Aldosteronism adalah kondisi kelainan hormon yang menyebabkan peningkatan tekanan darah. Kondisi ini terjadi ketika kelenjar adrenal menghasilkan terlalu banyak hormon aldosteron.

Ada dua tipe aldosteronism, yaitu primary aldosteronism dan secondary aldosteronism. Primary aldosteronism disebabkan oleh gangguan pada kelenjar adrenal. Sedangkan secondary aldosteronism terjadi akibat hal lain di luar kelenjar adrenal.

Hormon aldosteron memiliki fungsi penting, yaitu menjaga keseimbangan kadar natrium dan kalium dalam tubuh. Aldosteron dalam jumlah berlebihan akan menyebabkan keseimbangan kedua zat ini terganggu, sehingga memicu peningkatan volume darah dalam tubuh. Inilah yang akhirnya membuat tekanan darah naik.

Tekanan darah tinggi yang tidak ditangani akan meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, gagal jantung, maupun gagal ginjal. Risiko penyakit-penyakit ini pada penderita primary aldosteronism lebih tinggi dibanding penderita hipertensi yang tak memiliki tanpa kondisi ini.

Primary aldosteronism seringkali tidak menimbulkan tanda dan gejala yang jelas. Gejala yang paling sering adalah hipertensi yang sulit dikendalikan, di mana penderita membutuhkan empat jenis obat penurun tekanan darah atau lebih untuk mengatasi tekanan darah tingginya. 

Beberapa penderita primary aldosteronism mengalami gejala lain yang terjadi karena kadar kalium yang rendah. Gejala ini meliputi kram otot, tubuh yang lemas, kelelahan, sakit kepala, rasa haus yang berlebihan, sensasi mati rasa, serta sering ingin buang air kecil.

Penyebab primary aldosteronism adalah adanya gangguan pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon aldosteron. Gangguan kelenjar ini dapat melibatkan salah satu atau kedua kelenjar, dan dapat berupa:

  • Aktivitas berlebihan dari kedua kelenjar adrenal (bilateral hyperplasia)
  • Tumor pada salah satu kelenjar adrenal (Conn’s syndrome)
  • Gangguan genetik (familial hyperaldosteronism tipe I dan II)
  • Kanker adrenal

Beberapa hal juga dapat meningkatkan risiko primary aldosteronism. Di antaranya meliputi:

  • Hipertensi yang membutuhkan lebih dari tiga jenis obat penurun tekanan darah
  • Tekanan darah tinggi yang terjadi pada usia muda (kurang dari 30 tahun)
  • Riwayat stroke pada usia muda dalam keluarga
  • Kadar kalium yang rendah dalam tubuh

Untuk menegakkan diagnosis primary aldosteronism, dokter akan melakukan pemeriksaan awal untuk mengecek kadar hormon aldosteron dan renin dalam darah. Renin adalah enzim yang dihasilkan oleh ginjal, yang juga berperan untuk mengatur tekanan darah.

Kemungkinan diagnosis primary aldosteronism semakin besar apabila ditemukan kadar aldosteron yang tinggi dengan kadar renin yang rendah.

Pemeriksaan penunjang lain kemudian akan dilakukan untuk memastikan diagnosis dan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain. Pemeriksaan ini meliputi:

  • Uji pembebanan garam (salt-loading test). Pasien akan diberi infus salin atau diminta untuk mengonsumsi makanan dengan kadar garam tinggi. Setelah itu, dokter akan memeriksa kadar aldosteron dalam darah pasien.
  • CT scan perut guna mendeteksi ada tidaknya tumor atau pembesaran pada kelenjar adrenal.
  • Pemeriksaan pembuluh darah adrenal.

Penanganan primary aldosteronism berbeda-beda tergantung penyebabnya. Namun langkah pengobatannya memiliki tujuan yang sama, yaitu menurunkan kadar hormon aldosteron atau mencegah dampak dari tingginya kadar hormon tersebut dalam tubuh

Berikut langkah pengobatan primary aldosteronism yang biasanya dianjurkan oleh dokter:

  • Operasi

Apabila primary aldosteronism disebabkan oleh tumor pada kelenjar adrenal, penanganan yang direkomendasikan adalah operasi pengangkatan kelenjar adrenal. Setelah operasi, kadar kalium, aldosteron, dan tekanan darah akan kembali normal.

  • Obat-obatan

Pada kondisi tertentu ketika operasi tidak dapat dilakukan, dokter akan meresepkan obat penghambat aldosteron. Contohnya, spironolactone dan eplerenone.

Obat-obatan juga dapat diberikan pada penderita primary aldosteronism yang disebabkan oleh aktivitas berlebih pada kedua kelenjar adrenal.

Selain itu, pasien juga perlu melakukan perubahan gaya hidup sehat untuk membantu mengendalikan tekanan darah.

Upaya pencegahan sebaiknya dilakukan untuk menjaga agar tekanan darah tetap normal. Berikut cara-caranya:

  • Menerapkan pola makan yang sehat

Mengonsumsi makanan yang sehat dan seimbang sangat penting untuk kesehatan. Anda bisa melengkapi menu makan dengan variasi seperti buah, sayur, dan produk makanan rendah lemak. Jangan lupa pula untuk membatasi konsumsi garam, gula, dan lemak.

  • Menjaga berat badan ideal

Apabila Anda memiliki berat badan berlebih atau obesitas, Anda sebaiknya menurunkan berat badan agar bisa membantu untuk menurunkan tekanan darah.

  • Rutin berolahraga

Latihan kardio, seperti berjalan kaki atau jogging, juga dapat membantu menurunkan tekanan darah.

  • Berhenti merokok

Merokok tak hanya bisa mencegah tekanan darah tinggi, tapi juga beragam gangguan kesehatan lain.

Segera berkonsultasi dengan dokter mengenai risiko primary aldosteronism apabila Anda memiliki hipertensi disertai beberapa kondisi berikut:

  • Membutuhkan banyak obat untuk mengendalikan hipertensi tersebut
  • Memiliki riwayat keluarga dengan primary aldosteronism
  • Memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi atau stroke pada usia muda (di bawah usia 40 tahun)
  • Memiliki hasil pemeriksaan pencitraan yang menunjukkan adanya pembesaran pada kelenjar adrenal
  • Memiliki kadar kalium yang rendah 
  • Mengalami obstructive sleep apnea

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat penyakit pada keluarga Anda.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait primary aldosteronism?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mungkin menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis primary aldosteronism. Dengan ini, pengobatan pun bisa diberikan secara tepat.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/primary-aldosteronism/symptoms-causes/syc-20351803
Diakses pada 23 Desember 2019

Hormone Health Network. https://www.hormone.org/diseases-and-conditions/primary-aldosteronism
Diakses pada 23 Desember 2019

Columbia Surgery. https://columbiasurgery.org/conditions-and-treatments/primary-hyperaldosteronism-conns-syndrome
Diakses pada 23 Desember 2019

Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/000330.htm
Diakses pada 23 Desember 2019

Artikel Terkait