Premenstrual Syndrome (PMS)

Ditulis oleh Nina Hertiwi Putri
Ditinjau dr. Reni Utari
Gejala PMS yang dialami wanita terkadang bisa sangat ringan hingga berat
Menjalani hidup sehat dapat mengurangi risiko gejala PMS yang mengganggu.

Pengertian Premenstrual Syndrome (PMS)

Premenstrual Syndrome (PMS) merupakan kombinasi dari gejala-gejala yang dirasakan secara fisik maupun emosional yang terjadi setelah proses ovulasi (proses pelepasan sel telur dari indung telur) dan sebelum dimulainya menstruasi.

Bagi beberapa wanita, gejala PMS yang dialami hanya ringan atau bahkan sama sekali tidak terasa. Namun bagi sebagian wanita yang lain, gejala PMS yang muncul bisa jadi sangat parah hingga dapat mengganggu kegiatan sehari-hari, termasuk bekerja dan sekolah.

Gejala PMS yang parah juga bisa menjadi tanda gangguan premenstrual disforik. PMS akan berhenti terjadi saat Anda tidak lagi mengalami menstruasi, misalnya saat menopause maupun masa kehamilan. Setelah proses kehamilan selesai, PMS dapat kembali dirasakan, namun dengan gejala yang berbeda.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Wanita umumnya akan mengalami setidaknya satu gejala PMS setiap bulannya. Namun gejala yang dialami bisa berbeda pada tiap orang. Seorang wanita dapat dikatakan mengalami PMS apabila merasakan salah satu atau lebih dari gejala-gejala di bawah ini:

  1. Gejala Fisik
    Meski dapat berbeda tiap wanita, gejala fisik di bawah ini umum dialami oleh wanita sebelum menstruasi:
    • Perut terasa kembung
    • Payudara terasa lebih lembut dan membesar.
    • Sakit kepala.
    • Nyeri di persendian serta otot.
    • Pembengkakan di anggota tubuh.
    • Kenaikan berat badan.
  1. Gejala Psikis
    Selain gejala fisik, PMS juga dapat menimbulkan gejala psikis yang meliputi:
    • Lebih mudah marah.
    • Mudah cemas.
    • Terlihat bingung.
    • Lebih nyaman menyendiri.

Bagi beberapa wanita, gejala PMS yang dialami bisa lebih parah hingga mengganggu kegiatan sehari-hari. Terlepas dari tingkat keparahan yang dirasakan, gejala umumnya akan hilang dalam waktu 4 hari setelah menstruasi dimulai.

Penyebab

Hingga saat ini, penyebab dari PMS belum diketahui secara pasti. Namun beberapa faktor di bawah ini dipercaya dapat berpengaruh:

  • Perubahan kadar hormon. Tanda dan gejala PMS dapat berubah seiring fluktuasi kadar hormon di tubuh, dan menghilang saat seorang wanita hamil atau mengalami menopause.
  • Perubahan zat kimia di otak. Perubahan kadar hormom serotonin (zat kimia dalam otak) yang memiliki peran penting dalam mengatur suasana hati seseorang, dapat memicu munculnya gejala PMS. Kadar serotonin yang rendah bisa berhubungan dengan depresi premenstrual, serta kelelahan dan masalah tidur.
  • Depresi. Beberapa wanita yang mengalami gejala PMS yang parah memiliki riwayat menderita depresi. Meski begitu, depresi bukanlah satu-satunya penyebab seorang wanita mengalami PMS.

Diagnosis

Tidak terdapat pemeriksaan khusus untuk mendeteksi PMS. Saat konsultasi, dokter akan menanyakan mengenai gejala yang Anda alami. Dokter juga akan menanyakan kapan gejala tersebut mulai terjadi serta seberapa besar gejala memengaruhi keseharian Anda.

Anda mungkin mengalami gejala PMS apabila:

  • Kondisi tersebut Anda alami 5 hari sebelum menstruasi dimulai, selama 3 bulan berturut-turut.
  • Mereda dalam 4 hari setelah menstruasi dimulai.
  • Gejala dirasa mengganggu kegiatan sehari-hari.

Catat gejala apa saja yang Anda alami dan seberapa parah kondisi tersebut selama beberapa bulan. Tuliskan gejala tersebut setiap harinya di kalender maupun aplikasi pada telepon genggam Anda. Sertakan informasi ini saat Anda berkonsultasi dengan dokter.

Pengobatan

Jika gejala PMS yang Anda alami tidak terlalu parah, perubahan gaya hidup atau pola makan dipercaya dapat membantu meredakan kondisi tersebut. Olahraga, seperti lari, bersepeda, dan berenang, juga diyakini mampu membantu dalam mengurangi rasa lelah serta depresi yang muncul sebagai gejala PMS.

Olahraga tersebut juga dapat meningkatkan detak jantung serta memperbaiki fungsi paru-paru. Anda disarankan untuk melakukan olahraga secara teratur, tidak hanya saat merasakan gejala PMS. Lakukan aktivitas fisik setidaknya 30 menit selama beberapa kali dalam seminggu.

Anda juga dapat mengubah pola makan untuk meredakan gejala PMS, berikut tips yang dapat Anda ikuti:

  • Konsumsi makanan yang kaya akan karbohidrat kompleks, seperti roti gandum, nasi merah, atau kacang-kacangan. Jenis makanan ini dipercaya dapat membantu mengurangi gangguan suasana hati serta mengatur nafsu makan.
  • Konsumsi makanan yang kaya akan kandungan kalsium, seperti yogurt dan sayuran hijau.
  • Kurangi konsumsi makanan berlemak, gula, serta garam.
  • Hindari mengosumsi kafein serta alkohol.
  • Ubah jadwal makan Anda dari 3 kali sehari menjadi 6 kali sehari dengan komposisi 3 kali makan hidangan utama dan 3 kali makan kudapan ringan yang sehat. Hal ini dapat membantu kadar gula darah menjadi lebih stabil sehingga dapat membantu meredakan gejala yang dirasakan.

Selain perubahan gaya hidup, Anda juga dapat mengonsumsi beberapa jenis obat yang bisa membantu meredakan gejala PMS. Namun sebelum mengonsumsi obat tersebut, ada baiknya Anda berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Dokter akan meresepkan obat yang sesuai dengan tingkat keparahan gejala yang Anda rasakan. Obat yang biasa diberikan dokter adalah pil kontrasepsi yang dipercaya dapat membantu meredakan gejala PMS.

Untuk mengurangi gejala nyeri dokter dapat memberikan ibuprofen atau naproxen. Sementara untuk meredakan gejala psikis, dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan berjenis antidepresan. Tidak hanya itu, dokter juga dapat meresepkan suplemen vitamin dan obat diuretik.

Pencegahan

Bagi beberapa wanita, perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat dapat membantu mengurangi risiko munculnya gejala PMS, seperti di bawah ini:

  • Berolahraga teratur, tiga hingga lima kali setiap minggu.
  • Konsumsi makanan yang sehat dan seimbang.
  • Istirahat dan tidur yang cukup.
  • Hindari kebiasaan merokok.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Apabila Anda telah mencoba berbagai cara untuk meredakan gejala PMS, namun kondisi tersebut tak kunjung reda atau justru memburuk, Anda disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Berikut ini beberapa hal yang dapat Anda siapkan sebelum berkonsultasi dengan dokter:

  • Perhatikan apakah ada pantangan yang perlu dihindari. Saat membuat janji dengan dokter, tanyakan apakah ada sesuatu yang harus Anda persiapkan sebelumnya.
  • Catat gejala apa saja yang Anda rasakan. Tidak hanya yang menurut Anda berkaitan dengan PMS, Anda juga perlu mencatat kondisi lain meski sekiranya tidak berkaitan.
  • Buat catatan mengenai riwayat medis Anda. Catat riwayat penyakit yang pernah Anda derita, sedang Anda alami, maupun obat-obatan serta suplemen yang sedang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan apa saja yang kira-kira ingin Anda ajukan ke dokter.

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Dokter akan menanyakan mengenai gejala yang Anda alami, riwayat kesehatan Anda, dan obat yang sedang Anda konsumsi. Pada beberapa kasus, dokter juga mungkin akan menyarankan Anda untuk menjalani pemeriksaan darah guna memastikan gejala muncul karena PMS atau kondisi lain.

Dokter juga mungkin akan menanyakan beberapa hal seperti berikut:

  • Seberapa parah gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah ada waktu-waktu tertentu dimana gejala dirasa memburuk?
  • Apakah ada waktu-waktu tertentu dimana gejala dirasa membaik?
  • Apakah ada hal yang dapat Anda lakukan untuk mengantisipasi gejala yang mungkin dirasakan?
  • Apakah ada hal yang sekiranya membuat gejala semakin memburuk atau membaik?
  • Apakah gejala PMS sampai mengganggu aktivitas harian Anda?
  • Apakah akhir-akhir ini Anda sedang merasa depresi, atau mental sedang lemah?
  • Apakah ada keluarga yang memiliki riwayat gangguan kejiwaan?
  • Perawatan apa saja yang telah Anda coba dan bagaimana hasilnya?
Referensi

American Family Physician. https://www.aafp.org/afp/2016/0801/p236.html
Diakses pada 22 April 2019

The American College of Obstetricians and Gynecologists. https://www.acog.org/Patients/FAQs/Premenstrual-Syndrome-PMS?IsMobileSet=false
Diakses pada 22 April 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/premenstrual-syndrome/diagnosis-treatment/drc-20376787
Diakses pada 22 April 2019

Office on Women’s Health. https://www.womenshealth.gov/menstrual-cycle/premenstrual-syndrome
Diakses pada 22 April 2019

Stanford Children’s Health. https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=premenstrual-syndrome-pms-85-P00581
Diakses pada 22 April 2019

WebMD. https://www.webmd.com/women/pms/what-is-pms#1
Diakses pada 22 April 2019

Back to Top