Psikologi

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

18 Oct 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)
PTSD dapat menimbulkan kenangan buruk yang membuat stres dan terkadang dapat menjurus ke depresi.
Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau gangguan stress pascatrauma adalah gangguan psikologis yang dialami oleh seseorang setelah mengalami kejadian traumatis. Kejadian traumatis yang dapat memicu PTSD bisa berbagai hal, misalnya mengalami kekerasan fisik atau  kekerasan seksual, menjadi korban bencana alam, hingga terlibat atau menyaksikan kejadian yang mengerikan, seperti peperangan, kecelakaan, terorisme, dan insiden lainnya yang mengancam nyawa. Orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dekat dengan kematian, seperti dokter forensik  atau penyidik kepolisian, juga mungkin berisiko mengalami PTSD.Penderita PTSD umumnya akan mengingat kembali pengalaman traumatis mereka secara terus menerus, baik itu dalam mimpi buruk atau kilas balik (flashback). Hal ini dapat menyebabkan orang tersebut memiliki emosi yang kurang stabil atau bahkan tidak mampu memunculkan emosi sama sekali.Gangguan stres pascatrauma bisa berlangsung selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah insiden terjadi. Maka dari itu, kebanyakan orang dengan PTSD bisa menghadapi kesulitan menjalani kehidupan yang normal. Meski demikian, psikoterapi dan obat-obatan seringkali bekerja efektif dalam menangani kondisi ini.                              PTSD tidak hanya dapat berdampak pada orang-orang yang mengalami peristiwa traumatis tersebut. Menyaksikan sebuah kejadian mengerikan juga dapat menyebabkan psikis terguncang dan memunculkan gejala PTSD serupa dengan orang yang mengalaminya secara langsung.
Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)
Dokter spesialisPsikolog, Jiwa
GejalaKilas balik (flashback), serangan panik, mimpi buruk, selalu tegang, mudah cemas
Faktor risikoMemiliki pengalaman kejadian traumatik, tidak mendapatkan dukungan mental setelah menghadapi trauma, mengalami gangguan mental sebelumnya
Metode diagnosisPemeriksaan psikologis
PengobatanTerapi psikologis, obat-obatan
ObatAntikecemasan, antidepresan
Komplikasidepresi dan kecemasan, menyalahgunakan obat-obatan dan alkohol, dan timbulnya pemikiran untuk bunuh diri
Kapan harus ke dokter?Satu bulan setelah gejala berlangsung
Tidak semua orang yang mengalami atau menyaksikan kejadian traumatis akan mengalami PTSD. Secara umum, seseorang dikatakan mengalami gangguan stres pascatrauma jika setelah satu bulan setelah insiden masih terus teringat dan merasakan efek stresnya.Apabila dalam jangka waktu satu bulan orang tersebut berhasil lepas dari trauma dan efeknya, kondisi yang dialami bukanlah PTSD melainkan gangguan stress akut.Meski begitu, gangguan stress akut yang dialami bisa saja berkembang menjadi PTSD sewaktu-waktu.Berdasarkan panduan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders – Fifth Edition (DSM-5) yang dipergunakan oleh Asosiasi Psikiater Amerika (American Psychiatrist Association), gejala PTSD dapat digolongkan dalam empat kategori:1. Gejala terkait trauma dan ingatan terhadap trauma tersebut.Untuk lebih spesifik, terdapat adanya pemicu yang menyebabkan gejala berikut:
  • Kilas balik (flashback), yakni ingatan masa lalu penyebab trauma yang muncul mendadak dan terasa seolah seperti terjadi kembali. Flashback sering disertai dengan gejala-gejala fisik terkait stres yang muncul saat kejadian (jantung berdebar, berkeringat dingin, dsb)
  • Mimpi buruk mengenai trauma yang terasa nyata.
  • Pikiran negatif yang tidak terkendali.
Gejala-gejala tersebut dapat dipicu oleh kata-kata, benda, tempat, atau situasi yang mengingatkan penderita akan traumanya. Gejala bahkan juga dapat dipicu oleh pikiran penderita sendiri.2. Gejala terkait tindakan penghindaran.Penghindaran adalah salah satu mekanisme coping untuk mengelak dari situasi atau masalah yang berisiko menimbulkan stres dan dapat memicu ingatan mengenai trauma.Oleh karena itu, penderita PTSD akan cenderung::
  • Menghindari tempat, situasi, atau objek yang mengingatkan pada trauma.
  • Menghindari pemikiran atau perasaan yang berkaitan dengan trauma.
Gejala ini menyebabkan adanya perubahan rutinitas atau kegiatan sehari-hari secara drastis. Misalnya, penderita yang mengalami PTSD akibat tabrakan mobil menjadi tidak ingin menyetir atau bahkan tidak ingin masuk ke dalam mobil.3. Gejala terkait stimulus panca indera (arousal).Gejala kategori ini terkait dengan gangguan kecemasan yang dialami penderita. Gejala-gejala tersebut diantaranya:
  • Mudah kaget.
  • Merasa tegang dan cemas.
  • Kesulitan tidur.
  • Mudah kesal atau mengalami amarah yang meluap-luap.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Terlalu waspada pada lingkungan sekitar hingga panca indera menjadi lebih sensitif (hyperarousal).
4. Gejala terkait perubahan kognitif dan suasana hati.PTSD adalah gangguan kejiwaan yang dapat memengaruhi kestabilan emosi dan kemampuan kognitif penderita. Gejala yang dapat muncul terkait perubahan ini adalah:
  • Memiliki persepsi negatif terhadap diri sendiri atau dunia sekitar.
  • Tidak dapat mengingat aspek-aspek penting dari trauma yang dialami.
  • Merasa bersalah atau menyalahkan diri sendiri.
  • Kehilangan ketertarikan untuk melakukan aktivitas yang semula disukai.
  • Merasa terpisah dari orang-orang lain.
  • Merasakan perasaan negatif terus menerus, dan kesulitan untuk memiliki perasaan positif.

Gejala PTSD pada anak

Gangguan PTSD bisa juga terjadi pada anak-anak.Selain gejala umum di atas, ada beberapa gejala yang khusus tampil hanya pada anak-anak. Gejala yang muncul pun bisa tergantung pada usia anak saat mengalaminya.Pada anak berusia dibawah enam tahun, gejala tambahan yang bisa dialami antara lain:
  • Mengompol di atas kasur meski sudah diajarkan untuk buang air kecil di toilet.
  • Lupa atau tidak bisa berbicara.
  • Sangat lekat atau ingin selalu dekat dengan orang tua atau orang dewasa.
  • Melakukan gerakan-gerakan tanpa tujuan (aimless motion).
  • Menjadi kaku atau tidak dapat bergerak.
Sedangkan untuk anak usia 6-11 tahun, gejala tambahan yang dialami bisa berupa:
  • Menolak pergi ke sekolah,
  • Tendensi lebih sering untuk berkelahi,
  • Mengeluh adanya rasa sakit tanpa ada penjelasan medis.
  • Adanya perilaku yang tidak sesuai untuk usianya (perilaku regresif).
Selain gejala tambahan tersebut, anak-anak tetap bisa merasakan gejala yang dialami oleh orang dewasa.Munculnya beberapa gejala-gejala tersebut setelah mengalami kejadian traumatis memang normal. Namun apabila gejala tersebut tetap berlanjut atau bertambah parah setelah satu bulan, mengganggu kehidupan sehari-hari, dan tidak disebabkan oleh obat-obatan, penyakit, atau hal-hal lain kecuali trauma tersebut, gejala yang dialami merupakan pertanda gangguan PTSD.Biasanya, gangguan stres pascatrauma juga diikuti dengan gangguan mental lainnya, seperti depresi dan kecemasan.
Penyebab munculnya PTSD setelah mengalami kejadian trauma belum diketahui pasti. Berdasarkan buku Essentials of Abnormal Psychology Edisi ke-8, PTSD cenderung terjadi apabila kondisi mental atau fisik seseorang tidak dalam keadaan baik pada saat mengalami trauma.Meski begitu, tidak semua orang yang kondisi mental atau psikisnya rentan pasti akan selalu mengalami PTSD. Di sisi lain, orang-orang yang sehat secara mental dan fisik pun juga bisa mengalami stres berat setelah melalui kejadian traumatis.Pasalnya, cara kerja otak setiap orang untuk memproduksi bahan kimia dan hormon yang dilepaskan sebagai respons terhadap stres bisa berbeda-beda.Umumnya kejadian-kejadian yang bisa menyebabkan trauma di antaranya adalah:
  • Bencana besar, baik bencana alam maupun bencana yang diakibatkan manusia.
  • Kekerasan fisik.
  • Kekerasan seksual.
  • Penyiksaan, termasuk kekerasan pada anak dan KDRT.
  • Kejadian buruk di lingkungan kerja
  • Permasalahan kesehatan akut
  • Pengalaman melahirkan, baik untuk ayah maupun ibu.
  • Konflik.
  • Kematian orang terdekat, secara tiba-tiba atau karena penyakit/kondisi medis tertentu.

Faktor risiko

Gangguan stres pascatrauma adalah gangguan mental yang dapat memengaruhi siapa pun tanpa pandang usia, status, dan jenis kelamin setelah mengalami kejadian mengerikan.Mengalami, melihat, atau mengetahui tentang suatu peristiwa yang melibatkan kematian atau ancaman kematian yang nyata baik pada diri sendiri atau orang terdekat juga dapat menjadi trauma.Risiko trauma berkembang menjadi gangguan akan semakin tinggi jika ada faktor-faktor berikut:
  • Kejadian traumatis dialami secara langsung.
  • Melihat jasad seseorang yang tewas.
  • Memiliki trauma di masa kecil.
  • Merasakan rasa ngeri, cemas dan tidak berdaya secara ekstrem.
  • Tidak mendapatkan dukungan mental setelah mengalami trauma.
  •  Menghadapi stress tambahan setelah mengalami trauma, seperti kehilangan orang yang disayangi, terkena sakit atau luka parah, kehilangan pekerjaan, atau kehilangan tempat tinggal.
  • Memiliki riwayat gangguan mental seperti depresi, gangguan kecemasan, atau adiksi.
Seseorang akan didiagnosis mengalami PTSD jika:
  • Mengalami minimal satu gejala yang berkaitan dengan trauma dan ingatannya.
  • Mengalami minimal satu gejala yang berkaitan dengan tindakan penghindaran (avoidance).
  • Mengalami minimal dua gejala yang berkaitan dengan reaksi panca indera (arousal).
  • Mengalami minimal dua gejala yang berkaitan dengan perubahan kognisi dan suasana hati.
  • Durasi gejala yang dirasakan terus muncul setelah lebih dari satu bulan.
  • Gejala tidak berasal dari efek konsumsi zat adiktif dan psikotropika (minuman keras, narkoba, obat keras) atau dari kondisi mental atau fisik lain.
Diagnosis PTSD hanya dapat ditegakkan oleh dokter spesialis kejiwaan atau psikiater.
Apabila seseorang sudah didiagnosa mengalami gangguan PTSD, orang tersebut akan diberikan pengobatan secara psikologis. Terapi jenis psikoterapi bisa bermacam-macam, namun yang paling sering dipergunakan adalah:
  • Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behavioral Therapy)
    Terapi CBT bertujuan mengubah fungsi berpikir, analisis, pengambilan keputusan, tindakan, dan reaksi emosional penderita untuk membantu menghadapi masalah yang ada dalam kesehariannya,
  • Terapi Desensitisasi Pembayangan (Imaginal Exposure Therapy)
    Pada terapi ini penderita akan dihadapkan pada hal-hal yang ditakuti. Ini dilakukan agar penderita bisa menenangkan diri sebelum mengingat kembali atau membayangkan kejadian traumatik yang telah dialaminya.
  • Pemrosesan Ulang dan Desensitisasi Pergerakan Mata (Eye Movement Desensitization and Reprocessing)
    Pada terapi ini penderita akan dihadapkan dengan objek atau kejadian traumatiknya bersama panduan ahli. Ahli tersebut akan memandu melalui pemberian stimulus gerakan jari tangan agar penderita dapat memfokuskan diri ketika menghadapi traumanya.
Apabila diperlukan, penderita gangguan PTSD juga bisa mendapat bantuan melalui pemberian obat, seperti antidepresan berupa sertraline, fluoxetine, venlafaxine dan paroxetine untuk membantu mengendalikan emosi, mengurangi rasa cemas, dan kesulitan tidur. Pada beberapa kasus, dokter dapat meresepkan obat untuk mencegah mimpi buruk yaitu prazosin.Obat-obatan tersebut bisa diberikan sambil menjalani terapi psikologis.

Kegiatan yang bisa meringankan gejala PTSD

Beberapa latihan dan kegiatan berikut dipercaya dapat membantu meringankan gejala yang mungkin muncul akibat PTSD, meliputi:

Membantu orang yang mengalami PTSD

Jika Anda memiliki orang terdekat yang mengalami PTSD, beberapa cara berikut dapat Anda lakukan untuk membantu mereka menjalani keseharian dengan lebih baik.
  • Jangan memaksa mereka untuk membicarakan traumanya.
  • Lakukan semua kegiatan bersama mereka seperti biasanya.
  • Biarkan mereka melakukan apa yang membuat mereka merasa aman dan tenang, selama itu tidak menyakiti diri mereka sendiri.
  • Tetap perhatikan kondisi mental Anda sendiri karena hidup bersama orang yang mengalami PTSD bisa sangat melelahkan.
  • Sabar dan tetap berpikiran positif.
  • Edukasi diri tentang PTSD.
  • Jika mereka sudah siap menceritakan mengenai hal traumatis mereka, pastikan Anda jadi pendengar yang baik, jangan menaruh ekspektasi, menyalahkan ataupun menghakimi mereka.
  • Mengantisipasi dan menjauhkan hal-hal yang dapat memicu trauma pada penderita.

Komplikasi

Gejala gangguan PTSD dapat mengganggu kehidupan sehari-hari, terutama dalam berinteraksi dengan orang lain. Gangguan stress yang parah tidak dapat hilang begitu saja, dan jika dibiarkan dapat berdampak besar pada segala aspek dan kualitas hidup.Tak hanya itu, gangguan PTSD pun dapat menyebabkan atau memperparah gangguan mental lainnya, seperti:
  • Mencetuskan atau memperparah depresi dan kecemasan.
  • Memicu penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol.
  • Menyebabkan gangguan makanan.
  • Memunculkan perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm) atau pikiran-pikiran untuk bunuh diri.
PTSD dapat muncul akibat kejadian traumatik yang dialami seseorang, sehingga pencegahan gangguan mental ini tidak bisa dilakukan dengan mudah. Meski demikian, efek dan berapa lama seseorang mengalami gangguan ini bisa diminimalisasi dengan dukungan mental.Dukungan tersebut dapat berupa kesempatan dimana penderita gejala PTSD bisa mencurahkan emosinya. Curahan emosi ini dapat membantu kondisi mental tetap stabil. Dukungan bisa muncul dari hasil konsultasi dengan ahli, atau dari saling curah pikiran dengan teman, keluarga, dan kolega.
Merasakan trauma setelah mengalami kejadian yang mengerikan adalah hal yang normal. Akan tetapi apabila trauma terus menerus terngiang-ngiang, mulai mengganggu pikiran, dan sudah berlangsung lebih dari satu bulan, ada baiknya konsultasikan ke psikolog terdekat.
Sebelum berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya, Anda dapat membuat daftar berisikan gejala-gejala yang anda alami beserta lamanya gejala tersebut berlangsung, peristiwa-peristiwa yang membuat Anda merasakan ketakutan dan ketidakberdayaan yang sangat hebat (baik itu peristiwa baru-baru ini ataupun yang sudah lama berlalu), hal-hal yang berhenti dilakukan atau dihindari karena stres, informasi kesehatan fisik dan mental, obat-obatan atau zat-zat yang dikonsumsi beserta dosisnya.Selain itu, Anda juga bisa menanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut kepada dokter dan ahli kesehatan mental lainnya, seperti:
  • Apa yang menyebabkan gejala saya?
  • Apakah kondisi saya kemungkinan sementara atau jangka panjang?
  • Apa penanganan yang dapat disarankan untuk saya?
  • Apakah perlu ada perubahan-perubahan yang harus saya lakukan di rumah, kantor atau sekolah untuk membantu menanggulangi gejala yang saya alami?
  • Apakah terdapat brosur, website, atau materi-materi tercetak yang bisa saya peroleh seputar kondisi yang saya alami?
Dokter dan ahli kesehatan mental mungkin akan menanyakan beberapa pertanyaan berikut ini:
  • Gejala apa yang menimbulkan kekhawatiran Anda atau orang terdekat Anda?
  • Kapan Anda atau orang terdekat Anda pertama kali melihat gejala tersebut?
  • Pernahkah Anda mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis?
  • Apakah Anda memiliki pikiran, kenangan, atau mimpi buruk yang mengganggu dari trauma yang Anda alami?
  • Apakah Anda menghindari orang, tempat, atau situasi tertentu yang mengingatkan Anda tentang pengalaman traumatis yang dialami?
  • Apakah Anda pernah mengalami masalah di sekolah, pekerjaan, atau dalam hubungan pribadi Anda?
  • Pernahkah Anda berpikir untuk melukai diri sendiri atau orang lain?
  • Apakah Anda mengonsumsi alkohol atau menggunakan narkoba? Seberapa sering?
  • Pernahkah Anda didiagnosis dengan gangguan mental tertentu? Jika ya, penanganan apa yang paling membantu?
 
NHS.
https://www.nhs.uk/conditions/post-traumatic-stress-disorder-ptsd/
Diakses pada 9 Oktober 2021
MayoClinic.
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/post-traumatic-stress-disorder/symptoms-causes/syc-20355967
Diakses pada 9 Oktober 2021
Medscape.
https://emedicine.medscape.com/article/288154-overview
Diakses pada 9 Oktober 2021
Durand, V. M., Barlow, D. H., Hofmann, S. G. (2018), Essentials of Abnormal Psychology, Eighth Edition. Boston: Cengage LearningSubstance Abuse and Mental Health Services Administration. (2014). TIP 57: Trauma-Informed Care in Behavioral Health Services. Rockville: HHS Publishing.Verywellmind. https://www.verywellmind.com/ways-of-coping-with-anxiety-2797619
Diakses pada 9 Oktober 2021

WebMD. https://www.webmd.com/mental-health/what-are-treatments-for-posttraumatic-stress-disorder
Diakses pada 9 Oktober 2021

Help Guide. https://www.helpguide.org/articles/ptsd-trauma/helping-someone-with-ptsd.htm
Diakses pada 9 Oktober 2021

Psychiatric Times. https://www.psychiatrictimes.com/view/can-posttraumatic-stress-disorder-be-prevented
Diakses pada 9 Oktober 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email