Rabies

Ditinjau dr. Widiastuti
Rabies disebabkan infeksi virus rabies yang menular melalui gigitan hewan peliharaan seperti anjing dan mamalia lainnya.
Virus rabies menular melalui gigitan hewan dan menyerang otak serta sistem saraf.

Pengertian Rabies

Rabies merupakan penyakit zoonosis virus yang menyebabkan infeksi pada otak dan saraf (susunan saraf pusat) akut pada manusia dan hewan mamalia berdarah panas. Rabies disebabkan oleh virus rabies. Penyakit ini tersebar hampir diseluruh benua, kecuali antartika, dan endemik dalam beberapa negara Afrika dan Asia. Di Indonesia, penyakit rabies merupakan penyakit hewan yang mematikan dan hampir selalu berakhir dengan fatal. Menurut data WHO, anjing domestik merupakan pembawa paling umum dari virus rabies, dengan lebih dari 95% kematian manusia disebabkan oleh anjing domestik yang memiliki virus rabies.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Gejala rabies biasanya muncul setelah 3-12 minggu setelah tergigit hewan yang terinfeksi. Gejala awal yang dialami mirip dengan flu, dan dapat berlangsung selama beberapa hari. Gejala tersebut di antaranya adalah:

  • Demam 38°C atau lebih
  • Sakit kepala
  • Merasa cemas atau tidak sehat secara umum
  • Sakit pada bekas gigitan

Gejala lain yang dapat muncul beberapa hari kemudian adalah:

  • Kebingungan atau perilaku agresif
  • Berhalusinasi
  • Menghasilkan banyak air liur atau mulut berbusa
  • Kejang otot
  • Kesulitan menelan dan bernapas
  • Takut akan air (hidrofobia) yang merupakan manifestasi klinis khas rabies
  • Insomnia
  • Ketidakmampuan untuk bergerak (kelumpuhan)

Penyebab

Infeksi rabies disebabkan oleh virus rabies. Virus ini menyebar melalui air liur hewan yang terinfeksi. Hewan yang terinfeksi dapat menyebarkan virus dengan menggigit hewan lain atau manusia. Rabies dapat pula menyebar ketika air liur yang terinfeksi masuk ke luka terbuka atau selaput lendir, seperti mulut atau mata. Hal ini dapat terjadi ketika hewan yang terinfeksi menjilat luka yang terbuka.

Setiap mamalia (hewan menyusui yang masih muda) dapat menularkan virus rabies. Hewan yang dapat menyebarkan virus rabies kepada manusia, diantaranya adalah:

  • Kucing
  • Sapi
  • Anjing
  • Musang
  • Kambing
  • Kuda
  • Kelelawar
  • Berang-berang
  • Anjing hutan
  • Rubah
  • Monyet
  • Rakun
  • Sigung

Walaupun jarang terjadi, virus rabies dapat ditularkan ke dalam jaringan dan organ tranplanstasi melalui organ yang telah terinfeksi.

Diagnosis

Pada saat seekor hewan gila menggigit, tidak ada cara untuk mengetahui apakah hewan tersebut menularkan virus rabies. Untuk itu, perawatan untuk mencegah virus rabies dianjurkan dokter jika ada kemungkinan terkena virus.

Pengobatan

Apabila seseorang telah terinfeksi oleh rabies (telah menimbulkan manifestasi klinis), maka tidak ada pengobatan efektif yang dapat diberikan pada tahap ini. Walaupun ada sebagian kecil orang selamat dari penyakit ini, biasanya penyakit ini berakibat fatal (dengan tingkat kematian hampir 100%). Penanganan yang dapat diberikan adalah bersifat suportif.

Penanganan Awal

  • Pencucian Luka

        Luka gigitan dicuci dengan air mengalir dan sabun selama 10- 15 menit

  • Pemberian Antiseptik

        Antiseptik (alkohol 70%, betadine, obat merah, dan lain-lain) dapat diberikan setelah pencucian luka

  • Tindakan Penunjang
    • Luka tidak boleh dijahit untuk mengurangi masuknya virus pada jaringan luka lebar dan dalam yang terus mengeluarkan darah. Jaitan situasi dapat dilakukan untuk menghentikan pendarahan
    • Pemberian VAR (vaksin anti rabies) atau VAR dan SAR (serum anti rabies). Pemberian VAR dilakukan pada kasus luka risiko rendah. Tidak semua kasus harus diberikan VAR, hal ini tergantung riwayat kesehatan penderita. Sedangkan VAR dan SAR diberikan pada kasus luka risiko tinggi.

Jika seseorang telah digigit oleh hewan yang diketahui mengidap rabies, dokter akan merekomendasikan serangkaian suntikan untuk mencegah infeksi dari virus rabies. Suntikan rabies di antaranya adalah:

  • Pemberian immunoglobulin rabies (rabies immune globulin) atau Serum Anti Rabies (SAR) segera setelah terpapar virus rabies. SAR berperan sebagai imunisasi pasif yang bertujuan memberikan antibodi penetral yang cepat sebelum sistem kekebalan tubuh membentuk antibodi sendiri.
  • Setelah diberikan SAR, maka akan diberikan Vaksin Anti Rabies (VAR) secara intradermal atau intramuskular untuk membantu tubuh mengidentifikasi dan melawan virus rabies. Vaksin ini diberikan sebanyak 5 kali dalam waktu 14 hari.

Pencegahan

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko rabies, di antaranya adalah:

  • Memvaksinasi hewan peliharaan Kucing, anjing, dan musang dapat divaksinasi rabies.
  • Menjaga hewan peliharaan. Menjaga dan mengawasi hewan peliharaan saat berada di luar.
  • Melindungi hewan peliharaan kecil dari pemangsa. Hewan peliharaan kecil seperti kelinci tidak dapat divaksinasi rabies.
  • Jangan mendekati binatang buas. Tidaklah normal bagi hewan liar untuk bersahabat dengan manusia. Sebaiknya, jauhi hewan liar karena mungkin saja hewan liar tersebut sudah terinfeksi rabies.
  • Jauhkan kelelawar dari rumah. Tutup semua celah yang memungkinkan kelelawar dapat masuk ke rumah.
  • Dapatkan vaksin rabies saat berpergian ke negara di mana rabies umum terjadi atau daerah terpencil di mana perawatan medis sulit ditemukan.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Carilah perawatan medis segera jika Anda digigit oleh hewan apa pun atau hewan yang diduga terkena rabies. Dokter akan melakukan pemeriksaan dan memutuskan perawatan yang dapat Anda ambil.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika seekor hewan menggigit Anda, segera temui dokter untuk memeriksa luka Anda. Beri tahu juga tentang keadaan cedera Anda. Dokter akan mengajukan pertanyaan seperti:

  • Binatang apa yang menggigit Anda?
  • Apakah itu hewan liar atau hewan peliharaan?
Referensi

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/rabies/symptoms-causes/syc-20351821
diakses pada 26 November 2018.

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/rabies/
diakses pada 26 November 2018.

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin%20rabies%202017.pdf
diakses pada 26 November 2018.

Web MD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/what-is-rabies#1
diakses pada 26 November 2018.

Back to Top