Penyakit Lainnya

Pingsan

15 Nov 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Pingsan
Pingsan bisa diawali dengan rasa mual, pusing, maupun lemas
Pingsan adalah kondisi ketika seseorang kehilangan kesadaran untuk sementara waktu. Kondisi ini terjadi secara mendadak karena aliran darah ke otak mengalami penurunan. Akibatnya, otak tidak mendapatkan cukup oksigen.Pingsan yang dalam bahasa medisnya disebut sinkop, biasanya ditandai dengan gejala awal berupa mual, pusing dan merasa lemah hingga akhirnya terjatuh tidak sadarkan diri.Pemulihan penuh dari pingsan umumnya memerlukan waktu selama beberapa menit. Jika tidak ada kondisi medis yang mendasarinya, Anda mungkin tidak memerlukan pengobatan medis. Sebab, pingsan biasanya tidak menyebabkan masalah kesehatan yang serius.Namun, Anda membutuhkan pemeriksaan dokter apabila pingsan terjadi dengan frekuensi yang sering. Bisa saja hal itu menandakan adanya kondisi medis yang lebih serius.  
Pingsan
Dokter spesialis Umum, Penyakit Dalam
GejalaPusing, mual, berkeringat, tidak sadarkan diri
Faktor risikoDehidrasi, berdiri lama di satu posisi, gula darah rendah
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes darah, EKG
PengobatanPertolongan pertama, penanganan medis
ObatKlonidin, teofilin, efedrin
KomplikasiKualitas hidup menurun, cedera fisik, patah tulang
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami pingsan yang berulang
Saat seseorang mengalami pingsan, ia tidak akan sadar bahwa ia terjatuh. Sementara tanda-tanda yang mungkin dirasakan sebelum mengalami pingsan meliputi:
  • Pusing
  • Merasa mual
  • Berkeringat
  • Merasa lemah
  • Merasa pusing dan ruangan di sekitarnya seperti berputar (vertigo)
  • Penglihatan yang kabur
  • Berkurangnya kemampuan pendengaran
  • Mengalami sensasi kesemutan di tubuh
   
Penyebab pingsan dibagi berdasarkan jenis-jenisnya berikut ini:

1. Sinkop vasovagal

Pingsan jenis ini disebabkan oleh penurunan detak jantung dan tekanan darah secara tiba-tiba. Kondisi ini terjadi saat tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap pemicu emosional, neurologis, stres, melihat darah, atau berdiri dalam jangka waktu yang lama.

2. Sinkop sinus karotis

Pingsan jenis ini terjadi ketika arteri karotis pada leher berkonstriksi (mengerut atau mengencang). Kondisi tersebut dapat muncul akibat beragam hal, seperti memutar kepala dari sisi ke sisi atau mengenakan baju dengan kerah yang terlalu ketat.

3. Sinkop situasional

Pingsan tipe ini terjadi karena kondisi tegang ketika Anda batuk, buang air kecil, mengejan, atau memiliki masalah pencernaan. 

Penyebab lainnya

Di samping jenis-jenis pingsan tersebut, ada juga beragam penyebab lainnya, seperti:
  • Merasa sangat ketakutan atau mengalami trauma emosional
  • Merasakan nyeri yang parah
  • Menurunnya tekanan darah secara tiba-tiba, misalnya saat mengalami perdarahan atau dehidrasi berat
  • Mengonsumsi obat tertentu, seperti obat untuk gangguan kecemasan, depresi, alergi, dan tekanan darah tinggi
  • Penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan alkohol
  • Bernapas dengan sangat cepat dan dalam (hiperventilasi)
  • Kurangnya kadar gula dalam darah
  • Mengalami kejang
  • Bangkit berdiri secara mendadak dari posisi berbaring
  • Berdiri terlalu lama di satu posisi
  • Batuk terlalu keras
  • Menderita gangguan jantung, seperti ritme jantung yang tidak normal, serangan jantung, dan stroke. Kondisi ini lebih sering terjadi pada kalangan lanjut usia (lansia) di atas 65 tahun.
  • Mengidap penyakit diabetes, aterosklerosis, aritmia, serangan cemas atau panik, serta penyakit paru kronis (seperti emfisema)
Baca jawaban dokter: Mengapa saya sering seperti tak sadarkan diri?   
Dokter akan melakukan beberapa langkah berikut ini untuk mendiagnosis:

1. Pemeriksaan fisik dan wawancara

Dokter akan mengevaluasi riwayat kesehatan dan fisik pasien. Pada tahap ini dokter akan mengajukan pertanyaan rinci mengenai gejala dan episode pingsan yang dialami pasien.Setelah itu, dokter akan menjalankan beberapa tes untuk menentukan penyebab pingsan. Tes ini meliputi pengukuran detak jantung, volume darah, dan aliran darah di berbagai posisi.

2. Tilt test

Tilt test dilakukan untuk mencari tahu penyebab pingsan. Pada prosedur ini denyut jantung dan tekanan darah pasien akan diukur dan dicatat saat pasien ada dalam posisi berbaring, duduk, dan berdiri.

3. Tes darah

Tes darah dilakukan untuk memastikan terjadinya anemia atau perubahan metabolisme pada pasien.

4. Elektrokardiogram (EKG)

EKG adalah pemeriksaan untuk mencatat aktivitas listrik pada jantung.

5. Echocardiogram (ECG)

Pemeriksaan ini berfungsi menggambarkan pergerakan jantung yang menggunakan gelombang suara.

6. Tes treadmill (exercise stress test)

Tes ini dilakukan untuk mengetahui kecukupan asupan darah dan oksigen pada jantung dari sirkulasi saat terjadi stres fisik.

7. Tes meja miring (tilt table test)

Dokter akan merekomendasikan tes meja miring jika Anda mengalami gejala berupa pusing dan pingsan secara berulang tanpa penyebab jelas. Tes ini dilakukan dengan cara mencatat tekanan darah dan detak jantung dari menit ke menit saat pasien dimiringkan ke tingkat yang berbeda. Tes tersebut dapat menunjukkan refleks jantung abnormal yang dapat menjadi penyebab pingsan.

8. Tes hemodinamik

Tes ini dilakukan untuk memeriksa aliran dan tekanan darah di dalam pembuluh saat otot jantung berkontraksi dan memompa darah ke seluruh tubuh. Dokter akan melakukan pengukuran dengan menyuntikkan sejumlah kecil zat radioaktif melalui jalur intravena (IV) sebagai penanda.

9. Tes refleks saraf

Dokter akan melakukan serangkaian tes berbeda untuk memantau tekanan darah, aliran darah, detak jantung, suhu kulit dan keringat sebagai respons terhadap rangsangan tertentu yang diberikan. Pengukuran ini dapat membantu dokter menentukan fungsi sistem saraf pasien berfungsi normal, sekaligus mendeteksi potensi kerusakan.

Untuk beberapa kasus, dokter mungkin akan merekomendasikan CT scan kepala Anda untuk melihat kemungkinan perdarahan di dalam otak. Pemeriksaan ini biasanya dibutuhkan apabila ada cedera kepala dan dokter mencurigai adanya perdarahan di dalamnya.
 
Pengobatan untuk pingsan diberikan berdasarkan penyebab dan disesuaikan pada kondisi tiap orang yang mengalaminya. Penanganannya dilakukan melalui pertolongan pertama maupun tindakan medis, sebagai berikut ini.

1. Pertolongan pertama

  • Baringkan orang yang pingsan tersebut dalam keadaan terlentang.
  • Periksa jalan napasnya.
  • Posisikan kaki pasien lebih tinggi dari dadanya (posisi jantung) sekitar 30 cm, agar aliran darah ke otak lebih lancar.
  • Longgarkan pakaian pasien.
  • Miringkan kepala pasien agar tidak tersedak ketika muntah.
  • Goyangkan pasien dengan kuat, ketuk dengan cepat di bagian dada atau berteriak ke arah telinganya.
  • Jika pasien berangsur sadar dari pingsannya, segera berikan minuman manis.
  • Namun, apabila pasien tidak juga merespons, terutama disertai detak jantung yang terhenti, segera bawa ke unit gawat darurat terdekat untuk menjalani resusitasi jantung paru (RJP).

2. Tindakan medis

Konsultasikan kondisi Anda jika mengalami pingsan berulang kali atau dalam frekuensi yang sering. Dokter bisa memberikan penanganan dengan:
  • Mengobati penyakit yang menjadi penyebab sering pingsan
  • Pemberian obat-obatan pada jenis pingsan vasovagal, seperti penghambat βeta, disopiramid, skopolamine, klonidin, teofilin, efedrin atau obat golongan SRI
  • Mengganti obat-obatan seperti antihipertensi, antidepresan atau obat alergi yang dapat menyebabkan pingsan
  • Mengatur pola diet pasien. Dokter biasanya akan menyarankan agar makan dalam porsi kecil dan sering, konsumsi lebih banyak garam, minum lebih banyak cairan, meningkatkan jumlah kalium dalam makanan dan menghindari kafein dan alkohol.
  • Memberikan penanganan untuk penyakit jantung struktural, seperti:
    • Memasang alat pacu jantung agar detak jantung pasien tetap teratur
    • Memasang defibrilator jantung implan (ICD).Perangkat ini secara konstan dapat memonitor detak dan ritme jantung.


Komplikasi

Pingsan yang terjadi secara berulang dan tidak ditangani dengan tepat, dapat menimbulkan komplikasi berupa:
  • Penurunan kualitas hidup
  • Peningkatan risiko terkena penyakit, terutama jika pasien sudah berusia lanjut
  • Menurunnya kepercayaan diri
  • Kesulitan dalam beraktivitas
  • Depresi
  • Patah tulang dan cedera fisik lainnya
Baca jawaban dokter: Muntah dan pingsan saat Hamil, haruskah opname?  
Apabila Anda mempunyai riwayat pingsan, cobalah untuk mencari tahu penyebabnya. Dengan begitu, Anda dapat menjauhi atau menghindari pemicunya.Jika Anda ingin bangkit dari posisi duduk, sebaiknya lakukanlah secara perlahan-lahan. Apabila Anda takut melihat darah, informasikan pada petugas kesehatan mengenai hal ini sebelum pengambilan darah. Lalu untuk mencegah pusing akibat kadar gula darah yang rendah, Anda sebaiknya selalu makan tepat waktu.Kepala terasa ringan, tubuh yang lemas, serta merasakan sensasi seperti berputar termasuk tanda-tanda peringatan dari pingsan. Bila Anda mengalaminya, segera duduk dan letakkan kepala di antara lutut guna membantu aliran darah dan oksigen ke otak.Anda juga dapat berbaring untuk menghindari terjadinya cedera karena jatuh saat kehilangan kesadaran. Jangan berdiri sampai Anda benar-benar merasa lebih baik.  
Segera cari bantuan medis atau bawa orang yang pingsan ke unit gawat darurat apabila mengalami kondisi berikut ini:
  • Wajah atau bibir berubah warna menjadi biru
  • Detak jantung yang tidak beraturan
  • Nyeri dada atau seperti ada tekanan
  • Kesulitan atau tidak bernapas
  • Tidak kunjung sadar meski sudah beberapa menit
  • Jatuh dan mengalami cedera atau perdarahan
  • Sedang hamil
  • Menderita diabetes
  • Tidak memiliki riwayat pingsan dan berusia di atas 50 tahun
  • Memiliki riwayat penyakit jantung
  • Kejang atau muncul cedera pada lidah
  • Tidak bisa menahan buang air kecil dan buang air besar
  • Kesulitan berbicara atau melihat
  • Disorientasi atau linglung
  • Tidak bisa menggerakkan anggota badan
 
Sebelum menjalani pemeriksaan oleh dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang pasien rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang pasien alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang pasien konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin pasien ajukan pada dokter.
     
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini.
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terhadap pingsan?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis pingsan agar penanganan yang tepat bisa diberikan.    
Healthline. https://www.healthline.com/symptom/fainting
Diakses pada 11 Desember 2018
Medicine Net. https://www.medicinenet.com/fainting/article.htm
Diakses pada 11 Desember 2018
Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/003092.htm
Diakses pada 11 Desember 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/fainting/
Diakses pada 11 Desember 2018
Scielo. https://www.scielo.br/scielo.php?pid=S0066-782X1999000600010&script=sci_arttext&tlng=en#
Diakses pada 4 November 2020
WebMD. https://www.webmd.com/first-aid/fainting-treatment
Diakses pada 4 November 2020
Patient Info. https://patient.info/doctor/syncope#nav-6
Diakses pada 4 November 2020
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17536-syncope
Diakses pada 4 November 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1861366/
Diakses pada 4 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email