Penyakit Lainnya

Premenstrual Syndrome (PMS)

Diterbitkan: 07 May 2019 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Premenstrual Syndrome (PMS)
Menjalani hidup sehat dapat mengurangi risiko gejala PMS yang mengganggu.
Premenstrual Syndrome (PMS) adalah istilah dari berbagai gejala yang dirasakan wanita sebelum menstruasi. Gejala PMS mencakup gangguan fisik maupun emosional yang terjadi setelah proses ovulasi (proses pelepasan sel telur dari indung telur) dan sebelum dimulainya menstruasi.Bagi beberapa wanita, gejala PMS yang dialami bersifat ringan atau bahkan sama sekali tidak terasa. Namun bagi sebagian wanita yang lain, gejala PMS yang muncul bisa jadi sangat parah hingga dapat mengganggu kegiatan sehari-hari.Gejala-gejala tersebut termasuk perubahan suasana hati, payudara yang terasa lunak atau keras, mengidam makanan, kelelahan, lekas marah dan depresi.Diperkirakan sebanyak 3 dari setiap 4 wanita yang mengalami menstruasi telah mengalami beberapa bentuk sindrom pramenstruasi. Gejala PMS yang parah juga bisa menjadi tanda gangguan premenstrual disforik.PMS akan berhenti terjadi saat Anda tidak lagi mengalami menstruasi, misalnya saat menopause maupun masa kehamilan. Setelah proses kehamilan selesai, PMS dapat kembali dirasakan, tapi dengan gejala yang berbeda.
Premenstrual Syndrome (PMS)
Dokter spesialis Kandungan
GejalaKembung, payudara membesar, mudah marah
Faktor risikoKurang berolahraga, riwayat depresi atau gangguan mood, seperti depresi pascapersalinan atau gangguan bipolar
Metode diagnosisWawancara, pemeriksaan fisik
PengobatanIstirahat, obat-obatan
ObatIbuprofen, fluoxetine, diuretik
KomplikasiMasalah perilaku
Kapan harus ke dokter?Apabila telah mencoba berbagai cara untuk meredakan gejala PMS, tapi kondisi tersebut tak kunjung reda
Wanita umumnya akan mengalami setidaknya satu gejala PMS setiap bulannya. Namun gejala yang dialami bisa berbeda pada tiap orang. Seorang wanita dapat dikatakan mengalami PMS apabila merasakan salah satu atau lebih dari gejala-gejala di bawah ini:
  1. Gejala fisik
    Meski dapat berbeda tiap wanita, gejala fisik di bawah ini umum dialami oleh wanita sebelum menstruasi:
    • Perut terasa kembung
    • Payudara membesar
    • Sakit kepala
    • Nyeri di persendian serta otot
    • Pembengkakan di anggota tubuh
    • Kenaikan berat badan
  1. Gejala psikis
    Selain gejala fisik, PMS juga dapat menimbulkan gejala psikis yang meliputi:
    • Lebih mudah marah
    • Mudah cemas
    • Terlihat bingung
    • Lebih nyaman menyendiri
Bagi beberapa wanita, gejala PMS yang dialami bisa lebih parah hingga mengganggu kegiatan sehari-hari. Terlepas dari tingkat keparahan yang dirasakan, gejala umumnya akan hilang dalam waktu 4 hari setelah menstruasi dimulai.
Hingga saat ini, penyebab dari PMS belum diketahui secara pasti. Namun beberapa faktor di bawah ini dipercaya dapat berpengaruh:
  • Perubahan kadar hormon. Tanda dan gejala PMS dapat berubah seiring fluktuasi kadar hormon di tubuh, dan menghilang saat seorang wanita hamil atau mengalami menopause.
  • Perubahan zat kimia di otak. Perubahan kadar hormom serotonin (zat kimia dalam otak) yang memiliki peran penting dalam mengatur suasana hati seseorang, dapat memicu munculnya gejala PMS. Kadar serotonin yang rendah bisa berhubungan dengan depresi premenstrual, serta kelelahan dan masalah tidur.
Adapun faktor risiko yang dapat menyebabkan PMS meliputi: 
  • Riwayat depresi atau gangguan mood, seperti depresi pascapersalinan atau gangguan bipolar
  • Kurang berolahraga
  • Keluarga yang juga mengalami PMS
  • Riwayat sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga
  • Penyalahgunaan obat-obatan
  • Trauma fisik
  • Trauma emosional 
Tidak ada pemeriksaan khusus untuk mendeteksi PMS. Saat konsultasi, dokter akan menanyakan mengenai gejala yang Anda alami. Dokter juga akan menanyakan waktu terjadinya gejala tersebut serta dampaknya dalam keseharian Anda.Anda mungkin mengalami gejala PMS apabila:
  • Terjadi 5 hari sebelum menstruasi dimulai
  • Mereda dalam 4 hari setelah menstruasi dimulai
  • Gejala dirasa mengganggu kegiatan sehari-hari.
Catatlah gejala yang Anda alami dan tingkat keparahan kondisi tersebut selama beberapa bulan. Tuliskan gejala tersebut setiap harinya di kalender maupun aplikasi pada ponsel Anda. Sertakan informasi ini saat Anda berkonsultasi dengan dokter.
Jika gejala PMS yang Anda alami tidak terlalu parah, perubahan gaya hidup atau pola makan dipercaya dapat membantu meredakan kondisi tersebut. Namun tergantung pada keparahan gejala Anda, dokter mungkin meresepkan satu atau lebih obat untuk mengatasi PMS.Pilihan obat yang biasanya digunakan untuk mengatasi PMS adalah:
  • Anti nyeri golongan obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS), yang diberikan sebelum atau awal menstruasi dimulai. OAINS seperti ibuprofen atau naproxen sodium dapat mengurangi kram perut dan rasa tidak nyaman di payudara.
Obat-obatan lain pada PMS yang disebabkan oleh kondisi tertentu:
  • Antidepresan berupa penghambat reuptake serotonin selektif (SSRIs), meliputi fluoxetine, paroxetine, sertraline dan lainnya. Obat-obat tersebut adalah pengobatan lini pertama untuk pasien PMS dan PMDD yang parah. Fungsinya untuk mengatasi gangguan suasana hati. Obat-obatan ini umumnya diminum setiap hari. Namun untuk beberapa wanita, penggunaan antidepresan mungkin terbatas pada 2 minggu sebelum menstruasi dimulai.
  • Diuretik, spironolactone adalah diuretik yang dapat membantu meringankan beberapa gejala PMS seperti kembung. Obat ini tidak bisa dikonsumsi tanpa resep dokter dan hanya diberikan ketika olahraga dan pembatasan asupan garam tidak memberikan efek.
  • Kontrasepsi hormonal, yang berfungsi untuk menghentikan ovulasi, sehingga gejala PMS pun akan ikut mereda
Perlu diingat bahwa jika gejala PMS yang Anda alami tidak terlalu parah, perubahan gaya hidup seperti mengatur pola makan dan olahraga, seperti lari, bersepeda, dan berenang, juga diyakini mampu membantu dalam mengurangi gejala PMS sehingga Anda tidak memerlukan obat-obatan.Olahraga tersebut juga dapat meningkatkan detak jantung serta memperbaiki fungsi paru-paru. Anda disarankan untuk melakukan olahraga secara teratur, bukan hanya saat merasakan gejala PMS. Lakukan aktivitas fisik setidaknya 30 menit selama beberapa kali dalam seminggu.Anda juga dapat mengubah pola makan untuk meredakan gejala PMS, dengan langkah berikut ini:
  • Mengonsumsi makanan yang kaya akan karbohidrat kompleks, seperti roti gandum, nasi merah, atau kacang-kacangan. Jenis makanan ini dipercaya dapat membantu mengurangi gangguan suasana hati serta mengatur nafsu makan.
  • Mengonsumsi makanan yang kaya akan kandungan kalsium, seperti yogurt dan sayuran hijau.
  • Mengurangi konsumsi makanan berlemak, gula, serta garam.
  • Menghindari mengosumsi kafein serta alkohol.
  • Mengubah jadwal makan Anda dari 3 kali sehari menjadi 6 kali sehari dengan komposisi 3 kali makan hidangan utama ,dan 3 kali makan kudapan ringan yang sehat. Hal ini dapat membantu kadar gula darah menjadi lebih stabil sehingga membantu meredakan gejala yang dirasakan.
PMS yang tidak ditangani dapat menyebabkan komplikasi mencakup ketidakhadiran di sekolah dan masalah perilaku. PMDD sebagai bentuk PMS yang jauh lebih parah telah dikaitkan dengan risiko terjadinya perilaku bulimia nervosa dan hipertensi.
Bagi beberapa wanita, perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat dapat membantu mengurangi risiko munculnya gejala PMS, seperti di bawah ini:
  • Berolahraga secara teratur, 3-5 kali setiap minggu
  • Mengonsumsi makanan yang sehat dan seimbang
  • Beristirahat dan tidur yang cukup
  • Menghindari kebiasaan merokok
Apabila telah mencoba berbagai cara untuk meredakan gejala PMS, tapi kondisi tersebut tak kunjung reda atau justru memburuk, Anda disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter.
Berikut ini beberapa hal yang dapat Anda siapkan sebelum berkonsultasi dengan dokter:
  • Perhatikan apakah ada pantangan yang perlu dihindari. Saat membuat janji dengan dokter, tanyakan apakah ada sesuatu yang harus Anda persiapkan sebelumnya.
  • Catat gejala apa saja yang Anda rasakan. Tidak hanya yang menurut Anda berkaitan dengan PMS, Anda juga perlu mencatat kondisi lain meski sekiranya tidak berkaitan.
  • Buat catatan mengenai riwayat medis Anda. Catat riwayat penyakit yang pernah Anda derita, sedang Anda alami, maupun obat-obatan serta suplemen yang sedang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan apa saja yang kira-kira ingin Anda ajukan ke dokter.
Dokter akan menanyakan gejala yang dialami, riwayat kesehatan Anda, dan obat yang sedang dikonsumsi. Pada beberapa kasus, dokter juga mungkin akan menyarankan Anda untuk menjalani pemeriksaan darah guna memastikan gejala muncul karena PMS atau kondisi lain.Dokter juga mungkin akan menanyakan beberapa hal seperti berikut:
  • Seberapa parah gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah ada waktu-waktu tertentu ketika gejala dirasa memburuk?
  • Apakah ada waktu-waktu tertentu saat gejala dirasa membaik?
  • Apakah ada hal yang dapat Anda lakukan untuk mengantisipasi gejala yang mungkin dirasakan?
  • Apakah ada hal yang sekiranya membuat gejala semakin memburuk atau membaik?
  • Apakah gejala PMS sampai mengganggu aktivitas harian Anda?
  • Apakah akhir-akhir ini Anda sedang merasa depresi, atau mental sedang lemah?
  • Apakah ada keluarga yang memiliki riwayat gangguan kejiwaan?
  • Perawatan apa yang telah Anda coba dan bagaimana hasilnya?
American Family Physician. https://www.aafp.org/afp/2016/0801/p236.html
Diakses pada 30 Juli 2020
The American College of Obstetricians and Gynecologists. https://www.acog.org/Patients/FAQs/Premenstrual-Syndrome-PMS?IsMobileSet=false
Diakses pada 30 Juli 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/premenstrual-syndrome/diagnosis-treatment/drc-20376787
Diakses pada 30 Juli 2020
Office on Women’s Health. https://www.womenshealth.gov/menstrual-cycle/premenstrual-syndrome
Diakses pada 30 Juli 2020
Stanford Children’s Health. https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=premenstrual-syndrome-pms-85-P00581
Diakses pada 30 Juli 2020
WebMD. https://www.webmd.com/women/pms/what-is-pms#1
Diakses pada 30 Juli 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Pembalut Kain, Alternatif Sehat Kala Datang Bulan

Pembalut kain memiliki keunggulan maupun kelemahan dibanding pembalut sekali pakai. Keunggulan tersebut berupa lebih sehat, ramah lingkungan, dan tahan lebih lama.
16 Mar 2020|Asni Harismi
Baca selengkapnya
Pembalut kain memiliki keunggulan dibandingkan pembalut sekali pakai

Kenali 4 Penyebab Susah Buang Air Besar pada Wanita

Penyebab susah buang air besar pada wanita biasanya dipengaruhi oleh kadar hormon. Wanita juga rentan sembelit jika mengalami gangguan pada...Baca selengkapnya
Penyebab susah buang air besar pada wanita adalah hormon progesteron

Tanda Miom Keluar Berupa Gumpalan Darah Menstruasi? Ini Faktanya

Tanda miom keluar adalah gumpalan darah saat menstruasi, apakah benar? Berikut ini penjelasannya secara medis.
22 Nov 2020|Asni Harismi
Baca selengkapnya
Tanda miom keluar bisa menimbulkan sakit perut, terutama saat haid