Perut

Perforasi

21 Apr 2021 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Perforasi
Perforasi umumnya terjadi pada organ pencernaan, salah satunya lambung
Perforasi adalah lubang atau luka di dinding suatu organ tubuh. Kondisi ini dapat terjadi pada esofagus, lambung, usus kecil, usus besar, anus, atau kantung empedu.Perforasi bisa disebabkan oleh berbagai penyakit. Mulai dari radang usus buntu (apendisitis), radang kantong usus besar (divertikulitis), hingga cedera seperti luka tusuk atau luka tembak.Lubang atau luka yang terjadi di saluran pencernaan (intestinal perforation) atau kantong empedu dapat memicu peritonitis, yakni peradangan pada lapisan tipis jaringan yang melapisi perut (peritoneum).Peritonitis kemudian bisa menyebabkan sepsis, yang akhirnya akan berujung pada kegagalan fungsi organ-organ tubuh hingga kematian.Perforasi termasuk kondisi gawat darurat medis yang membutuhkan penanganan secepat mungkin. Kemungkinan pulih dari kondisi ini bergantung pada kecepatan diagnosis dan penanganan sejak dini. 
Perforasi
Dokter spesialis Bedah
GejalaNyeri perut, perut teraba keras, nyeri bertambah buruk saat perubahan posisi
Faktor risikoOperasi perut, usia di atas 75 tahun, cedera di perut atau panggul
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes darah, pencitraan
PengobatanObat-obatan, operasi
ObatAntibiotik
KomplikasiPerdarahan internal, sepsis, kematian
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala perforasi
Gejala perforasi meliputi:

Nyeri perut sebagai gejala utama

Nyeri perut yang konstan merupakan tanda perforasi yang utama. Sensasi ini bisa muncul secara mendadak atau terjadi secara bertahap.Rasa sakit yang datang tiba-tiba bisa saja disebabkan oleh adanya lubang atau luka di lambung atau usus halus. Sementara nyeri yang datang secara bertahap dapat terjadi karena munculnya lubang atau luka pada usus besar.Nyeri juga dapat memburuk jika penderita mengubah posisi tubuh atau tidak sengaja menekan perut. Keluhan ini bisa berkurang ketika penderita berbaring.

Gejala lain

  • Perut dapat menonjol dan terasa keras ketika diraba
  • Keringat dingin
  • Demam
  • Mual
  • Muntah
  • Syok
 
Penyebab perforasi bisa bermacam-macam. Berikut contohnya:

Gangguan pencernaan

  • Apendisitis atau peradangan usus buntu
  • Kanker saluran cerna
  • Divertikulitis
  • Crohn disease
  • Penyakit kantung empedu seperti batu pada kandung empedu atau infeksi pada kandung empedu
  • Tukak lambung atau ulkus duodenum
  • Ulcerative colitis
  • Ischemic colitis
  • Inflammatory bowel disease
  • Kanker usus besar
  • Peradangan divertikulum Meckel, yaitu suatu kelainan bawaan pada usus halus yang menyerupai usus buntu
  • Volvulus atau penyumbatan pada usus

Penyebab lainnya

  • Trauma tumpul pada perut
  • Cedera pada perut atau panggul, misalnya kecelakaan, tertembak, atau tertusuk
  • Operasi pada perut atau panggul
  • Prosedur medis seperti kolonoskopi atau endoskopi saluran cerna bagian atas
  • Luka pada saluran cerna karena penggunaan obat aspirin, obat antiinflamasi non steroid (OAINS), dan steroid
  • Kemoterapi
  • Tekanan pada kerongkongan yang disebabkan oleh muntah yang terlalu kuat
  • Menelan benda asing atau zat yang bersifat korosif
 

Faktor risiko perforasi

Beberapa faktor di bawah ini juga dianggap bisa meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami perforasi:
  • Berusia 75 tahun ke atas
  • Memiliki banyak penyakit atau kondisi medis
  • Menggunakan obat imunoterapi jenis antibodi monoklonal bernama ipilimumab
  • Mengalami adhesi atau perlengketan pada organ area panggul
  • Berjenis kelamin perempuan
 
Untuk memastikan diagnosis perforasi, dokter akan melakukan sederet metode pemeriksaan di bawah ini:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan gejala, faktor risiko, serta riwayat kesehatan pasien maupun keluarga.
  • Pemeriksaan fisik

Dokter akan memeriksa perut pasien dengan saksama.
  • Pencitraan

Pemeriksaan pencitraan seperti X-ray (foto rontgen) dapat dilakukan untuk mengecek ada tidaknya udara pada rongga perut. Ini merupakan tanda perforasi saluran cerna.Selain itu, CT scan bisa pula dilakukan guna memastikan lokasi perforasi yang muncul.
  • Tes darah

Tes darah pada pasien perforasi akan menunjukkan kadar sel darah putih yang lebih tinggi dari normal karena adanya infeksi. Pemeriksaan ini juga dapat mendeteksi kehilangan darah dengan menhitung kadar hemoglobin.Tak hanya itu, kadar elektrolit, asam basa, fungsi ginjal, dan fungsi hati pasien juga akan dievaluasi melalui pemeriksaan ini. 
Penanganan dini terhadap perforasi dapat meningkatkan kemungkinan pemulihan. Pengobatannya biasa melibatkan operasi darurat, dan jika lubang atau luka sudah menutup, antibiotik akan diberikan.Mari simak penjelasan cara mengobati perforasi dengan lebih rinci di bawah ini:
  • Operasi

Jenis operasi yang dilakukan adalah exploratory laparatomy (laparatomi eksplorasi)Dokter akan membuka perut pasien dan memperbaiki lubang yang tercipta.Pada sebagian orang, mungkin diperlukan operasi untuk mengangkat sebagian usus melalui kolostomi atau ileostomi. Prosedur ini dilakukan dengan melubangi dinding perut dan memasang kantong untuk menampung sisa-sisa pencernaan.Tingkat keberhasilan operasi akan tergantung pada tingkat keparahan perforasi yang terjadi, seberapa cepat penanganan dilakukan, serta kondisi kesehatan pasien.
  • Obat-obatan

Pada kasus yang jarang, perforasi saluran cerna dapat menutup sendiri dan tidak membutuhkan operasi. Ketika ini terjadi, antibiotik akan diberikan sebagai langkah pengobatannya.Sementara untuk pasien perforasi yang mengalami sepsis, antibiotik intravena akan diberikan oleh dokter secepat mungkin. 

Komplikasi perforasi

Perforasi merupakan kondisi gawat darurat medis yang perlu ditangani segera. Bila tidak mendapatkan perawatan, kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi berupa:
  • Perdarahan internal
  • Peritonitis atau radang selaput rongga perut
  • Sepsis, yakni infeksi yang menyebar ke pembuluh darah
  • Abses pada perut
  • Kerusakan permanen pada usus
  • Jaringan usus yang mati
  • Kematian
Dalam beberapa kasus, jaringan yang mengalami perforasi dapat mengalami kegagalan penyembuhan luka. Faktor-faktor yang meningkatkan risiko ini meliputi:
  • Malnutrisi atau pola makan yang buruk
  • Merokok
  • Konsumsi alkohol yang berlebihan
  • Penyalahgunaan obat-obatan terlarang
  • Kebersihan yang buruk
  • Diabetes tipe 2
  • Obesitas
  • Sepsis
  • Uremia
  • Hematoma yang timbul ketika darah mengumpul di luar pembuluh darah
  • Penggunaan obat kortikosteroid
 
Cara mencegah perforasi yang bisa dilakukan adalah mengenali riwayat penyakit yang Anda miliki dan mencari tahu apakah berhubungan dengan meningkatnya risiko perforasi.Anda juga perlu mewaspadai sakit di daerah perut yang tidak kunjung sembuh dan segera memeriksakan diri ke dokter. Penanganan akan lebih mudah dan lebih aman dilakukan sebelum terjadi perforasi.  
Anda perlu mengunjungi dokter segera jika mengalami gejala yang mengindikasikan perforasi karena kondisi ini membutuhkan penanganan medis sesegera mungkin. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat bepergian yang baru-baru ini Anda lakukan.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
Anda juga dapat meminta keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter. 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait perforasi, misalnya pernah dilakukannya operasi pada bagian perut?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis perforasi. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat.  
Healthline. https://www.healthline.com/health/gastrointestinal-perforation
Diakses pada 9 Januari 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/322008.php
Diakses pada 9 Januari 2019
Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/000235.htm
Diakses pada 9 Januari 2019
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/195537-overview#a2
Diakses pada 9 Januari 2019
Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/whats-a-bowel-perforation-797590
Diakses pada 22 April 2021
Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/whats-a-bowel-perforation-797590
Diakses pada 22 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email