Penyakit Lainnya

Pheochromocytoma

Diterbitkan: 18 Dec 2019 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Pheochromocytoma
Pheochromocytoma adalah tumor yang terbentuk di kelenjar adrenal. Tumor ini termasuk jenis yang sangat jarang terjadi.Sebagian besar pheochromocytoma bersifat jinak. Hanya sekitar 3 hingga 13 persen tumor ini yang bersifat ganas dan dapat menyebar ke organ selain kelenjar adrenal.Umumnya, tumor pheochromocytoma ini cuma menyerang salah satu kelenjar adrenal. Namun tumor juga bisa muncul pada kedua kelenjar.Kelenjar adrenal terletak menempel di atas ginjal dan berfungsi menghasilkan hormon adrenalin serta noradrenalin. Kedua hormon ini bertugas mengatur denyut jantung, metabolisme, dan tekanan darah.Ketika muncul pheochromocytoma, tumor dapat menghasilkan hormon adrenalin dan noradrenalin yang jauh melebihi biasanya. Akibatnya, peningkatan tekanan darah yang bersifat sementara atau terus-menerus dapat terjadi.Apabila kondisi tersebut terus dibiarkan, tekanan darah tinggi (hipertensi) bisa menyebabkan gangguan medis yang serius hingga mengancam jiwa penderita. Khususnya pada jantung dan pembuluh darah.Pheochromiocytoma dapat terjadi kapan saja. Tetapi tumor ini paling sering menyerang orang dewasa berusia 30 hingga 50 tahun. Hanya sekitar 10 persen kasus pheochromiocytoma yang dialami oleh anak-anak.
Pheochromocytoma
Dokter spesialis Lainnya
Pada beberapa kasus, pheochromocytoma tidak menimbulkan gejala apapun. Apabila bergejala, indikasinya muncul ketika tumor menghasilkan hormon, sehingga akan timbul ’serangan’ gejala selama beberapa menit hingga beberapa jam.Secara umum, gejala pheochromocytoma meliputi:
  • Gejala ini paling umum dan dialami oleh 60 persen penderita. Kondisi ini dapat terjadi terus-menerus atau berkala, misanya beberapa kali sehari hingga dua kali sebulan.
  • Sakit kepala.
  • Jantung berdebar.
  • Keringat berlebih.
  • Tremor pada tangan.
  • Wajah yang pucat.
  • Sulit bernapas.
  • Gangguan kecemas
  • Konstipasi atau sembelit.
  • Penurunan berat badan.
  • Sesak napas.
  • Gangguan tidur.
  • Berat badan menurun.
  • Mual dan muntah.
  • Kejang.
Semakin besar ukuran tumor, gejala pheochromocytoma akan semakin parah dan semakin sering muncul.
Penyebab pheochromocytoma belum diketahui hingga sekarang. Namun faktor genetik berperan besar dalam terjadinya penyakit ini.Sekitar 25-35 persen kasus pheochromocytoma diperkirakan terjadi karena faktor keturunan. Tumor ini juga lebih sering ditemukan pada orang dengan penyakit genetik tertentu.Selain itu, beberapa hal di bawah ini dikatakan mampu mencetuskan gejala tumor pheochromocytoma:
  • Aktivitas fisik yang berat.
  • Gangguan kecemasan atau stres.
  • Perubahan postur.
  • Persalinan.
  • Pembedahan dan pembiusan.
  • Konsumsi makanan dan minuman yang kaya tiramin, seperti keju, bir, wine, cokelat, daging asap, atau daging yang dikeringkan. Zat ini bisa mempengaruhi tekanan darah.
  • Konsumsi obat-obatan tertentu.
Karena tergolong penyakit yang jarang terjadi dan memiliki gejala yang berbeda-beda tiap penderita, diagnosis pheochromocytoma cukup sulit dipastikan. Untuk menentukan diagnosis, dokter akan melakukan proses tanya jawab yang mendetail.Tanya jawabDalam proses tanya jawab, gejala yang dialami oleh penderita akan ditanyakan secara rinci. Demikian juga riwayat keluarga dan penyakit genetik yang terkait.Pemeriksaan fisikDokter kemudian akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Contohnya, mengecek tekanan darah, suhu tubuh, dan sebagainya.Pemeriksaan penunjangDokter lalu melanjutkan proses diagnosis dengan pemeriksaan penunjang yang umumnya meliputi:
  • Pemeriksaan laboratorium

Tes urine atau tes darah merupakan contohnya. Kedua tes ini bertujuan mengukur kadar hormon adrenalin, hormon nonadrenalin, atau produk sisa dari kedua hormon tersebut di dalam tubuh.
  • Pemeriksaan pencitraan

Jika hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kemungkinan pheochromocytoma, dokter akan menganjurkan pemeriksaan pencitraan untuk menemukan tumor. Contohnya, CT scan, MRI, pemindaian dengan M-iodobenzylguanidine (MIBG), dan PET scan.
  • Pemeriksaan genetik

Dokter juga dapat menganjurkan pemeriksaan genetik untuk menentukan apakah pheochromocytoma berhubungan dengan penyakit genetik.
Penanganan pheochromocytoma tergantung pada ukuran dan jenis tumor, serta kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Berikut penejelasannya:
  • Operasi pengangkatan tumor

Ini merupakan pengobatan pheochromocytoma yang utama. Pada sebagian besar kasus, kelenjar adrenal dan tumor akan diangkat melalui operasi laparoskopi yang meminimalisir luka sayatan operasi.Kelenjar adrenal yang sehat dapat menggantikan fungsi dari kelenjar adrenal yang diangkat, dan tekanan darah akan kembali normal.
  • Obat-obatan

Sebelum melakukan pembedahan, dokter akan meresepkan obat penurun tekanan darah. Dengan ini, risiko terjadinya peningkatan tekanan darah selama pembedahan juga akan berkurang.Obat antihipertensi yang umumnya diberikan meliputi obat alpha blockers dan beta blockers. Obat-obatan ini perlu dikonsumsi selama 7-10 hari sebelum operasi.Pada kasus pheochromocytoma yang bersifat ganas, penanganan biasanya yang dilakukan dengan terapi isotop iodin, kemoterapi, radiaoterapi, atau operasi.
Karena penyebabnya belum diketahui secara pasti, langkah khusus untuk mencegah pheochromocytoma juga tidak tersedia.
Segera periksakan diri ke dokter apabila Anda memiliki gejala-gejala yang terkait dengan pheochromocytoma. Misalnya, tekanan darah tinggi, sakit kepala, berkeringat, dan jantung berdebar.Untuk pasien yang telah terdiagnosis mengidap pheochromocytoma dan mengalami kekambuhan gejala, sebaiknya segera kembali memeriksakan diri ke dokter.
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat penyakit genetik dalam keluarga Anda.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah gejala tersebut terjadi terus-menerus atau hilang dan timbul?
  • Apakah ada hal yang dapat mencetuskan gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko genetik terkait pheochromocytoma?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis pheochromocytoma. Dengan ini, langkah pengobatan bisa diberikan secara tepat.
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pheochromocytoma/symptoms-causes/syc-20355367
Diakses pada 17 Desember 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/318203.php
Diakses pada 17 Desember 2019
Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/000340.htm
Diakses pada 17 Desember 2019
WebMD. https://www.webmd.com/cancer/what_is_pheochromocytoma#1
Diakses pada 17 Desember 2019
National Organization for Rare Disorders. https://rarediseases.org/rare-diseases/pheochromocytoma/
Diakses pada 17 Desember 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Apa Sebenarnya Penyebab Alzheimer yang Ganggu Daya Pikir Penderitanya?

Walau penyebab Alzheimer belum bisa dipastikan dengan jelas, diyakini bahwa penyakit ini berkaitan dengan masalah dua jenis protein di dalam otak. Dua protein tersebut yakni beta-amyloid yang membentuk plak dan protein tau yang menjadi kusut.
25 Aug 2020|Arif Putra
Baca selengkapnya
Penyebab Alzheimer belum bisa dipastikan namun berkaitan dengan masalah protein di otak

Seckel Syndrome, Kelainan Langka Tubuh Kerdil dan Bentuk Wajah Unik

Seckel syndrome adalah kelainan genetik langka yang menyebabkan penderitanya bertubuh sangat kecil. Gejala awal penyakit yang termasuk dalam primordial dwarfism ini sudah terlihat sejak baru lahir dan berlanjut hingga dewasa.
29 Oct 2020|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
Seckel syndrome membuat penderitanya lahir dengan tubuh yang sangat kecil

Berbagai Komplikasi Anemia Sel Sabit yang Dapat Terjadi pada Bayi

Anemia sel sabit dapat diturunkan oleh orangtua pada bayinya. Sel darah merah pada penderita anemia sel sabit memiliki bentuk seperti bulan sabit dan sulit bergerak hingga menyebabkan berbagai masalah. Bahkan penyakit genetik ini bisa menyebabkan berbagai komplikasi yang berbahaya.
26 Aug 2019|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
Komplikasi anemia sel sabit pada bayi dapat terjadi ketika adanya penyumbatan pembuluh darah