Saraf

Penyakit Parkinson

Diterbitkan: 27 Jan 2021 | Lucia PriandariniDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Penyakit Parkinson
Sebagian besar penderita terserang Parkinson pada usia 60-an.
Penyakit Parkinson atau Parkinson disease adalah kelainan saraf yang lama-kelamaan memburuk dan memengaruhi kemampuan gerak penderita. Penyakit ini disebabkan oleh rusaknya sel-sel pada bagian otak bernama substansia nigra.Gejala Parkinson biasanya muncul secara bertahap dan memburuk dari waktu ke waktu. Semakin lama, penderita akan mengalami kesulitan berjalan dan berbicara.Selain itu, penderita dapat mengalami perubahan kondisi mental dan perilaku, gangguan tidur, depresi, gangguan ingatan, serta kelelahan. Penyakit Parkinson dapat dialami oleh siapa saja. Tetapi lebih dari 50% kasusnya dialami oleh laki-laki.Selain jenis kelamin, usia juga menjadi faktor risiko penyakit Parkinson. Sebagian besar penderita pertama kali mengalami gejala pada usia 60-an. Sementara pada sekitar 5-10 persen penderita, gejala awal bisa muncul sebelum umur 50 tahun.Penyakit Parkinson tidak dapat disembuhkan. Tapi konsumsi obat-obatan, terapi, dan perubahan gaya hidup dapat membantu untuk meringankan gejala yang mendera penderita. Dalam beberapa kasus, dokter juga dapat melakukan operasi. 
Penyakit Parkinson
Dokter spesialis Saraf
GejalaTremor, pergerakan yang lambat, gangguan keseimbangan dan koordinasi
Faktor risikoUsia lebih dari 60 tahun, pria, faktor keturunan
Metode diagnosisPemeriksaan neurologis, tes darah, tes pencitraan
PengobatanTerapi suportif, obat-obatan, operasi
ObatLevodopa, karbidopa
KomplikasiKesulitan berpikir, gangguan kognitif, gangguan menelan
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala parkinson
Gejala Parkinson muncul secara bertahap. Tiap penderita bisa mengalami gejala yang berbeda dengan urutan gejala yang berlainan pula.

Gejala utama penyakit Parkinson

Ada tiga gejala utama Parkinson yang memengaruhi pergerakan fisik penderitanya:
  • Tremor

Tramor adalah gemetar pada bagian tubuh tertentu. Gejala ini kerap bermula dari tangan atau lengan saat tubuh sedang rileks.
  • Gerak tubuh yang lambat

Dalam dunia medis, gerak tubuh yang lambat disebut bradykinesia. Gejala ini berupa pergerakan tubuh penderita penyakit Parkinson yang menjadi jauh lebih lamban dari biasanya.
  • Otot kaku dan tidak fleksibel

Otot kaku dan tidak lentur akan membuat tubuh penderita susah bergerak hingga sudah menunjukkan ekspresi pada wajahnya. Gejala ini juga dapat mengakibatkan dystonia atau kram otot.

Gejala penyakit Parkinson lainnya

Di samping gejala utama tersebut, penyakit Parkinson dapat mengakibatkan kondisi fisik dan mental lain yang berupa:
Gejala awal penyakit Parkinson dapat bersifat ringan dan kadang tidak dirasakan penderita. Tanda-tandanya sering hanya terasa pada satu sisi tubuh sebelum memengaruhi sisi tubuh lainnya. 
Penyebab penyakit Parkinson belum diketahui secara pasti hingga sekarang. Namun penyakit ini muncul karena adanya kerusakan bertahap pada sel-sel saraf tertentu pada otak bernama substansia nigra.Saraf di substansia nigra berperan memproduksi hormon dopamin. Hormon ini membantu dalam mengendalikan dan mengkoordinasikan gerakan tubuh.Oleh sebab itu, kerusakan saraf pada substansia nigra akan menyebabkan berkurangnya kadar dopamin. Akibatnya, gerak tubuh penderita akan lebih lambat. Gejala Parkinson umumnya baru akan berkembang jika 80 persen dari sel-sel saraf ini telah rusak. 

Faktor risiko penyakit Parkinson

Meski penyebab Parkinson belum diketahui, ada beberapa faktor yang berperan dalam meningkatkan kemungkinannya. Faktor-faktor risiko ini meliputi:
  • Usia

Gejala penyakit Parkinson umumnya dialami olah seseorang pada usia 60-an.
  • Jenis kelamin

Kaum pria berisiko mengalami penyakit Parkinson daripada wanita.
  • Mutasi genetik

Para pakar kesehatan menemukan bahwa mutasi genetik tertentu dapat meningkatkan risiko penyakit Parkinson.
  • Paparan bahan kimia

Penggunaan pestisida dan herbisida dikatakan dapat menambah kemungkinan seseorang untuk mengalami penyakit Parkinson.
  • Keturunan

Risiko seseorang untuk mengalami penyakit Parkinson bisa meningkat apabila ia memiliki kerabat dekat yang juga menderita gangguan medis yang sama. 
Hingga sekarang, belum ada tes khusus untuk mendiagnosis penyakit Parkinson dengan pasti. Namun dokter saraf akan melakukan serangkaian metode pemeriksaan berikut untuk mendeteksi penyakit ini:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan seluruh gejala yang dialami oleh pasien. Dokter juga akan memeriksa riwayat medis pasien maupun keluarga
  • Pemeriksaan fisik

Dokter akan melakukan pemeriksaan neurologis dan fisik, untuk mencari tanda-tanda penyakit Parkinson.
  • Dopamine transporter scan

Dopamine transporter scan (DAT scan) dilakukan untuk mengukur kadar hormon dopamin dalam otak seseorang. Tes ini menggunakan obat yang mengandung radioaktif, tapi kadarnya tergolong aman untuk pasien.
  • Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium seperti tes darah bertujuan mendeteksi ada tidaknya kemungkinan penyebab lain, yang bisa memicu gejala serupa.
  • Pemeriksaan pencitraan

Pemeriksaan pencitraan juga akan dianjurkan untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada otak pasien. Tes ini bisa berupa MRI, CT scan, USG, serta PET scan. 

Tingkat keparahan atau stadium penyakit Parkinson

Untuk membantu mengenali tingkat keparahan dari gejala penyakit Parkinson, banyak dokter mengidentikasi gejala dengan skala the Hoehn and Yahr di bawah ini:
  • Tahap 1

Tahap 1 meliputi gejala penyakit Parkinson ringan, yang bahkan tidak disadari oleh penderita ataupun mengganggu keseharian. Sementara pada pengidap yang bergejala, keluhan hanya muncul pada salah satu sisi tubuhnya.
  • Tahap 2

Pada tahap ini, penderita dapat mengalami gejala berupa tremor, otot kaku, dan perubahan ekspresi wajah. Gejala ini bisa terjadi pada kedua sisi tubuh dan berkembang dari tahap 1 ke tahap 2 dalam beberapa bulan.
  • Tahap 3

Gerakan tubuh penderita mulai melambat dan keseimbangannya terganggu. Akibatnya, ia lebih berisiko untuk terjatuh.Pada tahap 3, gejala mulai memengaruhi kegiatan sehari-hari. Namun pasien masih bisa beraktivitas secara mandiri.
  • Tahap 4

Pada tahap 4, pergerakan tubuh sudah melambat secara signifikan. Penderita akan mengalami kesulitan berdiri tanpa bantuan penyangga, sehingga sangat berbahaya jika ia hidup sendiri.
  • Tahap 5

Pada tahap 5, penderita biasanya membutuhkan kursi roda dan dapat mengalami kebingungan, delusi, serta halusinasi.Setelah tahap 5, penderita penyakit Parkinson dapat mengalami komplikasi. 
Meski tidak dapat disembuhkan, obat-obatan, terapi pendukung, dan operasi dapat membantu penderita untuk mengendalikan gejala penyakit Parkinson sekaligus mempertahankan kualitas hidup.Serangkaian cara mengobati penyakit Parkinson yang bisa dianjurkan oleh dokter meliputi:

Perawatan pendukung

Ada beberapa terapi yang dapat membantu pasien Parkinson untuk mengelola gejalanya. Apa sajakah itu?
  • Fisioterapi

Fisioterapi bertujuan membantu dalam meredakan otot kaku serta nyeri sendi. Terapi ini harus dilakukan di bawah bimbingan fisioterapis berpengalaman dan pengawasan dokter.
  • Terapi okupasi

Terapis mengajarkan pasien agar bisa beradaptasi dan tetap mampu melakukan aktivitas sehari-hari yang sederhana. Misalnya, mandi, berpakaian, makan, menyisir rambut, dan lain-lain.
  • Terapi wicara

Terapi wicara akan membantu pasien untuk mengelola gangguan bicara dan menelan yang dialaminya.
  • Perbaikan pola makan

Perubahan dan perbaikan pola makan juga bisa dianjurkan. Contohnya, mengonsumsi serat dan cukup minum, serta makan dalam porsi kecil, tapi lebih sering.

Obat-obatan

Obat-obatan dapat membantu dalam mengendalikan gejala fisik dan mental yang berhubungan dengan penyakit Parkinson. Misalnya, obat untuk meningkatkan kadar dopamin, memengaruhi kimiawi otak, serta mengontrol gejala nonmotorik.Beberapa jenis obat tersebut meliputi:
  • Carbidopa-levodopa yang akan membantu produksi dopamin
  • Dopamine agonist sebagai pengganti dopamin
  • MAO B inhibitors guna mengurangi efek enzim yang merusak dopamin

Operasi

Operasi dan deep brain stimulation juga bisa dilakukan ketika pemberian obat, terapi, ataupun perubahan gaya hidup tidak memberikan hasil efektif pada pasien penyakit Parkinson. 

Komplikasi penyakit Parkinson

Penyakit Paskinson lama-kelamaan dapat menyebabkan komplikasi berupa:
  • Gangguan kognitif dan berpikir, khususnya pada penyakit Parkinson tahap lanjut
  • Depresi, misalnya karena putus asa akibat sulit mengendalikan gerakan tubuh
  • Sulit menelan dan mengunyah
  • Penumpukan air liur, sehingga penderita mengiler
  • Gangguan tidur, seperti sulit tertidur atau sering terbangun selama tidur
  • Konstipasi
  • Gangguan buang air kecil
  • Kelelahan
  • Hipotensi ortostatik, yakni penurunan tekanan darah yang membuat pasien pening saat bangkit berdiri
  • Nyeri pada seluruh atau bagian tubuh tertentu
  • Penurunan hasrat hingga disfungsi seksual
Dokter juga akan memberikan penanganan yang sesuai untuk penyakit Parkinson pada tahap lanjut yang sering disertai komplikasi. 
Karena penyebabnya belum diketahui dengan pasti, cara mencegah penyakit Parkinson juga tidak tersedia. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa olahraga teratur dapat membantu mengurangi risiko penyakit Parkinson.Ada juga dugaan yang menyebut bahwa mengonsumsi kafein berpotensi mengurangi risiko penyakit Parkinson. Contohnya, teh, kopi, dan minuman bersoda. Namun belum ada bukti yang cukup mengenai hal ini. 
Segera konsultasikan ke dokter jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami salah satu atau beberapa gejala yang mungkin terkait dengan penyakit Parkinson. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan oleh pasien?
  • Kapan gejala pertama kali terasa?
  • Apakah gejala tersebut dialami sepanjang waktu atau hanya sesekali?
  • Adakah penanganan atau obat tertentu yang sudah dikonsumsi untuk meringankan gejala?
  • Apakah pasien memiliki faktor risiko terkait penyakit Parkinson?
  • Apa ada situasi yang membuat gejala membaik atau memburuk?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis penyakit Parkinson agar penanganan yang tepat bisa diberikan.Dengan mencermati apa itu penyakit Parkinson serta gejalanya, penderita maupun orang terdekatnya diharapkan dapat lebih waspada. Dengan ini, pengobatan bisa dilakukan secepatnya. 
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/parkinsons-disease/
Diakses pada 22 Januari 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/parkinsons-disease/symptoms-causes/syc-20376055
Diakses pada 22 Januari 2021
National Institutes of Health. https://www.nia.nih.gov/health/parkinsons-disease
Diakses pada 22 Januari 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/parkinsons
Dakses pada 22 Januari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Olahraga untuk Lansia? Coba 7 Gerakan Sederhana Ini

Siapa bilang olahraga hanya untuk anak muda? Olahraga untuk lansia juga diperlukan untuk menjaga kesehatan dan tubuh tetap fit. Terdapat banyak jenis olahraga lansia yang bisa dilakukan, seperti gerakan bird dog, chair squat, wall pushup, dan sebagainya.
29 Oct 2019|Anita Djie
Baca selengkapnya
Olahraga lansia sebenarnya tidak jauh berbeda dari olahraga secara umum

Ventricular Fibrillation, Penyakit Jantung Mematikan yang Jarang Diketahui

Ventricular fibrillation adalah salah satu jenis gangguan jantung yang paling mematikan. Sebagai salah satu kondisi yang paling sering menyebabkan henti jantung mendadak, risiko terhadap penyakit ini harus selalu diwaspadai.
16 Jun 2019|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Ventricular fibrillation berbeda dari serangan jantung pada umumnya dan menyebabkan henti jantung secara mendadak

Mengenal Berbagai Alat Bantu Dengar yang Cocok untuk Lansia

Alat bantu dengar tidak dapat mengembalikan pendengaran lansia kembali normal seperti semula. Namun, alat ini dapat membantu menguatkan suara-suara halus.
20 May 2019|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Alat bantu dengar untuk lansia