Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Ditulis oleh Lenny Tan
Ditinjau dr. Miranda Rachellina
PTSD adalah kondisi psikologis yang disebabkan oleh peristiwa traumatis
PTSD dapat menimbulkan kenangan buruk yang membuat stres dan terkadang dapat menjurus ke depresi.

Pengertian Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) adalah gangguan psikologis yang dipicu oleh peristiwa mengerikan yang langsung dialami, disaksikan, ataupun didengar oleh penderitanya. Peristiwa mengerikan tersebut merupakan sesuatu yang traumatis bagi penderita. 

Kebanyakan orang yang mengalami peristiwa traumatis mungkin akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri setelah trauma tersebut tetapi seiring berjalannya waktu akan mampu untuk menghadapi kejadian-kejadian traumatis yang dialami. Jika gejala seperti kilas balik, mimpi buruk dan kecemasan yang parah, serta pikiran yang tidak terkendali tentang peristiwa tersebut memburuk, berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, serta mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari, maka individu kemungkinan mengalami PTSD.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Gejala gangguan stres pasca-trauma biasanya muncul satu bulan setelah peristiwa traumatis. Namun pada beberapa kasus yang jarang, gangguan baru akan muncul berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah kejadian. Jika gejala PTSD yang dialami bertahan hanya selama satu bulan, maka individu tersebut kemungkinan mengalami gangguan stres akut. Pada beberapa kasus, gangguan stres akut yang dialami dapat berkembang menjadi PTSD jika penderita masih merasakan gangguan selama lebih dari sebulan setelah kejadian traumatis.

Gejala-gejala ini dapat menyebabkan masalah yang signifikan dalam situasi sosial ataupun dalam hubungan interpersonal. Gangguan ini juga dapat mengganggu kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5) yang menjadi panduan untuk Asosiasi Psikiater Amerika (American Psychiatrist Association), kriteria-kriteria dari individu yang mengalami PTSD adalah:

  • Sumber Penyebab, pemaparan terhadap ancaman kematian atau kematian, cedera yang serius, atau kekerasan seksual melalui satu dari empat cara berikut ini:
    • Menyaksikan secara langsung kejadian traumatis yang dialami oleh orang lain.
    • Menyaksikan langsung peristiwa traumatis
    • Mengalami pemaparan yang ekstrem atau terus-menerus mengenai rincian-rincian dari kejadian-kejadian traumatis, tetapi pemaparan ini tidak termasuk pemaparan melalui media, seperti televisi, dan sebagainya.
    • Mengetahui kejadian-kejadian traumatis yang terjadi pada anggota keluarga atau teman dekat.

  • Kejadian traumatis yang diulang-ulang
    • Pemikiran yang menganggu mengenai kejadian traumatis.
    • Mimpi buruk.
    • Reaksi fisiologis yang kuat saat dipaparkan dengan pengingat-pengingat akan kejadian traumatis (contoh, berkeringat dingin, dan sebagainya). 
    • Gangguan emosional yang terlihat jelas saat dipaparkan dengan pengingat-pengingat akan kejadian traumatis (contoh, marah saat diperlihatkan barang yang menyakut kejadian traumatis, dan sebagainya)
    • Kilasan balik.
    • Perlu diketahui bahwa anak-anak dapat mengulangi kejadian-kejadian traumatis melalui permainan yang diulang-ulang.

  • Penghindaran, melalui satu dari dua cara berikut ini:
    • Menghindari orang-orang, tempat-tempat, atau aktivitas-aktivitas yang dapat memicu ingatan-ingatan mengenai kejadian traumatis.
    • Menghindari pemikiran, perasaan, atau percakapan yang berhubungan dengan kejadian traumatis.

  • Perubahan kognisi dan suasana hati yang menjadi negatif, setidaknya dua dari perubahan di bawah ini:
    • Kepercayaan diri yang negatif secara tereus-menerus dan berlebihan mengenai diri sendiri, orang lain, atau dunia. 
    • Hilangnya minat atau partisipasi yang terlihat jelas pada aktivitas-aktivitas yang penting. 
    • Ketidakmampuan untuk mengingat aspek-aspek penting dari kejadian traumatis.
    • Pemikiran-pemikiran yang terganggu mengenai penyebab atau konsekuensi dari kejadian traumatis secara terus-menerus.
    • Perasaan terpisah dari orang-orang lain.
    • Ketidakmampuan untuk merasakan emosi yang positif secara terus-menerus. 
    • Keadaan emosi yang negatif secara terus-menerus.

  • Stimulus panca indera yang berlebihan (hyperarousal), setidaknya dua dari poin-poin di bawah:
    • Panca indera yang lebih sensitif dan membuat individu berperilaku secara intens dan ekstrem (hypervigilance).
    • Ledakan-ledakan kemarahan atau perilaku mudah kesal.
    • Respon kaget yang berlebihan.
    • Gangguan tidur.
    • Perilaku yang menyakiti diri sendiri (self-destructive) atau yang tidak mempedulikan konsekuensi yang ditimbulkan (reckless).
    • Masalah dalam berkonsentrasi.

Khusus untuk anak umur 6-11 tahun, anak-anak dapat menampilkan beberapa gejala, seperti:

  • Penarikan diri yang ekstrem
  • Perilaku yang menganggu orang lain
  • Ketidakmampuan untuk fokus.
  • Perilaku yang menampilkan sikap di bawah usia perkembangan individu (perilaku regresif).
  • Mimpi buruk.
  • Gangguan tidur.
  • Ketakutan yang tidak rasional.
  • Mudah marah.
  • Menolak untuk ke sekolah.
  • Ekspresi-ekspresi kemarahan.
  • Berkelahi.
  • Komplain sakit fisik tanpa adanya penjelasan medis (psikosomatik). 
  • Depresi.
  • Rasa cemas atau bersalah.
  • Mati rasa secara emosional.

Pada anak-anak yang berumur enam tahun atau lebih muda, reaksi akan trauma dapat meliputi:

  • Perilaku yang menampilkan sikap di bawah usia perkembangan individu (perilaku regresif).
  • Takut berpisah dengan orangtua.
  • Menangis atau merengek-rengek.
  • Tidak dapat bergerak atau menjadi kaku.
  • Melakukan gerakan yang tidak memiliki tujuan (aimless motion).
  • Gemetaran.
  • Ekspresi wajah yang ketakutan.
  • Menempel pada orang lain secara berlebihan (excessive clinging).

Penyebab

PTSD dapat terjadi saat seseorang pernah mengalami, melihat, mendengarkan, atau mempelajari tentang suatu peristiwa yang melibatkan kematian, cedera serius, atau kekerasan seksual. Penyebab pasti PTSD belum diketahui. Namun, seperti kebanyakan masalah kesehatan mental, PTSD dapat disebabkan oleh kombinasi dari:

  • Pengalaman yang membuat stres dan traumatis. 
  • Respons tubuh terhadap stres.
  • Ciri kepribadian (temperamen). 
  • Faktor risiko seperti riwayat gangguan mental dalam keluarga, di antaranya gangguan kecemasan dan depresi.

Diagnosis

Berdasarkan DSM-5, selain memenuhi kriteria-kriteria di atas (pada bagian "gejala"), individu baru akan didiagnosis mengalami PTSD, jika: 

  • Gangguan yang dialami menganggu kehidupan sehari-hari.
  • Durasi dari gejala-gejala yang dialami lebih dari satu bulan.
  • Gangguan yang dialami tidak berhubungan dengan efek fisiologis dari kondisi medis atau zat-zat tertentu.

Untuk mendiagnosis gangguan stres pasca-trauma, dokter dan ahli kesehatan mental lainnya akan:

  • Melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa masalah medis lain yang dapat menyebabkan timbulnya gejala.
  • Melakukan evaluasi psikologis yang mencakup diskusi tentang tanda atau gejala yang dialami dan peristiwa yang menyebabkan timbulnya gejala tersebut. 
  • Menggunakan diagnosis dari DSM-5

Pengobatan

Perawatan gangguan stres pasca-trauma dapat membantu mendapatkan kembali rasa kendali atas hidup. Beberapa penanganan yang dapat dilakukan adalah:

  • Psikoterapi, psikoterapi dapat dilakukan secara individual maupun berkelompok dan ahli kesehatan mental juga mungkin akan memberikan beberapa teknik untuk dapat menangani stres. Beberapa jenis psikoterapi yang diberikan adalah:
      • Terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy), membantu mengatur masalah dan mengubah perilaku serta pemikiran yang bermasalah. 
      • Terapi kognitif, membantu mengidentifikasi pola pikir individu yang negatif dan bermasalah. Terapi ini biasanya digabungkan dengan terapi pemaparan. 
      • Terapi Pemaparan (exposure therapy), meliputi menempatkan penderita di situasi-situasi atau kondisi-kondisi yang yang membuat individu takut atau cemas secara aman. Terapi ini membuat penderita dapat merasakan trauma kembali dan belajar untuk menghadapi trauma tersebut dengan efektif.
      • Pemprosesan ulang dan desensitisasi pergerakan mata (eye movement desensitization and reprocessing/ EMDR), Terapi ini biasanya digabung dengan terapi pemaparan. Penderita diberikan beberapa gerakan mata yang dipandu oleh ahli kesehatan mental yang dapat membantu penderita untuk memproses kejadian traumatis yang dialami. 

  • Medikasi, beberapa jenis obat yang dapat membantu memperbaiki gejala PTSD:
    • Obat anti-kecemasan, meredakan kecemasan yang parah dan masalah terkait. Beberapa obat anti-kecemasan memiliki potensi untuk penyalahgunaan, sehingga biasanya digunakan hanya untuk jangka pendek.
    • Antidepresan, membantu gejala depresi, kecemasan, masalah tidur, dan konsentrasi.

Jika Anda mengalami PTSD, Anda dapat melakukan beberapa hal berikut ini:

  • Tetap mengikuti penanganan yang diberikan.
  • Menerapkan pola hidup yang sehat, seperti mengonsumsi makanan yang bergizi, istirahat yang cukup, dan berolahraga secara teratur.
  • Menerapkan teknik-teknik untuk mengatasi stres dan relaksasi, seperti yoga, meditasi, dan sebagainya.
  • Hindari alkohol, rokok, dan narkotika. 
  • Bercerita dengan orang-orang terdekat mengenai masalah yang dialami atau mengikuti komunitas-komunitas dengan orang-orang yang mengalami hal yang serupa agar dapat berdiskusi dan saling mendukung.
  • Mempelajari mengenai kondisi yang Anda alami.
  • Mengalihkan rasa cemas Anda dengan melakukan aktivitas lain, seperti berjalan-jalan santai, dan sebagainya.

Pencegahan

Setelah melewati peristiwa traumatis, kebanyakan orang mengalami gejala mirip PTSD, seperti tidak dapat berhenti memikirkan apa yang terjadi, merasa ketakutan, cemas, marah, depresi, dan merasa bersalah. Reaksi tersebut adalah reaksi umum ketika seseorang mengalami trauma. Namun, mayoritas orang yang mengalami trauma dapat mengatasi kejadian tersebut dan tidak mengalami gangguan stres pasca-trauma jangka panjang.

Mendapatkan bantuan dan dukungan sedini mungkin dapat mencegah reaksi stres yang normal menjadi semakin buruk dan berkembang menjadi PTSD. Anda dapat bercerita mengenai trauma yang dialami ke keluarga dan teman-teman yang bersedia untuk mendengarkan dan menenangkan pikiran Anda. Anda juga dapat berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya. Dukungan dari orang-orang sekitar sangat penting untuk membantu mencegah seseorang beralih ke pola hidup yang tidak sehat, seperti penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Anda perlu untuk berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya jika Anda atau orang terdekat Anda mengalami gejala-gejala yang tertera, terutama jika gejala tersebut sangat mengganggu kehidupan sehari-hari. Jika Anda atau orang-orang tedekat Anda memiliki keinginan untuk bunuh diri atau melakukan percobaan bunuh diri, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Sebelum berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya, Anda dapat membuat daftar gejala-gejala yang anda alami dan sudah berapa lama, peristiwa-peristiwa yang membuat Anda merasakan ketakutan dan ketidakberdayaan yang intens (baru-baru ini dan yang sudah lama berlalu), hal-hal yang berhenti dilakukan atau dihindari karena stres, informasi kesehatan fisik dan mental, obat-obatan atau zat-zat yang dikonsumsi beserta dosisnya, serta pertanyaan-pertanyaan untuk ditanyakan  kepada dokter dan ahli kesehatan mental lainnya, seperti:

  • Apa yang menyebabkan gejala saya?
  • Apakah kondisi saya kemungkinan sementara atau jangka panjang?
  • Apa penanganan yang dapat direkomendasikan untuk saya?
  • Apakah terdapat perubahan-perubahan yang harus saya lakukan di rumah, kantor atau sekolah untuk membantu gejala yang saya alami?
  • Apakah terdapat brosur, website, atau materi-materi tercetak yang bisa saya peroleh seputar kondisi yang saya alami?

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Dokter dan ahli kesehatan mental lainnya mungkin akan menanyakan beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Gejala apa yang mengkhawatirkan Anda atau orang terdekat Anda?
  • Kapan Anda atau orang terdekat Anda pertama kali melihat gejala tersebut?
  • Pernahkah Anda mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis?
  • Apakah Anda memiliki pikiran, kenangan, atau mimpi buruk yang mengganggu dari trauma yang Anda alami?
  • Apakah Anda menghindari orang, tempat, atau situasi tertentu yang mengingatkan Anda tentang pengalaman traumatis yang dialami?
  • Apakah Anda pernah mengalami masalah di sekolah, pekerjaan, atau dalam hubungan pribadi Anda?
  • Pernahkah Anda berpikir untuk melukai diri sendiri atau orang lain?
  • Apakah Anda mengonsumsi alkohol atau menggunakan narkoba? Seberapa sering?
  • Pernahkah Anda didiagnosis dengan gangguan mental tertentu? Jika ya, penanganan apa yang paling membantu?
Referensi

MayoClinic. 
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/post-traumatic-stress-disorder/symptoms-causes/syc-20355967
Diakses pada 28 September 2018.

Medscape.
https://emedicine.medscape.com/article/288154-overview
Diakses pada 20 Maret 2019

NHS. 
https://www.nhs.uk/conditions/post-traumatic-stress-disorder-ptsd/
Diakses pada 28 September 2018.

Back to Top