Ptyalism atau hipersalivasi lebih sering dialami oleh ibu hamil, terutama di trimester awal kehamilan.
Ptyalism atau hipersalivasi lebih sering dialami oleh ibu hamil, terutama di trimester awal kehamilan.

Produksi air liur berlebih hingga menetes normal terjadi untuk tumbuh kembang bayi, dan akan mereda ketika sudah menginjak usia 15 – 36 bulan, namun jika hal ini berlangsung hingga usia lebih dari 4 tahun maka dapat dikatakan abnormal. Ptyalism adalah kondisi yang membuat terjadi produksi air liur berlebih di rongga mulut. Kondisi ini disebut juga dengan hipersalivasi atau sialorrhea. Orang yang mengalami hipersalivasi dapat memproduksi air liur hingga satu atau dua liter per harinya.

Ptyalism dapat terjadi pada siapapun. Tapi kondisi ini lebih sering terjadi pada ibu hamil, terutama di usia kehamilan trimester awal. Hipersalivasi tidak berbahaya untuk bayi dan bukan merupakan suatu kondisi yang serius, namun tetap bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian orang.

Kondisi ptyalism sendiri sebenarnya adalah suatu gejala yang menandakan gangguan kesehatan tertentu dan bukan merupakan penyakit yang berdiri sendiri. Meski begitu, bagi orang yang mengalaminya, terdapat juga beberapa tanda fisik yang dapat menyertai. Di antaranya meliputi:

  • Bibir kering dan pecah-pecah.
  • Kulit di sekitar rongga mulut menjadi rusak dan lebih lembek.
  • Infeksi yang muncul di kulit sekitar rongga mulut.
  • Bau mulut.
  • Dehidrasi.
  • Gangguan bicara.
  • Pneumonia.
  • Indera perasa menjadi terganggu.

Selain gejala fisik, produksi air liur berlebih juga bisa menyebabkan suatu komplikasi psikologis, seperti gangguan kecemasan.

Pada ptyalism yang terjadi sementara, beberapa kondisi di bawah ini bisa menjadi penyebabnya:

  • Gigi berlubang.
  • Infeksi.
  • Naiknya cairan lambung (reflux).
  • Kehamilan.
  • Konsumsi obat-obatan tertentu.
  • Paparan racun, seperti merkuri.

Produksi air liur umumnya akan berkurang dan kembali seperti semula, setelah kondisi-kondisi di atas tidak lagi dialami.

Pada ibu hamil, produksi air liur berlebih disebabkan oleh adanya gangguan keseimbangan hormon di tubuh. Selain itu, ptyalism pada ibu hamil juga dapat dipicu oleh rasa mual yang sering timbul.

Pasalnya, rasa mual yang dirasakan akan membuat ibu hamil sulit menelan makanan. Gangguan pencernaan, seperti heartburn pada ibu hamil, juga dapat memicu timbulnya ptyalism.

Sedangkan pada kondisi produksi air liur berlebih yang terjadi secara terus-menerus dan konstan, pemicunya biasa berupa suatu gangguan kronis yang menyebabkan otot kehilangan kemampuan untuk mengontrol pergerakannya.

Saat pergerakan otot tidak terkendali, kemampuan menelan pun akan terganggu. Akibatnya, air liur akan terus menumpuk di rongga mulut. Beberapa kondisi di bawah ini bisa menjadi penyebab terjadinya ptyalism yang permanen:

  • Susunan gigi yang berantakan.
  • Lidah berukuran terlalu besar.
  • Gangguan intelektual.
  • Cerebral palsy atau lumpuh otak.
  • Gangguan pada saraf wajah.
  • Penyakit Parkinson.
  • Amytrophic lateral schleoris (ALS).
  • Stroke.

Tujuan utama mendiagnosis produksi air liur berlebih adalah untuk mengetahui gangguan kesehatan atau kondisi lain yang menjadi penyebabnya. Untuk mendiagnosis ptyalism, dokter akan melakukan pemeriksaan pada:

  • Rongga mulut, gigi, dan jaringan kulit di sekitarnya.
  • Kontrol lidah, kemampuan menelan, dan stabilitas rahang.
  • Tonsil dan jalur pernapasan.
  • Kondisi emosional.
  • Postur kepala, pemeriksaan untuk melihat tanda-tanda dehidrasi, dan kondisi lapar.
  • Jenis obat-obatan yang dikonsumsi.

Selain itu, dokter juga akan memeriksa bagaimana dan kapan kondisi ini mulai terjadi. Jumlah air liur yang diproduksi dan dampaknya terhadap keseharian pun akan diperiksa oleh doker guna mendapatkan diagnosis yang pasti.

Jika tidak parah, ptyalism umumnya tidak memerlukan perawatan khusus. Namun beberapa langkah di bawah ini dianggap bisa membantu Anda dalam meredakan gejala yang dirasakan:

  • Mengurangi porsi makan, namun menambah frekuensi makan.
  • Sikat gigi dan kumur menggunakan obat kumur beberapa kali sehari.
  • Mengunyah permen karet tanpa gula atau menghisap permen yang keras.
  • Lebih sering minum air.

Pada kondisi yang lebih lanjut dan memerlukan perawatan, dokter mungkin akan memberikan beberapa pilihan perawatan, seperti pemberian obat glikopirolat. Obat ini bekerja dengan menghentikan kerja saraf di kelenjar air liur, sehingga produksi air liur dapat berkurang.

Meski begitu, konsumsi obat tersebut dapat menimbulkan berbagai efek samping. Misalnya, mulut kering, konstipasi, sulit buang air kecil, gangguan penglihatan, menjadi hiperaktif, dan menjadi mudah marah.

Cara mencegahnya adalah dengan memperbaiki penyebabnya, jika penyebabnya adalah permasalahan gigi dan mulut sebaiknya segeralah mengunjungi dokter gigi. Apabila anda sedang hamil dan mengalami ptyalism maka disarankan Anda tidak perlu khawatir karena sejauh ini tidak ada studi yang menjelaskan bahwa hal tersebut membahayakan janin.

Beberapa kasus ptyalism, seperti yang disebabkan oleh kehamilan, gangguan kecemasan, dan cedera ringan, dapat berhenti dengan sendirinya tanpa penanganan dari dokter. Namun jika kondisi ini terjadi karena gangguan yang lebih seriu,s seperti gangguan saraf, dan tidak kunjung hilang, ada baiknya Anda berkonsultasi dengan dokter.

Disarankan anda mencatat kapan awal munculnya gejala ini, dan dalam kondisi apa produksi air liur menjadi bertambah banyak agar dokter dapat mencaritahu apa diagnosis yang tepat untuk keluhan anda.

Tujuan dari terapi ptyalism adalah menurunkan produksi air liur dan mencegah mulut kering. Terdapat beberapa obat-obatan untuk menangani ptyalism salah satunya pemberian antikolinergik yang bekerja pada sistem saraf parasimpatik. Toxin botulinum juga merupakan obat yang dapat menurunkan produksi air liur.

NCT. https://www.nct.org.uk/pregnancy/worries-and-discomforts/common-discomforts/excessive-saliva-pregnancy
Diakses pada 30 Mei 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/318728.php
Diakses pada 30 Mei 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/dental-and-oral-health/hypersalivation
Diakses pada 30 Mei 2019

Artikel Terkait