Penyakit Lainnya

Patah Tulang

23 Oct 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Patah Tulang
Patah tulang dapat menimbulkan gejala berupa mati rasa
Patah tulang atau fraktur adalah kondisi yang terjadi ketika tulang patah, retak, atau pecah. Kondisi ini dapat terjadi saat tulang menerima gaya atau tekanan secara berlebihan daripada yang dapat diterimanya.Ada beberapa tipe patah tulang berdasarkan bentuknya, yakni patah tulang melintang, memanjang, patah di beberapa tempat, atau patah menjadi beberapa bagian. Berbagai kondisi patah tulang tersebut dapat ditandai dengan rasa nyeri pada area yang mengalaminya ketika disentuh, membengkak, dan sulit digerakkan.Patah tulang dapat menimpa berbagai kelompok usia, tetapi individu dengan tulang rapuh atau kepadatan tulang yang rendah, lebih berisiko mengalaminya. Patah tulang bisa ditangani dengan pertolongan pertama, tindakan medis seperti pemasangan gips, hingga pembedahan bagi kasus yang lebih parah.
Patah Tulang
Dokter spesialis Ortopedi, Rehabilitasi Medik
GejalaNyeri, bergesernya bagian tubuh tertentu, mati rasa
Faktor risikoLansia, osteoporosis, konsumsi kortikosteroid
Metode diagnosisRontgen, CT scan, MRI
PengobatanPemasangan gips, traksi, pembedahan
ObatObat antinyeri, anti-infeksi
KomplikasiMalunion, osteomyelitis, emboli
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami patah tulang dengan kondisi darurat
Sebagian besar patah tulang disertai dengan rasa sakit yang intens pada waktu cedera terjadi. Rasa sakit akan memburuk apabila penderitanya bergerak atau menyentuh area yang cedera. Pingsan, merasa pusing atau dingin mungkin terjadi karena rasa sakit dan syok yang dialami.Adapun tanda dan gejala pada kondisi ini berupa:
  • Nyeri parah, terutama jika area patah tulang disentuh
  • Bergesernya beberapa bagian tubuh, sehingga tidak sesuai dengan anatomi (deformitas)
  • Pembengkakan, kemerahan, dan memar
  • Mati rasa dan kesemutan
  • Kesulitan untuk menggerakkan anggota tubuh
Pada beberapa kasus, Anda dapat melihat tulang yang patah mencuat keluar dari kulit.  
Tulang berfungsi untuk menerima tekanan saat jatuh atau kecelakaan, tapi tetap mempunyai batas kemampuan untuk menerima tekanan. Ketika tekanan yang terjadi lebih besar daripada kemampuan tulang untuk menahannya, maka akan terjadi patah atau retak pada tulang.Kekuatan atau tekanan yang menyebabkan patah tulang biasanya terjadi secara mendadak atau sangat kuat. Kekuatan dari tekanan yang terjadi akan menentukan beratnya patah tulang yang diderita.Beberapa penyebab patah tulang, antara lain trauma, penggunaan anggota tubuh secara berlebihan, maupun kondisi medis tertentu.

1. Trauma

Berupa cedera yang disengaja ataupun tidak, misalnya:
  • Dampak kecelakaan, seperti jatuh dari ketinggian, kecelakaan kendaraan bermotor, atau luka tembak
  • Dampak jatuh di atas permukaan es atau permukaan yang lain tidak aman
  • Pukulan atau serangan langsung terhadap tubuh

2. Penggunaan anggota tubuh secara berlebihan

Melakukan gerakan berulang yang menyebabkan otot menjadi lelah dan menempatkan lebih banyak tekanan atau beban pada tulang, dapat menyebabkan stress fractures dan lebih umum terjadi pada atlet.

3. Kondisi medis tertentu

Kondisi medis tertentu dapat menyebabkan kerapuhan maupun pengeroposan tulang, seperti osteoporosis, jenis kanker tertentu, atau osteogenesis imperfecta. 

Faktor risiko

Fraktur atau patah tulang bisa dialami berbagai kalangan usia. Namun risiko terhadap penyakit ini akan meningkat, apabila seseorangmemiliki tulang yang rapuh atau kepadatan tulangnya rendah.Berikut ini adalah faktor-faktor risiko yang meningkatkan kerapuhan tulang sehingga membuat penderitanya semakin rentan mengalami patah tulang:
  • Lansia
  • Anak-anak yang sangat aktif secara fisik
  • Menderita osteoporosis
  • Gangguan endokrin atau pencernaan
  • Konsumsi kortikosteroid
  • Tidak rutin berolahraga
  • Konsumsi alkohol
  • Kebiasaan merokok
Baca juga: Tulang Anak Mudah Patah Akibat OI, Bagaimana Cara Menanganinya? 
Dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan dan menanyakan tentang gejala, serta memeriksa bagian tubuh Anda yang sakit.Apabila Anda dicurigai mengalami patah tulang, maka dokter akan merekomendasikan pemeriksaan penunjang untuk melihat tulang. Maka dari itu, dokter akan menggunakan beberapa pemeriksaan, seperti X-ray, CT scan atau MRI, serta pemindaian tulang.

1. X-ray (foto rontgen tulang)

Pemeriksaan ini merupakan metode diagnosis paling umum digunakan pada patah tulang, untuk memberikan gambaran tulang secara keseluruhan dan tanda-tanda kerusakan yang ada. Selain itu, foto rontgen dapat membantu menentukan tipe dan lokasi dari patah tulang.

2. CT scan atau MRI

Pemeriksaan ini memperlihatkan patahan tulang yang tidak dapat ditunjukkan oleh X-ray, serta kerusakan pada jaringan lunak di sekitarnya dan organ tubuh lain.

3. Pemindaian tulang

Pemindaian tulang dilakukan untuk membantu dokter menilai kondisi tulang dan mendeteksi patah tulang, serta abnomalitas lainnya yang tidak terlihat pada foto rontgen tulang. Pemeriksaan ini juga bisa mendeteksi dini kanker primer dan kanker yang telah menyebar ke tulang.


Jenis-jenis patah tulang

Berbagai metode diagnosis di atas akan membantu dokter untuk menentukan jenis patah tulang yang dimiliki oleh pasien.Berdasarkan karakteristiknya, patah tulang dibagi menjadi beberapa jenis berikut ini.

1. Fraktur tertutup dan fraktur terbuka

Fraktur tertutup disebut juga dengan fraktur sederhana (simple fracture). Pada fraktur ini, tidak ada robekan pada kulit sehingga tidak ada tulang yang mencuat keluar.Fraktur terbuka disebut juga dengan compound fracture. Pada fraktur terbuka ini, ujung dari patahan tulang akan merobek kulit. Ketika tulang serta organ dalam tubuh lainnya terbuka, maka risiko untuk terkena infeksi akan lebih tinggi.

2. Fraktur lengkap dan fraktur tidak lengkap

Pada fraktur tidak lengkap, tulang tidak patah sepenuhnya atau hanya mengalami keretakan. Fraktur tidak lengkap lebih umum terjadi pada anak-anak karena tulang mereka lebih lunak dibandingkan dengan tulang orang dewasa, sehingga tulang tersebut lebih mudah untuk bengkok dibandingkan patah.Fraktur yang termasuk di dalam jenis ini, antara lain:
  • Hairline fracture: tulang mengalami keretakan tipis
  • Greenstick fracture: tulang patah pada satu sisi, dan hanya bengkok di sisi lain.
  • Buckle atau torus fracture: paling sering terjadi pada anak-anak, saat patah tulang terjadi akibat tekanan berlebih
Pada fraktur lengkap, tulang tersebut benar-benar patah. Tulang dapat patah atau hancur menjadi dua kepingan tulang, bahkan lebih. Fraktur yang termasuk dalam jenis ini adalah:
  • Single fracture (fraktur tunggal): tulang patah pada satu tulang dan menjadi dua bagian
  • Comminuted fracture: tulang remuk atau hancur menjadi tiga bagian atau lebih
  • Compression atau crush fracture (fraktur kompresi): tulang hancur atau remuk karena tekanan
  • Non-displaced fracture: tulang patah atau hancur menjadi berkeping-keping, tetapi tetap berada pada tempatnya.
  • Displaced fracture: tulang yang hancur menjadi berkeping-keping keluar dari tempatnya.
  • Segmental fracture: tulang patah menjadi dua bagian dengan cara tertentu, yang menyebabkan setidaknya satu bagian tulang mengambang dan tidak menempel pada tulang lainnya.
Selain itu, ada pula beberapa jenis fraktur lainnya, seperti:
  • Fraktur avulsi: otot atau ligamen menarik tulang hingga menyebabkannya patah
  • Fraktur patologis: patah tulang terjadi karena adanya penyakit yang menyebabkan tulang menjadi rapuh.
  • Fraktur spiral: fraktur pada setidaknya satu bagian tulang yang terpilin
  • Fraktur stres: tulang patah karena tekanan dan beban berulang (biasanya dialami oleh atlet)
Baca jawaban dokter: Bagaimana proses penyembuhan patah tulang? 
Perawatan dan penanganan patah tulang tergantung pada lokasi dan tipe patah tulang yang terjadi. Berikut ini perawatan yang bisa dijalani oleh penderita patah tulang, berdasarkan kronologinya.

1. Pertolongan pertama

Pertolongan pertama yang dapat Anda lakukan untuk membantu seseorang yang mengalami patah tulang adalah mencoba untuk menjaga posisi tulang tetap stabil dengan tidak memindahkan pasien, kecuali bila diperlukan agar tidak terjadi cedera lebih lanjut.Hal ini diperlukan hingga Anda mendapatkan pertolongan tim medis. Beberapa tindakan yang dapat Anda lakukan untuk menjaga tulang yang patah tetap aman dan stabil, yaitu:
  • Menghentikan perdarahan

    Jika terjadi perdarahan, berikan tekanan pada daerah luka dengan menggunakan perban steril, kain yang bersih, atau sepotong kain dari pakaian bersih.
  • Tidak menggerakkan daerah yang terluka

    Jika Anda mencurigai adanya patah tulang pada daerah leher ataupun bagian punggung, bantu orang tersebut untuk tetap diam sebisa mungkin. Jangan mencoba untuk menyelaraskan kembali tulang yang patah atau mendorong kembali tulang yang mencuat keluar.
  • Mengompres menggunakan es

    Langkah ini diperlukan untuk mengurangi pembengkakan dan mengurangi rasa sakit. Jangan menempelkan es langsung ke kulit, tetapi bungkus es dengan handuk kecil atau kain.
  • Mengatasi syok

    Jika orang tersebut merasa akan pingsan atau bernapas pendek dan cepat, segera baringkan ia dengan posisi kepala sedikit lebih rendah dari batang tubuh. Apabila memungkinkan, tinggikan posisi kaki. Lalu, selimuti orang tersebut dengan selimut atau pakaian untuk menjaga suhu tubuh tetap hangat.

2. Tindakan medis

Saat tiba di rumah sakit, dokter akan melakukan pemeriksaan dengan X-ray (rontgen) untuk menentukan jenis patah tulang yang dialami. Biasanya, dokter akan mencoba mengembalikan potongan tulang yang patah ke posisi semula dan menstabilkannya saat proses penyembuhan berjalan.Sangat penting untuk menjaga potongan tulang-tulang yang patah agar tidak bergerak sampai tersambung dengan baik. Selama proses penyembuhan, kallus atau tulang baru akan terbentuk pada ujung-ujung tulang yang patah.Apabila tulang-tulang yang patah tersebut berada pada posisi yang benar dan stabil, maka tulang yang baru pada akhirnya akan menyambungkan kembali tulang-tulang yang patah tersebut.
Beberapa tindakan medis yang biasanya dilakukan dokter untuk memperbaiki posisi tulang yang patah adalah:
  • Pemasangan gips

    Dokter dapat menggunakan gips untuk menstabilkan tulang yang patah. Gips tersebut dapat terbuat dari plester dan fiberglass. Alat ini akan membantu menstabilkan area yang cedera dan mencegah potongan tulang yang patah untuk bergerak ketika sedang dalam masa penyembuhan.
  • Traksi ortopedi

    Pada kasus yang jarang, dokter mungkin akan menggunakan alat traksi yang terdiri dari katrol, senar, pemberat, dan rangka logam di atas tempat tidur. Tujuan dari traksi adalah untuk meregangkan otot dan tendon di sekitar tulang yang patah agar tulang dapar sejajar dan stabil kembali.
  • Pembedahan

    Patah tulang yang kompleks atau compound fractures, mungkin akan memerlukan pembedahan. Dokter bisa menggunakan metode reduksi terbuka (open reduction) dan fiksasi internal (internal fixation) atau fiksasi eksternal (external fixation) untuk menjaga tulang tetap pada tempatnya dan tidak bergerak.
Di samping itu, dokter akan menstabilkan kembali kondisi pasien yang mungkin saja mengalami pendarahan akibat patah tulang. Dokter juga akan meresepkan obat-obatan untuk mengontrol rasa sakit, menghilangkan infeksi, dan meredakan gejala atau komplikasi lainnya.

3. Terapi pendukung

Setelah tahap pengobatan awal, dokter akan menyarankan terapi pendukung untukmembantu tulang agar dapat digunakan dengan normal kembali, yaitu berupa fisioterapi dan pengaturan pola makan.
  • Fisioterapi

    Fisioterapi adalah prosedur medis yang bertujuan untuk mengembalikan kemampuan gerak dan fungsi tubuh.
  • Pengaturan pola makan

    Untuk penyembuhan patah tulang, pasien disarankan untuk menjalanidiet yang kaya akan protein, kalsium, kalium, kolagen, zat besi dan berbagai vitamin. 
Baca juga: Mengenal Makanan untuk Patah Tulang Selain Obat Medis 

Komplikasi

Patah tulang dapat menimbulkan komplikasi berupa kondisi berikut ini.

1. Malunion

Malunion adalah suatu kondisi ketika tulang yang patah berhasil disembuhkan dengan menyatukannya, tapi dalam posisi salah atau bergeser (tulang menjadi bengkok).

2. Emboli

Patah tulang dapat menyebabkan gelembung udara atau gas lainnya masuk ke dalam aliran darah. Kondisi ini dapat memicu emboli, yakni penyumbatan pada arteri akibat gelembung udara (embolus).

3. Osteomielitis

Osteomielitis adalah infeksi pada tulang. Patah tulang terbuka dapat menyebabkan bakteri masuk ke dalam area patah tulang.

4. Avaskular nekrosis

Avaskular nekrosis adalah kematian jaringan tulang karena kekurangan suplai darah.

5. Kehilangan fungsi tulang

Kondisi ini menyebabkan tulang tidak dapat digunakan seperti seharusnya. 
Langkah utama dalam pencegahan patah tulang adalah dengan menjaga kesehatan tulang, dengan cara:

1. Mengonsumsi makanan bernutrisi

Untuk menjaga kesehatan tulang, dibutuhkan pasokan kalsium yang cukup. Contohnya dari makanan seperti susu, keju, yogurt, sayuran berdaun hijau.

2. Mendapatkan asupan vitamin D yang cukup

Selain, makanan sarat kalsium, vitamin D juga dapat menjaga kesehatan tulang. Vitamin D bisa diperoleh dari makanan seperti telur dan ikan, suplemen maupun sinar matahari.

3. Berolahraga secara teratur

Pilih olahraga yang dapat melatih tubuh dalam menahan beban seperti berjalan, hiking, jogging, berlari, menaiki tangga, latihan beban, dan menari. Aktivitas fisik semacam ini ini sangat membantu untuk membangun dan mempertahankan kekuatan tulang.Selain itu, beberapa langkah antisipasi berikut ini, dapat memperkecil peluang terjadinya patah tulang:
  • Memasang pengamanan ekstra dengan enggunakan alat pelindung saat berolahraga
  • Memasang alat pengaman di dalam rumah, terutama jika memiliki anak kecil, seperti memasang pagar pembatas pada tangga
  • Mengajari anak untuk menjaga diri sendiri
  • Mengawasi anak dengan baik
  • Menghindari penggunaan kursi atau benda yang tidak stabil sebagai penopang untuk berdiri
  • Menggunakan pegangan tangga saat sedang menaiki atau menuruni tangga
Segera kunjungi unit gawat darurat apabila Anda melihat seseorang mengalami kondisi berikut ini.
  • Tidak sadarkan diri atau pingsan
  • Seperti patah pada tulang kepala, leher, punggung, panggul, atau tulang paha
  • Perdarahan parah
  • Pucat, terasa dingin, lembap, atau biru
  • Tulang mencuat keluar dari kulit
Selain itu, apabila Anda mempunyai anak atau kerabat yang tidak dapat menggerakkan anggota badannya dengan normal, dan dapat melihat adanya deformitas, terutama setelah terjadinya kecelakaan, segera cari bantuan medis.   
Sebelum menemui dokter dokter, Anda dapat melakukan beberapa hal di bawah ini, apabila memungkinkan.
  • Buat daftar seputar gejala yang dirasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin pasien ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
   
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini.
  • Apa saja gejala yang dirasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terhadap patah tulang?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis patah tulang agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Radiology. https://www.radiologyinfo.org/en/info.cfm?pg=bone-scan
Diakses pada Desember 2018
Medlineplus. https://medlineplus.gov/ency/article/000001.htm
Diakses pada Desember 2018
Healthline. https://www.healthline.com/symptom/fractures
Diakses pada Desember 2018
WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/do-i-have-a-broken-rib#1
Diakses pada Desember 2018
Stanford Healthcare. https://stanfordhealthcare.org/medical-conditions/bones-joints-and-muscles/fracture/treatments.html
Diakses pada 20 Oktober 2020
Patientinfo. https://patient.info/doctor/complications-from-fractures#
Diakses pada 20 Oktober 2020
Webmd. https://www.webmd.com/osteoporosis/osteo-fracture-diet#1
Diakses pada 20 Oktober 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/173312#Complications
Diakses pada 20 Oktober 2020
MedlinePlus. https://medlineplus.gov/fractures.html
Diakses pada 20 Oktober 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4464690/
Diakses pada 20 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email