Psikologi

Parenting Stress

24 Mar 2021 | Lenny TanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Parenting Stress
Parenting stress biasa terkait dengan tantangan orangtua dalam membesarkan anak
Parenting stress adalah tekanan yang berhubungan dengan kesulitan seseorang dalam melakukan tugas sebagai orangtua. Kondisi ini dapat dialami semua kalangan, tidak peduli tingkat ekonomi dan sosialnya.Pertama kali menjadi orangtua adalah hal yang menantang. Wajar bila orangtua baru sering merasa cemas dan stres tentang banyak hal, menyangkut anak mereka. Aktivitas sehari-hari orangtua seperti memberi makan, memandikan, dan mengantar anak dapat menyebabkan orangtua merasa kelelahan, frustasi, serta kebingungan, bahkan ketika sang anak tenang maupun tidak nakal.  Tingkat stres akan makin tinggi pada orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Misalnya, autisme, keterlambatan perkembangan, penyakit kronis, serta gangguan mental atau tingkah laku tertentu.Parenting stress tidak hanya berdampak pada orangtua, namun juga pada anak-anak. Diketahui pula bahwa stres jenis inibisa berkaitan dengan masalah perilaku pada anak-anak ketika bersekolah. Gangguan perilaku pada anak yang dimaksud adalah kesulitan memusatkan perhatian, sering tidak taat peraturan, maupun sering takut dengan orang baru atau tempat baru. 
Parenting Stress
Dokter spesialis Jiwa, Psikolog
GejalaKhawatir secara berlebihan, terus-menerus, dan sulit hilang
Faktor risikoMemiliki anak dengan kondisi medis tertentu
Metode diagnosisWawancara dengan dokter jiwa atau psikolog
PengobatanPenanganan mandiri dan psikoterapi
KomplikasiKurang peka, abai, otoriter
Kapan harus ke dokter?Terus mengalami stres dan kecemasan, sulit tidur
Orangtua yang mengalami parenting stress seringkali merasakan stres dan cemas tentang hal-hal berikut:
  • Apakah anak saya berkembang seperti anak lain pada umumnya?
  • Apakah anak saya aman dan nyaman bila dititipkan di tempat penitipan anak?
  • Apakah anak saya punya cukup teman di lingkungan baru, misalnya di sekolah?
  • Apakah anak saya terpapar banyak zat kimiawi dan zat beracun di lingkungan mereka?
  • Apakah anak saya punya prestasi yang bagus di sekolah?
  • Apakah anak saya bugar dan fit?
  • Apakah anak saya terlalu banyak makan makanan tidak sehat?
  • Apakah anak saya di-bully di sekolah?
Dengan banyaknya informasi di internet mengenai vaksinasi, orangtua juga seringkali bimbang apakah sebaiknya anak perlu divaksin. Memang wajar bila orangtua sesekali mengkhawatirkan hal-hal di atas. Namun menjadi tidak wajar atau disebut mengalami gejala parenting stress yang berupa khawatir berlebihan, terus-menerus, dan sulit dihilangkan. Tidak hanya faktor anak saja, faktor ekonomi keluarga juga dapat menyebabkan orangtua menjadi stres karena khawatir apakah ekonomi mereka cukup untuk masa depan anak-anak. 
Parenting stress dapat terjadi pada semua orangtua. Namun kondisi ini akan lebih berat pada orangtua dengan keadaan tertentu. Faktor risiko faktor risiko parenting stress ini meliputi:

1. Anak mengalami gangguan perilaku dan mood

Penelitian menunjukkan bahwa orangtua akan lebih stres dibandingkan orangtua lain bila anak-anak mereka mengalami gangguan perilaku dan mood. Gangguan perilaku dan mood yang dimaksud antara lain:
  • ADHD (Attention-Deficit/Hyperactive Disorder) atau gangguan pemusatan perhatian dan anak yang hiperaktif.
  • Perilaku mengacau atau conduct disorder. Cirinya anak sering mengancam, melakukan kekerasan fisik pada orang lain atau binatang, dan sebagainya.
  • Oppositional disorder, yang dicirikan dengan anak yang sering membangkang dan marah-marah

2. Anak mengalami penyakit kronis

Parenting stress juga berkaitan dengan kesehatan anak. Anak yang mengalami penyakit kronis dapat menyebabkan kondisi ini pada orangtua.

3. Anak mengalami autisme dan keterlambatan perkembangan

Tingkat parenting stress pada orangtua dengan anak berkebutuhan khusus, seperti autisme dan keterlambatan perkembangan, lebih tinggi daripada orangtua dengan anak normal. Khusunya pada para ibu.Para ibu dengan anak autis menghadapi tantangan berat karena keterbatasan anaknya berinteraksi sosial. Hal ini menjadi beban berat bagi ibu secara emosional. Ditambah lagi, anak-anak dengan autisme biasanya melakukan tindakan yang dianggap aneh berulang-ulang. Hal ini membuat ibu kerap kesulitan saat menghabiskan waktu bersama di lingkungan luar, apalagi bila orang lain menginterpretasi perilaku anaknya secara salah.

4. Faktor demografik

Orangtua lebih rentan mengalami stres karena faktor demografik tertentu, seperti jenis kelamin dan usia anak, serta ras. Orangtua akan lebih rentan mengalami stres bila menghadapi anak laki-laki. Pasalnya, anak laki-laki cenderung lebih aktif dan lebih agresif dibandingkan anak perempuan. Parenting stress juga lebih rentan terjadi pada orangtua dengan anak yang masih kecil. Seriring bertambahnya usia Si Kecil, tekanan ini biasanya makin berkurang.Faktor demografik lain adalah ras. Orangtua dari ras minoritas lebih cenderung mengalami parenting stress dibandingkan yang berasal dari ras mayoritas. 
Parenting stress termasuk kondisi yang suit untuk dideteksi. Perlu pemeriksaan secara saksama dengan dokter maupun psikolog.Sebagai contoh, dokter atau psikolog akan mengajukan sederet pertanyaan yang berhubungan dengan situasi di rumah serta anak-anak pasien. Bila kondisi parenting stress dinilai sudah mengganggu, penanganan bisa saja diberikan. 
Bila merasa mengalami parenting stress, Anda dapat melakukan hal berikut untuk mengurangi tingkat kecemasan dan stres yang mendera:
  • Berkomunikasi

Lebih sering berkomunikasi dan mengutarakan kecemasan Anda pada pasangan Anda.
  • Berdiskusi

Anda bisa berdiskusi dengan orangtua lain (teman atau keluarga) mengenai masalah yang dihadapi sehari-hari sebagai orangtua. Langkah ini akan membantu Anda dalam memahami bahwa masalah ini tidak Anda hadapi sendiri.
  • Merawat diri

Rawat diri Anda dengan mengonsumsi makanan bernutrisi seimbang, tidur yang cukup dan berkualitas, serta berolahraga.
  • Menjauhi pemicu stres

Kurangi pemicu stres dan pikiran negatif, seperti berita-berita negatif atau orang-orang yang sering menuduh dan berkata-kata kasar. Hal ini dapat mengurangi tingkat stres yang tidak perlu.
  • Menghibur diri

Bila memungkinkan, Anda bisa menghabiskan waktu di lingkungan luar yang dapat mengurangi rasa tertekan, kemarahan, kebingungan, serta depresi. Anda bisa juga mencoba olahraga aerobik untuk meningkatkan mood dan meredakan kecemasan. Bila merasa tekanan stres terus berlangsung meski sudah melakukan penanganan diri tersebut, ada baiknya Anda memeriksakan diri ke dokter. Dengan ini, kondisi Anda bisa didiagnosis dengan lebih akurat dan menerima penanganan yang sesuai.Dokter atau psikolog mungkin bisa menganjurkan Anda untuk menjalani psikoterapi apabila dirasa perlu. 

Komplikasi parenting stress

Menurut sebuah penelitian, bila terus dibiarkan, parenting stress bisa saja membuat orangtua menjadi kurang peka terhadap kebutuhan sang anak hingga berujung pada sikap abai. Orangtua juga bisa menjadi lebih otoriter dalam mendidik anak.Sikap-sikap negatif tersebut tentu akan berdampak buruk pada perkembangan Si Kecil. Anak mungkin saja tumbuh menjadi pribadi pembangkang, bahkan tertarik untuk melarikan diri pada alkohol maupun obat-obatan terlarang hingga menyebabkan ketergantungan.Meski begitu, hubungan antara pola asuh yang bermasalah (misalnya karena parenting stress) dengan perilaku buruk anak memerlukan riset lebih jauh. 
Guna mengurangi tingkat stres, orangtua bisa mencoba cara mencegah parenting stress di bawah ini:
  • Bercerita dengan pasangan, keluarga, maupun teman
  • Jangan ragu atau malu untuk meminta bantuan dari pasangan dan keluarga bila Anda membutuhkannya
  • Meluangkan beberapa waktu untuk menyendiri dan melakukan hobi
  • Menerapkan teknik relaksasi, seperti yoga dan meditasi
  • Saling bercerita dengan sesama teman yang juga telah memiliki anak agar bisa berbagi cerita
 
Pertimbangkan berkonsultasi ke dokter atau psikolog bila stres dan kecemasan yang Anda hadapi terus menetap dan terasa berat sampai Anda mengalami kesulitan beraktivitas sehari-hari dan sulit tidur. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala stress dan kecemasan yang Anda rasakan.
  • Catat kondisi-kondisi yang mungkin dapat memicu stress Anda.
  • Catat apa saja dampak parenting stress terhadap aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup Anda serta terhadap anak Anda.
  • Catat apa saja yang sudah Anda lakukan untuk mengurangi stress dan kecemasan.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait parenting stress?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis parenting stress agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/parenting-anxiety-2634007
https://www.verywellmind.com/signs-of-conduct-disorder-in-children-4127239
Diakses pada 8 Juni 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/oppositional-defiant-disorder/symptoms-causes/syc-20375831
Diakses pada 8 Juni 2019
Parenting Science. https://www.parentingscience.com/parenting-stress-evidence-based-tips.html
Diakses pada 8 Juni 2019
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2575655/
Diakses pada 8 Juni 2019
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2965631/
Diakses pada 8 Juni 2019
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5725271/
Diakses pada 8 Juni 2019
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4861150/
Diakses pada 24 Maret 2021
Cleveland Clinic. https://health.clevelandclinic.org/ready-snap-tips-for-stressed-out-parents/
Diakses pada 24 Maret 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email