Kandungan

Plasenta Akreta

09 Jun 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Plasenta Akreta
Plasenta tumbuh terlalu dalam hingga menembus otot rahim (perkreta).
Plasenta akreta adalah kondisi ketika plasenta tumbuh terlalu dalam ke dinding rahim. Pada keadaan normal, plasenta terlepas dari dinding rahim setelah melahirkan, tetapi dalam kondisi ini hal tersebut tidak terjadi sehingga dapat membahayakan bagi ibu yang melahirkan. Kondisi ini dapat dipertimbangkan sebagai salah satu komplikasi kehamilan yang berisiko tinggi.Terdapat 2 tipe plasenta akreta, yaitu plasenta inkreta (menempel di otot rahim), dan plasenta perkreta (menembus otot rahim) yang dapat menyebabkan kehilangan darah lebih banyak dari seharusnya setelah melahirkan. Jika kondisi sudah lebih dulu di diagnosis pada saat kehamilan, ibu hamil akan melahirkan secara caesar diikuti dengan operasi pengangkatan rahim jika diperlukan.
Plasenta Akreta
Dokter spesialis Kandungan
GejalaSeringkali tidak menunjukkan tanda atau gejala pada saat kehamilan, namun dapat terjadi pendarahan pada trimester pertama
Faktor risikoRiwayat operasi rahim sebelumnya, posisi plasenta, usia ibu hamil di atas 35 tahun
Metode diagnosisWawancara, pemeriksaan fisik, USG
PengobatanOperasi
KomplikasiPendarahan, kelahiran prematur
Kapan harus ke dokter?Setiap bulan sejak trimester 1 kehamilan
Gejala plasenta akreta seringkali tidak menunjukkan tanda atau gejala pada saat kehamilan, meskipun perdarahan yang keluar dari vagina saat 3 bulan pertama dapat terjadi. Biasanya plasenta akreta akan terdeteksi pada saat menjalani pemeriksaan USG rutin.
Plasenta akreta berhubungan dengan ketidaknormalan garis rahim, biasanya karena luka setelah operasi caesar atau operasi rahim lainnya. Namun terkadang plasenta akreta terjadi tanpa riwayat operasi rahim.Menurut Kupferminc et al. (1993), kondisi plasenta akreta juga terkait pada kenaikan tingkatan MSAFP (maternal serum alpha feto-protein) saat trimester kedua kehamilan. AFP atau alpha feto-protein ialah protein plasma yang biasanya diproduksi oleh janin dalam darah ibunya. Tes MSAFP dilakukan untuk mengecek tingkatan protein plasma yang diproduksi bayi, guna mengetahui apakah ada risiko bayi mengalami kelainan tertentu. 

Faktor Risiko

  • Riwayat operasi rahim sebelumnya. Risiko terkena plasenta akreta meningkat dengan operasi caesar atau operasi rahim yang pernah dijalani sebelumnya.
  • Posisi plasenta. Jika sebagian atau seluruh plasenta menutupi mulut rahim, atau terdapat dibagian bawah rahim, maka akan meningkatkan risiko terkena plasenta akreta.
  • Usia kehamilan. Plasenta akreta lebih umum terjadi pada wanita dengan usia lebih dari 35 tahun.
  • Riwayat melahirkan sebelumnya. Risiko plasenta akreta meningkat pada saat jumlah kehamilan meningkat.
Jika memiliki risiko terkena plasenta akreta saat kehamilan, seperti sebagian atau seluruh plasenta menutupi mulut rahim atau karena operasi rahim sebelumnya, dokter akan melakukan pemeriksaan dengan teliti terhadap plasenta bayi. Dengan USG atau MRI, dokter dapat mengevaluasi seberapa dalam plasenta ditanam di dalam dinding rahim.Diagnosis awal akan kondisi plasenta akreta amat penting karena banyak dokter dapat terlibat dalam kehamilan yang sedang dialami pasien. Dengan terlibatnya banyak dokter,perdarahan hebat serta histerektomi (pengangkatan rahim) dapat dihindari. Tetapi pada kasus-kasus yang parah, kedua hal tadi mungkin mesti tetap dilakukan. Meski begitu, risiko terjadinya komplikasi akan menjadi kecil. Selain itu, memonitor kehamilan pasien secara rutin diperlukan setelah diagnosis untuk memberikan hasil yang terbaik bagi ibu dan anak.
Jika dokter mencurigai ibu hamil mengalami plasenta akreta, dokter akan merencanakan proses melahirkan yang aman. Pada kasus plasenta akreta, operasi caesar diikuti dengan operasi pengangkatan rahim (caesarean histerektomi) untuk mencegah perdarahan hebat yang mengancam nyawa. Selain itu, ada metode lain untuk menangani kondisi plasenta akreta. Metode lain yang dimaksud yaitu mengangkat plasenta tanpa melakukan pengangkatan rahim. Plasenta dapat diangkat sebagian atau sepenuhnya (ACOG, 2018). Setelah plasenta diangkat, rahim juga dapat diangkat jika diperlukan, atau sebaliknya, rahim diangkat tanpa mengangkat plasenta (Goh & Zalud, 2015).Mengutip sumber yang pertama, kedua metode tadi memiliki risiko komplikasi, dan mesti diputuskan dengan mempertimbangkan keadaan masing-masing individu penderita. Khusus untuk penderita plasenta perkreta, histerektomi mesti dilakukan setelah kelahiran menggunakan operasi caesar, rata-rata 41 hari setelahnya. Jika terdapat perdarahan vagina saat 3 bulan pertama, dokter akan merekomendasikan istirahat panggul atau istirahat di rumah sakit.

Komplikasi

Plasenta akreta dapat menimbulkan komplikasi berupa:
  • Perdarahan hebat. Plasenta akreta menimbulkan risiko perdarahan hebat setelah melahirkan. Kondisi ini dapat membahayakan nyawa karena mencegah pembekuan darah secara normal, serta gagal paru dan gagal ginjal.
  • Kelahiran prematur. Plasenta akreta akan menyebabkan persalinan lebih awal. Jika plasenta akreta menyebabkan perdarahan saat kehamilan, ibu harus melahirkan bayi lebih awal dari waktu yang ditetapkan.
  • Kerusakan pada organ sekitar rahim, misalnya usus atau kandung kemih.
  • Hilangnya kesuburan karena histerektomi (pengangkatan rahim)
  • Kematian ibu saat melahirkan
Sayangnya, plasenta akreta tidak dapat dicegah. Karenanya, memonitor kehamilan amat penting dilakukan, terutama bagi ibu hamil yang pernah mengalami operasi caesar. Hal ini dikarenakan mereka-lah yang memiliki risiko tinggi menjadi penderita plasenta akreta.
Saat terjadi perdarahan pada vagina selama trimester ketiga kehamilan, segera hubungi dokter. Jika perdarahannya hebat, kondisi ini sudah dianggap darurat medis.Selain itu, kondisi plasenta akreta juga sering terdeteksi saat sedang melakukan USG sejak awal kehamilan. Jika demikian, konsultasi dengan dokter dapat dimulai segera setelah USG tadi.
  • Tanyakan mengenai tindakan pencegahan, seperti aktivitas yang harus dihindari dan gejala yang membutuhkan perawatan khusus
  • Tanyakan anggota keluarga atau teman untuk menemani ke dokter, untuk membantu mengingat informasi yang diberikan
  • Tulis pertanyaan yang akan ditanyakan kepada dokter
Dokter akan menanyakan beberapa pertanyaan seperti:
  • Kapan Anda mengalami pendarahan?
  • Apakah pendarahan terjadi sekali atau sering?
  • Apakah pendarahan tersebut parah?
  • Apakah pendarahan tersebut diikuti dengan sakit dan kontraksi?
  • Apakah Anda pernah hamil sebelumnya?
  • Apakah Anda pernah melakukan operasi rahim?
 The American College of Obstetricians and Gynecologists. https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/obstetric-care-consensus/articles/2018/12/placenta-accreta-spectrum#
Diakses pada 8 Juni 2021
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17846-placenta-accreta
Diakses pada 8 Juni 2021
Journal of maternal-fetal & neonatal medicine. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5424888/
Diakses pada 8 Juni 2021
Mayoclinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/placenta-accreta/diagnosis-treatment/drc-20376436
Diakses pada 23 Oktober 2018
Obstetrics and gynecology, 82(2), 266-269.https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/7687756/
Diakses pada 8 Juni 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email