Perikoronitis adalah peradangan yang menyerang jaringan gusi di sekitar gigi geraham bungsu. Kondisi ini lebih sering terjadi pada gigi geraham bungsu bagian bawah.

Gigi bungsu merupakan gigi geraham ketiga yang letaknya paling belakang. Jenis geraham ini paling terakhir tumbuh.

Gigi geraham bungsu biasanya tumbuh dalam rentang usia 17-25 tahun. Namun tidak menutup kemungkinan untuk tumbuh pada usia di atas 25 tahun.

Oleh karena itu, perikoronitis biasanya terjadi pada usia dewasa muda, dengan prevalensi kejadian sebanyak 81 persen pada pasien berusia 20 hingga 29 tahun.

Gejala perikoronitis berbeda-beda, tergantung apakah kondisi yang diderita oleh pasien tergolong akut atau kronis.

Gejala perikoronitis akut

Pada perikoronitis akut, gejala umumnya berlangsung selama 3-4 hari dan meliputi:

Gejala perikoronitis kronis

Perikoronitis kronis umumnya berlangsung selama 1-2 hari, namun terus berulang hingga beberapa bulan. Keluhan yang dirasakan oleh pengidap bisa berupa:

  • Nyeri tumpul pada gigi
  • Rasa tidak enak pada mulut
  • Bau mulut yang tidak sedap
  • Pembengkakan pada gusi

Perikoronitis terjadi ketika pertumbuhan gigi geraham bungsu mengalami gangguan, sehingga gigi gagal keluar dari gusi (erupsi) dengan sempurna. Terganggunya proses erupsi ini disebut dengan impaksi.

Akibat impaksi, gigi hanya keluar sebagian dari gusi dan menyebabkan bakteri dengan mudah masuk ke sela-sela antara gigi dan gusi. Sisa makanan atau plak juga dapat tersangkut di lipatan gusi di sekitar gigi dan menjadi sumber makanan bagi bakteri untuk berkembang biak. Apabila terus dibiarkan, gusi akan teritasi dan timbullah peradangan pada gusi.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya perikoronitis meliputi:

  • Kebersihan mulut yang kurang terjaga
  • Stres emosional dan kelelahan
  • Kehamilan
  • Menderita infeksi saluran pernapasan atas, seperti infeksi hidung, sinusitis, dan infeksi tenggorokan
  • Gigi geraham bungsu yang tidak keluar dengan sempurna
  • Jaringan gusi yang berlebih

Dokter gigi akan melakukan evaluasi gejala dan pemeriksaan klinis untuk memastikan diagnosis perikoronitis. Pemeriksaan dilakukan untuk mengecek ada tidaknya gejala perikoronitis. Misalnya, peradangan, kemerahan, pembengkakan, atau gusi bernanah. Dokter gigi juga akan melihat apakah terdapat lipatan gusi di sekitar daerah tersebut.

Untuk memastikan ada tidaknya pertumbuhan gigi geraham bungsu yang tidak sempurna atau impaksi, dokter gigi akan menganjurkan pasien untuk menjalani pemeriksaan penunjang berupa rontgen gigi.

Rontgen gigi juga bertujuan menyingkirkan kemungkinan penyebab nyeri yang lain, seperti karies gigi.

Penanganan perikoronitis bisa dilakukan dengan:

  • Penanganan awal

Dokter gigi akan membersihkan sisa makanan dan plak pada gusi yang terkena perikoronitis. Dokter kemudian meresepkan antibiotik untuk mengatasi infeksi.

Untuk mengurangi rasa nyeri, Anda dapat menggunakan obat pereda rasa nyeri. Contohnya, aspirin, paracetamol, ibuprofen, atau obat lain yang diresepkan oleh dokter.

Dokter juga akan meresepkan obat antiinflamasi untuk mengurangi pembengkakan dan peradangan yang terjadi.

  • Penanganan selanjutnya

Setelah penanganan awal dilakukan, pengobatan perikoronitis lanjutan tergantung pada kondisi gigi geraham bungsu Anda.

Apabila peradangan gusi ini terjadi ketika gigi geraham bungsu sedang dalam proses keluar atau erupsi, dokter akan melakukan pemantauan. Dengan ini, gusi di sekitar gigi bisa dijaga agar tetap bersih dan tidak terjadi infeksi gusi sampai gigi dapat keluar dengan sempurna.

Jika gejala perikoronitis dinilai terlalu parah, dokter akan mempertimbangkan untuk melakukan prosedur pengangkatan lapisan atau lipatan gusi yang di sekitar gigi.

Sementara ketika gigi geraham bungsu tidak keluar dengan sempurna, dokter akan merekomendasikan untuk melakukan pencabutan gigi.

Beberapa cara dapat dilakukan untuk mencegah perikoronitis meliputi:

  • Menjaga kebersihan mulut

Rajin menggosok gigi, membersihkan sisa-sisa makanan dari sela-sela gigi dengan benang gigi (dental floss), serta menggunakan obat kumur akan mengurangi risiko terjadinya penyakit ini.

  • Rajin kontrol ke dokter gigi

Perawatan gigi yang rutin sangat dianjurkan. Dokter dapat mendeteksi apabila terjadi masalah gigi dan mulut (termasuk perikoronitis), sehingga pengobatan dapat dilakukan sedini mungkin.

Bagi pasien dengan gejala perikoronitis ringan, ada beberapa cara dapat dilakukan di rumah untuk meredakan gejala. Misalnya, berkumur dengan larutan garam hangat atau menyikat gigi dan jaringan gusi yang terkena untuk membersihkan plak maupun sisa-sisa makanan.

Apabila tidak ada perbaikan dalam lima hari dan gejala semakin parah, segera periksakan diri ke dokter gigi. Misalnya, terjadi keluhan gusi bengkak dan demam.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait perikoronitis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan gigi dan bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang berupa rontgen gigi untuk memastikan diagnosis perikoronitis. Dengan ini, pengobatan perikoronitis bisa diberikan secara tepat.

Healthline. https://www.healthline.com/health/pericoronitis
Diakses pada 23 Desember 2019

Columbia College of Dental Medicine. https://www.dental.columbia.edu/patient-care/dental-library/pericoronitis
Diakses pada 23 Desember 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320552.php
Diakses pada 23 Desember 2019

WebMD. https://www.webmd.com/oral-health/guide/pericoronitis
Diakses pada 23 Desember 2019

Medicine Net. https://www.medicinenet.com/pericoronitis/article.htm
Diakses pada 23 Desember 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6383902/
Diakses pada 23 Desember 2019

Artikel Terkait