Penyakit Lainnya

Polimiositis

Diterbitkan: 20 Mar 2021 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Polimiositis
Polimiositis adalah jenis penyakit radang yang membuat otot tubuh melemah.
Polimiositis adalah penyakit peradangan yang menyebabkan otot melemah dan biasanya memengaruhi kedua sisi tubuh. Kondisi ini jarang ditemui, tapi akan menyebabkan penderita sulit menaiki tangga, bangun dari posisi duduk, mengangkat benda, atau mencapai sesuatu yang berada di atas kepala.Polimiositis biasanya terjadi pada orang dewasa usia 30, 40 atau 50 tahun. Kaum wanita lebih rentan terserang penyakit ini dibandingkan para pria.Tanda dan gejala polimiositis biasanya berkembang selama lebih dari seminggu atau dalam beberapa bulan. Sampai saat ini, belum ada obat untuk menyembuhkannya.Meski demikian, penanganan berupa obat-obatan dan fisioterapi, dapat meningkatkan kekuatan dan fungsi otot pada penderita.Polimiositis umumnya disebabkan oleh penyakit autoimun sistemik. Penyakit ini sering dipicu oleh berbagai hal, seperti infeksi virus, kanker, atau gangguan jaringan ikat. 
Polimiositis
Dokter spesialis Saraf
GejalaKelemahan otot di kedua sisi tubuh, demam, penurunan berat badan
Faktor risikoUsia, jenis kelamin, penyakit autoimun
Metode diagnosisTes darah, CT scan, MRI
PengobatanObat-obatan, terapi, IVIG
ObatPrednison, azathioprin, rituximab
KomplikasiSulit menelan, pneumonia aspirasi, masalah pernapasan
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala polimiositis
Gejala polimiositis bisa berupa:

Kelemahan otot

Tanda polimiositis yang paing terasa adalah kelemahan otot yang memengaruhi kedua sisi tubuh secara merata dan cenderung memburuk. Kondisi ini melibatkan otot terdekat dengan tubuh utama, seperti pinggul, paha, bahu, lengan atas dan leher.Lemahnya otot biasanya akan disadari oleh penderita saat mengalami kesulitan untuk mengangkat lengan ke atas kepala, menaiki tangga, bangkit dari kursi, atau membawa barang.Tak hanya itu, kesulitan menelan juga mungkin akan dialami oleh sebagian pasien.

Nyeri

Rasa nyeri mungkin muncul di lokasi otot yang mengalami kelemahan. Makin lama, otot bisa berhenti tumbuh sehingga mengecil.Kondisi ini umumnya akan memburuk dan penderita mungkin tidak akan merasakan gejala selama berbulan-bulan.

Gejala lain

Beberapa gejala lain yang mungkin dialami oleh penderita meliputi:
  • Demam
  • Penurunan berat badan
  • Kelelahan
  • Nyeri sendi
  • Fenomena Raynaud, yakni jari tangan atau jari kaki jadi sangat dingin dan berubah warna karena aliran darah terganggu
 
Hingga sekarang, penyebab polimiositis belum diketahui secara pasti. Tapi ada beberapa faktor yang dikatakan bisa meningkatkan risiko seseorang untuk terkena penyakit ini.Beberapa faktor risiko polimiositis tersebut meliputi:
  • Penyakit autoimun, seperti lupus, rheumatid arthritis, scleroderma, serta Sindrom Sjogren
  • Penyakit yang memengaruhi sistem imun, misalnya HIV/AIDS
  • Penyakit yang memengaruhi kemampuan bernapas
  • Berusia 30-60 tahun
  • Keturunan
  • Berjenis kelamin perempuan
 

Diagnosis

  • Pemeriksaan laboratorium darah yang berguna untuk mendeteksi enzim creatine phosphokinase (CPK)  yang mengindikasikan adanya kerusakan jaringan otot  
  • Elektromiografi, yang berfungsi untuk melihat aktivitas kelistrikan otot
  • MRI, untuk melihat adakah tanda-tanda peradangan otot
  • Biopsi, dokter akan melakukan biopsi otot untuk melihat adakah peradangan pada sel otot melalui mikroskop
Tentunya di awal, dokter juga akan melakukan wawancara dan pemeriksaan fisik.
Cara mengobati polimiositis belum tersedia secara spesifik. Tapi dokter tetap bisa memberikan perawatan guna meningkatkan kekuatan dan fungsi otot pasien.Perawatan sebaiknya dimulai sejak dini agar dapat membantu dalam mengurangi gejala dan menurunkan risiko komplikasi secara efektif.Dokter akan menyesuaikan strategi penanganan polimiositis berdasarkan gejala dan respons penderita terhadap terapi yang diberikan. Beberapa langkah penanganan yang mungkin dianjurkan meliputi:

1. Obat-obatan

Obat yang sangat umum digunakan untuk polimiositis adalah:
  • Kortikosteroid

Obat kortikosteroid sangat efektif dalam mengendalikan gejala polimiositis, contohnya prednison.Namun penggunaan kortikosteroid untuk jangka panjang bisa memicu efek samping yang serius. Oleh karena itu, dokter akan mengubah dosisnya secara bertahap.
  • Imunosupresan

Ketika dikombinasikan dengan kortikosteroid, obat ini dapat mengurangi dosis dan risiko efek samping dari kortikosteroid. Dua jenis obat yang umum digunakan untuk polimiositis meliputi azathioprin dan metotresate.Sedangkan obat lainnya bisa berupa mikophenolat mofetil, siklosporin dan takrolimus.
  • Rituximab

Rituximab biasanya diresepkan untuk mengobati rheumatoid arthritis. Namun obat ini akan diberikan oleh dokter bila terapi awal tidak cukup untuk mengendalikan gejala polimiositis.

2. Terapi

Berdasarkan tingkat keparahan gejala yang dialami oleh pasien, dokter dapat menyarankan beberapa terapi berikut:
  • Fisioterapi

Fisioterapi yang dianjurkan bisa berupa latihan untuk menjaga dan meningkatkan kekuatan otot, serta kelenturannya. Latihan ini akan disesuaikan dengan kondisi pasien.
  • Terapi wicara

Jika otot menelan menjadi lemah karena polimiositis, terapi wicara dapat membantu untuk mengimbangi perubahan tersebut.
  • Pengaturan makanan

Pada pengidap polimiositis, mengunyah dan menelan akan menjadi aktivitas yang lebih sulit. Pasien sebaiknya mendapatkan makanan yang mudah dikonsumsi dengan nutrisi yang seimbang.

3. Immunoglobulin

Penanganan polimiositis lainnya juga bisa berupa pemberian intravenous immunoglobulin (IVIG), yakni darah yang mengandung antibodi dari ribuan pendonor darah.Antibodi sehat tersebut dapat mencegah kerusakan antibodi yang menyerang otot pada pengidap polimiositis.Pengobatan IVIG akan diberikan melalui suntikan ke pembuluh darah, dan harus diulangi beberapa kali supaya menghasilkan efek yang berkelanjutan. 

Komplikasi polimiositis

Bila tidak ditangani dengan benar, polimiositis dapat menyebabkan komplikasi yang meliputi:
  • Kesulitan menelan

Jika otot pada esofagus terpengaruh, penderita akan mengalami gangguan menelan. Kondisi ini bisa menyebabkan kekurangan berat badan dan nutrisi.
  • Pneumonia aspirasi

Kesulitan menelan akan meningkatkan risiko masuknya makanan, cairan, dan air liur ke dalam paru-paru. Kondisi ini kemudian dapat memicu infeksi pada paru-paru dan disebut pneumonia aspirasi.
  • Masalah pernapasan

Jika otot dada terpengaruh oleh polimiositis, penderita akan mengalami masalah penapasan seperti napas pendek. Pada kasus yang lebih parah, gagal napas bisa saja terjadi. 
Untuk melakukan pencegahannya diharapkan agar selalu melakukan pola hidup sehat.
Segera periksakan diri ke dokter bila Anda mengalami gejala polimiositis. Jangan menunggu hingga kondisi Anda bertambah parah. 
Sebelum melakukan kunjungan ke dokter, persiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buatlah daftar seputar gejala yang muncul.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami oleh pasien. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi oleh pasien.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberi dukungan moral maupun membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter.
 
Dokter kemungkinan akan mengajukan pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan pasien?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait polimiositis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis polimiositis agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/polymyositis/symptoms-causes/syc-20353208
Diakses pada 8 Oktober 2018
WebMD. https://www.webmd.com/arthritis/polymyositis
Diakses pada 3 Maret 2021
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/335925-overview
Diakses pada 3 Maret 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email