Penyakit Sapi Gila

Penyakit sapi gila adalah gangguan medis yang menyerang sistem saraf pusat sapi. Dalam dunia medis, penyakit ini dikenal juga dengan istilah atau bovine spongiform encephalopathy (BSE).

Sementara penyakit sapi gila yang menyerang manusia disebut variant Creutzfeldt-Jakob disease (vCJD). Kondisi ini tergolong sebagai penyakit yang jarang terjadi.

Manusia dapat mengalami penyakit sapi gila jika mengonsumsi otak atau sumsum tulang sapi yang menderita BSE. Hingga saat ini, belum ada bukti bahwa penyakit ini dapat menular melalui daging ataupun susu sapi.

Manusia yang terkena vCJD juga tidak bisa menularkan penyakit ini ke manusia lain melalui kontak biasa, misalnya bersalaman atau mengobrol. Meski begitu, orang yang menghabiskan waktu setidaknya tiga bulan di tengah area wabah penyakit sapi gila dilarang mendonorkan darahnya.

Hingga sekarang, masa inkubasi penyakit sapi gila belum diketahui. Masa inkubasi adalah jeda waktu yang diperlukan oleh penyakit ini dari penularan hingga menyebabkan gejalanya.

Gejala penyakit sapi gila mungkin saja muncul bertahun-tahun setelah Anda mengonsumsi otak atau sumsum tulang sapi yang terkontaminasi. Secara umum, gejala penyakit ini ketika menyerang manusia meliputi:

  • Sensasi kesemutan, tertusuk-tusuk, dan terbakar pada wajah, tangan dan kaki.
  • Demensia, yakni kondisi di mana penderita kehilangan memori.
  • Perubahan perilaku.
  • Depresi.
  • Gangguan kecemasan.
  • Linglung.
  • Penglihatan yang buram atau bahkan buta.
  • Insomnia atau sulit tidur.
  • Kesulitan berbicara dan menelan.
  • Sering mengalami pergerakan otot yang tiba-tiba dan menyentak.
  • Kesulitan mengerakkan kaki. Seiring penyakit yang bertambah parah, penderita juga bisa mengalami kelumpuhan.
  • Koma.

Para pakar belum mengetahui penyebab penyakit sapi gila secara pasti. Namun mereka memperkirakan bahwa penyakit ini disebabkan oleh adanya kerusakan pada suatu jenis protein yang disebut prion.

Prion tersebut ditemukan di otak, sumsum tulang, dan usus halus pada hewan ternak yang mengalami penyakit sapi gila. Sampai sekarang, belum ada penelitian yang bisa membuktikan bahwa kerusakan ini ditemukan pada daging maupun susu hewan ternak.

Jika manusia mengonsumsi otak atau sumsum tulang belakang dari hewan ternak yang mengandung prion, protein ini akan masuk ke dalam tubuh manusia dan menyerang sistem saraf pusat, yakni otak dan sumsum tulang belakang.

Diagnosis penyakit sapi gila yang pasti sejatinya hanya dapat dilakukan dengan pemeriksaan biopsi jaringan otak setelah penderitanya meninggal. Namun ketika Anda mencurigai adanya gejala yang menandakan penyakit ini, Anda tetap dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan medis berupa tanya jawab, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

Tanya jawab

Dokter akan menanyakan gejala-gejala yang Anda rasakan, riwayat penyakit Anda dan keluarga, serta faktor-faktor risiko terkait penyakit sapi gila.

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan saraf pada penderita umumnya akan menunjukkan gejala kedutan dan kram otot, refleks yang tidak normal, dan gangguan koordinasi. Sementara pemeriksaan mata pada beberapa penderita juga bisa memperlihatkan adanya gangguan penglihatan.

Pemeriksaan penunjang

Beberapa pemeriksaan penunjang yang mungkin akan disarankan adalah:

  • Electroencephalogram (EEG)

Pemeriksaan ini menggunakan elektroda yang dipasang di kepala Anda, untuk mengukur aktivitas listrik di otak Anda. Otak penderita penyakit sapi gila umumnya memiliki aktivitas listrik yang tidak normal.

  • MRI

MRI bisa memberikan hasil berupa gambar dari organ dalam serta jaringan lunaknya, termasuk otak. Pemeriksaan ini dapat membantu dokter dalam menilai ada tidaknya kelainan pada struktur otak Anda.

 

  • Pungsi lumbal

 

Pungsi lumbal bertujuan mengambil sampel dari cairan sumsum tulang belakang. Sampel cairan ini kemudian akan diperiksa di laboratorium.

Hingga saat ini, belum ada pengobatan secara khusus penyakit sapi gila yang dapat menyembuhkannya. Penanganan medis bertujuan meredakan gejala yang dialami oleh pasien dan bersifat suportif. 

Penyakit sapi gila dapat dicegah dengan menghindari konsumsi otak dan sumsum tulang sapi, terutama yang tidak diketahui sumber, kebersihan, dan keamanannya. Misalnya, ketika Anda bepergian.

Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika mengalami gejala penyakit sapi gila pada manusia atau merasakan kejanggalan pada tubuh Anda.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait penyakit sapi gila?
  • Apakah Anda sebelumnya pergi ke luar kota?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya dan apa saja pengobatan yang sudah Anda coba?

Setelah itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik dan mungkin menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis penyakit sapi gila.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/creutzfeldt-jakob-disease/symptoms-causes/syc-20371226
Diakses pada 9 Desember 2019

CDC. https://www.cdc.gov/prions/vcjd/preventing.html
Diakses pada 9 Desember 2019

HealthlinkBC. https://www.healthlinkbc.ca/health-topics/tu6533
Diakses pada 9 Desember 2019

Artikel Terkait