Patients/Health-Conditions/Neurosarcoidosis.aspx

Diakses pada 7 November 2018

Healthline. https://www.healthline.com/health/sarcoidosis#symptoms

Diakses pada 7 November 2018

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sarcoidosis/symptoms-causes/syc-20350358

Diakses pada 7 November 2018

Medicinenet. https://www.medicinenet.com/sarcoidosis/article.htm#what_are_signs_and_symptoms_of_sarcoidosis

Diakses pada 7 November 2018

NHLBI. https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/sarcoidosis

Diakses pada 7 November 2018

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3313528/

Diakses pada 7 November 2018

Sarcoidosis UK. https://www.sarcoidosisuk.org/information-hub/types-of-sarcoidosis/liver-sarcoidosis/

Diakses pada 7 November 2018

Stop Sarcoidosis. https://www.stopsarcoidosis.org/

Diakses pada 7 November 2018

Thoracic. https://www.thoracic.org/patients/patient-resources/breathing-in-america/resources/chapter-21-sarcoidosis.pdf

Diakses pada 7 November 2018

WebMD. https://www.webmd.com/lung/arthritis-sarcoidosis

Diakses pada 7 November 2018

Artikel Terkait