Infeksi

Pneumonia

Diterbitkan: 06 Nov 2018 | dr. Joni Indah SariDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Pneumonia
Pneumonia adalah infeksi pada kantong udara di paru, sehingga bisa dipenuhi cairan atau nanah
Pneumonia adalah peradangan pada satu atau kedua paru. Penyakit ini menyebabkan penumpukan cairan atau nanah dalam kantong udara kecil di paru-paru (alveolus).Adanya cairan atau nanah tersebut kemudian memicu gejala pneumonia berupa batuk berdahak, demam, menggigil, dan kesulitan bernapas.Baru-baru ini, pneumonia juga menjadi topik hangat di tengah pandemi Covid-19. Pasalnya,  pneumonia menjadi salah satu komplikasi infeksi virus corona yang dapat mengancam nyawa penderitanya.Selain disebabkan oleh infeksi virus, pneumonia juga dapat terjadi akibat infeksi bakteri dan jamur. Bila ada benda asing (cairan maupun zat kimia) yang terhirup masuk ke dalam paru, seseorang pun dapat mengalami pneumonia.Pneumonia dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama apabila dialami oleh lansia di atas 65 tahun, anak-anak berusia dua tahun ke bawah, dan orang yang menderita penyakit lain atau memiliki sistem imun lemah.Baca juga: Mengenal Obat Herbal Pneumonia yang Aman Dikonsumsi 
Pneumonia
Dokter spesialis Paru
GejalaDemam, batuk berdahak, sesak
Faktor risikoLansia, anak-anak, penyakit kronis
Metode diagnosisTes darah, rontgen dada
PengobatanIstirahat, mencukupi cairan, konsumsi obat-obatan
ObatAntibiotik, antijamur, antivirus
KomplikasiBakteremia, efusi pleura, abses paru
Kapan harus ke dokter?Batuk, sesak, nyeri dada
Secara umum, tanda dan gejala pneumonia meliputi:
  • Demam tinggi, yang terkadang disertai menggigil
  • Batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh atau malah memburuk
  • Sesak napas, bahkan ketika melakukan aktivitas ringan
  • Nyeri dada saat menarik napas atau batuk
  • Batuk dan pilek yang berlangsung terus-menerus atau makin memburuk
  • Kebingungan atau perubahan perilaku, terutama pada pengidap berusia di atas 65 tahun)
Khusus pada orang berusia di atas 65 tahun atau yang memiliki sistem imun lemah, demam akibat pneumonia kadang-kadang tidak muncul. Tetapi mereka bisa mengalami penurunan suhu tubuh di bawah normal.Mungkin saja, ada gejala pneumonia yang tidak disebutkan. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter. 
Berdasarkan penyebab pneumonia, penyakit ini dapat digolongkan menjadi beberapa jenis di bawah ini:

1. Pneumonia yang didapat dari komunitas (community acquired pneumonia/CAP)

Jenis pneumonia ini disebabkan oleh infeksi kuman dari lingkungan. Contohnya, di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lain. Beberapa pemicunya meliputi:
  • Bakteri

Bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah Streptococcus pneumoniae. Pneumonia jenis ini bisa pula terjadi setelah seseorang mengalami batuk dan pilek.
  • Virus

Pneumonia karena infeksi virus lebih sering terjadi pada anak di bawah lima tahun (balita). Jenis penyakit ini biasanya tidak menyebabkan komplikasi serius.Meski begitu, ada beberapa tipe virus yang dapat memicu pneumonia berujung fatal. Salah satunya infeksi Covid-19.
  • Organisme

Salah satu jenis organisme yang dapat menyebabkan pneumonia adalah Mycoplasma pneumoniae, yang dapat menyebabkan pneumonia ringan.Gejala pneumonia akibat organisme ini cenderung lebih ringan daripada jenis pneumonia lain. Karena itu, penderita mungkin tidak memerlukan istirahat total alias tirah baring (bed rest).
  • Jamur

Pneumonia karena infeksi jamur kerap ditemukan pada orang yang mengalami penyakit kronis atau sistem imun yang lemah. Biasanya, infeksi jamur disebabkan oleh paparan debu dari tanah atau kotoran burung.

2. Pneumonia yang didapat dari rumah sakit (hospital acquired pneumonia/HAP)

Pneumonia juga bisa terjadi ketika seseorang menjalani rawat inap di rumah sakit akibat penyakit lainnya. Jenis pneumonia ini lebih serius karena kuman dari lingkungan fasilitas kesehatan lebih resisten terhadap antibiotik atau obat lain.Pneumonia ini lebih rentan dialami oleh pasien yang:

3. Pneumonia aspirasi

Pneumonia aspirasi terjadi ketika seseorang tidak sengaja menghirup benda asing ke dalam paru-paru. Misalnya, makanan, minuman, muntah, atau air ludah.Pneumonia jenis ini umumnya terjadi pada orang yang mengalami gangguan refleks muntah atau tersedak. Contohnya, korban cedera otak yang tidak sadarkan diri, orang yang mengalami kesulitan menelan, dan orang yang menyalahgunakan alkohol serta obat-obatan. 

Faktor risiko pneumonia

Di samping penyebab-penyebab tersebut, seseorang juga akan lebih berisiko untuk mengalami pneumonia karena beberapa fakrot tertentu.Faktor-faktor risiko pneumonia tersebut meliputi:
  • Penyakit kronis, seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan penyakit jantung
  • Kebiasaan merokok
  • Sistem imun tubuh yang lemah, misalnya penderita HIV/AIDS, orang yang menjalani transplantasi organ, pasien kemoterapi untuk menangani kanker, atau pengguna obat steroid jangka panjang.
  • Usia di bawah lima tahun atau di atas 65 tahun
  • Kondisi malnutrisi
  • Paparan polusi atau zat kimiawi tertentu, contohnya buruh bangunan yang harus sering terpapar debu, asap, serta bahan kimia lain 
Baca jawaban dokter: Apakah vaksin pneumonia dapat membuat tubuh kebal corona? 
Diagnosis pneumonia dipastikan oleh dokter melalui beberapa langkah berikut:
  • Wawancara mengenai gejala dan riwayat penyakit yang diderita.
  • Pemeriksaan fisik. Dokter akan mendengarkan suara pernapasan pasien dengan stetoskop.
  • Tes darah.
  • Rontgen dada untuk menentukan diagnosis pneumonia dan lokasi paru -paru yang mengalaminya.
  • Analisis gas darah.
  • Tes dahak.
 
Cara mengobati pneumonia bergantung pada kondisi masing-masing penderita. Dokter akan menentukannya berdasarkan tingkat keparahan penyakit, penyebab, dan seberapa lama pasien sudah mengalami kondisi tersebut.Dokter dapat meresepkan sederet obat pneumonia di bawah ini:
  • Antibiotik untuk mengatasi pneumonia karena infeksi bakteri
  • Antivirus guna mengobati pneumonia akibat infeksi virus jika diperlukan
  • Antijamur untuk menyembuhkan pneumonia karena infeksi jamur
  • Obat-obatan untuk mengurangi gejala pneumonia, seperti obat penurun demam dan pereda batuk
Harap diingat bahwa pneumonia akibat virus pada orang yang memang sehat, biasanya tidak butuh konsumsi obat tertentu. Dokter akan meminta pasien untuk banyak beristirahat dan minum cairan (khususnya air putih).Sementara pada orang yang berisiko tinggi untuk mengalami komplikasi, pneumonia perlu pengobatan intensif dari dokter supaya proses penyembuhan lebih lancar.Orang dengan sistem imun lemah atau mengidap penyakit kronis juga mungkin membutuhkan rawat inap jika mengalami pneumonia yang berat.

Komplikasi pneumonia

Apabila tidak ditangani dengan saksama, pneumonia dapat memicu hal-hal yang tak diinginkan. Sederet komplikasi pneumonia yang bisa terjadi meliputi:
  • Bakteremia, yakni infeksi bakteri yang meluas hingga masuk ke pembuluh darah dan menggangu fungsi organ
  • Kesulitan bernapas
  • Efusi pleura, yaitu penumpukan cairan dalam pleura (ruang antara paru dengan dinding dada)
  • Abses paru, yakni terbentuknya kantong berisi nanah pada paru-paru
 
Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir cegah penularan virus
Anda bisa menerapkan beberapa cara mencegah pneumonia di bawah ini:
  • Melakukan vaksinasi terhadap virus penyebab pneumonia, misalnya vaksin influenza
  • Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti rajin mencuci tangan
  • Tidak merokok
  • Menjaga agar daya tahan tubuh tetap kuat, contohnya dengan tidur cukup, berolahraga teratur, dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang
Baca juga: Kenali Jenis Vaksin Pneumonia agar Tak Salah Imunisasi 
Periksakan diri ke dokter bila Anda mengalami gejala-gejala berikut:
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Demam tinggi yang tidak kunjung membaik
  • Batuk-batuk yang tidak kunjung membaik, terutama batuk berdahak
Jika Anda memiliki tanda atau gejala lain yang mengkhawatirkan, konsultasikan juga dengan dokter.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait pneumonia?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis pneumonia agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pneumonia/symptoms-causes/syc-20354204
Diakses pada 28 September 2018
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/151632
Diakses pada 28 September 2018
Medline Plus. https://medlineplus.gov/pneumonia.html
Diakses pada 28 September 2018
Healthline. https://www.healthline.com/health/pneumonia
Diakses pada 28 September 2018
National Institute of Health. https://www.nih.gov
Diakses pada 6 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Sering Muncul di Berita, Apa Artinya ODP, PDP, dan Suspect Virus Corona?

ODP, PDP, dan suspect adalah istilah untuk mengelompokkan orang-orang yang dilacak rentan terhadap risiko infeksi virus Corona (COVID-19). Apa beda arti dari ODP dan PDP?
14 Jul 2020|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Menggunakan masker untuk mencegah penyebaran virus

Persediaan Obat dan Alat Medis yang Harus Ada di Rumah Selama Pandemi

Persediaan obat dan alat medis dalam kotak P3K selama pandemi harus benar-benar diperhatikan. Sebab, Anda tidak bisa sering-sering keluar untuk menebus resep di apotek.
21 Sep 2020|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Persediaan obat dalam kotak P3K selama pandemi sebaiknya dipenuhi

Ternyata Ini Waktu Berjemur yang Baik di Bawah Sinar Matahari

Sebenarnya, waktu berjemur yang baik jam berapa, ya? Pertanyaan tersebut mungkin terbersit di benak Anda. Banyak yang menganggap waktu terbaik untuk mendapatkan sinar matahari adalah pagi hari. Namun, tak sedikit yang menyarankan agar berjemur di bawah sinar matahari pada siang hari.Baca selengkapnya
Waktu berjemur yang baik jam berapa? Jawabannya adalah pada pukul 10.00 pagi