Penyakit Paru Interstisial

Ditulis oleh Maria Yuniar
Ditinjau dr. Anandika Pawitri

Pengertian Penyakit Paru Interstisial

Penyakit paru interstisial merupakan salah satu dari 200 kondisi berbeda penyebab peradangan, penebalan dan jaringan parut di sekitar kantong udara serupa balon di paru-paru, yang disebut alveoli.

Oksigen mengalir melalui alveoli ke dalam aliran darah Anda. Saat mengalami luka atau gangguan seperti jaringan parut, maka kantong ini tidak bisa mengembang secara normal, dan mengantarkan oksigen ke darah. Kondisi  ini menyebabkan darah Anda kekurangan oksigen.

Penyakit ini juga dapat menyerang bagian lain dari  paru-paru Anda seperti saluran udara, selaput paru-paru, dan pembuluh darah.

Sekali jaringan parut terjadi pada paru-paru, maka biasanya kondisi ini tidak dapat diperbaiki. Obat-obatan memang dapat membantu memperlambat kerusakan yang disebabkan oleh penyakit paru interstitial. Namun biasanya, fungsi paru tidak akan kembali normal. Transplantasi paru merupakan salah satu pilihan bagi orang dengan penyakit paru interstisial.

Ada lebih dari 200 jenis penyakit yang termasuk dalam penyakit paru interstisial. Beberapa di antaranya adalah:

  • Asbestosis:
    Peradangan dan adanya jaringan parut pada paru akibat menghirup serat asbestos
  • Bronkiolitis obliterans:
    Penyumbatan pada jalan napas paling kecil, yang disebut bronkiolus
  • Coal’s worker pneumokoniosis atau black lung disease:
    Kondisi yang disebabkan oleh paparan terhadap debu batu bara
  • Silikosis kronik:
    Penyakit paru yang disebabkan oleh inhalasi mineral silika
  • Connective tissue–related pulmonary fibrosis:
    Penyakit paru yang berdampak pada orang dengan penyakit pada jaringan ikat seperti skleroderma atau sindrom Sjörgen.
  • Desquamative interstitial pneumonitis:
    Kondisi yang menyebabkan peradangan pada paru dan lebih umum terjadi pada orang yang merokok
  • Familial pulmonary fibrosis:
    Akumulasi jaringan parut pada paru-paru yang berdampak pada dua atau lebih anggota keluarga yang sama
  • Hypersensitivity pneumonitis:
    Peradangan dari kantong udara (alveoli) akibat menghirup substansi penyebab alergi atau iritan lainnya
  • Idiopathic pulmonary fibrosis:
    Penyakit yang tidak diketahui penyebabnya, saat jaringan parut ditemukan pada seluruh jaringan paru-paru
  • Sarkoidosis:
    Penyakit yang menyebabkan adanya kumpulan kecil dari sel–sel radang pada organ tubuh seperti paru-paru dan kelenjar getah bening.
  • Pneumonia interstitial:
    Bakteri, virus atau jamur dapat menginfeksi jaringan interstitium pada paru-paru, dan bakteri mycoplasma pneumonia merupakan penyebab penyakit ini yang paling umum.
  • Acute interstitial pneumonia:
    Merupakan kondisi penyakit interstisial paru yang berat serta mendadak, dan seringkali membutuhkan peralatan medis berupa mesin untuk menunjang kerja organ tubuh.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Penyakit paru interstisial bisa timbul ketika cedera pada paru-paru memicu terjadinya respons penyembuhan yang abnormal. Biasanya, tubuh akan memproduksi jaringan dalam jumlah tertentu untuk memperbaiki kerusakan yang timbul.

Namun pada penyakit paru interstisial, proses penyembuhan tersebut tidak berjalan normal, dan jaringan disekitar alveoli menebal, yang akhirnya menjadi jaringan parut. Kondisi ini akan menyulitkan perpindahan oksigen dari paru-paru ke aliran darah.

Diketahui bahwa bakteri, virus, dan jamur dapat menjadi penyebab terjadinya pneumonia interstisial. Paparan terhadap iritasi inhalasi secara terus-menerus di tempat kerja dapat menyebabkan beberapa penyakit paru interstisial. Beberapa pemicu tersebut adalah:

  • Asbes
  • Debu silika
  • Bedak
  • Debu batu bara, atau berbagai debu logam lainnya dari lokasi pertambangan
  • Butiran debu dari lahan pertanian
  • Protein burung (seperti dari burung eksotis, ayam, atau merpati)

Selain itu beberapa obat-obatan seperti nitrofurantoin, amiodarone, bleomycin, dan dapat menyebabkan penyakit paru interstisial.

Kerusakan paru juga dapat muncul karena penyakit autoimun, termasuk lupus, rheumatoid arthritis, dermatomiositis dan polimyositis, mixed connective tissue disease, sjorgen’s syndrome, sarkoidosis dan skleroderma.

Substansi dan kondisi yang dapat menyebabkan penyakit paru interstisial sangat banyak. Namun pada beberapa kasus, penyebabnya tidak pernah diketahui. Gangguan paru-paru tanpa ada penyebab yang jelas, dikelompokkan menjadi pneumonia interstisial idiopatik. Yang paling umum dan membahayakan adalah fibrosis paru idiopatik.

Faktor Risiko

Faktor-faktor yang menyebabkan orang semakin rentan terkena penyakit paru interstisial, antara lain:

  • Penyakit paru interstisial lebih umum dialami orang dewasa, walaupun bayi dan anak terkadang dapat terkena kondisi ini
  • Paparan terhadap racun pada pekerjaan dan lingkungan. Jika bekerja di lokasi pertambangan, pertanian atau konstruksi atau untuk alasan apapun terpapar polutan yang dapat merusak paru-paru, maka risiko terhadap penyakit paru interstisial meningkat.
  • Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Apabila asam lambung naik kembali dan tidak terkontrol atau gangguan pencernaan, maka risiko terhadap penyakit paru interstisial akan meningkat.
  • Risiko beberapa jenis penyakit paru interstisial lebih tinggi pada orang dengan riwayat merokok. Menjadi perokok aktif akan memperburuk penyakit tersebut, terutama apabila berhubungan dengan emfisema.
  • Radiasi dan kemoterapi. Menjalani pengobatan radiasi pada dada atau menggunakan obat-obatan kemoterapi, meningkatkan risiko terkena penyakit paru.

Penyebab

Penyakit paru interstisial bisa timbul ketika cedera pada paru-paru memicu terjadinya respons penyembuhan yang abnormal. Biasanya, tubuh akan memproduksi jaringan dalam jumlah tertentu untuk memperbaiki kerusakan yang timbul.

Namun pada penyakit paru interstisial, proses penyembuhan tersebut tidak berjalan normal, dan jaringan disekitar alveoli menebal, yang akhirnya menjadi jaringan parut. Kondisi ini akan menyulitkan perpindahan oksigen dari paru-paru ke aliran darah.

Diketahui bahwa bakteri, virus, dan jamur dapat menjadi penyebab terjadinya pneumonia interstisial. Paparan terhadap iritasi inhalasi secara terus-menerus di tempat kerja dapat menyebabkan beberapa penyakit paru interstisial. Beberapa pemicu tersebut adalah:

  • Asbes
  • Debu silika
  • Bedak
  • Debu batu bara, atau berbagai debu logam lainnya dari lokasi pertambangan
  • Butiran debu dari lahan pertanian
  • Protein burung (seperti dari burung eksotis, ayam, atau merpati)

Selain itu beberapa obat-obatan seperti nitrofurantoin, amiodarone, bleomycin, dan dapat menyebabkan penyakit paru interstisial.

Kerusakan paru juga dapat muncul karena penyakit autoimun, termasuk lupus, rheumatoid arthritis, dermatomiositis dan polimyositis, mixed connective tissue disease, sjorgen’s syndrome, sarkoidosis dan skleroderma.

Substansi dan kondisi yang dapat menyebabkan penyakit paru interstisial sangat banyak. Namun pada beberapa kasus, penyebabnya tidak pernah diketahui. Gangguan paru-paru tanpa ada penyebab yang jelas, dikelompokkan menjadi pneumonia interstisial idiopatik. Yang paling umum dan membahayakan adalah fibrosis paru idiopatik.

Diagnosis

Biasanya seseorang yang menderita penyakit paru interstisial melakukan konsultasi dengan dokter karena khawatir akan sesak napas atau batuk yang diderita. Pemeriksaan pencitraan paru-paru dilakukan untuk mengidentifikasi gangguan kesehatan yang terjadi.

Pemeriksaan darah

Pemeriksaan darah tertentu, dapat mendeteksi adanya protein, antibodi atau tanda lain dari penyakit autoimun atau respons peradangan terhadap paparan lingkungan, seperti yang disebabkan oleh jamur atau protein yang dikeluarkan oleh burung.

Rontgen dada

Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan film rontgen dada penderita  penyakit paru interstitial. Prosedur medis ini bertujuan untuk menunjukkan garis-garis halus pada paru-paru. Rontgen dada merupakan pemeriksaan pertama dalam evaluasi mayoritas penderita masalah pernapasan.

Tomografi terkomputasi (CT scan)

Pemeriksaan ini berfungsi untuk mengambil beberapa gambar rontgen dada dan menggunakan komputer untuk membuat gambar rinci dari paru-paru dan struktur di sekitarnya. Pemeriksaan ini biasanya dapat menunjukkan keberadaan penyakit paru interstisial.

Pengujian fungsi paru

Saat menjalani pemeriksaan ini, pasien duduk di bilik plastik tertutup dan bernapas melalui tabung. Seseorang yang menderita penyakit paru interstisial mungkin memiliki kapasitas paru total yang berkurang. Penderita juga dapat mengalami penurunan kemampuan untuk mengalirkan oksigen dari paru-paru ke dalam darah. Pemeriksaan fungsi paru biasanya dilakukan dengan spirometri atau oksimetri.

Biopsi paru

Biopsi paru umumnya dilakukan dengan mengambil sampel jaringan paru. Sampe ini kemudian diperiksa di laboratorium. Biopsi merupakan satu-satunya cara untuk menentukan jenis penyakit paru interstisial yang dimiliki seseorang.

Beberapa jenis biopsi yang dapat dilakukan adalah:

  • Bronkoskopi, berupa endoskopi yang dimasukkan melalui mulut atau hidung ke saluran pernapasan. Lalu dengan menggunakan alat kecil yang terdapat pada endoskopi, sampel jaringan diambil dari jaringan paru-paru.

  • Bedah thoracoscopic, dengan bantuan kamera (VATS–Video–Assisted thoracoscopic surgery) yang dilakukan dengan menggunakan alat yang dimasukkan melalui sayatan kecil, yang memungkinkan dokter bedah mengambil sampel dari beberapa area jaringan paru-paru.

  • Biopsi paru terbuka (torakotomi), untuk beberapa kasus yang dilakukan dengan pembedahan tradisional. Dokter akan membuat sayatan besar di dada, untuk mendapatkan sampel jaringan paru-paru.

Pengobatan

Pengobatan yang diberikan tidak dapat mengembalikan struktur paru-paru menjadi normal, tetapi mampu memperlambat perkembangan penyakit dan membantu pernapasan.

Apabila paparan bahan atau obat beracun menjadi penyebab penyakit paru interstisial, sebaiknya Anda menghindari zat tersebut.

Dokter akan memberikan beberapa jenis pengobatan ini untuk mengontrol penyakit paru interstisial.

  • Penggunaan oksigen tambahan untuk membantu Anda bernapas lebih baik dan mengurangi sesak napas
  • Rehabilitasi paru untuk membantu meningkatkan aktivitas dan kemampuan berolahraga
  • Obat anti-inflamasi, seperti steroid prednison, untuk mengurangi pembengkakan pada paru-paru
  • Obat penekan kekebalan tubuh, seperti azathioprine, cyclophosphamide, dan mycophenolate mofetil, untuk membantu menghentikan serangan sistem kekebalan tubuh yang dapat merusak paru-paru.
  • Obat antifibrotik seperti pirfenidone dan nintedanib, untuk mencegah jaringan parut pada paru-paru semakin parah. Obat-obat ini disetujui oleh Food and Drug Administration AS untuk pengobatan fibrosis paru idiopatik.

Apabila kondisi yang dialami berat dan beberapa pengobatan di atas tidak menunjukkan perubahan, maka pilihan terakhir adalah dengan melakukan transplantasi paru-paru. Biasanya, operasi ini disarankan apabila Anda berusia di bawah 65 tahun. Namun untuk beberapa kasus, transplantasi paru-paru dapat dilakukan pada orang yang berusia di atas 65 tahun.

Pencegahan

Penyakit ini dapat dicegah hanya apabila penyebab atau pemicunya dapat dihindari atau dicegah. Misalnya dengan menghindari zat beracun di lingkungan, yang diketahui dapat membantu mencegah kerusakan paru-paru akibat paparan ini.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Penyakit ini dapat dicegah hanya apabila penyebab atau pemicunya dapat dihindari atau dicegah. Misalnya dengan menghindari zat beracun di lingkungan, yang diketahui dapat membantu mencegah kerusakan paru-paru akibat paparan ini.

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Dokter mungkin akan memberikan beberapa pertanyaan Anda, dan sebaiknya Anda memberikan informasi yang jelas agar dokter dapat mendiagnosis dengan lebih baik. Berikut ini pertanyaan yang mungkin diajukan.

  • Kapan Anda mengalami gejala pertama kali?
  • Apakah Anda menjalani pengobatan untuk kondisi medis lainnya?
  • Obat apa yang Anda konsumsi akhir-akhir ini?
  • Apakah gejala ini hilang timbul atau terus-menerus muncul?
  • Apakah baru-baru ini Anda terpapar pendingin ruangan, pelembap ruangan, kolam renang, bak air panas, karpet atau dinding yang rusak karena air, atau dalam kondisi lembap?
  • Apakah pernah terpapar jamur atau debu di rumah atau rumah lain tempat Anda menghabiskan banyak waktu?
  • Apakah ada kerabat dekat atau teman yang didiagnosis dengan kondisi terkait penyakit paru interstisial?
  • Apakah ada kontak dengan burung saat melakukan pekerjaan atau hobi? Apakah ada tetangga yang memelihara burung merpati?
  • Apakah riwayat pekerjaan Anda memungkinkan paparan secara teratur terhadap toksin dan polutan, seperti asbestos, debu silika dan butiran debu?
  • Apakah Anda memiliki keluarga dengan riwayat penyakit paru-paru?
  • Apakah Anda merokok atau memiliki riwayat merokok? Jika iya, seberapa sering dan banyak? Jika tidak, berapa lama waktu yang Anda habiskan dengan berada di dekat perokok?
  • Apakah Anda memiliki gejala dari GERD, seperti sensasi terbakar pada dada?
Referensi

Healthline. Healthline: https://www.healthline.com/health/interstitial-lung-disease
Diakses pada 21 Desember 2018

MayoClinic. MayoClinic: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/interstitial-lung-disease/symptoms-causes/syc-20353108
Diakses pada 21 Desember 2018

Medicinenet. https://www.medicinenet.com/interstitial_lung_disease_interstitial_pneumonia/article.htm
Diakses pada 21 Desember 2018

WebMD. https://www.webmd.com/lung/interstitial-lung-disease#1-2
Diakses pada 21 Desember 2018

Back to Top