Penyakit Lainnya

Pubertas Dini

Diterbitkan: 28 Jan 2019 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Pubertas Dini
Anak yang mengalami pubertas dini berisiko mengalami tubuh pendek dan masalah sosial serta emosi
Pubertas dini adalah pubertas yang terjadi lebih awal dari usia normalnya. Pubertas atau akil balig yang dimulai sebelum usia 8 tahun untuk anak perempuan dan sebelum usia 9 tahun pada anak laki-laki dianggap sebagai pubertas dini.Pubertas adalah serangkaian perubahan hormonal yang menandakan seseorang telah berkembang menjadi dewasa berdasarkan fungsi seksualnya. Melalui proses ini, seorang anak akan mengalami perubahan fisik dan emosional.Indikasinya antara lain berupa pertumbuhan yang cepat pada tulang dan otot, perubahan bentuk dan ukuran tubuh, pertumbuhan rambut, perubahan suara, mulai muncul jerawat serta perilaku psikologis.Pubertas dini dapat memicu dampak-dampak negatif seperti memiliki tubuh yang pendek ketika sudah dewasa, mengalami masalah emosional dan sosial, terlibat dalam aktivitas seksual dini dan risiko akibat kondisi kesehatan lainnya.Penyebab pubertas dini masih belum ditemukan. Namun beberapa kondisi seperti infeksi, kelainan hormon, tumor, ketidaknormalan otak, maupun luka, dapat menyebabkan pubertas dini, meski sangat jarang.Obat-obatan dapat digunakan dalam perawatan pubertas dini untuk memperlambat perkembangannya. Selain itu, pendampingan orangtua dan tenaga kesehatan dapat membantu anak dalam menghadapi kondisi ini. 
Pubertas Dini
Dokter spesialis Anak
GejalaPerutumbuhan payudara, pertumbuhan penis, pertumbuhan rambut, jerawat, bau badan
Faktor risikoJenis kelamin perempuan, obesitas, kondisi kesehatan tertentu
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes darah, pemindaian
PengobatanTerapi hormon, pengobatan untuk penyebab pubertas dini
ObatLeuprolide
KomplikasiTubuh pendek, masalah sosial dan psikologis
Kapan harus ke dokter?Jika anak perempuan berusia sebelum 8 tahun atau anak laki-laki berusia sebelum 9 tahun mengalami gejala pubertas
Gejala pubertas dini pada anak perempuan adalah:
  • Pertumbuhan payudara
  • Pembesaran labia majora dan labia minora pada vagina
  • Keluar keputihan yang bening hingga putih
  • Mengalami menstruasi untuk pertama kalinya
Sementara itu pada anak laki-laki, gejalanya mencakup:
  • Pembesaran testis dan penis
  • Pertumbuhan rambut di wajah seperti kumis
  • Suara yang menjadi lebih berat
Pada anak perempuan mau pun laki-laki, gejala berikut ini dapat muncul sebagai tanda pubertas dini:
  • Pertumbuhan rambut kemaluan dan bulu ketiak
  • Pertumbuhan tubuh yang cepat
  • Jerawat
  • Bau badan
 
Pubertas adalah suatu tahap normal yang akan dilalui semua orang. Kondisi pubertas disebabkan oleh pembentukan Gonadotropine-Releasing Hormone (GnRH).Hormon ini akan memicu kelenjar pituitary untuk mengeluarkan Luteinizing Hormone (LH) dan Follicle Stimulating Hormone (FSH), yang pada akhirnya akan mendorong ovarium untuk memproduksi estrogen pada anak perempuan, dan testis untuk memproduksi testosteron pada anak laki-laki.Kedua hormon tersebut bertanggung jawab pada perkembangan seksual pada anak, sehingga terjadi perubahan bentuk dan fungsi tubuh. Ada dua jenis pubertas dini, yaitu pubertas dini sentral dan pubertas dini periferal.

1. Pubertas dini sentral

Pada pubertas dini sentral, otak terlalu awal melepaskan GnRH dan belum diketahui penyebab pastinya. Namun, gangguan pada otak dan sumsum tulang belakang (sistem saraf pusat) berikut ini dapat memicu terjadinya pubertas dini sentral.
  • Tumor, trauma, cerebral palsy, radiasi pada otak dan sumsum tulang belakang
  • Infeksi seperti tuberkulosis yang menyerang otak dan sumsum tulang belakang
  • Kecacatan pada otak pada saat lahir seperti hidrosefalus atau hamartoma (tumor jinak)
  • Hipotiroid, hyperplasia adrenal congenital

2. Pubertas dini periferal (pseudopubertas dini)

Pubertas dini periferal, disebut juga sebagai pubertas prekoks perifer, terjadi akibat adanya peningkatan kadar estrogen dan testosteron yang bukan dipengaruhi oleh GnRH. Peningkatan kadar hormon ini dapat disebabkan oleh gangguan atau kelainan pada ovarium, testis, atau kelenjar pituitari.Pada anak perempuan dan laki-laki, pubertas dini periferal dapat dipicu oleh:
  • Tumor di kelenjar adrenal atau di kelenjar pituitari yang melepaskan estrogen atau testosteron
  • Penyakit genetik seperti Sindrom McCune-Albright, sebagai kelainan genetik langka yang memengaruhi warna kulit dan tulang serta menyebabkan masalah hormonal
  • Tumor testis yang menyerang sel Leydig dan tumor sel Sertoli
  • Paparan sumber eksternal estrogen atau testosteron, seperti pemakaian krim atau salep
Pada anak perempuan, pubertas prekoks perifer juga dapat dikaitkan dengan:
Pada anak laki-laki, pubertas prekoks perifer bisa disebabkan oleh:Gangguan langka yang disebut gonadotropin-independent familial sexual precocity, akibat kecacatan gen. Kondisi ini menyebabkan produksi awal testosteron pada anak laki-laki, biasanya pada usia 1-4 tahun. 

Faktor risiko

Berikut ini kondisi yang menjadi faktor risiko anak terhadap pubertas dini.
  • Jenis kelamin

    Anak perempuan cenderung lebih rentan mengalami pubertas dini
  • Obesitas

    Anak yang secara signifikan mempunyai berat badan berlebih memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami pubertas dini
  • Paparan hormon seksual

    Mengalami kontak dengan krim atau salep estrogen, testosteron, atau zat lain yang mengandung hormon ini, dapat meningkatkan risiko pubertas dini pada anak.
  • Kondisi kesehatan tertentu

    Pubertas dini dapat timbul sebagai komplikasi dari sindrom McCune-Albright atau hiperplasia adrenal kongenital, yaitu ketika terjadi produksi abnormal dari hormon androgen (hormon laki-laki). Dalam kasus yang langka, pubertas dini juga dapat terkait dengan hipotiroidisme
  • Terapi radiasi pada sistem saraf pusat

    Radiasi untuk pengobatan tumor, leukimia, atau kondisi lain dapat meningkatkan risiko pubertas dini
 
Untuk mendiagnosis pubertas dini, dokter akan:
  • Memeriksa riwayat medis keluarga dan penyakit anak
  • Melakukan pemeriksaan fisik
  • Melakukan tes darah untuk mengukur level hormon
X-ray dari tangan dan pergelangan tangan anak juga sangat penting untuk mendiagnosis pubertas dini. X-ray dapat membantu dokter menentukan usia tulang anak untuk mengetahui kemungkinan pertumbuhan tulang yang terlalu cepat.Pemeriksaan juga dilakukan untuk mencari tahu tipe pubertas dini. Dokter akan memberikan tes stimulasi hormon gonadotropin dan mengambil sampel darah anak. 

Pemeriksaan tambahan

Pada anak dengan pubertas dini sentral, hormon gonadotropin ini akan menyebabkan kadar hormon lainnya meningkat. Sementara itu pada anak dengan pubertas dini sebagian, kadar hormon lainnya akan tetap sama. Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan tes tiroid menjadi pemeriksaan tambahan untuk kasus pubertas dini.

1. MRI

MRI otak biasanya dilakukan untuk anak yang memiliki pubertas dini sentral. Tujuannya, untuk memeriksa kondisi abnormal pada pada otak yang menyebabkan pubertas lebih awal.

2. Tes tiroid

Dokter akan memeriksa fungsi tiroid anak jika menunjukkan fungsi yang melambat seperti kelelahan, kelesuan, dan peningkatan sensitivitas terhadap dingin, konstipasi, pucat atau kulit yang kering.Tes lain yang juga dibutuhkan dengan pubertas dini periferal untuk mengetahui penyebab kondisi tersebut.Dokter akan menjalankan tes darah tambahan untuk memeriksa kadar hormon lain pada laki-laki., maupun tes ultrasound (USG) untuk mencari kista ovarium atau tumor, pada perempuan. 
Pengobatan diberikan berdasarkan penyebab pubertas dini. Tujuan utama dari pengobatan ini adalah memungkinkan anak dengan pubertas dini tumbuh secara normal hingga dewasa, terutama dalam hal tinggi badan.

1. Pubertas dini sentral

Anak dengan pubertas dini sentral tanpa disertai dengan kondisi medis, dapat ditangani secara efektif dengan menggunakan terapi analog GnRH yaitu leuprolide. Terapi ini bertujuan menghambat perkembangan proses pubertas selanjutnya.Oleh karena itu, saat menjalani terapi, dokter akan memantau secara berkala perkembangan pubertas, kecepatan pertumbuhan, dan pematangan tulang pasien.Suntikan leuprolide diberikan setiap bulan sampai anak mencapai usia pubertas normal. Setelah suntikan dihentikan, proses pubertas akan kembali berjalan 16 bulan kemudian.

2. Pubertas dini periferal

Untuk pubertas dini yang disebabkan oleh kondisi medis, penanganannya berfokus untuk mengatasi kondisi medis yang ada, agar proses pubertas terhenti. Misalnya pada penanganan pubertas yang disebabkan oleh tumor, setelah tumor diangkat melalui operasi, kemungkinan besar proses pubertas akan berhenti. 

Tips untuk orangtua 

Selain perubahan fisik, pubertas dini juga memengaruhi psikologis anak. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk membimbing anak dalam menjalani perubahan yang dialami.Beberapa cara yang dapat dilakukan orangtua adalah:

1. Berdiskusi dengan anak

Anak-anak mungkin merasakan kebingungan dan ketidaknyamanan dengan perubahan yang terjadi. Jelaskan mengenai pubertas dan perubahan seperti tumbuhnya rambut, berubahnya suara dan tanda lainnya sebagai hal yang normal. dan dialami semua orang. Hanya saja waktunya berbeda-beda pada tiap individu.

2. Memperhatikan perawatan dan kebersihan diri anak

Pubertas dapat menyebabkan tumbuhnya rambut, bau badan, maupun jerawat. Karenanya, Anda dapat menyarankan berbagai produk yang cocok untuk mengatasinya, seperti deodoran, krim jerawat atau alat cukur. Katakan bahwa anak sudah mencapai usia yang dibutuhkan untuk memakai produk-produk tersebut.

3. Mengajarkan cara mengelola emosi

Perubahan hormonal dari pubertas dapat mengakibatkan naik-turunnya emosi pada anak. Hal ini dapat membuat anak kebingungan dengan emosi-emosi baru yang dirasakan. Hal yang sebelumnya tidak menganggu, kini terasa sebaliknya. Berdiskusilah dan dengarkan yang anak rasakan dan ajarkan untuk mengenali emosi tersebut.

4. Mengenal teman sepermainan anak

Mulailah berkenalan teman-teman anak Anda. Jika ada teman yang berkunjung ke rumah, tetaplah berada pada jangkauan mereka. Perhatikan pola interaksi anak dan teman-temannya.

5. Memperhatikan pergaulan anak

Perubahan fisik yang terjadi ketika pubertas dapat menjadikan anak sasaran untuk diejek atau digoda oleh lawan jenis. Ajari anak cara melindungi diri dan katakan padanya untuk melapor jika diejek atau mengalami perlakuan tidak mengenakkan lainnya.

5. Membekali diri dengan pengetahuan mengenai pubertas

Orang tua dapat memperkaya pengetahuan tentang serba-serbi pubertas dengan membaca buku atau website terkait.Baca juga: Tips Jitu Bicarakan Menstruasi Pertama dengan Anak Tanpa Canggung


Komplikasi

Tanpa perawatan maupun pendampingan yang tepat, anak yang mengalami pubertas dini, berpotensi mengalami komplikasi berikut ini.

1. Tubuh pendek

Anak dengan pubertas dini akan tumbuh dengan cepat pada awalnya, dan lebih tinggi dibandingkan dengan teman seusianya. Namun, pertumbuhan ini juga dapat berhenti lebih dini karena tulangnya lebih cepat matang.Akibatnya, ketika mencapai usia dewasa, orang tersebut akan menjadi lebih pendek dibandingkan dengan orang dewasa lainnya. Perawatan awal untuk pubertas dini, khususnya ketika terjadi pada anak yang masih sangat kecil, akan membantunya tumbuh lebih tinggi dibandingkan jika tanpa perawatan.

2. Masalah sosial dan emosi

Perempuan dan laki-laki yang memulai pubertas jauh sebelum waktunya akan cenderung lebih menyadari perubahan yang terjadi pada tubuh mereka. Hal ini dapat mempengaruhi kepercayaan diri dan meningkatkan risiko depresi atau penyalahgunaan obat-obatan.Baca jawaban dokter: Mudah marah saat pubertas apa wajar? 
Beberapa faktor yang berisiko terhadap pubertas dini seperti jenis kelamin dan etnis, tidak dapat dihindari. Namun, ada hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi kemungkinan anak mengalami pubertas dini, yaitu:
  • Menjauhkan anak dari sumber eksternal estrogen dan testosteron. Misalnya, menyimpan obat resep untuk orang dewasa atau suplemen diet dengan kandungan hormon estrogen atau testosteron di tempat yang tidak dapat dijangkau anak.
  • Mendorong anak untuk menjaga hidup sehat dan menjaga berat badan ideal
Baca juga: 7 Cara Mendidik Anak Agar Tak Jadi Tukang Bully di Sekolah    
Berkonsultasilah dengan dokter jika anak mengalami gejala pubertas dini.
Sebelum mengantarkan anak untuk menjalani pemeriksaan oleh dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang anak Anda rasakan, termasuk yang tidak berhubungan dengan pubertas dini
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang anak Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang anak Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, seperti:
    • Apa yang menyebabkan gejala atau kondisi ini pada anak?
    • Apakah ada penyebab lain yang mungkin memengaruhi gejala atau kondisinya?
    • Apa saja pemeriksaan yang perlu dijalankan?
    • Apakah kondisi ini hanya sementara, atau malah kronik?
    • Apa perawatan yang terbaik untuk pubertas dini?
    • Kapan perawatan dimulai dan berapa lama perawatan tersebut berlangsung?
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini.
  • Apa saja gejala yang anak Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali anak Anda alami?
  • Apakah anak Anda memiliki faktor risiko terhadap pubertas dini?
  • Apakah anak Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah anak Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis pubertas dini agar penanganan yang tepat bisa diberikan.    
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/precocious-puberty/diagnosis-treatment/drc-20351817
Diakses pada 19 Oktober 2018
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3005651/
Diakses pada 26 Februari 2019
Scholastic. https://www.scholastic.com/parents/family-life/parent-child/how-to-handle-precocious-puberty.html
Diakses pada 12 November 2020
Nationwide Childrens. https://www.nationwidechildrens.org/conditions/early-puberty-in-boys
Diakses pada 12 November 2020
Researchgate.https://www.researchgate.net/publication/283511737_A_Significant_Increase_in_the_Incidence_of_Central_Precocious_Puberty_among_Korean_Girls_from_2004_to_2010
Diakses pada 12 November 2020
MSD Manuals. https://www.msdmanuals.com/home/children-s-health-issues/hormonal-disorders-in-children/early-puberty
Diakses pada 12 November 2020
My Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21064-precocious-early-puberty/prevention#
Diakses pada 12 November 2020
Pediatrics. https://pediatrics.aappublications.org/content/131/6/1029
Diakses pada 12 November 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK534827/
Diakses pada 12 November 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK544313/
Diakses pada 12 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Dokter Terkait

Artikel Terkait

10 Larangan Saat Haid yang Sebaiknya Tidak Dilakukan

Sebagian wanita mungkin merasa nyeri, kembung atau lesu ketika menstruasi. Bahkan terdapat berbagai larangan saat haid yang harus diikuti agar tidak memperburuk kondisi tersebut.
20 Oct 2020|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
Ada larangan saat haid yang sebaiknya tidak dilakukan saat menstruasi

Gangguan Sistem Pencernaan Anak yang Umum Terjadi dan Cara Mengatasinya

Gangguan sistem pencernaan pada anak kadang memiliki gejala serupa. Karena itu, penting untuk mengetahui jenisnya yang umum hingga cara mengatasinya.
29 Jul 2020|Annisa Trimirasti
Baca selengkapnya
Kolik termasuk gangguan sistem pencernaan pada anak yang memicu bayi terus menangis

Darah Haid Menggumpal, Perlukah Khawatir?

Darah haid menggumpal normal terjadi di awal periode menstruasi, saat aliran darah yang keluar sedang deras-derasnya. Namun bila darah menggumpal keluar dari vagina terjadi terus-menerus, diiringi dengan kram perut yang parah, bisa jadi Anda terkena beberapa kondisi medis seperti, polip rahim, kanker, dan endometriosis.
15 Jul 2019|Luker Wasinton
Baca selengkapnya
Darah haid menggumpal umumnya terjadi di awal periode menstruasi