Penyakit Lainnya

Pembesaran Prostat Jinak (Benign Prostate Hyperplasia)

14 Sep 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Pembesaran Prostat Jinak (Benign Prostate Hyperplasia)
Prostat berfungsi menghasilkan cairan yang memberi nutrisi pada sel sperma dalam air mani.
Pembesaran prostat jinak atau benign prostatic hyperplasia (BPH) adalah kondisi membesarnya kelenjar prostat pria yang bukan disebabkan oleh kanker.Prostat sendiri adalah kelenjar yang terletak di bawah kandung kemih di bagian depan rektum. Tugas utama prostat adalah memproduksi cairan untuk menutrisi cairan semen (air mani) yang berisi sel sperma.Selain itu, otot prostat berfungsi untuk mendorong air mani keluar saat pria berejakulasi. Adanya pembesaran pada kelenjar prostat akan mengganggu berbagai fungsi tersebut.Biasanya BPH ditandai dengan sulit dan nyeri saat buang air kecil. Pembesaran prostat jinak paling umum terjadi pada pria berumur 50 tahun ke atas.
Pembesaran Prostat Jinak (Benign Prostate Hyperplasia)
Dokter spesialis Urologi
GejalaKencing tidak lampias, pancaran aliran urine yang lemah, dorongan secara tiba-tiba untuk berkemih (urgency)
Faktor risikoUsia tua, riwayat keluarga dengan BPH, pengidap diabetes dan penyakit jantung
Metode diagnosisPemeriksaan fisik colok dubur, tes urine, tes darah
PengobatanObat-obatan, operasi
ObatAlpha Blocker, 5-Alpha Reductase Inhibitors
KomplikasiRetensi urine, infeksi saluran kemih, batu kandung kemih
Kapan harus ke dokter?Jika memiliki gejala seperti pembesaran prostat jinak
Tanda dan gejala pembesaran prostat jinak yang umum adalah:
  • Pancaran aliran urine yang lemah pada saat buang air kecil
  • Perlu mengejan saat buang air kecil
  • Tidak dapat mengosongkan kandung kemih sepenuhnya
  • Buang air kecil lebih dari dua kali di malam hari (nokturia)
  • Terdapat darah dalam urine
  • Dorongan secara tiba-tiba untuk buang air kecil
  • Inkontinensia urine atau tidak bisa menahan atau mengontrol buang air kecil, seperti mengompol
  • Terasa sakit saat buang air kecil
  • Infeksi saluran kemih (jarang terjadi)
Ukuran prostat pasien tidak selalu menentukan tingkat keparahan gejala yang dialami. Beberapa pria dengan prostat yang sedikit membesar bisa saja memiliki gejala signifikan, sementara pria lain dengan prostat yang sangat membengkak malah memiliki gejala lebih ringan.
Penyebab BPH belum diketahui secara pasti. Namun, pembesaran kelenjar prostat diduga dapat terjadi akibat perubahan keseimbangan hormon seks pria seiring bertambahnya usia.

Faktor risiko

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami BPH adalah:

1. Bertambahnya usia

Pembesaran kelenjar prostat jarang menunjukkan gejala pada pria yang usianya di bawah 40 tahun. Sekitar sepertiga dari penderita kondisi ini mulai menunjukkan gejala parah saat usia mereka 60 tahun. Lebih lanjut, setengah dari penderitanya menunjukkan gejala pada usia 80 tahun.

2. Ketidakseimbangan hormon

Seiring bertambahnya usia seorang pria, maka jumlah hormon testosterone aktif dalam darah dapat menurun, dan meninggalkan kadar estrogen yang lebih tinggi. Suatu penelitian menyatakan bahwa BPH mungkin terjadi kerena kadar estrogen yang tinggi dalam prostat akan memicu pertumbuhan sel prostat.Di samping itu, rendahnya kadar testosterone juga bisa membuat hormon dihidrotestosteron (DHT) menumpuk di prostat. Hal ini kemudian mendorong sel prostat untuk terus tumbuh.

3. Riwayat keluarga

Orang-orang yang memliliki anggota keluarga dengan masalah prostat memiliki risiko lebih besar mengalami hal yang sama pada prostat mereka.

4. Menderita diabetes atau penyakit jantung

Penelitian menyatakan bahwa diabetes serta penyakit jantung dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami BPH. Penggunaan obat beta blocker untuk mengatasi penyakit jantung juga dapat meningkatkan risiko BPH.

5. Gaya hidup

Pembengkakan prostat berisiko lebih tinggi pada pria obesitas.
Untuk mendiagnosis BPH, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan melakukan pemeriksaan lainnya, yang meliputi:
  • Pemeriksaan colok dubur untuk memeriksa apakah kelenjar prostat bengkak.
  • Pemeriksaan urine untuk mengesampingkan penyakit lain dengan gejala yang serupa.
  • Pemeriksaan darah untuk mendeteksi gangguan ginjal yang dapat muncul sebagai komplikasi (penyulit) pada BPH.
  • Tes darah antigen khusus prostat (Prostate-specific antigen/PSA) sebagai monitor penyakit serta menentukan terapi yang akan diberikan.
  • Tes volume residu urine (Post void residual volume test) menggunakan ultrasound untuk mengukur seberapa banyak urine yang tersisa pada kandung kemih setelah buang air kecil.
  • Tes aliran urine (urinary flow test) untuk evaluasi kondisi pembesaran prostat apakah semakin membaik atau memburuk.
  • Mencatat berapa kali dilakukannya buang air kecil pada malam hari.
  • Ultrasonografi (USG) transrectal untuk mengukur prostat.
  • Biopsi prostat untuk membantu mendiagnosis dan menyingkirkan kemungkinan kanker prostat.
  • Sistoskopi untuk melihat gambaran uretra dan kandung kemih.
Pengobatan yang dilakukan untuk menangani BPH dipilih berdasarkan kesehatan keseluruhan dari pasien, usia, dan keparahan gejala yang ditimbulkan pembesaran prostat tersebut. Dokter juga dapat merekomendasikan prosedur penanganan BPH sesuai pilihan pasien.Pada umumnya, dokter akan lebih dulu mengamati perkembangan kondisi prostat pasien sebelum secara langsungmenanganinya. Pengamatan biasanya dilakukan untuk penderita BPH yang bergejala ringan hingga sedang.Perubahan gaya hidup seperti rutin olahraga juga biasanya direkomendasikan oleh dokter seiring monitoring dilakukan.Selain prosedur tadi, dokter juga dapat merekomendasikan sejumlah prosedur atau terapi sebagai berikut:
  • Obat seperti penghambat reseptor alfa-1 (alpha 1 blocker), yang digunakan untuk melonggarkan otot prostat dan kandung kemih sehingga meningkatkan aliran urine, mengurangi hambatan pada saluran kencing, serta meringankan gejala yang berkaitan dengan BPH. Obat-obatan jenis ini biasanya diresepkan pada penderita BPH dengan gejala sedang hingga parah.
  • Obat-obatan berjenis alfa-5 reduktase inhibitor, yang berfungsi sebagai penurun kadar hormon DHT. Obat ini juga dapat mengurangi ukuran prostat yang membengkak, meningkatkan aliran urine, dan mengurangi risiko komplikasi dari BPH.
  • Antibiotik untuk mengobati infeksi yang timbul akibat pembesaran prostat
Ada pula prosedur operasi yang biasanya direkomendasikan jika pemberian obat tidak berhasil, digolongkan menjadi 2 yaitu:
  • Prosedur operasi non-invasif (rawat jalan), mencakup:

    • Prostatic Urethral Lift (PUL) yang melibatkan PUL penggunaan jarum untuk menempatkan implan berukuran kecil di prostat. Implan ini berfungsi untuk mengangkat dan menekan prostat yang membesar sehingga tidak lagi menyumbat uretra.
    • Terapi uap air panas yang dapat menghancurkan sel-sel prostat yang meremas uretra. Prosedur ini dilakukan dengan memanaskan air steril hingga berubah menjadi uap, kemudian uap tersbeut disuntikkan ke dalam prostat. Pelepasan energi panas dari uap tersebut dapat menyebabkan kematian sel yang cepat dan prostat pun bisa menyusut.
    • Transurethral Microwave Therapy (TUMT) dilakukan dengan menggunakan gelombang mikro untuk menghancurkan jaringan prostat.
    • Pemasangan selang kateter, dengan memasukkan tabung kecil ke dalam uretra melalui tusukan kecil.
  • Prosedur operasi invasive (rawat inap), mencakup:

    • Transurethral Resection of the Prostate (TURP), prosedur ini melibatkan pengangkatan jaringan prostat yang menghalangi uretra dan menutup pembuluh darah. TURP dilakukan dengan menggunakan arus listrik yang dialirkan di sepanjang kawat dari alat yang digunakan.
    • Transurethral Incision of the Prostate (TUIP) yang dapat digunakan jika pasien pembengkakan pada prostat berukuran lebih kecil tetapi masih memiliki penyumbatan uretra yang besar. Alih-alih memotong dan membuang jaringan, prosedur ini bertujuan untuk memperlebar uretra.
    • Photoselective Vaporization (PVP), pada prosedur ini, ahli bedah akan memasukkan tabung tipis (cystoscope) melalui uretra ke prostat. Kemudian dokter bedah akan menggunakan laser untuk menghancurkan jaringan prostat yang menghalangi dan menghentikan perdarahan.
    • Transurethral needle ablation (TUNA). Tindakan medis ini dilakukan dengan memanfaatkan gelombang radiasi untuk menghasilkan panas yang dapat menghancurkan jaringan prostat yang berlebihan.
    • Transurethral Vaporation of the Prostate (TUVP), untuk menghancurkan jaringan prostat dengan menggunakan arus listrik.
    • Transurethral water-jet ablation (TWJA), dilakukan dengan menggunakan jet air bertekanan tinggi untuk menghancurkan jaringan prostat berlebih.
    • Enukleasi laser holmium pada prostat (HoLEP), yang bekerja dengan cara mengangkat jaringan yang menghalangi aliran urin pada prostat. Prosedur ini memanfaatkan sinar laser.
    • Enukleasi laser thulium pada prostat (ThuLEP) yang prosedurnya mirip dengan HoLEP tetapi menggunakan jenis laser yang berbeda.
    • Prostatektomi terbuka, alias operasi pengangkatan bagian prostat.

Komplikasi

Jika tak ditangani dengan baik, pembesaran pada kelenjar prostat dapat berujung pada komplikasi seperti:
  • Ketidakmampuan tubuh untuk mengeluarkan urine. Kondisi ini dapat muncul secara tiba-tiba, sehingga mengharuskan selang kateter dimasukkan ke dalam saluran kencing (uretra). Pada beberapa kasus, kondisi ini bahkan mengharuskan penderitanya untuk menjalani operasi.
  • Infeksi saluran kemih/kencing. Jika kandung kemih sulit dikosongkan, risiko infeksi pada area tersebut terutama pada saluran kencing akan meningkat. Jika infeksi sering terjadi, penderitanya mesti menjalani operasi pengangkatan sebagian jaringan prostat.
  • Batu kandung kemih. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh kandung kemih yang sulit dikosongkan, dan dapat mengakibatkan infeksi atau iritasi pada kandung kemih, darah pada cairan urine, serta terhambatnya aliran urine.
  • Kerusakan pada kandung kemih. Kandung kemih yang tidak sepenuhnya kosong dapat meregang serta melemah seiring berjalannya waktu. Akibatnya, dinding otot kandung kemih tak dapat berkontraksi dengan benar, sehingga kandung kemih sulit dikosongkan.
  • Kerusakan pada ginjal. Tekanan pada kandung kemih karena masalah pada saluran kencing juga dapat merusak kondisi ginjal seperti misalnya lewat infeksi pada saluran kencing.
Beberapa cara untuk mengurangi risiko BPH ataupun mengurangi gejala yang terkait dengan kondisi ini, yaitu:
  • Mengurangi atau berhenti mengonsumsi alkohol dan kafein terutama setelah makan malam.
  • Berolahraga secara teratur.
  • Membatasi konsumsi obat yang membuat sulit mengosongkan kandung kemih seperti dekongestan atau antihistamin.
  • Mengurangi stres.
  • Menghindari minum di malam hari, setidaknya 2 jam sebelum tidur agar tubuh tidak perlu mengeluarkan urine pada tengah malam.
  • Segera buang air kecil ketika merasa perlu, agar otot kandung kemih tidak meregang terlalu lama sehingga timbul risiko kerusakan.
  • Menjadwalkan kapan akan buang air kecil, agar tubuh khususnya kandung kemih terbiasa untuk mengosongkan isinya pada saat-saat tertentu sesuai kebiasaan.
  • Mengikuti pola makan yang sehat supaya terhindar dari obesitas, kondisi yang meningkatkan risiko prostat membesar.
  • Double voiding, yaitu buang air kecil beberapa saat setelah sebelumnya melakukan hal yang sama. Hal ini berfungsi untuk memastikan bahwa kandung kemih sudah benar-benar kosong.
  • Menjaga tubuh tetap hangat karena cuaca dingin dapat menyebabkan urine tertahan dalam tubuh sementara keinginan untuk kencing meningkat.
Jika  Anda mengalami beberapa gejala yang disebutkan di atas, berkonsultasilah dengan dokter. Dokter akan membantu menemukan solusi untuk setiap gejala yang dialami.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, seperti:
    • Apa penyebab dari gejala yang saya alami?
    • Pengobatan atau perawatan apa yang cocok untuk gejala yang saya alami?
    • Apakah saya harus membatasi aktivitas seksual saya?
    • Jika saya memiliki gangguan kesehatan lain, bagaimana cara menanganinya?
    • Apakah saya memerlukan tes lain? Apa saja?
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Pada saat berkonsultasi, dokter biasanya akan menanyakan beberapa pertanyaan, diantaranya:
  • Apa saja gejala yang Anda alami?
  • Kapan Anda merasa mengalami gejala tersebut? Sesering apa Anda merasakan gejala itu?
  • Apakah gejala tersebut berangsur-angsur membaik atau malah memburuk?
  • Apakah Anda pernah mengompol tanpa disadari?
  • Apakah Anda sering buang air kecil pada malam hari?
  • Apakah Anda memiliki riwayat keluarga yang memiliki pembesaran prostat, kanker prostat atau batu ginjal?
  • Apakah Anda pernah mengalami permasalahan dalam aktivitas seksual?
  • Apakah Anda pernah operasi atau menjalani prosedur lain di sekitar ujung penis atau uretra?
  • Apakah Anda pernah merasakan panas saat membuang air kecil?
  • Apakah Anda menggunakan obat pengencer darah?
  • Seberapa banyak kafein atau alkohol yang Anda konsumsi?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis pembesaran prostat jinak agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/16608892/
Diakses pada 1 September 2021
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/prostate-enlargement/
Diakses pada 1 September 2021
https://www.healthline.com/health/enlarged-prostate
Diakses pada 16 November 2018
MayoClinic.https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/benign-prostatic-hyperplasia/symptoms-causes/syc-20370087
Diakses pada 1 September 2021
Urology Care Foundation. https://www.urologyhealth.org/urology-a-z/b/benign-prostatic-hyperplasia-(bph)
Diakses pada 1 September 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email