Fraktur atau patah tulang terjadi saat tulang menerima gaya atau tekanan secara berlebihan daripada yang dapat diterima, mengakibatkan patah, retak atau pecah. Patah tulang dapat terjadi secara keseluruhan atau hanya menimbulkan keretakan saja.

Patah tulang juga bisa terjadi secara melintang, memanjang, patah di beberapa tempat, atau patah menjadi beberapa bagian. Jenis patah tulang berbeda-beda tergantung pada kondisi cedera yang dialami oleh tulang.

Sebagian besar patah tulang disertai dengan rasa sakit yang intens pada waktu cedera terjadi. Rasa sakit akan memburuk apabila penderitanya bergerak atau menyentuh area yang cedera. Pingsan, merasa pusing atau dingin mungkin terjadi karena rasa sakit dan syok yang dialami.

Adapun tanda dan gejala pada penyakit ini, di antaranya:

  • Terasa sangat nyeri, terutama jika disentuh
  • Ada beberapa bagian tubuh yang bergeser sehingga tidak sesuai dengan anatomi (deformitas)
  • Mengalami pembengkakan, kemerahan, dan memar
  • Merasakan mati rasa dan kesemutan
  • Sulit untuk menggerakkan anggota tubuh

Pada beberapa kasus, Anda dapat melihat tulang yang patah mencuat keluar dari kulit

Tulang berfungsi untuk menerima tekanan saat jatuh atau kecelakaan. Tapi tulang mempunyai batas kemampuan untuk menerima tekanan. Ketika tekanan yang terjadi lebih besar daripada yang dapat ditahan atau diterima oleh tulang, maka akan terjadi patah atau retak pada tulang.

Kekuatan atau tekanan yang menyebabkan patah tulang biasanya terjadi secara mendadak atau sangat kuat. Kekuatan dari tekanan yang terjadi akan menentukan beratnya patah tulang yang diderita.

Beberapa penyebab patah tulang, antara lain:

1. Trauma, berupa cedera yang disengaja ataupun tidak, yang meliputi:

  • Mengalami kecelakaan, seperti jatuh dari ketinggian, kecelakaan kendaraan bermotor, atau luka tembak.
  • Mengalami jatuh di atas permukaan es atau permukaan yang lain tidak aman.
  • Pukulan atau serangan langsung terhadap tubuh.

2. Penggunaan berlebihan anggota tubuh, seperti melakukan gerakan berulang yang menyebabkan otot menjadi lelah dan menempatkan lebih banyak tekanan atau beban pada tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan stress fractures dan lebih umum terjadi pada atlet.

3. Kondisi medis yang menyebabkan kerapuhan atau pengeroposan tulang, seperti osteoporosis, jenis kanker tertentu, atau osteogenesis imperfecta.

Jenis-jenis patah tulang

Fraktur atau patah tulang dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain:

1. Fraktur tertutup dan fraktur terbuka

Fraktur tertutup disebut juga dengan fraktur sederhana (simple fracture). Pada fraktur ini, tidak ada robekan pada kulit sehingga tidak ada tulang yang mencuat keluar.

Fraktur terbuka disebut juga dengan compound fracture. Pada fraktur terbuka ini, ujung dari patahan tulang akan merobek kulit. Dan ketika tulang serta organ dalam tubuh lainnya terbuka, maka risiko untuk terkena infeksi akan lebih tinggi.

2. Fraktur lengkap dan fraktur tidak lengkap

Pada fraktur tidak lengkap, tulang tidak patah sepenuhnya atau hanya mengalami keretakan. Fraktur tidak lengkap lebih umum terjadi pada anak-anak karena tulang mereka lebih lunak dibandingkan dengan tulang orang dewasa sehingga tulang tersebut lebih mudah untuk bengkok dibandingkan patah. 

Fraktur yang termasuk di dalam jenis ini, antara lain:

  • Hairline fracture, di mana tulang tersebut retak yang tipis
  • Greenstick fracture, di mana tulang patah pada satu sisi, sedangkan sisi lainnya hanya bengkok.
  • Buckle atau torus fracture, paling sering terjadi pada anak-anak di mana terjadi patahan akibat tekanan.

Pada fraktur lengkap, tulang tersebut benar-benar patah. Tulang dapat patah atau atau hancur menjadi dua atau lebih kepingan tulang. Fraktur yang termasuk dalam jenis ini, antara lain:

  • Single fracture (fraktur tunggal), di mana tulang patah pada satu tulang dan menjadi dua bagian.
  • Comminuted fracture, di mana tulang tersebut remuk atau hancur menjadi tiga atau lebih bagian tulang.
  • Compression atau crush fracture (fraktur kompresi), di mana tulang hancur atau remuk karena tekanan.
  • Nondisplaced fracture, di mana tulang patah atau hancur menjadi berkeping-keping, tetapi tetap berada pada tempatnya.
  • Displaced fracture, di mana tulang yang hancur menjadi berkeping-keping keluar dari tempatnya.
  • Segmental fracture, di mana tulang patah menjadi dua bagian dengan cara tertentu, yang menyebabkan setidaknya satu segmen tulang mengambang dan tidak menempel pada tulang lainnya.

Selain itu, ada pula beberapa jenis fraktur lainnya, seperti:

  • Fraktur avulsi, di mana otot atau ligamen menarik tulang tersebut hingga menyebabkan patah.
  • Fraktur patologis, di mana patah tulang yang terjadi karena adanya penyakit yang menyebabkan tulang menjadi rapuh.
  • Fraktur spiral, yaitu fraktur di mana setidaknya ada satu bagian dari tulang yang terpilin.
  • Fraktur stres, yang lebih umum terjadi pada atlet, di mana tulang dapat patah karena adanya tekanan dan beban berulang.

Faktor risiko

Siapapun bisa mengalami fraktur atau patah tulang. Tetapi risiko terhadap penyakit ini akan meningkat, apabila memiliki tulang yang rapuh atau kepadatan tulang yang rendah.

Beriktu adalah faktor-faktor risiko yang meningkatkan kerapuhan tulang sehingga membuat penderitanya semakin rentan mengalami patah tulang:

  • Lansia
  • Menderita osteoporosis
  • Memiliki gangguan endokrin atau pencernaan
  • Sedang mengonsumsi kortikosteroid
  • Tidak rutin berolahraga
  • Mengonsumsi alkohol
  • Perokok

Dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan dan menanyakan apa saja yang Anda rasakan, serta memeriksa bagian yang sakit.  

Apabila Anda dicurigai mengalami patah tulang, maka dokter akan memerlukan pemeriksaan penunjang untuk melihat bagaimana kondisi tulang Anda. Maka dari itu, dokter akan menggunakan beberapa pemeriksaan, seperti:

  • X-ray (foto rontgen tulang)

Pemeriksaan ini merupakan metode yang paling umum digunakan untuk mendiagnosis patah tulang. Pemeriksaan ini akan memberikan gambaran tulang secara keseluruhan dan tanda-tanda kerusakan yang ada. Selain itu, foto rontgen dapat membantu menentukan tipe dan lokasi dari patah tulang.

  • CT scan atau MRI

Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan patahan tulang yang tidak dapat ditunjukkan oleh X-ray, serta dapat memperlihatkan kerusakan pada jaringan lunak di sekitarnya dan organ tubuh yang lainnya.

  • Pemindaian tulang

Pemindaian tulang dilakukan untuk membantu dokter menilai kondisi tulang dan mendeteksi patah tulang, serta abnomalitas lainnya yang tidak terdeteksi pada foto rontgen tulang. Pemeriksaan ini juga bisa mendeteksi dini kanker primer dan kanker yang telah menyebar ke tulang.

Perawatan dan penanganan patah tulang tergantung pada lokasi dan tipe patah tulang yang terjadi. Berikut pengobatan yang bisa dijalani oleh penderita patah tulang.

Pertolongan pertama yang dapat Anda lakukan untuk membantu seseorang yang mengalami patah tulang adalah mencoba untuk menjaga posisi tulang mereka tetap stabil dengan tidak memindahkan pasien, kecuali bila diperlukan agar tidak terjadi cedera lebih lanjut.

Hal ini dilakukan hingga mendapatkan pertolongan profesional. Beberapa tindakan yang dapat Anda lakukan untuk menjaga tulang yang patah tetap aman dan stabil, yaitu:

  • Menghentikan perdarahan. Jika terjadi perdarahan, berikan tekanan pada daerah luka dengan menggunakan perban steril, kain yang bersih, atau sepotong kain dari pakaian yang bersih.

  • Jangan menggerakkan daerah yang terluka. Jika dicurigai mengalami patah tulang pada daerah leher ataupun bagian punggung, bantu orang tersebut untuk tetap diam sebisa mungkin. Jangan mencoba untuk menyelaraskan kembali tulang yang patah atau mendorong kembali tulang yang mencuat keluar.

  • Mengompres menggunakan es untuk mengurangi pembengkakan dan mengurangi rasa sakit. Jangan menempelkan es langsung ke kulit, tetapi bungkus es dengan handuk kecil atau kain.

  • Tangani syok. Jika orang tersebut merasa akan pingsan atau bernapas pendek dan cepat, segera baringkan ia dengan posisi kepala sedikit lebih rendah dari batang tubuh, atau jika memungkinkan, tinggikan posisi kaki. Lalu, selimuti orang tersebut dengan selimut atau pakaian untuk menjaga suhu tubuh tetap hangat.

Saat tiba di rumah sakit, dokter akan melakukan X-ray (rontgen) untuk menentukan jenis patah tulang yang dialami. Secara umum, dokter akan mencoba mengembalikan potongan tulang yang patah ke posisi semula dan menstabilkannya saat proses penyembuhan berjalan.

Sangat penting untuk menjaga potongan tulang-tulang yang patah agar tidak bergerak sampai mereka tersambung dengan baik. Selama proses penyembuhan, kallus atau tulang baru akan terbentuk pada ujung-ujung tulang patah.

Apabila tulang-tulang yang patah tersebut berada pada posisi yang benar dan stabil, maka tulang yang baru pada akhirnya akan menyambungkan kembali tulang-tulang yang patah tersebut.

Dokter dapat menggunakan gips untuk menstabilkan tulang yang patah. Gips tersebut dapat terbuat dari plester dan fiberglass. Alat ini akan membantu menstabilkan area yang cedera dan mencegah potongan tulang yang patah untuk bergerak ketika sedang dalam masa penyembuhan.

Pada kasus yang jarang, dokter mungkin akan menggunakan traksi untuk menstabilkan area yang cedera.

Untuk patah tulang yang kompleks atau compound fractures, mungkin akan diperlukan pembedahan. Metode yang dapat digunakan, yaitu reduksi terbuka (open reduction) dan fiksasi internal (internal fixation) atau fiksasi eksternal (external fixation) untuk menjaga tulang tetap pada tempatnya dan tidak bergerak.

Di samping itu, dokter akan menstabilkan kembali kondisi pasien yang mungkin saja mengalami pendarahan saat terjadi patah tulang. Dokter juga akan meresepkan obat-obatan untuk mengontrol rasa sakit, memerangi infeksi, dan mengelola gejala atau komplikasi lainnya.

Setelah tahap pengobatan awal, dokter akan menyarankan untuk melakukan fisioterapi atau strategi lainnya untuk membantu mendapatkan kembali penggunaan yang normal.

Untuk memperkecil peluang terjadinya patah tulang, Anda dapat melakukan beberapa hal berikut:

  • Menggunakan alat pelindung saat berolahraga
  • Memasang alat pengaman di dalam rumah, terutama jika memiliki anak kecil, seperti memasang pintu pada tangga
  • Mengajari anak untuk menjaga diri mereka sendiri
  • Mengawasi anak dengan baik
  • Jangan menggunakan kursi atau benda yang tidak stabil sebagai penopang untuk berdiri
  • Menggunakan pegangan tangga saat sedang menaiki atau menuruni tangga

Selain itu, banyak cara yang dapat dilakukan untuk menjaga tulang agar tetap kuat, seperti mengonsumsi makanan yang kaya kalsium dan vitamin D. Olahraga atau latihan fisik secara teratur juga akan membantu menjaga kesehatan tulang

Olahraga yang mengharuskan tubuh melawan gaya gravitasi, seperti berjalan, hiking, jogging, berlari, menaiki tangga, latihan beban, dan menari dianjurkan karena sangat membantu untuk membangun dan mempertahankan kekuatan tulang. 

Segera bawa ke unit gawat darurat apabila Anda melihat seseorang mengalami hal ini:

  • Tidak sadarkan diri atau pingsan
  • Mencurigai seseorang mengalami patah pada tulang kepala, leher, punggung, panggul, atau tulang paha
  • Terdapat perdarahan hebat
  • Pasien terlihat pucat, terasa dingin, lembap, atau biru
  • Melihat tulang mencuat keluar dari kulit

Selain itu, apabila Anda mempunyai anak atau kerabat yang tidak dapat menggerakkan anggota badannya dengan normal, dan dapat melihat adanya deformitas, terutama setelah terjadinya kecelakaan, segera cari bantuan medis.  

Healthline. https://www.healthline.com/symptom/fractures
Diakses pada Desember 2018

Medlineplus. https://medlineplus.gov/ency/article/000001.htm
Diakses pada Desember 2018

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/fractures.html
Diakses pada Desember 2018

Webmd. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/do-i-have-a-broken-rib#1
Diakses pada Desember 2018

Radiology. https://www.radiologyinfo.org/en/info.cfm?pg=bone-scan
Diakses pada Desember 2018

Artikel Terkait