Pernapasan

Penyakit Paru Interstisial

10 Sep 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Penyakit Paru Interstisial
Penyakit paru interstisial merupakan salah satu dari 200 alasan paru-paru meradang
Penyakit paru interstisial merupakan kategori penyakit paru-paru yang mencakup lebih dari 200 penyakit. Dalam penyakit paru interstisial, terjadi peradangan dan terbentuknya jaringan parut akibat adanya luka di sekitar alveoli, yakni kantong-kantong udara dalam paru-paru.Adanya jaringan parut menyebabkan alveoli tidak dapat mengembang dan kaku. Alveoli berfungsi mengantarkan oksigen ke aliran darah, sehingga ketika menjadi kaku, tubuh menjadi kekurangan oksigen.Penyakit ini bisa juga menyebar ke bagian tubuh lainnya, seperti pada saluran udara, selaput paru-paru, dan pembuluh darah. Jika jaringan parut sudah terbentuk, kondisi tersebut tidak dapat diperbaiki lagi.Obat-obatan memang dapat memperlambat kerusakan yang terjadi akibat penyakit ini, namun biasanya fungsi paru-paru tidak akan kembali seperti semula. Salah satu pilihan menanggulangi penyakit ini adalah melalui transplantasi paru-paru.Penyakit paru interstisial mencakup lebih dari 200 penyakit. Kurang lebih penyakit paru interstisial tersebut dapat dikelompokkan menjadi lima kategori berdasarkan penyebabnya, yakni:
  1. Akibat terpapar dalam kondisi atau lokasi yang rawan untuk paru-paru, seperti berdekatan dengan benda-benda tertentu yang dapat mengubah udara di sekitarnya menjadi berbahaya jika terhidup selama berangsur-angsur. Beberapa penyakit paru interstisial yang tergolong diakibatkan oleh hal ini antara lain:
    • Asbestosis, dimana terjadi peradangan dan jaringan parut dalam paru-paru akibat menghidup serat asbestos.
    • Coal worker's pneumokoniosis atau black lung disease, yakni penyakit paru interstisial yang diakibatkan karena menghirup debu batu bara.
    • Silikosis kronik, yakni penyakit paru akibat menghirup mineral silika.
    • Hypersensitivity pneumonitis, yakni terjadinya peradangan pada alveoli karena menghirup substansi yang menyebabkan alergi atau iritan lainnya.
    • Desquamative interstitial pneumonitis, yakni peradangan paru-paru yang umumnya terjadi pada perokok.
  2. Akibat efek samping dari pengobatan penyakit lain, misalnya akibat kemoterapi, terapi radiasi, dan obat-obatan tertentu.
  3. Akibat terserang penyakit pada autoimun atau jaringan ikat, seperti lupus, sarcoidosis, scleroderma, sindrom Sjörgen, rheumatoid arthritis, dermatomiositis dan polimyositis.
  4. Akibat infeksi bakteri, virus, atau jamur pada paru-paru. Jenis penyakit ini disebut pneumonia interstitial.
  5. Tergolong sebagai idiopathic pulmonary fibrosis, yakni tidak diketahui penyebab munculnya jaringan parut pada paru-paru.
Penyakit Paru Interstisial
Dokter spesialis Paru
GejalaPeradangan di bronkiolus, alveoli dan kapiler, sesak napas, letih lesu, perdarahan di paru-paru
Faktor risikoUsia, lingkungan, pernah menjalani pengobatan radiasi
Metode diagnosisPemeriksaan darah, rontgen dada, CT-scan, biopsi paru
PengobatanObat-obatan dan tindakan medis
ObatAntiinflamasi, antfibrotik
Kapan harus ke dokter?Apabila mengalami gejala
Gejala yang dialami bisa berbeda-beda untuk setiap penderita, begitu juga dengan kecepatan memburuknya gejala yang dialami. Meski demikian, gejala paling umum dari sebagian besar penyakit-penyakit paru interstisial pada intinya disebabkan oleh peradangan. Jenis-jenis peradangan yang terjadi dapat digolongkan berdasar bagian organ pernapasan mana yang mengalaminya, diantaranya:
  • Bronchiolitis, dimana peradangan terjadi pada bronkiolus.
  • Alveolitis, dimana peradangan terjadi pada alveoli.
  • Vasculitis, dimana peradangan terjadi pada pembuluh darah.
Gejala yang dapat timbul akibat peradangan-peradangan tersebut umumnya adalah:
  • Kesulitan bernapas, terutama ketika beraktifitas
  • Lelah dan lemas
  • Hilangnya nafsu makan
  • Turunnya berat badan
  • Batuk kering
  • Dada terasa tidak nyaman
  • Napas tersengal-sengal
  • Pendarahan dalam paru-paru
Gejala-gejala tersebut bisa menyerupai gejala penyakit paru-paru lainnya yang bukan tergolong penyakit paru interstisial, atau bahkan menandakan penyakit yang jauh berbeda. Maka dari itu penting untuk meminta diagnosis dokter untuk memastikan penyakit yang diderita.
Penyakit paru interstisial bisa timbul ketika terjadi cedera pada paru-paru yang memicu terjadinya respons penyembuhan abnormal. Ketika tubuh mengalami luka, selama proses penyembuhan tubuh akan memproduksi jaringan dalam jumlah tertentu untuk memperbaiki luka tersebut.Hanya saja pada penyakit paru interstisial, proses penyembuhan tidak berjalan normal, sehingga jaringan disekitar alveoli menebal dan akhirnya menjadi jaringan parut. Kondisi ini membuat alveoli menjadi kaku dan sulit mengembang, sehingga menyulitkan perpindahan oksigen dari paru-paru ke aliran darah.Cedera pada paru-paru tersebut bisa terjadi akibat beberapa hal. Pada penyakit pneumonia interstisial, penyakit timbul akibat infeksi bakteri, virus, dan jamur. Pada penyakit paru interstisial lainnya, luka bisa disebabkan akibat terpapar pemicu yang menyebabkan iritasi dalam paru-paru apabila terhirup dalam jangka waktu panjang. Beberapa pemicu tersebut adalah:
  • Asbes
  • Debu silika
  • Bedak
  • Debu batu bara, atau berbagai debu logam lainnya dari lokasi pertambangan
  • Butiran debu dari lahan pertanian
  • Protein burung (seperti dari burung eksotis, ayam, atau merpati)
Selain itu beberapa obat-obatan seperti nitrofurantoin, amiodarone, bleomycin, dan dapat menyebabkan penyakit paru interstisial.Kerusakan paru juga dapat muncul karena penyakit autoimun, termasuk lupus, rheumatoid arthritis, dermatomiositis dan polimyositis, mixed connective tissue disease, sjorgen’s syndrome, sarkoidosis dan skleroderma.Substansi dan kondisi yang dapat menyebabkan penyakit paru interstisial sangat banyak. Meskipun demikian, pada beberapa kasus penyebabnya tidak diketahui. Jenis gangguan paru-paru tanpa ada penyebab yang jelas disebut sebagai pneumonia interstisial idiopatik. Jenis penyakit yang paling umum dan membahayakan adalah fibrosis paru idiopatik. 

Faktor Risiko

Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang rentan terkena penyakit paru interstisial antara lain:
  • Usia
    Penyakit paru interstisial lebih umum dialami orang dewasa, meskipun tidak menutup kemungkinan kalau bayi dan anak-anak dapat terkena penyakit ini.
  • Terpapar racun atau iritan di lingkungan dan tempat kerja
    Orang-orang yang bekerja atau tinggal di lokasi pertambangan, pertanian, konstruksi, atau lingkungan yang penuh dengan polutan yang dapat merusak paru-paru memiliki risiko tinggi terkena penyakit paru interstisial.
  • Mengidap Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)
    Apabila terjadi gangguan pencernaan dimana asam lambung naik kembali dan tidak terkontrol, maka risiko terhadap penyakit paru interstisial akan meningkat.
  • Memiliki riwayat merokok
    Risiko beberapa jenis penyakit paru interstisial lebih tinggi pada orang yang memiliki riwayat merokok. Menjadi perokok aktif akan memperburuk penyakit tersebut, terutama apabila berhubungan dengan emfisema.
  • Menjalani terapi radiasi dan kemoterapi
    Menjalani pengobatan radiasi pada dada atau menggunakan obat-obatan kemoterapi dapat meningkatkan risiko terkena penyakit paru.
  • Genetik
    Beberapa jenis penyakit paru interstisial merupakan turunan secara genetik.
Penyakit paru interstisial bisa sulit diidentifikasi karena gejalanya mirip dengan gejala penyakit paru lainnya. Penyebab terjadinya penyakit paru interstisial pun bisa berbeda-beda. Maka dari itu penting untuk melakukan diagnosis yang menyeluruh untuk memastikan penyakit yang diderita.Tindakan yang mungkin saja perlu dilakukan untuk memastikan diagnosis antara lain:
  • Pemeriksaan darah
Tes darah bisa mendeteksi adanya protein, antibodi, atau tanda-tanda penyakit autoimun lainnya. Tes ini pun dapat mendeteksi tanda terjadinya peradangan akibat terpapar benda-benda tertentu, seperti jamur atau protein burung.
  • Rontgen dada
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan film rontgen dada penderita penyakit paru interstitial. Prosedur medis ini bertujuan untuk menunjukkan garis-garis halus pada paru-paru. Rontgen dada merupakan pemeriksaan pertama dalam mengevaluasi sebagian besar penderita masalah pernapasan.
  • Tomografi terkomputasi (CT scan)
Pemeriksaan ini menggunakan komputer untuk menggabungkan gambar-gambar hasil rontgen dada pasien. Gabungan gambar-gambar tersebut akan menghasilkan gambaran paru-paru dan organ di sekitarnya secara lebih detil dan rinci. Pemeriksaan ini biasanya dapat menunjukkan keberadaan penyakit paru interstisial.
  • Pengujian fungsi paru
Saat menjalani pemeriksaan ini, pasien duduk di bilik plastik tertutup dan bernapas melalui tabung. Seseorang yang menderita penyakit paru interstisial mungkin memiliki kapasitas paru total yang berkurang. Penderita juga dapat mengalami penurunan kemampuan untuk mengalirkan oksigen dari paru-paru ke dalam darah. Pemeriksaan fungsi paru biasanya dilakukan dengan spirometri atau oksimetri.
  • Biopsi paru
Biopsi paru umumnya dilakukan dengan mengambil sampel jaringan paru. Sampel ini kemudian diperiksa di laboratorium. Biopsi merupakan satu-satunya cara untuk menentukan jenis penyakit paru interstisial yang dimiliki seseorang.Beberapa jenis biopsi yang dapat dilakukan adalah:
    • Bronkoskopi, yakni endoskopi yang dimasukkan melalui mulut atau hidung ke saluran pernapasan. Dengan menggunakan alat kecil yang terdapat pada endoskopi, sampel jaringan diambil dari jaringan paru-paru.
    • Bedah thoracoscopic dengan bantuan kamera (VATS–Video–Assisted thoracoscopic surgery). Operasi ini dilakukan dengan menggunakan alat yang dimasukkan melalui sayatan kecil yang memungkinkan dokter bedah mengambil sampel dari beberapa area jaringan paru-paru.
    • Biopsi paru terbuka (torakotomi), untuk beberapa kasus yang dilakukan dengan pembedahan tradisional. Dokter akan membuat sayatan besar di dada untuk mendapatkan sampel jaringan paru-paru.
Sejauh ini pengobatan penyakit paru interstisial tidak dapat mengembalikan struktur paru-paru menjadi normal setelah jaringan parut sudah terbentuk, tetapi obat-obatan tersebut mampu memperlambat perkembangan penyakit dan membantu pernapasan.Apabila penyakit paru interstisial disebabkan oleh paparan bahan atau obat beracun, sangat disarankan bagi penderita untuk menghindari paparan dan obat tersebut.Jenis-jenis pengobatan yang dapat dokter berikan untuk mengontrol penyakit paru interstisial diantaranya:
  • Penggunaan oksigen tambahan untuk membantu bernapas dan mengurangi sesak.
  • Rehabilitasi paru-paru untuk membantu meningkatkan aktivitas dan kemampuan berolahraga.
  • Penggunaan obat anti-inflamasi, seperti steroid prednison, untuk mengurangi pembengkakan pada paru-paru.
  • Penggunaan obat penekan kekebalan tubuh, seperti azathioprine, cyclophosphamide, dan mycophenolate mofetil, untuk membantu menghentikan peradangan atau serangan sistem kekebalan tubuh yang merusak paru-paru.
  • Penggunaan obat antifibrotik seperti pirfenidone dan nintedanib, untuk mencegah jaringan parut pada paru-paru semakin parah. Obat-obat ini disetujui oleh Food and Drug Administration AS untuk pengobatan fibrosis paru idiopatik.
Apabila kondisi yang dialami sudah berat dan pengobatan-pengobatan tersebut tidak menunjukkan perubahan atau tidak dapat membantu, maka pilihan terakhir adalah dengan melakukan transplantasi paru-paru. Biasanya, operasi ini disarankan apabila Anda berusia di bawah 65 tahun. Terkecuali untuk beberapa kasus tertentu, transplantasi paru-paru dapat dilakukan pada orang yang berusia di atas 65 tahun. 

Komplikasi

Jika dibiarkan, penyakit paru interstisial dapat menyebabkan komplikasi yang berbahaya, diantaranya:
  • Tekanan darah tinggi pada paru-paru (pulmonary hypertension). Jenis tekanan darah ini hanya terjadi pada pembuluh darah di sekitar paru-paru. Pada penyakit paru interstisial, hal ini diakibatkan karena jaringan parut mempersempit pembuluh darah kecil pada paru-paru, sehingga peredaran darah menjadi terganggu. Sempitnya pembuluh darah menyebabkan peningkatan tekanan pada arteri paru-paru. Kondisi ini merupakan kondisi serius yang semakin memburuk.
  • Gagal jantung kanan (cor pulmonale). Kondisi ini merupakan kondisi serius dimana bagian kanan bawah jantung (ventrikel kanan) harus memompa lebih keras agar darah dapat mengalir melewati arteri paru-paru yang menyempit. Karena otot jantung sebelah kanan lebih kecil daripada sebelah kiri, ventrikel kanan jantung dapat gagal akibat memompa terlalu berat. Kondisi ini merupakan konsekuensi dari tingginya tekanan darah dalam paru-paru.
  • Gagal nafas (respiratory failure). Dalam tahap akhir penyakit paru interstisial kronis, gagal pernapasan terjadi akibat sangat rendahnya kadar oksigen dalam darah, tingginya tekanan darah dalam paru-paru, dan gagal jantung kanan.
Jenis-jenis penyakit paru interstisial yang terjadi secara genetik atau idiopatik (tidak diketahui penyebabnya) sejauh ini tidak dapat dicegah. Meski begitu, jenis-jenis penyakit paru interstisial lainnya masih bisa dicegah melalui hal-hal berikut:
  • Menghindari penyebab atau pemicu iritasi pada paru-paru. Salah satunya adalah dengan menghindari lingkungan yang penuh dengan zat-zat iritan atau racun yang dapat terhirup.
  • Menggunakan respirator atau masker yang dapat menyaring udara jika harus memasuki lingkungan atau kondisi yang penuh dengan pemicu iritasi pada paru-paru.
  • Berhenti merokok dan menghindari asap rokok untuk menuruni risiko terjangkit penyakit ini.
  • Melakukan imunisasi untuk flu dan pneumonia agar paru-paru lebih terlindungi.
Segeralah berkonsultasi dengan dokter paru-paru jika mengalami gejala yang telah disebutkan, terutama jika Anda tinggal atau bekerja di lingkungan yang berpotensi mengandung iritan berbahaya untuk paru-paru.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal berikut:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter mungkin akan memberikan beberapa pertanyaan kepada Anda, dan sebaiknya Anda memberikan informasi yang jelas agar dokter dapat mendiagnosis dengan lebih baik. Berikut ini pertanyaan yang mungkin diajukan.
  • Kapan Anda mengalami gejala pertama kali?
  • Apakah Anda menjalani pengobatan untuk kondisi medis lainnya?
  • Obat apa yang Anda konsumsi akhir-akhir ini?
  • Apakah gejala ini hilang timbul atau terus-menerus muncul?
  • Apakah baru-baru ini Anda terpapar pendingin ruangan, pelembap ruangan, kolam renang, bak air panas, karpet atau dinding yang rusak karena air, atau dalam kondisi lembap?
  • Apakah pernah terpapar jamur atau debu di rumah atau rumah lain tempat Anda menghabiskan banyak waktu?
  • Apakah ada kerabat dekat atau teman yang didiagnosis dengan kondisi terkait penyakit paru interstisial?
  • Apakah ada kontak dengan burung saat melakukan pekerjaan atau hobi? Apakah ada tetangga yang memelihara burung merpati?
  • Apakah riwayat pekerjaan Anda memungkinkan paparan secara teratur terhadap toksin dan polutan, seperti asbestos, debu silika dan butiran debu?
  • Apakah Anda memiliki keluarga dengan riwayat penyakit paru-paru?
  • Apakah Anda merokok atau memiliki riwayat merokok? Jika iya, seberapa sering dan banyak? Jika tidak, berapa lama waktu yang Anda habiskan dengan berada di dekat perokok?
  • Apakah Anda memiliki gejala dari GERD, seperti sensasi terbakar pada dada?
Setelah mengajukan pertanyaan tersebut, umumnya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan lanjutan apabila perlu. Hal ini untuk memastikan penyakit apa yang Anda derita, sehingga Anda segera mendapatkan penanganan yang tepat.
Healthline. https://www.healthline.com/health/interstitial-lung-disease
Diakses pada 13 Juli 2021
MayoClinic. MayoClinic: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/interstitial-lung-disease/symptoms-causes/syc-20353108
Diakses pada 21 Desember 2018
Medicinenet. https://www.medicinenet.com/interstitial_lung_disease_interstitial_pneumonia/article.htm
Diakses pada 21 Desember 2018
WebMD. https://www.webmd.com/lung/interstitial-lung-disease#1-2
Diakses pada 13 Juli 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email