PPH (postpartum hemorrhage) adalah kehilangan darah setelah melahirkan secara normal atau caesar.
Di negara berkembang, lebih dari 100.000 ibu meninggal karena PPH setiap tahunnya.

PPH (postpartum hemorrhage) adalah kehilangan darah lebih dari 500 mililiter setelah melahirkan secara normal, atau lebih dari 1000 mililiter setelah melahirkan secara SC (Sectio Caesaria/operasi Caesar). Menurut waktu terjadinya, PPH dibagi menjadi PPH awal di mana pendarahan terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam setelah melahirkan dan PPH akhir yang terjadi diatas 24 jam setelah melahirkan. 

Namun, diagnosis PPH hanya diperuntukkan oleh ibu yang melahirkan dengan usia kehamilan lebih dari 20 minggu, jika usia kehamilan kurang dari 20 minggu maka disebut abortus. PPH merupakan penyebab terbesar kematian ibu di seluruh dunia. Pada negara berkembang, 60% kematian ibu disebabkan oleh PPH, di mana lebih dari 100.000 ibu meninggal karena PPH setiap tahunnya.

Setiap ibu dapat menunjukkan gejala PPH yang berbeda. Beberapa gejala yang paling sering ditemukan adalah:

  • Pendarahan hebat (masif) dan tidak terkendali. Namun pada beberapa keadaan, pendarahan bisa lambat dan sedikit (pendarahan dalam)
  • Penurunan tekanan darah
  • Detak jantung cepat (>100 denyut/menit)
  • Pucat
  • Kulit lembab dan lengket (clammy skin)
  • Pusing, mengantuk, lemas
  • Sesak napas
  • Volume BAK (buang air kecil) berkurang sampai tidak ada BAK
  • Pandangan buram
  • Bengkak atau nyeri di daerah kemaluan

PPH dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, antara lain:

  • Atonia Uteri

Kontraksi otot rahim dapat menekan pembuluh darah pada rahim sehingga dapat menghentikan pendarahan saat melahirkan. Pada atonia uteri, otot rahim gagal berkontraksi setelah bayi lahir.

Peregangan rahim yang berlebihan merupakan risiko besar untuk terjadinya atonia uteri. Beberapa hal yang dapat menyebabkan peregangan tersebut adalah:

  • Bayi kembar
  • Ukuran bayi besar untuk usia kehamilan
  • Kelebihan cairan ketuban
  • Kelainan janin (contohnya hidrosefalus berat)
  • Kelainan struktur rahim

Selain itu, kontraksi rahim yang gagal juga dapat disebabkan oleh kelelahan otot rahim pada persalinan yang lama atau persalinan yang cepat dengan distimulasi. Stimulasi persalinan dapat dilakukan dengan obat-obatan maupun teknik lain.

  • Retensi Plasenta (plasenta yang tertahan)

Plasenta tetap berada di dalam rahim setelah bayi lahir. Normalnya, kontraksi uterus akan menyebabkan plasenta terlepas seluruhnya dari rahim. Dengan lepasnya plasenta, rahim dapat terus berkontraksi dan menghentikan pendarahan. Keadaan yang dapat menyebabkan retensi plasenta antara lain:

  • Kehamilan prematur berat (<24 minggu)
  • Kelainan plasenta (contohnya: plasenta yang menembus dinding rahim sampai ke batas abnormal sehingga sulit terlepas)
  • Kelainan letak plasenta
  • Trauma

Adanya trauma atau luka pada organ genitalia (mulai dari rahim sampai kemaluan). Salah satu contohnya adalah robekan rahim, yang paling sering terjadi pada ibu dengan riwayat melahirkan dengan operasi Caesar atau ibu yang pernah melakukan prosedur lain seperti biopsi, kuret, pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim, atau operasi lain.

Trauma jalan lahir dapat disebabkan oleh berbagai macam hal seperti:

  • Persalinan lama.
  • Penyulit persalinan seperti disproporsi kepala panggul, dimana kepala bayi besar sehingga sulit keluar melalui panggul ibu yang normal, maupun sebaliknya panggul ibu terlalu kecil untuk kepala bayi ukuran normal keluar.
  • Persalinan dengan bantuan. Contoh yang paling sering adalah luka rahim akibat persalinan dengan bantuan alat forseps atau vakum.
  • Percobaan pengeluaran plasenta yang tertahan secara manual maupun dengan alat.
  • Kelainan Pembekuan Darah

Pembekuan darah penting untuk menghentikan pendarahan pasca melahirkan. Pendarahan pasca melahirkan paling cepat dihentikan dengan mekanisme kontraksi rahim, lalu kemudian dilanjutkan dengan pembekuan darah. Sehingga, kelainan pada pembekuan darah biasanya akan menyebabkan PPH akhir, yang terjadi setelah 24 jam pasca melahirkan.

Kelainan pembekuan darah ini dapat disebabkan oleh penyakit pembekuan darah yang memang telah diderita ibu, atau akibat dari kehamilan, seperti:

  • Plasenta terlepas dari rahim yang dapat menyebabkan pendarahan. Pendarahan yang masif akan berujung pada gangguan pembekuan darah
  • Hipertensi berat
  • Sumbatan cairan amnion
  • Infeksi berat

Penegakkan diagnosis PPH didasarkan pada adanya pendarahan masif dan faktor penyebab yang telah disebutkan diatas, yaitu atonia uteri, retensi plasenta, trauma, dan gangguan pembekuan darah.

Ada dua pembagian terapi untuk PPH, yaitu terapi untuk mengatasi pendarahan dan terapi untuk mengatasi penyebabnya.

  • Terapi Pendarahan

Berfokus untuk menggantikan darah dan cairan yang hilang karena pendarahan. Dilakukan dengan memberikan oksigen, cairan maupun transfusi darah. Jika pendarahan terus berlanjut, dapat dilakukan penjahitan sampai operasi pengangkatan rahim sebagai pilihan terakhir.

  • Terapi Penyebab
    • Pemijatan rahim dan obat-obatan untuk merangsang kontraksi rahim.
    • Pengeluaran plasenta yang masih berada di dalam rahim.
    • Perbaikan perlukaan organ genital jika ada.
    • Obat-obatan untuk memperbaiki gangguan pembekuan darah.

Jika tidak ditangani dengan tepat dan cepat, PPH dapat menyebabkan syok dan kematian.

  • Pemeriksaan kehamilan secara berkala untuk mengidentifikasi adanya hal-hal yang berisiko menyebabkan PPH.
  • Koreksi faktor penyebab PPH yang dapat diperbaiki seperti gangguan pembekuan darah dan anemia dengan menyampaikan pada dokter.
  • Melahirkan dengan bantuan tenaga kesehatan yang terlatih.
  • Bila tidak ada tenaga kesehatan yang terlatih, pemakaian obat-obatan perangsang kontraksi uterus seperti oksitosin dan misoprostol dapat digunakan.

Biasanya PPH terjadi tidak lama setelah melahirkan sehingga ada tenaga kesehatan yang dapat menangani. Namun, jika terjadi pendarahan hebat setelah ibu pulang ke rumah, disarankan langsung mengunjungi fasilitas kesehatan terdekat.

American Family Physician. https://www.aafp.org/afp/2007/0315/p875.html
diakses pada 4 Desember 2018. 

Mchip. https://www.mchip.net/what-we-do/maternal-health/prevention-postpartum-hemorrhage/
diakses pada 4 Desember 2018.

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/275038-overview
diakses pada 4 Desember 2018. 

Stanford Children's Health. https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=postpartum-hemorrhage-90-P02486
diakses pada 4 Desember 2018.

The Royal Australian and New Zealand College of Obstetricians and Gynaecologists. https://www.ranzcog.edu.au/RANZCOG_SITE/media/RANZCOG-MEDIA/Women%27s%20Health/Statement%20and%20guidelines/Clinical-Obstetrics/Management-of-Postpartum-Haemorrhage-(C-Obs-43)-Review-July-2017.pdf?ext=.pdf
diakses pada 4 Desember 2018.

URMC. https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?ContentTypeID=90&ContentID=P02486
diakses pada 4 Desember 2018.

Artikel Terkait