Kandungan

Retensi Plasenta

15 Sep 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Retensi Plasenta
Plasenta tetap menempel pada rahim setelah kehamilan.
Retensi plasenta atau retensio plasenta adalah kondisi plasenta atau ari-ari yang tidak bisa keluar dengan sendirinya atau tertahan di dalam rahim setelah bayi dilahirkan. Plasenta yang biasa disebut ari-ari bayi adalah sebuah organ yang memberikan nutrisi pada janin dalam kandungan. Pada kondisi normal, tubuh akan mengeluarkan plasenta sekitar 30 menit pascakelahiran bayi. Proses persalinan normal mencakup tiga tahapan, yakni:
  1. Tahap pertama adalah ketika ibu hamil mulai merasakan kontraksi yang menyebabkan dilatasi atau pembukaan serviks agar siap melahirkan janin.
  2. Tahap kedua adalah proses bayi dilahirkan.
  3. Tahap ketiga adalah proses pelepasan plasenta.
Ada tiga jenis retensi plasenta yang dapat menyebabkan plasenta gagal terlepas, yaitu:
  1. Plasenta adhesiva, merupakan kondisi yang paling sering dijumpai. Hal ini terjadi ketika rahim tidak berkontraksi cukup kuat untuk mengeluarkan plasenta, sehingga plasenta menempel longgar pada dinding rahim. 
  2. Plasenta akreta yang terjadi karena plasenta menempel hingga lapisan otot rahim, ketika seharusnya plasenta hanya menempel sebatas dinding rahim. Plasenta akreta akan menyebabkan persalinan menjadi lebih sulit dan menyebabkan perdarahan berat.
  3. Plasenta inkarserata (trapped placenta) yang terjadi ketika plasenta sudah dapat terlepas dari dinding rahim tetapi tidak dapat dikeluarkan dari tubuh ibu. Hal ini disebabkan oleh serviks (mulut rahim) yang biasanya telah menutup sebelum pengeluaran plasenta.
Retensi plasenta dapat menjadi sebuah keadaan yang mengancam jiwa apabila tidak segera ditangani.Baca juga: Mengenal Pentingnya Fungsi Plasenta Selama Masa Kehamilan
Retensi Plasenta
Dokter spesialis Kandungan
GejalaPerdarahan dari vagina setelah melahirkan, nyeri perut bawah, demam
Faktor risikoUsia ibu hamil >30 tahun, persalinan prematur, riwayat operasi caesar
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes darah
PengobatanObat-obatan, manual plasenta, operasi
ObatOksitosin, methilergenovine, carboprost
KomplikasiInfeksi, perdarahan
Kapan harus ke dokter?Jika memiliki riwayat rentensi plasenta, usia ibu hamil >30 tahun, dan memiliki kelainan anatomis pada rahim
Apabila plasenta tidak segera dikeluarkan setelah proses kelahiran, berbagai gejala berikut dapat muncul dalam 3 menit pasca melahirkan:
  • Demam.
  • Perdarahan dari vagina beberapa hari setelah melahirkan.
  • Nyeri hebat pada bagian perut bawah.
  • Keluarnya cairan berbau disertai keluarnya jaringan yang menggumpal dari vagina.
 
Penyebab retensio plasenta terdiri dari berbagai faktor tergantung pada jenis yang dialami. Namun pada umumnya, penyebab retensi plasenta yang paling sering ditemukan adalah gangguan pada kontraksi rahim. Kontraksi yang lemah serta jeda yang terlalu lama dapat menghambat proses keluarnya plasenta.

Faktor risiko

Terdapat beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya retensi plasenta, yaitu:
  • Kehamilan yang terjadi pada ibu yang berusia di atas 30 tahun.
  • Persalinan prematur, di bawah usia kehamilan 34 minggu.
  • Pernah melakukan persalinan secara operasi caesar.
  • Pernah melakukan pembedahan rahim.
  • Memiliki bekas kuretase (tindakan medis untuk mengambil jaringan dari rahim).
  • Menderita 
  • Memiliki kelainan anatomis pada rahim.
  • Riwayat keluarga yang pernah mengalami retensi plasenta.
Diagnosis retensio plasenta hanya bisa ditegakkan oleh dokter obgyn alias dokter spesialis kandungan.Dokter obgyn awalnya akan melakukan penelusuran riwayat dan gejala pasien. Hal ini meliputi pertanyaan tentang riwayat kehamilan Anda, apakah Anda pernah mengalami perdarahan sebelumnya, serta riwayat kesehatan Anda sebelum dan selama kehamilan.Diagnosis terhadap retensi plasenta tidak dapat dilakukan sebelum persalinan terjadi. Langkah paling mudah untuk diagnosis awal adalah melihat apakah plasenta lengkap dan utuh setelah lahirnya plasenta.Metode diagnosis yang digunakan yaitu USG atau ultrasound diagnostik, untuk melihat ke dalam rahim apakah ada sisa plasenta yang tertinggal.Terkadang, dilakukan juga pemeriksaan ke dalam vagina untuk melihat apakah masih ada atau tidaknya sisa plasenta dalam rahim. Dapat dilakukan pula beberapa pemeriksaan penunjang lain, seperti pemeriksaan darah lengkap untuk melihat apakah adanya tanda-tanda infeksi.
Terapi dan pengobatan retensi plasenta bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang tidak diinginkan. Penanganan retensi plasenta meliputi:
  • Pemberian cairan resusitasi dan oksigen saat proses persalinan
  • Pemberian oksitosin, hormon yang membantu kontraksi uterus
  • Pemberian transfusi darah apabila terjadi perdarahan hebat
  • Melakukan tindakan manual plasenta, yakni pengambilan plasenta menggunakan tangan dokter yang membantu persalinan. Kelancaran dari proses pengambilan plasenta tergantung pada kondisi plasenta yang tertinggal.
  • Pemberian nitrogliserin akan dilakukan jika tindakan manual plasenta diambil. Hal ini dilakukan untuk membantu mengendurkan otot rahim agar mempermudah proses pengambilan plasenta.
  • Obat antibiotik juga akan diberikan, sebelum atau segera setelah proses pengambilan plasenta.
  • Histerektomi atau pengangkatan rahim dilakukan dalam keadaan terdesak dan gawat darurat.
Prosedur penanganan retensio plasenta berbeda pada satu pasien dengan lainnya, sebab prosedurnya disesuaikan dengan keadaan setiap pasien serta risiko yang dapat timbul setelahnya. Bila ditangani dengan baik, retensio plasenta dapat diatasi dan penderitanya memiliki prognosis yang baik.Setelah proses pengambilan plasenta selesai dilakukan, bayi yang baru lahir tak boleh langsung disusui oleh ibunya. Hal ini dilakukan untuk menghindari paparan obat yang diberikan sebelumnya. Sebab, obat-obatan tadi biasanya masih berada di dalam sistem tubuh dan dapat meresap ke air susu ibu.

Komplikasi

Retensi plasenta dapat menimbulkan komplikasi berupa perdarahan yang tidak normal selama berhari-hari yang disebut sebagai PPH (primary postpartum hemorrhage). Selain itu, infeksi postpartum juga dapat terjadi sebagai komplikasi dari retensi plasenta.Baca jawaban dokter: Ukuran plasenta lebih besar dari seharusnya, apakah berbahaya?
Untuk mencegah terjadinya retensi plasenta, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan oleh dokter, yakni:
  • Pemberian obat induksi seperti oksitosin yang dapat membantu kontraksi rahim agar dapat membantu persalinan plasenta
  • Pemijatan rahim disertai persalinan plasenta yang dipandu menggunakan alat penjepit khusus
Setelah proses melahirkan, dokter mungkin menyarankan pasien untuk tetap melakukan pemijatan rahim, dengan cara memijat daerah sekitar perut bawah. Hal ini dilakukan dengan harapan agar terjadinya kontraksi yang dapat membantu mengurangi perdarahan dan memicu rahim agar kembali pada ukuran normalnya.Baca juga: Metode Melahirkan Lotus Birth: Saat Tali Plasenta Tak Perlu Dipotong
Retensi plasenta tidak dapat didiagnosis sebelum persalinan terjadi, tetapi Anda dapat datang berkonsultasi ke dokter apabila Anda mengalami kondisi berikut:
  • Memiliki risiko retensi plasenta, seperti usia di atas 30 tahun
  • Pernah mengalami retensi plasenta sebelumnya
  • Memiliki saudara kandung atau ibu dengan riwayat retensi plasenta 
  • Memiliki kelainan anatomis atau bentuk rahim
Jika Anda telah mengalami retensi plasenta yang telah ditangani, disarankan untuk melakukan kontrol ke dokter, beberapa hari pasca melahirkan untuk mengurangi risiko terjadinya komplikasi seperti infeksi.
Ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mempersiapkan diri sebelum berkonsultasi dengan dokter, yaitu:
  • Buatlah janji dengan dokter spesialis kandungan.
  • Buatlah daftar gejala yang telah Anda rasakan, obat-obatan yang diminum secara rutin, dan pertanyaan yang ingin Anda tanyakan pada dokter. Pertanyaan dapat meliputi risiko Anda mengalami retensi plasenta, jenis persalinan yang tepat untuk Anda, dan pencegahan yang dapat dilakukan sebelum persalinan.
  • Jika Anda telah melakukan pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan darah atau pemeriksaan urin, bawalah hasil tes tersebut, agar dokter dapat melihat riwayat medis Anda.
  • Jika diperlukan, ajaklah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkunjung, agar dapat membantu Anda secara emosional dalam diskusi dengan dokter anda.
Setelah itu dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, seperti mengukur tekanan darah dan mendengarkan detak jantung. Dokter kemudian akan meminta Anda untuk menjelaskan tentang riwayat kehamilan anda, serta riwayat persalinan sebelumnya bila tersedia. Dokter Anda mungkin dapat memperkirakan risiko Anda mengalami retensi plasenta dan  berdiskusi dengan Anda mengenai metode persalinan yang terbaik dan paling cocok dengan Anda.
American Pregnancy Association. https://americanpregnancy.org/healthy-pregnancy/labor-and-birth/retained-placenta/
Diakses pada 19 Agustus 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/pregnancy/complications-retained-placenta#prevention
Diakses pada 17 Desember 2018
NHS. https://www.nhs.uk/common-health-questions/pregnancy/what-complications-can-affect-the-placenta/
Diakses pada 17 Desember 2018
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/275304-overview
Diakses pada 17 Desember 2018
Pregnancy Birth & Baby. https://www.pregnancybirthbaby.org.au/retained-placenta#:~:text=A%20retained%20placenta%20is%20when,managed%20by%20a%20medical%20team.
Diakses pada 19 Agustus 2021
Auckland District Health Board. http://nationalwomenshealth.adhb.govt.nz/Portals/0/Documents/Policies/Retained%20Placenta%20Management_.pdf
Diakses pada 17 Desember 2018
Verywell Family. https://www.verywellfamily.com/breastfeeding-and-a-retained-placenta-431613
Diakses pada 19 Agustus 2021
National Center for Biotechnology Information. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6789409/
Diakses pada 19 Agustus 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email