Pernapasan

Rhinitis Non-Alergi

Diterbitkan: 23 Nov 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Rhinitis Non-Alergi
Rhinitis non-alergi disebabkan oleh infeksi virus maupun alergi
Rhinitis non-alergi adalah peradangan bagian dalam hidung yang bukan disebabkan oleh alergi. Rinitis non alergi memiliki gejala seperti bersin-bersin, hidung tersumbat atau berair.Meskipun begitu, kondisi ini bukan merupakan reaksi alergi. Pemicu rhinitis non-alergi bisa berasal dari paparan bau-bauan atau obat-obatan tertentu, juga karena kondisi kesehatan yang mendasarinya.Rhinitis non-alergi dapat dialami anak-anak dan dewasa, meski lebih banyak ditemukan pada orang-orang usia di atas 20 tahun. Penanganan rhinitis alergi diberikan berdasarkan tingkat keparahannya, meliputi perawatan di rumah dan obat-obatan.    
Rhinitis Non-Alergi
Dokter spesialis THT
GejalaHidung tersumbat, hidung berair, bersin-bersin
Faktor risikoPaparan bahan iritan, usia di atas 20 tahun, penggunaan obat tetes hidung dalam waktu lama
Metode diagnosisTes darah, uji kulit, endoskopi hidung
PengobatanPembilasan saluran hidung, pemakaian obat-obatan
ObatKortikosteroid, antihistamin, dekongestan
KomplikasiPolip hidung, sinusitis, infeksi telinga tengah
Kapan harus ke dokter?Jika gejala semakin parah, tidak sembuh dengan obat bebas, atau mengalami efek samping setelah mengonsumsi obat bebas
Gejala-gejala rhinitis non-alergi adalah:
  • Hidung tersumbat
  • Hidung berair
  • Bersin
  • Iritasi ringan atau rasa tidak nyaman di sekitar hidung
  • Penurunan fungsi indra penciuman
     
Peradangan pada rhinitis non-alergi biasanya disebabkan oleh pembengkakan pembuluh darah dan penumpukan cairan pada jaringan hidung. Pembengkakan ini menghalangi saluran hidung dan menstimulasi kelenjar lendir di hidung.Ada beberapa kemungkinan penyebab rhinitis non-alergi, yang dapat dibagi menjadi faktor eksternal dan internal.

1. Faktor eksternal

Yang termasuk faktor eksternal adalah:
  • Infeksi virus, seperti common cold atau flu
  • Faktor lingkungan, seperti debu, suhu ekstrem, kelembapan, atau paparan asap termasuk asap rokok maupun bau menyengat, misalnya parfum atau cat
  • Makanan dan minuman. Rhinitis non alergi dapat terjadi saat Anda makan, terutama jika mengonsumsi makanan panas atau pedas. Mengonsumsi minuman beralkohol juga dapat menyebabkan selaput di dalam hidung membengkak sehingga membuat hidung tersumbat.
  • Obat-obatan tertentu, termasuk aspirin, ibuprofen dan obat tekanan darah tinggi (hipertensi) dari golongan beta blocker atau penghambat ACE.

2. Faktor internal

Sementara itu, yang menjadi faktor internal adalah:
  • Ketidakseimbangan hormon, seperti yang terjadi selama kehamilan atau pubertas
  • Terapi penggantian hormon (HRT) atau kontrasepsi hormonal


Faktor risiko

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya rhinitis non alergi meliputi:
  • Berusia lebih dari 20 tahun. Tidak seperti hrinitis alergi, yang seringkali terjadi pada masa kanak-kanak, rhinitis non-alergi biasanya terjadi setelah usia 20-an.
  • Penggunaan obat tetes atau semprotan hidung dekongestan dalam waktu lama. Pemakaian obat tetes atau semprotan hidung dekongestan selama lebih dari beberapa hari dapat menyebabkan rebound congestion, yang membuat hidung tersumbat lebih parah dari sebelumnya ketika dekongestan tersebut berhenti digunakan.
  • Jenis kelamin. Perempuan memiliki risiko lebih tinggi ketimbang pria dalam mengalami rhinitis non-alergi. Sebab, hidung tersumbat sering kali bertambah parah saat menstruasi dan kehamilan, karena perubahan hormon yang terjadi.
  • Masalah kesehatan tertentu. Sejumlah kondisi kesehatan kronis dapat menyebabkan atau memperburuk rhinitis, seperti hipotiroidisme dan sindrom kelelahan kronis.
  • Stres. Tekanan emosional atau fisik dapat memicu rhinitis non-alergi pada beberapa orang.
Baca juga: Tanpa Sadar, Alergen Mungkin Ada di Dekat Anda 
Dalam mendiagnosis rhinitis non-alergi, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mengajukan pertanyaan tentang gejala yang dialami. Biasanya, jika pasien mengalami batuk, dan nyeri otot, kemungkinan rhinitis mungkin disebabkan oleh infeksi virus.Dokter juga dapat bertanya tentang riwayat kesehatan pasien, karena rhinitis juga bisa terjadi sebagai efek samping dari obat-obatan tertentu, seperti obat antihipertensi.Selain itu, dokter juga mungkin akan melakukan tes tertentu untuk memastikan bahwa penyebab rhinitis yang dialami bukan berasal dari alergi, melainkan karena kondisi lain.
Biasanya, dokter akan melakukan:

1. Tes alergi (tes kulit)

Dokter akan melakukan tes alergi di kulit untuk memeriksa potensi alergi pada pasien. zmrlslui pemeriksaan ini, sejumlah kecil alergen (zat yang dapat memicu alergi) dimasukan ke dalam kulit. Selanjutnya dokter akan mengamati reaksi kulit.

2. Tes alergi (tes darah)

Tes alergi melalui pemeriksaan darah dilakukan dengan mengambil sampel darah pasien. Sampel darah ini digunakan untuk mendeteksi keberadaan antibodi imunoglobulin E (IgE) sebagai respons terhadap reaksi alergi.

3. Endoskopi nasal

Tindakan ini dilakukan dengan pemeriksaan bagian dalam rongga hidung dan sinus untuk mendeteksi masalah pada bagian tubuh tersebut. Pemeriksaan endoskopi hidung dilakukan dengan alat berupa selang tipis dan fleksibel yang memiliki lampu dan kamera pada ujungnya, untuk membantu dokter melihat rongga hidung dengan lebih jelas.

4. CT Scan

Computed tomography scan atau CT scan biasanya dilakukan jika dokter mencurigai adanya sinusitis. Mesin akan bergerak memutari tubuh untuk menghasilkan serangkaian gambar dari struktur dan jaringan pada rongga sinus pasien.Baca juga: Mengenal Ciri-Ciri Alergi Kulit Karena Makanan 
Rhinitis non-alergi biasanya tidak berbahaya, tapi dapat memengaruhi kualitas hidup. Pengobatan rhinitis bervariasi, tergantung pada tingkat keparahan kondisi dan penyebabnya.
Perawatan untuk meredakan gejala rhinitis non-alergi bisa dilakukan melalui pemberian obat-obatan, tindakan medis, maupun perawatan di rumah.

1. Pemberian obat-obatan

Berikut ini jenis obat yang direkomendasikan pada pasien rhinitis non-alergi.
  • Obat semprot hidung (larutan saline)

    Obat semprot dengan kandungan larutan saline atau garam tubuh dapat digunakan untuk membilas hidung yang teriritasi dan membantu mengencerkan lendir.
  • Dekongestan

    Obat-obatan ini bekerja dengan membantu mempersempit pembuluh darah dan mengurangi mampet di hidung.
  • Obat semprot hidung antihistamin

    Antihistamin seperti azelastine atau olopatadine hydrochloride dapat mengurangi gejala rhinitis non-alergi.
  • Semprotan hidung kortikosteroid

    Apabia gejala tidak reda dengan penggunaan dekongestan atau antihistamin, dokter mungkin menyarankan obat semprot hidung yang berisi zat kortikosteroid, seperti fluticasone atau triamcinolone. Obat kortikosteroid dapat mencegah dan mengobati peradangan akibat rhinitis non-alergi.
  • Obat semprot hidung antikolinergik

    Antikolinergik seperti ipratropium dapat membantu meringankan gejala rhinitis seperti mengurangi hidung meler dan berair.

2. Tindakan medis

Dalam beberapa kasus, prosedur pembedahan menjadi pilihan untuk menangani rhinitis non-alergi yang lebih parah. Tindakan ini pun dipilih untuk rhinitis akibat deviasi septum nasal atau polip hidung yang terus-menerus terjadi.

3. Perawatan di rumah

Selain penggunaan obat dan pembedahan, ada sejumlah langkah yang bisa dilakukan berikut ini sebagai perawatan di rumah.
  • Menghirup uap, dengan cara memasukkan beberapa tetes minyak kayu putih atau tea tree oil ke dalam semangkuk air panas
  • Menyalakan humidifier untuk mencegah udara di dalam ruangan menjadi kering
  • Menghindari pemicu rhinitis dari lingkungan, seperti asap atau bau-bauan tertentu yang dapat memperburuk gejala


Komplikasi

Jika tidak ditangani dengan baik, rhinitis non-alergi dapat menimbulkan komplikasi seperti:

1. Polip hidung

Polip hidung adalah pertumbuhan suatu jaringan lunak yang terbentuk.karena peradangan kronis. Kondisi ini dapat menghalangi aliran udara di hidung, sehingga membuat penderitanya sulit bernapas.

2. Sinusitis

Hidung tersumbat yang berkepanjangan akibat rhinitis non-alergi dapat meningkatkan kemungkinan Anda terkena sinusitis, yaitu infeksi atau pembengkakan pada selaput yang melapisi sinus.

3. Infeksi telinga tengah

Penumpukan cairan di bagian tengah telinga dan hidung yang tersumbat dapat menyebabkan infeksi telinga tengah.

4. Terganggunya aktivitas sehari-hari

Rhinitis non-alergi dapat membuat penderitanya menjadi tidak nyaman karena menganggu kegiatan sehari-hari.Baca jawaban dokter: Apakah rhinitis bisa sembuh total? 
Tidak ada cara ampuh untuk mencegah rhinitis non-alergi. Namun, sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak-anak mengonsumsi makan ikan atau asam lemak tak jenuh, berisiko lebih rendah terhadap rhinitis non-alergi dan alergi.Jika mengalami rhinitis non-alergi, ada beberapa langkah untuk mengurangi gejalanya dan mencegah serangan yang berat (flare-up), yaitu dengan:
  • Menghindari pemicunya

    Hindari hal-hal yang dapat menyebabkan maupun memperparah gejala.
  • Tidak terlalu sering menggunakan dekongestan hidung

    Memakai dekongestan selama lebih dari beberapa hari dapat memperburuk gejala.
  • Mendapatkan perawatan yang efektif

    Jika perawatan tidak memperbaiki kondisi, temui dokter untuk mendapatkan perawatan lain.
  
Segera temui dokter jika:
  • Gejala semakin parah
  • Obat-obatan yang dijual bebas, tidak bisa menyembuhkan gejala Anda
  • Mengalami efek samping setelah mengonsumsi obat-obatan bebas
      
Sebelum menjalani pemeriksaan oleh dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
    
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini.
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda pernah mengalami demam atau penyakit lain baru-baru ini?
  • Kapan Anda mulai mengalami gejala?
  • Apakah Anda merasakan gejala sepanjang waktu atau beberapa saat saja?
  • Seberapa parah gejala Anda?
  • Adakah yang tampaknya memperbaiki gejala Anda?
  • Obat apa yang telah Anda coba untuk gejala tersebut, dan apakah ada perubahan?
  • Apakah gejala memburuk ketika Anda mengonsumsi makanan pedas, minuman beralkohol, atau obat tertentu?
  • Apakah Anda biasanya terpapar asap, bahan kimia, atau iritan lainnya dari udara?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis rhinitis non-alergi agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Science Direct. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0091674915007721
Diakses pada 24 Oktober 2018
WebMD. https://www.webmd.com/allergies/nonallergic-rhinitis#1
Diakses pada 24 Oktober 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/nonallergic-rhinitis/symptoms-causes/syc-20351229
Diakses pada 17 November 2020
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/non-allergic-rhinitis/
Diakses pada 17 November 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/177085#natural_treatment
Diakses pada 17 November 2020
My Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17950-nonallergic-rhinitis
Diakses pada 17 November 2020
NCHMD. https://www.nchmd.org/education/mayo-health-library/details/CON-20155767
Diakses pada 17 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email