Pernapasan

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

16 Jun 2021 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
Terhalangnya aliran udara ke paru-paru adalah ciri dari PPOK
Penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK adalah nama untuk sekelompok kondisi paru yang menyebabkan kesulitan bernapas. Kondisi ini menyebabkan aliran udara ke paru-paru terhalang.Penyakit ini termasuk kondisi umum yang menyerang orang dewasa, terutama yang memiliki kebiasaan merokok.Masalah pernapasan ini cenderung semakin memburuk dari waktu ke waktu dan dapat memengaruhi produktivitas. Seseorang yang terkena PPOK memiliki risiko yang lebih tinggi terserang penyakit jantung, kanker paru-paru, dan berbagai kondisi lainnya.Meski kondisi ini termasuk kategori penyakit progresif, namun tetap bisa diobati. Pengobatan dan perawatan yang tepat bisa membuat penderitanya memiliki kualitas hidup yang baik. Selain itu, perawatan yang baik juga akan memperkecil risiko mengalami komplikasi. 

Jenis-jenis penyakit paru obstruktif kronis

Penyakit ini memiliki beberapa tipe yang paling umum menyerang pasien. Adapun beberapa jenis penyakit paru obstruktif kronis yaitu:
  • Empisema

Jenis ini merupakan kondisi di mana terdapat kerusakan kantung udara paru-paru. Kerusakan tersebut menghancurkan dinding di dalamnya dan menyebabkan mereka bergabung menjadi satu kantung udara raksasa.Kondisi ini menyebabkan paru-paru tidak dapat menyerap oksigen, kadar oksigen dalam darah menurun. Pru-paru akan hilang elastisitas dan meregang jika alveoli mengalami kerusakan. Alhasil Anda akan sesak sebab tidak bisa menghembuskan udara yang terperangkap di paru-paru.
  • Bronkitis kronis

Bronkitis kronis ditandai dengan batuk, sesak napas, dan lendir. Ketiga gejala tersebut bertahan setidaknya 3 bulan selama 2 tahun berturut-turut.Kondisi ini terjadi ketika seseorang mengalamhi kehilangan siia. Silia sendiri adalah serat seperti rambut yang melapisi saluran bronkial dan membantu mengeluarkan lendir.Kehilangan bagian tersebut akan membuat seseorang mengalami kesulitan mengeluarkan lendir. Pada akhirnya penderita akan terus-menerus batuk dan lebih memiliki lendir lebih banyak.
  • Asma refrakter

Tipe PPOK yang terakhir adalah asma refrakter. Kondisi ini juga dapat disebut asma yang tidak bisa disembuhkan. Penyakit ini memang tidak bisa diobati dengan obat asma biasa. 
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
Dokter spesialis Paru
GejalaSesak napas, batuk berdahak, mengi
Faktor risikoMerokok jangka panjang, mengidap asma, paparan debu dan bahan kimia
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes fungsi paru, rontgen dada
PengobatanBerhenti merokok, rehabilitasi paru, operasi
ObatBronkodilator, steroid, theophylline
KomplikasiInfeksi pernapasan, masalah jantung, kanker paru-paru
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala penyakit paru obstruktif kronis
Gejala penyakit paru obstruktif kronis seringkali tidak muncul sampai terjadi kerusakan paru-paru yang signifikan. Kondisi ini biasanya memburuk dari waktu ke waktu, terutama jika paparan rokok terus berlanjut.Untuk bronkitis kronis, gejala utama adalah produksi batuk dan lendir (sputum) setidaknya selama tiga bulan dalam dua tahun berturut-turut. Gejala PPOK yang lain di antaranya adalah:
  • Sesak napas, terutama saat aktivitas fisik
  • Sesak pada dada
  • Mengi
  • Kelebihan lendir padai paru-paru
  • Batuk kronis yang menghasilkan lendir (dahak) yang mungkin jernih, putih, kuning atau kehijauan
  • Kuku dan bibir pucat
  • Penurunan berat badan secara drastis
  • Pembengkakan pada kaki atau pergelangan kaki
Seseorang yang mengalami PPOK juga mengalami eksaserbasi, atau kondisi dimana gejala mereka menjadi lebih buruk daripada biasanya. Kondisi ini terjadi selama beberapa hari. 
Penyebab penyakit paru obstruktif kronis yang paling utama adalah rokok. Seseorang yang terpapar asap rokok juga dapat berisiko terkena PPOK. Selain itu, paparan debu, polusi udara, atau bahan kimia dapat juga menjadi penyebab PPOK.

Faktor risiko PPOK

Faktor risiko penyakit paru obstruktif yang harus Anda waspadai antara lain:
  • Paparan asap tembakau

Faktor risiko yang paling membahayakan untuk penyakit ini  adalah merokok jangka panjang. Makin lama seseorang merokok makin besar risiko mereka untuk terkena kondisi ini.Mereka yang merokok dengan pipa, cerutu, dan ganja mungkin juga berisiko. Selain itu, mereka yang terpapar asap rokok dalam jumlah besar.
  • Penderita asma

Penderita asma alias penyakit inflamasi saluran napas kronis, berisiko juga mendapatkan PPOK. Jika penderita asma merupakan perokok, maka kombinasi keduanya makin meningkatkan risiko penyakit ini.
  • Paparan debu dan bahan kimia

Mereka yang bekerja di pabrik bahan tertentu juga berisiko terkan PPOK. Paparan jangka panjang dari asap, uap, dan debu bahan kimia di tempat kerja dapat mengiritasi dan mengobarkan paru-paru.
  • Paparan asap dari pembakaran

Di negara berkembang, masih banyak yang menggunakan bahan bakar tidak ramah lingkungan untuk memasak. Orang yang terkena paparan asap dari proses ini berisiko lebih tinggi terkena PPOK.
  • Genetik

Kelainan genetik yang jarang terjadi, defisiensi alpha-1-antitrypsin adalah penyebab beberapa kasus PPOK. Faktor genetik lain kemungkinan membuat perokok tertentu lebih rentan terhadap penyakit ini. 
Kebanyakan diagnosis penyakit paru obstruktif kronik tidak dilakukan sampai penyakitnya berkembang. Untuk mendiagnosis kondisi, dokter akan meninjau gejala, melihat riwayat medis, dan mendiskusikan paparan apapun yang terjadi, terutama asap rokok.Dokter akan melakukan beberapa tes untuk mendiagnosis pasien, tes tersebut diantaranya adalah:
  • Tes fungsi paru

Spirometri adalah tes fungsi paru yang paling umum. Selama menjalani tes ini pasien akan bernapas melalui tabung besar yang terhubung ke mesin kecil yang disebut spirometer.Mesin ini mengukur berapa banyak udara yang masuk ke paru-paru dan seberapa cepat pasien dapat mengeluarkan udara dari paru-paru.
  • Rontgen dada

Rontgen dada atau toraks dapat menunjukkan emfisema yang merupakan salah satu jenis PPOK.
  • CT scan

CT scan pada paru-paru dapat membantu mendeteksi emfisema dan membantu menentukan apakah pasien membutuhkan prosedur operasi.
  • Analisis gas darah

Analisis gas darah mengukur seberapa baik paru-paru membawa oksigen ke dalam darah
  • Tes laboratorium

Tes laboratorium dapat digunakan untuk menentukan penyebab gejala PPOK. 
Kerusakan paru-paru yang disebabkan oleh penyakit ini bersifat permanen. Namun, pengobatan penyakit paru obstruktif kronik dapat membantu memperlambat perkembangan penyakit.Pengobatan PPOK yang mungkin diberikan diantaranya adalah:
  • Berhenti merokok

Perubahan hidup yang utama sebaga cara mengobati PPOK adalah dengan berhenti merokok dan menghindari paparan asap rokok bagi perokok pasif.
  • Obat-obatan

Dokter bisa memberikan obat-obatan untuk membantu agar pasien lebih mudah bernapas. Contoh obat ini meliputi bronkodilator, kortikosteroid, serta theophylline.
  • Rehabilitasi paru

Rehabilitasi paru dilakukan dengan program khusus latihan yang dibimbing oleh dokter dan terapis, serta edukasi bagi pasien maupun keluarga.
  • Terapi oksigen

Terapi oksigen bertujuan mencukupi kebutuhan oksigen dalam paru-paru pasien.
  • Operasi

Operasi atau transplantasi paru-paru juga bisa dianjurkan untuk kasus-kasus PPOK yang tidak bisa ditangani dengan pengobatan lain. 

Komplikasi PPOK

Kompilkasi penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) bisa beragam. Beberapa di antaranya adalah:
  • Infeksi pernapasan

Penderita PPOK lebih rentan terkena pilek, flu, dan pneumonia. Infeksi pernapasan apa pun bisa membuat penderita merasa lebih sulit bernapas. Selain itu, infeksi dapat menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada jaringan paru-paru.
  • Masalah jantung

Untuk alasan yang tidak sepenuhnya dipahami, penyakit ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, termasuk serangan jantung
  • Kanker paru-paru

Orang yang memiliki penyakit paru jenis ini berisiko lebih tinggi terkena kanker paru-paru.
  • Tekanan darah tinggi di arteri paru-paru

PPOK dapat menyebabkan tekanan darah tinggi di arteri yang membawa darah ke paru-paru. Kondisi ini biasa juga disebut dengan hipertensi pulmonal.
  • Depresi

Kesulitan bernapas dapat menghambat seseorang melakukan aktivitas yang disukai. Selain itu, penanganani penyakit yang serius seperti PPOK bisa membuat penderitanya mengalami depresi.Baca Juga: Cara Berhenti Merokok untuk Selamanya, Bebas Risiko “Sakau”! 
Cara mencegah penyakit paru obstruktif kronis sangat mungkin untuk dilakukan. Salah satunya adalah dengan berhenti merokok.Konsultasikan dengan dokter tentang produk pengganti nikotin dan obat-obatan yang mungkin akan membantu Anda agar bisa menghentikan kebiasaan merokok. 
Sebaiknya segeralah kunjungi dokter umum jika Anda memiliki gejala PPOK yang terus-menerus. Apalagi jika hal tersebut terjadi pada saat Anda berusia di atas 35 tahun dan punya kebiasaan merokok.Lakukan penanganan sesegera mungkin jika Anda merasakan gejalanya. Makin cepat ditangani, makin besar kemungkinan penyakit ini bisa disembuhkan. Jika dibiarkan, paru-paru kemungkinan akan mengalami kerusakan parah. 
Sebelum melakukan kunjungan ke dokter, persiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buatlah daftar seputar gejala yang muncul.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberi dukungan moral maupun membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter.
 
Dokter kemungkinan akan mengajukan pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Sejak kapan gejala muncul?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), seperti merokok?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis penyakit paru obstruktif kronis agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/copd/symptoms-causes/syc-20353679
Diakses pada 6 November 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/chronic-obstructive-pulmonary-disease-copd/
Diakses pada 6 November 2018
WebMD. https://www.webmd.com/lung/copd/10-faqs-about-living-with-copd#1
Diakses pada 6 November 2018
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email