Parenting stress biasanya terkait dengan tantangan yang dihadapi sebagai orangtua dalam membesarkan anak
Parenting stress biasanya terkait dengan tantangan yang dihadapi sebagai orangtua dalam membesarkan anak

Parenting stress berhubungan dengan kesulitan seseorang melakukan tugas sebagai orangtua. Kondisi ini dapat dialami semua kalangan, tidak peduli tingkat ekonomi dan sosialnya.

Menjadi orangtua pertama kali adalah hal yang menantang. Wajar bila orangtua baru seringkali merasa cemas dan stres tentang banyak hal menyangkut anak mereka.

Aktivitas sehari-hari orangtua seperti memberi makan anak, memandikan, dan mengantar anak dapat menyebabkan orangtua merasa kelelahan, frustasi, kebingungan, bahkan ketika anak-anak mereka tenang dan tidak nakal.  

Tingkat stres akan semakin tinggi pada orangtua dengan anak-anak berkebutuhan khusus seperti autisme, keterlambatan perekembangan, penyakit kronis tertentu, dan gangguan perasaan atau tingkah laku tertentu.

Parenting stress tidak hanya berdampak pada orangtua saja, namun juga kepada anak-anak. Pada sebuah penelitian diketahui bahwa parenting stress berhubungan dengan masalah perilaku pada anak-anak mereka di sekolah.

Gangguan perilaku pada anak yang dimaksud adalah kesulitan memusatkan perhatian, sering tidak taat peraturan, dan sering takut dengan orang baru atau tempat baru.

Orangtua yang mengalami parenting stress seringkali merasakan stres dan cemas tentang hal-hal berikut:

  • Apakah anak saya berkembang seperti anak lain pada umumnya?
  • Apakah anak saya aman dan nyaman bila dititipkan di tempat penitipan anak?
  • Apakah anak saya punya cukup teman di lingkungan baru, misalnya di sekolah?
  • Apakah anak saya terpapar banyak zat kimiawi dan zat beracun di lingkungan mereka?
  • Apakah anak saya punya prestasi yang bagus di sekolah?
  • Apakah anak saya bugar dan fit?
  • Apakah anak saya terlalu banyak makan makanan tidak sehat?
  • Apakah anak saya di-bully di sekolah?

Dengan banyaknya informasi di internet mengenai vaksinasi, orangtua juga seringkali bimbang apakah sebaiknya anak perlu divaksin.

Memang wajar bila orangtua sesekali mengkhawatirkan hal-hal di atas. Namun menjadi tidak wajar atau disebut mengalami parenting stress bila orangtua khawatir berlebihan dan kekhawatiran itu terus ada dan sulit dihilangkan.

Tidak hanya faktor anak saja, faktor ekonomi keluarga juga dapat menyebabkan orangtua menjadi stres karena khawatir apakah ekonomi mereka cukup untuk masa depan anak-anak.

Parenting stress dapat terjadi pada semua orangtua, namun akan lebih berat pada orangtua yang memiliki beberapa faktor resiko berikut:

1. Anak-anak dengan gangguan perilaku dan mood

Penelitian menunjukkan bahwa orangtua akan lebih stres dibandingkan orangtua lain bila anak-anak mereka mengalami gangguan perilaku dan mood.

Gangguan perilaku dan mood yang dimaksud antara lain:

  • ADHD (Attention-Deficit/Hyperactive Disorder) atau gangguan pemusatan perhatian dan anak yang hiperaktif.
  • Perilaku mengacau atau conduct disorder. Cirinya anak sering mengancam, melakukan kekerasan fisik pada orang lain atau binatang, dll.
  • Oppositional disorder, yang dicirikan dengan anak yang sering membangkang dan marah-marah

2. Anak-anak dengan penyakit kronis

Penelitian juga menunjukkan keterkaitan terjadinya parenting stress dengan kesehatan anak. Anak yang mengalami penyakit kronis yang lama dapat menyebabkan parenting stress.

3. Anak-anak dengan autisme dan keterlambatan perkembangan

Tingkat parenting stress pada orangtua yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus seperti autisme dan keterlambatan perkembangan lebih tinggi dibandingkan orangtua dengan anak tanpa kebutuhan khusus.

Hal ini terutama berdampak pada ibu. Para ibu yang memiliki anak dengan autisme menghadapi tantangan berat karena keterbatasan anaknya berinteraksi sosial. Hal ini menjadi beban berat bagi ibu secara emosional.

Ditambah lagi, anak-anak dengan autisme biasanya melakukan tindakan yang dianggap aneh berulang-ulang.

Hal ini membuat ibu seringkali kesulitan ketika menghabiskan waktu bersama di lingkungan luar, apalagi bila orang lain menginterpretasi perilaku anaknya secara salah.

4. Faktor demografik yang berhubungan dengan parenting stress

Orangtua lebih rentan mengalami stres karena faktor demografik tertentu seperti jenis kelamin anak, usia anak, dan ras.

Orangtua akan lebih rentan mengalami stres bila menghadapi anak laki-laki karena anak laki-laki cenderung lebih aktif dan lebih agresif dibandingkan perempuan.

Selain itu parenting stress akan lebih rentan terjadi bila usia anak-anak lebih muda. Semakin bertambah usia anak, parenting stress biasanya cenderung berkurang .

Faktor demografik lain adalah ras. Orangtua yang berasal dari ras minoritas lebih cenderung mengalami parenting stress dibandingkan yang berasal dari ras mayoritas.

Bila Anda merasa mengalami parenting stress, Anda dapat melakukan hal berikut untuk mengurangi kecemasan dan stres Anda:

  1. Lebih sering berkomunikasi dan mengutarakan kecemasan Anda kepada pasangan Anda
  2. Berdiskusi dengan orangtua lain (teman atau keluarga) mengenai masalah yang mereka hadapi sehari-hari sebagai orangtua. Hal ini membantu Anda memahami bahwa masalah ini tidak Anda hadapi sendiri.
  3. Rawat diri Anda dengan makan makanan bernutrisi, tidur cukup dan berkualitas, serta berolahraga.
  4. Kurangi pemicu stres dan pikiran negatif, seperti berita-berita negatif atau orang-orang yang sering menuduh dan berkata-kata kasar. Hal ini dapat mengurangi tingkat stres yang tidak perlu.
  5. Menghabiskan waktu di lingkungan luar yang alami dapat mengurangi rasa tertekan, kemarahan, kebingungan, dan depresi. Anda bisa juga mencoba olahraga aerobik untuk meningkatkan mood dan meredakan kecemasan.

 

Pertimbangkan berkonsultasi ke dokter psikiatri atau psikolog bila stres dan kecemasan yang Anda hadapi terus menetap dan terasa berat sampai Anda mengalami kesulitan beraktivitas sehari-hari dan sulit tidur.

Anda dapat langsung mendatangi dokter psikiatri atau ahli psikolog ketika Anda sering khawatir dan stres berlebih yang tidak Anda tanggulangi sendiri ketika menjalankan tugas sebagai orangtua.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala stress dan kecemasan yang Anda rasakan
  • Catat kondisi-kondisi yang mungkin dapat memicu stress Anda
  • Catat apa saja dampak parenting stress terhadap aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup Anda serta terhadap anak Anda
  • Catat apa saja yang sudah Anda lakukan untuk mengurangi stress dan kecemasan
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.

Saat pemeriksaan, dokter akan melakukan wawancara dengan terperinci dan menyeluruh untuk mengetahui akar masalah Anda dan kemudian menentukan perencanaan tindakan selanjutnya.

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2575655/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2965631/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5725271/
Diakses 8 Juni 2019

Very Well Mind. https://www.verywellmind.com/parenting-anxiety-2634007
https://www.verywellmind.com/signs-of-conduct-disorder-in-children-4127239
Diakses 8 Juni 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/oppositional-defiant-disorder/symptoms-causes/syc-20375831
Diakses 8 Juni 2019

Parenting. https://www.parentingscience.com/parenting-stress-evidence-based-tips.html
Diakses 8 Juni 2019

Artikel Terkait