Polio disebabkan oleh virus yang dapat menyebabkan kelumpuhan, kesulitan bernapas hingga kematian
Virus polio dapat menular melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi, atau melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.

Polio adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini menyebabkan kelumpuhan, kesulitan bernapas dan meski jarang, dapat menyebabkan kematian. Saat ini jumlah penderita polio sudah menurun karena dapat dicegah dengan vaksinasi. Kebanyakan orang yang mengidap polio tidak bergejala dan tidak mengetahui bahwa mereka terinfeksi virus polio. Tetapi untuk beberapa orang, polio menyebabkan kelumpuhan sementara atau permanen yang dapat membahayakan nyawa. Tidak ada obat untuk menyembuhkan polio, vaksinasi adalah satu-satunya cara mencegah terkena polio. 

Penyakit polio tidak menunjukkan gejala Beberapa orang dapat mengalami gejala flu 3-21 hari setelah mereka terinfeksi.

Gejala tersebut dapat berupa:

  • Demam (suhu tubuh di atas 38C)
  • Sakit tenggorokan
  • Sakit kepala
  • Sakit perut
  • Nyeri otot
  • Merasa sakit atau lemah

Gejala ini biasanya menghilang dalam seminggu. Pada beberapa kasus, virus polio dapat menyerang saraf tulang belakang dan dasar otak. Ini akan menyebabkan kelumpuhan, yang muncul dalam beberapa jam atau hari. Kelumpuhan biasanya tidak permanen, dan membaik dalam beberapa minggu atau bulan. Namun pada beberapa kasus, gejala tersebut tetap muncul, bahkan menjadi fatal jika kelumpuhan juga dialami otot pernapasan.

Gejala polio non-paralisis (tanpa kelumpuhan)

  • Demam
  • Sakit Tenggorokan
  • Sakit Kepala
  • Muntah
  • Kelelahan
  • Sakit punggung
  • Sakit leher atau kaku leher
  • Nyeri atau kaku pada lengan dan kaki
  • Kelemahan otot

Gejala polio paralitik (menyebabkan kelumpuhan)

Ini adalah penyakit polio yang berat namun langka. Tanda dan gejala awal dari polio ini  mirip dengan gejala dari polio non-paralitik, seperti demam dan sakit kepala. Yang membedakan adalah gejala tambahan seperti:

  • Kehilangan refleks
  • Otot terasa sangat nyeri dan lemah
  • Tungkai lemas dan lumpuh (flaccid paralysis)

Sindrom post-polio

Sindrom ini merupakan kumpulan dari gejala dan tanda yang dialami bertahun-tahun setelah sembuh dari polio. Gejala yang dialami dapat berupa:

  • Nyeri atau kelemahan otot yang memberat
  • Kelelahan
  • Pengecilan otot (atrofi)
  • Kesulitan bernapas atau menelan
  • Gangguan pernapasan saat tidur, misalnya sleep apnea (henti napas sementara saat tidur)
  • Penurunan toleransi terhadap dingin

Virus polio dapat menular melalui kontak langsung dengan orang yang sudah terinfeksi, atau melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Orang yang membawa virus polio dapat menyebarkan virus tersebut melalui feses atau melalui udara saat orang yang sudah terinfeksi tersebut batuk atau bersin. Ketika virus memasuki mulut seseorang, virus tersebut akan berjalan masuk ke saluran pencernaan, dimana virus tersebut akan mulai menggandakan diri.

Dalam beberapa kasus, virus juga bisa memasuki pembuluh darah dan menyebar ke sistem saraf. Orang yang sudah terinfeksi dengan virus dapat menyebarkan virus polio tersebut bahkan sebelum gejala muncul sampai beberapa minggu setelahnya. Orang yang terinfeksi polio dan tidak mengalami gejala apapun tetap bisa menularkan polio kepada orang lain.

Diagnosis polio biasanya dilakukan dokter berdasarkan gejalanya, seperti leher dan punggung yang kaku hingga kesulitan menelan dan bernapas. Untuk memastikan diagnosa, dokter dapat mengambil sampel sekresi tenggorokan, feses atau cairan tidak berwarna di sekitar otak dan tulang belakang dan melakukan tes untuk virus polio.  

Saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan polio. Terapi yang dilakukan bertujuan untuk menunjang fungsi tubuh dan mengurangi risiko efek jangka panjang. Pengobatan polio diantaranya adalah dengan perawatan di rumah sakit, obat penghilang rasa sakit, alat pembantu pernapasan serta latihan fisik untuk mencegah terjadinya masalah pada otot dan sendi. Jika pasien mengalami komplikasi setelah infeksi polio, pasien membutuhkan perawatan berkala dan perhatian khusus, misalnya dengan fisioterapi. Operasi juga dapat menjadi pilihan terapi jika diperlukan perbaikan kelainan bentuk tungkai. 

Polio dapat dicegah melalui pemberian imunisasi polio. Rekomendasi imunisasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk polio adalah sebanyak 4 kali, yaitu pada saat bayi baru lahir (0-1 bulan), usia 2, 3, dan 4 bulan. Imunisasi booster (penguat) dapat diberikan pada anak berusia 18 bulan. 

Tanyakan kepada dokter mengenai rekomendasi vaksin polio sebelum bepergian ke negara dimana masih banyak terjadi polio. Hubungi dokter jika: 

  • Anak belum melengkapi seluruh regimen vaksin polio
  • Anak memiliki reaksi alergi terhadap vaksin polio
  • Anak memiliki masalah lebih dari kemerahan ringan atau sakit saat suntik vaksin
  • Seseorang pernah terkena polio dan sekarang mengalami kelemahan dan kelelahan yang tidak beralasan
  • Tuliskan gejala yang dialami dan kapan gejala tersebut muncul
  • Tuliskan informasi mengenai paparan terhadap sumber infeksi termasuk detail mengenai perjalanan keluar negeri, negara yang dikunjungi dan tanggalnya
  • Sejarah medis, termasuk kondisi dimana dirawat, obat-obatan, vitamin dan suplemen yang dikonsumsi serta vaksinasi sebelumnya
  • Pertanyaan yang ingin diajukan ke dokter
  • Apakah gejala terus berlanjut atau hanya saat tertentu?
  • Seberapa parah gejala yang Anda alami?
  • Apakah ada yang hal yang mengatasi gejala?
  • Apakah ada yang memperburuk gejala?
  • Apakah belakangan ini Anda berada di lingkungan dengan orang yang memiliki gejala yang sama?
  • Apakah Anda hamil?

IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017
diakses pada 28 September 2018.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/polio/symptoms-causes/syc-20376512
diakses pada 28 September 2018.

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/polio/
diakses pada 28 September 2018.

Artikel Terkait