Psikologi

Psikosis

Diterbitkan: 07 Oct 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Psikosis
Penderita psikosis dapat mengalami halusinasi dan/atau delusi
Psikosis adalah gangguan kejiwaan yang membuat para penderitanya kesulitan dalam mempersepsikan realita. Indra-indra mereka tampak mendeteksi hal yang tidak ada, sehingga seringkali kesulitan membedakan kenyataan dan khayalan.Kondisi tersebut membuat penderitanya menafsirkan kehidupan sekitar secara berbeda dari orang lain. Misalnya, dalam suatu episode psikosis, penderitanya sering mengaku bahwa mereka percaya ada seseorang atau organisasi khusus yang mengincar dan ingin membunuhnya.Orang tersebut mungkin tidak menyadari bahwa dirinya mengidap psikosis karena delusi seperti itu terasa nyata. Akibatnya, penderita psikosis bisa sangat terbebani dalam menjalani hidup normal. Terkadang, psikosis dapat menyebabkan penderitanya melukai diri sendiri.Meskipun tidak ada obat yang dapat menyembuhkan kondisi ini, tetapi berbagai pilihan perawatan untuk mengurangi risiko terjadinya episode psikosis telah tersedia. 
Psikosis
Dokter spesialis Jiwa, Psikolog
GejalaBerhalusinasi, sulit berkonsentrasi, menarik diri dari lingkungan
Faktor risikoGenetik, menderita kondisi mental lain, penyalahgunaan obat
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes laboratorium, tes pemindaian
PengobatanObat-obatan, terapi psikologi, bergabung dengan grup pendukung
ObatObat anti psikotik
KomplikasiTidak mampu bekerja, mengurung diri, melukai diri, bunuh diri
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala dan sudah mencoba bunuh diri
Seseorang dengan gangguan mental psikosis menunjukkan beberapa gejala berupa:

Tanda dan gejala awal

Awalnya, penderita psikosis akan mulai berpikir atau melihat dunia di sekitarnya secara berbeda, yang ditandai dengan:
  • Kesulitan berpikir jernih atau berkonsentrasi
  • Mencurigai atau merasa tidak nyaman jika berada di sekitar orang lain
  • Kurang merawat diri atau tidak memperhatikan kebersihan diri
  • Menghabiskan lebih banyak waktu sendirian dari biasanya
  • Mengeluarkan emosi yang berlebihan
  • Tidak mengeluarkan emosi sama sekali
Gejala awal tersebut akan berkembang lebih jauh menjadi delusi maupun halusinasi.
  • Delusi

    Kondisi ini membuat penderitanya memiliki keyakinan yang kuat dan tidak masuk akal. Penderita dapat memercayai sesuatu yang tidak nyata. Delusi terbagi menjadi tiga jenis, yaitu delusi paranoia (paranoia/persecutory delusion), delusi mengenai keagungan (grandiose delusion), dan delusi somatik (somatic delusion).

    Pada delusi paranoia, penderitanya memiliki kecurigaan atau ketidakpercayaan terhadap orang lain yang tidak rasional. Misalnya, percaya bahwa sekelompok orang berkonspirasi untuk membunuhnya.

    Sementara pada delusi mengenai keagungan, penderitanya meyakini bahwa dirinya memiliki suatu kekuatan, benda, atau kemampuan yang istimewa, menjadi orang yang terkenal, memiliki koneksi dengan orang-orang penting, ataupun berhubungan kuat dengan suatu agama atau mitos tertentu. Contohnya, meyakini bahwa dirinya adalah titisan anak dewa. 

    Pada delusi somatik, penderitanya percaya bahwa bagian tubuhnya cacat atau terjangkit suatu penyakit tertentu. Contohnya, meyakini bahwa tangannya terjangkiti kusta padahal secara medis sehat-sehat saja. 
  • Halusinasi

    Kondisi ini mengakibatkan penderitanya mendengar, melihat, merasa, ataupun mencicipi yang sebenarnya tidak nyata. Kasus halusinasi yang sering terjadi biasanya berupa mendengar suara-suara (halusinasi auditori)
Kombinasi dari halusinasi dan delusi dapat membuat seseorang menjadi depresi dan menunjukkan perubahan perilaku. Gejala lainnya yang dapat dirasakan oleh penderita psikosis adalah:
  • Depresi
  • Keinginan dan tindakan bunuh diri
  • Kurang tidur atau malah tidur terlalu lama
  • Merasa curiga dan cemas
  • Menarik diri dari lingkungan
  • Suasana hati yang cenderung murung
  • Cara bicara yang tidak teratur, misalnya mengganti topik yang tidak berkaitan
 
Penyebab psikosis belum diktahui secara pasti. Namun, beberapa faktor risiko berikut ini diketahui dapat memicu terjadinya psikosis.
  • Genetik. Jika terdapat anggota keluarga yang memiliki riwayat psikosis, kemungkinan keturunan berisiko untuk mengalamI kondisi serupa.
  • Masalah kesehatan mental tertentu, seperti skizofrenia, bipolar, dan depresi
  • Penyalahgunaan obat-obatan dan zat adiktif seperti mariyuana, LSD atau amfetamin.
  • Penyalahgunaan alkohol
  • Pengalaman traumatis seperti kehilangan orang yang dicintai, mengalami pelecehan seksual, atau bertugas medan perang.
  • Kondisi fisik atau penyakit yang berhubungan dengan otak, seperti cedera otak, penyakit Parkinson, penyakit Huntington, tumor otak, dan sebagainya.
  • Beberapa tipe demensia yang disebabkan oleh penyakit Alzheimer, HIV, sifilis, beberapa tipe epilepsi (kejang-kejang), dan stroke 
  • Penyakit malaria
  • Kadar gula dalam tubuh di bawah normal yang sangat rendah (hipoglikemia).
  • Lupus
Baca juga: Generasi Milenial, Generasi yang Rentan Terhadap Gangguan Mental 
Psikosis biasanya didiagnosis melalui evaluasi oleh psikiater (dokter kejiwaan) dan psikolog yang menjalankan pemeriksaan berupa:
  • Penelusuran riwayat pasien

    Dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan seputar gejala, perilaku, dan perasaan pasien.  Informasi tentang riwayat medis, keluarga dan latar belakang budaya pasien pun akan dianalisis. Pasalnya, budaya seseorang mencerminkan sederet keyakinan, nilai, dan praktik yang dianut. Pemikiran delusi dan halusinasi harus dipertimbangkan dalam konteks budaya yang spesifik. Yang dianggap delusi dalam satu budaya mungkin normal di budaya lain.
  • Pemeriksaan fisik dan mental

    Dokter akan memeriksa fisik pasien melalui kondisi tekanan darah, pola gerakan pasien dan tanda lainnya. Dokter juga akan memeriksa penyakit pasien yang mungkin menyebabkan psikosis.Sementara itu untuk pemeriksaan mental, dokter akan mengamati pasien dari riwayat kesehatannya, perilaku secara umum, suasana hati, ucapan dan proses berpikir pasien.
  • Tes laboratorium

    Ketika tanda dan gejala psikosis pasien menunjukkan pemicu berupa kondisi medis tertentu, tes laboratorium yang dapat dilakukan, antara lain:
    • Pemeriksaan darah lengkap (complete blood count)
    • Tes fungsi tiroid
    • Tes urine
    • Pengukuran hormon paratiroid
    • Pengukuran kadar kalsium, vitamin B12, folat dan niasin
    • Pengujian tes HIV dan sifilis
    • Tes antibodi
  • Tes pencitraan

    Tes pencitraan di bagian otak menggunakan MRI biasanya dilakukan bagi pasien psikosis yang mengeluhkan sakit kepala parah atau baru mengalami benturan yang keras di kepala.
Baca jawaban dokter: Apa yang dimaksud dengan gangguan mental organik?  
Penanganan bagi penderita psikosis diberikan berdasarkan kebutuhan pasien. Perawatan psikosis dapat bervariasi tergantung penyebab yang mendasarinya. Umumnya, perawatannya berupa pemberian obat-obatan, terapi, serta dukungan dari keluarga dan komunitas.
  • Pemberian obat-obatan antipsikotik

    Obat antipsikotik biasanya direkomendasikan sebagai pengobatan lini pertama untuk psikosis. Jenis obat ini bekerja dengan cara memblokir efek dopamin, zat kimia yang mentransmisikan pesan di otak.Antipsikotik biasanya dapat mengurangi perasaan cemas dalam beberapa jam setelah penggunaan, tetapi perlu waktu beberapa hari atau minggu untuk mengurangi gejala halusinasi atau pikiran delusi pada psikotik.Antipsikotik dapat diminum (secara oral) atau diberikan melalui suntikan. Contoh obat golongan ini adalah klorpromazin, perisiazin atau trifluoperazin. Penggunaan obat antipsikotik harus dipantau secara ketat oleh dokter.
  • Terapi psikologis berupa terapi perilaku kognitif

    Terapi ini dilakukan bersama psikolog, konselor, atau psikiater, untuk mengubah pemikiran dan perilaku penderita psikosis. Terapi ini efektif dalam memberikan perubahan yang permanen dan membantu penderita menghadapi gangguan yang dialami. Terkadang, perawatan ini efektif untuk penderita psikotik yang tidak dapat ditangani dengan obat-obatan.
  • Dukungan keluarga dan komunitas

    Ketika tanda dan gejala psikosis pasien menunjukkan pemicu berupa kondisi medis tertentu, tes laboratorium yang dapat dilakukan, antara lain:
    • Intervensi keluarga

      Dukungan dari anggota keluarga diharapkan dapat membantu penderita menangani gangguan yang dialami. Intervensi ini meliputi kegiatan diskusi mengenai kondisi yang dialami dan penanganan yang dapat dilakukan, mencari cara yang dapat digunakan untuk mendukung penderita psikosis, dan menemukan cara menyelesaikan masalah praktis karena gangguan mental tersebut. Contohnya seperti membuat perencanaan sebagai antisipasi saat psikosis kambuh di kemudian hari.
    • Support group

      Penderita dapat berdiskusi dan bercerita di komunitas atau kelompok dengan anggota-anggota yang memiliki kondisi serupa.
Baca juga: Apakah Obat Antipsikotik Dapat Menyembuhkan Psikosis dengan Maksimal? 

Komplikasi

Apabila tidak ditangani dengan baik, psikosis dapat menimbulkan komplikasi berupa:
  • Ketidakmampuan untuk mempertahankan pekerjaan
  • Penurunan prestasi akademis atau putus sekolah
  • Masalah keuangan
  • Penyalahgunaan obat
  • Terganggunya hubungan sosial
  • Perilaku menyakiti diri sendiri
  • Percobaan atau tindakan bunuh diri
Baca juga: Inilah 7 Cara Cegah Keinginan Bunuh Diri Orang Terdekat Anda! 
Kebanyakan penderita psikosis tidak menyadari bahwa dirinya mengalami kondisi tersebut. Oleh karena itu, penderita gangguan tersebut terkadang tidak merasa perlu untuk menemui dokter dan ahli kesehatan mental lainnya.Oleh karenanya, penting bagi orang-orang di sekitarnya untuk menyadari gangguan yang dialami oleh penderita dan mendukung serta merujuknya untuk melakukan konsultasi dengan psikiater maupun psikolog. 
Ketika Anda atau orang-orang terdekat mengalami gejala-gejala psikosis seperti yang disebutkan di atas, atau memiliki keinginan untuk bunuh diri, segeralah berkonsultasilah dengan dokter dan psikolog.Penanganan dini dapat membantu dokter dan ahli kesehatan mental lainnya memberikan pengobatan dan perawatan dengan efektif. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter atau psikolog, pasien atau keluarga pasien dapat melakukan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang pasien rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang pasien alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang pasien konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, seperti:
    • Apa penyebab gejala-gejala yang muncul?
    • Perawatan atau terapi apa yang cocok? 
    • Berapa lama perawatan atau terapi tersebut harus dijalani?
    • Apa saja obat-obatan yang diperlukan serta efek samping dan kontraindikasi dari obat-obatan tersebut?
    • Apa yang harus dilakukan jika mengalami gejala-gejala tersebut?
    • Bantuan apa yang bisa diberikan keluarga dan orang-orang terdekat? 
  • Apakah ada bahan bacaan sebagai referensi mengenai kondisi ini?
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter dan psikolog akan melakukan penilaian tentang potensi psikosis pada pasien. Dokter dan psikolog juga akan mencoba untuk mengetahui penyebab serta gejala-gejala dari gangguan yang dialami pasien. Beberapa pertanyaan yang mungkin akan diajukan adalah: 
  • Bagaimana Anda beraktivitas sehari-harinya? Apakah Anda masih bekerja?
  • Bagaimana suasana hati Anda akhir-akhir ini? Apakah Anda pernah merasa murung?
  • Apakah Anda mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda mengonsumsi zat-zat ilegal yang terlarang?
  • Apakah Anda memiliki anggota keluarga yang memiliki gangguan mental, seperti skizofrenia?
  • Apakah Anda merasakan gejala-gejala lainnya?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis psikosis agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/psychosis
Diakses pada 26 Oktober 2018
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/1154851-overview
Diakses pada 11 Maret 2019
WebMD. https://www.webmd.com/schizophrenia/qa/what-is-somatic-delusional-disorder
Diakses pada 11 Maret 2019
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/psychosis/
Diakses pada 2 Oktober 2020
NHS Inform. https://www.nhsinform.scot/illnesses-and-conditions/mental-health/psychosis#
Diakses pada 2 Oktober 2020
American Academy of Family Physicians. https://www.aafp.org/afp/2015/0615/p856.html#sec-4
Diakses pada 2 Oktober 2020
BPOM. http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-4-sistem-saraf-pusat/42-psikosis-dan-gangguan-sejenis/421-antipsikosis
Diakses pada 2 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

“Dia Pasti Mencintaiku”: Mengenal Erotomania, Delusi Cinta yang Berbahaya

Erotomania adalah gangguan delusi cinta yang membuat penderitanya yakin bahwa ada individu yang mencintainya. Kondisi ini bisa terjadi sebentar atau dalam jangka waktu lama, yang kadang bisa membahayakan dirinya dan objek cintanya.
24 Mar 2020|Arif Putra
Baca selengkapnya
Erotomania adalah delusi saat seseorang menyakini orang lain sedang mencintainya

Mengingat Kenangan Manis, Bagaimana Nostalgia Bisa Terjadi?

Nostalgia adalah munculnya sensasi emosi yang begitu kuat ketika mengingat kejadian atau seseorang dari pengalaman masa lalu. Pemicunya bisa banyak hal. Sesederhana aroma, musik, atau tempat yang mengingatkan pada perasaan nostalgia.
04 Sep 2020|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
Nostalgia dapat terjadi pada semua orang ketika melihat foto tertentu

Bisakah Ketakutan pada Hantu Atau Phasmophobia Dihilangkan?

Phobia pada hantu disebut dengan phasmophobia dan bisa mengganggu kesehatan dan kehidupan sosial seseorang. Berbeda dengan takut hantu biasa, perlu terapi dengan pakar kesehatan mental untuk mengatasi phasmophobia.
28 Oct 2020|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
Phasmophobia adalah ketakutan berlebihan terhadap hantu