Infeksi

Pes

14 Mar 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Pes
Pes menyebar melalui perantara berupa hewan pengerat seperti tikus.
Pes adalah penyakit infeksi berbahaya yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Saat pertama kali mewabah di Eropa pada abad pertengahan, pes telah merenggut ratusan juta nyawa sehingga penyakit ini disebut juga dengan plague atau black death.Bakteri Yersinia pestis umumnya menginfeksi tikus dan hewan pengerat lainnya melalui perantara kutu. Manusia dapat tertular karena terpapar bakteri tersebut melalui berbagai jalur.Berdasarkan cara penyebaran dan gejalanya, terdapat tiga tipe dari penyakit pes, yaitu:
  • Pes bubonic
Pes bubonic merupakan bentuk pes yang paling sering terjadi. Penyakit ini muncul ketika manusia digigit kutu atau hewan yang terinfeksi. Pada kasus yang sangat jarang, manusia bisa terinfeksi akibat kontak dengan benda yang terkontaminasi bakteri dari penderita pes.Pes bubonic menyerang sistem limfatik yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh. Apabila infeksi tidak ditangani, bakteri menyebar melalui pembuluh darah dan menyebabkan pes septicemic, atau masuk ke paru-paru dan menyebabkan pes pneumonic.
  • Pes pneumonic
Pes pneumonic adalah tipe paling mematikan yang terjadi jika bakteri langsung menginfeksi paru-paru. Pes pneumonic merupakan satu-satunya tipe pes yang bisa ditularkan antarmanusia. Jika penderita pes pneumonic batuk, maka bakteri akan keluar melalui udara dan masuk ke saluran pernapasan orang yang sehat.
  • Pes septicemic
Pes septicemic terjadi ketika bakteri masuk serta berkembangbiak di pembuluh darah, dan seringkali merupakan akibat dari pes bubonic dan pneumonic yang tidak tertangani.Belakangan, kasus pes yang ditemukan di berbagai belahan dunia semakin menurun. Menurut laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), dari tahun 2013-2018, pes menyerang kurang dari 5.000 pasien.  Dengan semakin majunya perkembangan antibiotik, risiko kematian akibat pes pun dapat ditekan secara optimal.
Pes
Dokter spesialis Penyakit Dalam, THT
GejalaPembengkakan kelenjar getah bening, nyeri otot, lelah lesu
Faktor risikoTinggal di area rural, dokter hewan, bepergian ke daerah wabah pes
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, pemeriksaan sampel cairan dan darah
PengobatanPemberian obat-obatan
ObatGentamisin, Streptomisin, Kloramfenikol
KomplikasiPneumonia berat, disseminated intravascular disease, meningitis
Kapan harus ke dokter?Saat mengalami gejala pes
Gejala penyakit ini bervariasi, bergantung pada tipe pes yang diderita, yaitu :Pada pes bubonic, gejala utama yang muncul adalah pembengkakan kelenjar getah bening dan muncul dalam bentuk bejolan yang disebut bubo, dengan karakteristik berikut ini:
  • Seringkali muncul di daerah lipatan paha, ketiak, atau leher.
  • Berukuran sebesar telur ayam.
  • Nyeri apabila ditekan dan sensitif terhadap sentuhan.
Penderita pes bubonic juga dapat mengalami gejala lainnya, yaitu :
  • Demam dan menggigil mendadak
  • Nyeri kepala
  • Lelah dan lesu
  • Nyeri otot
Pada pes pneumonic, gejala yang muncul berupa:
  • Batuk disertai dahak berdarah
  • Sulit bernapas
  • Mual dan muntah
  • Demam tinggi
  • Nyeri kepala
  • Badan terasa lemah
Pada pes septicemic, gejala yang muncul berupa:
  • Demam dan menggigil
  • Badan terasa sangat lemah
  • Nyeri perut, diare, dan muntah
  • Perdarahan dari mulut, hidung, atau anus
  • Perdarahan di bawah kulit, biasanya muncul dalam bentuk lebam
  • Syok
  • Jari kaki atau tangan serta hidung berubah warna menjadi kehitaman akibat kematian jaringan (gangrene).
Yersenia pestis merupakan salah satu kelompok bakteri yersenia yang menyebabkan penyakit  pes. Awalnya, bakteri ini menginfeksi tikus yang kemudian saling menularkan satu sama lain melalui perantara kutu xenopsylla cheopis.Kutu ini mengisap darah hewan mamalia pengerat lainnya seperti tupai, kelinci, serigala, anjing, dan kucing.Bakteri yersenia dapat menginfeksi manusia melalui beberapa mekanisme, yaitu :
  • Manusia digigit langsung oleh kutu pembawa bakteri. Risiko ini meningkat apabila manusia tinggal di daerah dengan populasi tikus, kucing, dan anjing liar yang tinggi. Waspadai juga apabila di daerah Anda terdapat kematian jenis hewan tersebut dalam jumlah banyak secara mendadak.
  • Kontak dengan cairan atau bangkai hewan yang terinfeksi. Hal ini secara langsung dapat menyebabkan pes bubonic atau septicemic.
  • Langsung tertular dari pasien pes pneumonic. Hal ini terjadi bila ada kontak langsung atau kontak erat antara penderita dan orang yang sehat. Mekanisme penularan ini sudah sangat jarang terjadi di negara maju, meski tetap ada di negara berkembang.

Faktor Risiko

  • Tinggal di daerah rural (pedesaan atau pedalaman). Daerah rural adalah habitat alami dari hewan penggerat kecil seperti tikus, kelinci, kucing dan lainnya. Faktor risiko semakin tinggi apabila sanitasi dan kebersihan daerah tersebut tidak terjaga, karena akan meningkatkan populasi kutu sebagai hewan perantara infeksi.
  • Mengonsumsi hewan pengerat.
  • Bekerja sebagai dokter hewan.
Baca juga: Zoonosis adalah Penyakit yang Ditularkan oleh Hewan, Apa Saja Jenisnya?
Dokter akan mulai dengan pemeriksaan fisik untuk menilai pembengkakan kelenjar getah bening, yang dilanjutkan dengan:
  • Mengambil sampel cairan dari dalam bubo dengan menggunakan jarum suntik untuk mendeteksi bakteri
  • Mengambil sampel darah untuk mendeteksi bakteri
  • Mengambil sampel cairan dari saluran pernapasan dengan menggunakan metode endoskopi
Pengobatan yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan penyakit pes adalah dengan pemberian antibiotik untuk melawan infeksi, dan mencegah penyebaran penyakit. Beberapa golongan antibiotik yang biasa digunakan dalam perawatan pes adalah:
  • Aminoglikosida, misalnya streptomisin dan gentamisin.
  • Kloramfenikol
  • Tetrasiklin
  • Sulfonamida
  • Fluorokuinolon
  • Obaat lainnya, seperti penicilline, cephalosporine dan macrolide
Pada anak dan ibu hamil, pilihan antibiotik yang digunakan adalah golongan aminoglikosida berupa gentamisin.Selain itu, penderita harus dirawat di ruangan isolasi untuk mencegah penularan lewat udara. 

Komplikasi

Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi berupa:
  • Pneumonia akibat bakteri yang berat
  • Disseminated intravascular coagulation (DIC)
  • Meningitis
  • Kematian akibat shock endotoxin
Baca juga: Bagaimana Mekanisme Kerja Antibiotik Agar Ampuh Lawan Bakteri?
Saat ini, vaksin pes masih dalam pengembangan lebih lanjut. Dokter menyarankan tindakan berikut ini untuk mencegah pes:
  • Membasmi hewan pengerat yang tinggal di dalam rumah, tempat kerja, dan area rekreasi
  • Menggunakan sarung tangan ketika menyentuh atau memeriksa hewan yang dicurigai terinfeksi
  • Menggunakan produk anti serangga untuk menghindari gigitan kutu saat melakukan aktivitas seperti berkemah, mendaki gunung, atau kegiatan di luar rumah lainnya. Produk yang mengandung DEET (N,N-Dietil-m-toluamida) dapat digunakan pada kulit dan pakaian.
  • Menjaga kebersihan hewan peliharaan Anda dari kutu. Gunakan obat-obat anti kutu untuk hewan. Jika hewan peliharaan sakit, segera bawa ke dokter hewan.
  • Tidak membiarkan kucing atau anjing liar di area endemik masuk ke rumah.
Baca jawaban dokter: Kotoran tikus ikut termasak, apakah makanan masih bisa dikonsumsi?
Pes pada umumnya dapat mengancam jiwa apabila tidak diobati secara menyeluruh. Segera hubungi dokter apabila Anda merasa sakit, serta timbul benjolan bubo, terutama setelah berkunjung ke area dengan wabah penyakit pes.
Jika mengalami gejala pes, segeralah periksakan diri ke dokter. Dokter mungkin akan merujuk ke spesialis penyakit dalam dan spesialis THT.Anda juga dapat membuat daftar pertanyaan yang akan ditanyakan kepada dokter, seperti:
  • Apakah penyebab dari gejala-gejala saya?
  • Apakah saya perlu menjalani tes tertentu?
  • Apa pengobatan yang bisa saya dapat? Pengobatan mana yang direkomendasikan untuk saya?
  • Apakah ada efek samping dari pengobatan yang diberikan?
  • Apa yang bisa saya lakukan di rumah untuk mengurangi gejala ini?
  • Apakah saya perlu diisolasi?
  • Apakah Anda belakangan ini pernah mengunjungi area yang terkena wabah penyakit pes?
  • Apakah Anda belakangan ini pernah menyentuh hewan liar atau kucing?
  • Apakah Anda pernah merasa digigit oleh kutu?
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan pertama kali mengalami gejala tersebut?
  • Apakah gejala yang muncul bersifat terus-menerus atau muncul sesekali?
  • Apakah ada tindakan yang menyebabkan gejala Anda membaik?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terhadap penyakit pes?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis pes agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
CDC. https://www.cdc.gov/plague/maps/index.html
Diakses pada 17 Februari 2021
Medicine Net. https://www.medicinenet.com/yersinia_pestis/definition.htm
Diakses pada 17 Februari 2021
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC172914/
Diakses pada 17 Februari 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/plague/symptoms-causes/syc-20351291
Diakses pada 30 Oktober 2018
Web MD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/plague-information
Diakses pada 30 Oktober 2018
Atsub Education. https://www.atsu.edu/faculty/chamberlain/website/lectures/lecture/plague.htm
Diakses pada 17 Februari 2021
CDC. https://www.cdc.gov/plague/prevention/index.html
Diakses pada 17 Februari 2021
WHO. https://www.who.int/csr/resources/publications/plague/whocdscsredc992b.pdf
Diakses pada 17 Februari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email