Infeksi

Rubella

Diterbitkan: 31 Jan 2019 | dr. Joni Indah SariDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Rubella
Ruam merah pada kulit adalah gejala umum penyakit rubella
Rubella adalah penyakit yang terjadi akibat infeksi virus rubella. Kondisi ini juga sering disebut campak jerman.Infeksi rubella ditandai dengan demam, pembesaran kelenjar getah bening, dan ruam pada kulit. Penyakit ini dapat ditularkan melalui percikan air (droplet) di udara yang dikeluarkan oleh penderita saat bersin atau batuk.Rubella dapat menular jika seseorang menyentuh mulut, hidung atau mata setelah ia memegang benda yang telah terkontaminasi drplet dari penderita rubella. Virus rubella juga dapat menyebar dari makanan atau minuman penderita.Campak jerman ini tergolong sebagai infeksi ringan karena dapat hilang dalam satu minggu, tanpa pengobatan khusus. Namun lain ceritanya bisa penyakit ini menyerang ibu hamil.Rubella yang dialami oleh wanita hamil dapat menyebabkan sindrom rubella kongenital. Kondisi ini bisa menganggu perkembangan janin dan memicu cacat lahir, seperti kelainan jantung, tuli, hingga kerusakan otak. 
Rubella
Dokter spesialis Anak, Umum
GejalaRuam merah, hidung berair, batuk
Faktor risikoTidak mendapatkan vaksin rubella,
Metode diagnosisWawancara, pemeriksaan fisik, tes darah
PengobatanObat-obatan
ObatAsetaminofen, antibodi hiperimun globulin (hyperimmune globulin) pada ibu hamil yang menderita rubella
KomplikasiKelainan kongenital pada janin dari ibu yang tertular rubella saat hamil.
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala
Secara umum, tanda dan gejala rubella meliputi:

Ruam merah sebagai gejala utama

Ruam merah di kulit awalnya muncul pada area wajah, lalu menyebar ke area tubuh lain.

Gejala lain sebelum ruam

Ada beberapa gejala lain yang terjadi sebelum kemunculan ruam. Gejala ini akan bertahan 1-5 hari dan berupa:
  • Hidung berair
  • Batuk
  • Pembesaran kelenjar getah bening yang terasa nyeri saat disentuh atau ditekan, biasanya di belakang leher atau belakang telinga
  • Demam ringan
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot dan sendi
  • Tubuh terasa tidak sehat
  • Konjungtivitis atau mata merah
Rubella yang terjadi pada anak-anak juga biasanya menimbulkan gejala yang tergolong ringan.Harap diingat bahwa rubella yang dialami oleh wanita hamil, terutama pada trimester pertama, dapat mengakibatkan keguguran atau bayi lahir dengan sindrom rubella kongenital. 
Penyebab utama rubella adalah infeksi virus rubella. Virus ini sangat mudah menular antarmanusia melalui kontak dekat atau udara.Virus rubella ditularkan lewat percikan udara (droplet) ketika penderita bersin atau batuk. Virus ini juga dapat ditularkan dari ibu hamil ke janin lewat aliran darah.Oleh sebab itu, sangat penting bagi wanita hamil untuk menghindari kontak dengan penderita rubella agar tidak tertular selama mengandung.Masa penularan virus rubella adalah seminggu sebelum munculnya ruam sampai dua minggu setelah ruam kulit hilang. Jadi penderita disarankan untuk mengisolasikan diri pada masa-masa ini supaya tidak menularkannya pada orang lain.Faktor risiko rubella yang utama adalah orang yang tidak mendapatkan vaksin rubella, terutama pada ibu hamil. 
Diagnosis rubella dapat ditegakkan dengan wawancara, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang. Dokter akan menanyakan mengenai gejala yang Anda atau anak Anda alami dan melakukan pemeriksaan fisik.Saat melakukan pemeriksaan, dokter akan menilai ruam pada kulit dan melakukan perabaan pada kelenjar getah bening untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening.Untuk mendiagnosis rubella, dokter akan melakukan tes darah untuk memeriksa keberadaan berbagai jenis antibodi rubella di dalam tubuh. Hasil pemeriksaan dapat menentukan apakah sedang berlangsung infeksi virus rubella dalam tubuh seseorang atau tidak. 
Cara mengobati rubella umumnya akan tergantung dari tingkat keparahan penyakit dan seberapa lama Anda sudah mengalami kondisi tersebut.Pada prinsipnya karena merupakan penyakit infeksi virus, tidak terdapat pengobatan spesifik pada penderita rubella. Pengobatan hanya bersifat simtomatik atau bertujuan untuk mengurangi gejala yang ditimbulkannya.Secara umum pilihan obat-obatan yang biasanya  digunakan untuk mengatasi gejala rubella adalah obat penurun panas dan penghilang nyeri seperti asetaminofen atau ibuprofen.Hal yang bisa Anda atau anak Anda  lakukan di rumah untuk mempercepat penyembuhan rubella antara lain:
  • beristirahat cukup
  • minum cukup
  • tidak sekolah atau bekerja dulu selama sakit untuk menghindari penularan ke orang lain
Sebaiknya segeralah berkonsultasi ke dokter, terutama bila Anda sedang hamil dan menderita rubella. Hal ini karena infeksi rubella dapat ditularkan oleh ibu ke janin lewat aliran darah dan menyebabkan komplikasi berupa sindrom rubella kongenital pada bayi yang gejalanya berupa:
  • pertumbuhan yang terhambat
  • gangguan kecerdasan intelektual
  • masalah jantung
  • organ tubuh yang tidak berfungsi dengan baik
  • ketulian
Dokter mungkin akan memberikan antibodi hiperimun globulin (hyperimmune globulin) pada ibu hamil yang menderita rubella. Hal ini bertujuan untuk membantu tubuh ibu hamil melawan infeksi virus rubella sehingga memimalisir penularan ke janin.Namun hal ini tidak serta merta menghilangkan sepenuhnya risiko janin mengalami infeksi rubella yang disebut sindrom rubella kongenital. Bayi yang lahir dengan sindrom rubella kongenital, akan mendapatkan perawatan sesuai kondisinya. 
Cara mencegah rubella yang bisa dilakukan meliputi:
  • Mencuci tangan dengan sabun dan air hangat
  • Membuang tisu bekas ke tempat sampah
  • Gunakan tisu saat batuk atau bersin
  • Jangan berbagi alat makan, handuk, gelas, pakaian, atau tempat tidur terutama dengan penderita rubella
Selain langkah di atas, pencegahan infeksi rubella dilakukan dengan melakukan imunisasi terhadap rubella. Vaksin rubella tersedia dalam bentuk sediaaan:
  • vaksin rubella monovalen dan
  • kombinasi vaksin rubella dengan vaksin campak yang disebut vaksin MR (measle annd  rubella)
  • kombinasi vaksin rubella dengan vaksin campak dan parotitis atau disebut vaksin MMR (measle,mumps, and rubella)
Pada beberapa tahun belakangan, Indonesia menggalakkan program imunisasi MR. vaksin MR adalah vaksin yang terbuat dari virus campak dan rubella yang dilemahkan.Pemberian vaksin MR dapat melindungi anak dari kecacatan dan kematian akibat komplikasi campak dan rubella berua pneumonia, diare, kerusakan otak, ketulian, kebutaan, dan penyakit jantung bawaan.Sasaran program MR yang dilakukan pemerintah lewat pelayanan kesehatan primer adalah pada anak usia 9 bulan sampai usia <15 tahun. Pemberian imunisasi MR dilakukan tanpa melihat status imunisasi ataupun riwayat penyakit campak dan rubella sebelumnya.Vaksin MR tidak dianjurkan bagi:
  • wanita hamil,
  • orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah,
  • orang yang masalah jantung,
  • orang yang baru saja mendapat gamma globulin atau transfusi darah
  • pernah alergi terhadap komponen vaksin MR contohnya neomicyn
Wanita yang sedang program hamil juga sebaiknya melakukan pemeriksaan kekebalan tubuh terhadap virus rubella. Apabila ditemukan bahwa tidak terdapat kekebalan terhadap virus rubella, maka pemberian imunisasi rubella dapat dilakukan sebelum hamil.Imunisasi rubella pada wanita yang ingin melakukan program hamil sebaiknya dilakukan setidaknya 28 hari sebelum melakukan program kehamilan (melakukan hubungan seksual). 
Hubungi dokter bila Anda atau anak Anda mengalami gejala yang lebih buruk dibandingkan gejala rubella yang disebutkan sebelumnya. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait rubella?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis rubella agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
CDC. https://www.cdc.gov/rubella/about/index.html
Diakses pada 5 Desember 2018
Healthline. https://www.healthline.com/health/rubella
Diakses pada 5 Desember 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/rubella/diagnosis-treatment/drc-20377315
Diakses pada 5 Desember 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/rubella/
Diakses pada 5 Desember 2018
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

5 Vaksin Sebelum Menikah yang Dianjurkan, Apa Sajakah Itu?

Menjelang hari H, penting bagi setiap calon pengantin untuk melakukan vaksin sebelum menikah. Tujuannya adalah mencegah terjadinya masalah kesehatan pada diri sendiri, pasangan, dan anak di kemudian hari. Apa saja jenis vaksin yang dianjurkan?
15 Feb 2020|Rieke Saraswati
Baca selengkapnya
Sertakan vaksin sebelum menikah dalam daftar persiapan pernikahan Anda

Hal yang Wajib Anda Ketahui Seputar Imunisasi Measles Rubella untuk Anak

Dari sekian banyak imunisasi yang harus dijalani oleh anak, imunisasi measles rubella adalah salah satu imunisasi yang penting untuk diberikan karena mampu mencegah penyakit campak dan rubella yang berpotensi membahayakan nyawa buah hati.
26 Dec 2019|Anita Djie
Baca selengkapnya
Imunisasi measles rubella wajib diberikan kepada anak

Penyakit Campak Sempat Kembali Merebak, Antivaksin Penyebabnya?

Vaksin merupakan salah satu cara efektif untuk mencegah penyakit campak. Namun, ada beberapa hal yang memengaruhi wabah penyakit campak kembali terjadi, salah satunya antivaksin.
03 May 2019|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
WHO memasukkan antivaksin sebagai ancaman kesehatan dunia di tahun 2019