Infeksi

Paratifus

14 Sep 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Paratifus
Gejala penyakit tipes dan paratifus mirip, seperti malaise, demam tinggi, dan turun nafsu makan.
Paratifus adalah penyakit infeksi akibat infeksi bakteri Salmonella paratyphi yang menyerang usus. Penyakit ini disebut juga dengan paratifoid.Penyakit ini sering tertukar dengan tipes, sebab gejalanya mirip. Paratifus dan tipes umumnya juga memiliki proses infeksi yang sama. Namun, keduanya adalah dua penyakit yang berbeda.Perbedaan paratifus dan tipes (demam enterik) terletak pada bakteri penyebabnya. Tipes disebabkan oleh Salmonella typhi, sementara paratifoid disebabkan oleh Salmonella paratyphi. Selain itu, gejala paratifus lebih ringan dan durasi sakitnya lebih pendek daripada penyakit tipes.Paratifus dapat menyerang siapapun dari berbagai kalangan usia. Biasanya, seseorang lebih berisiko terinfeksi bakteri Salmonella di negara-negara berkembang, khususnya di tempat-tempat yang sanitasinya buruk.Menurut data yang dihimpun oleh Journal of Nutrition and Health, Diperkirakan 17 juta kasus penyakit demam tifoid dan paratifoid terjadi secara global.
Paratifus
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaDemam tinggi berkelanjutan, nafsu makan turun, rasa tidak enak badan, lidah berubah warna
Faktor risikoBepergian ke tempat-tempat dengan kebersihan yang buruk
Metode diagnosisPenumbuhan kultur dari darah atau sumsum tulang, tes PCR, tes serologi
PengobatanBanyak minum air, pemberian antibiotik
ObatCiprofloxacin, azithromycin, sefalosporin
Kapan harus ke dokter?Saat merasakan gejala
Biasanya, bakteri penyebab paratifus memiliki masa inkubasi selama 1-3 minggu sebelum menimbulkan gejala. Masa inkubasi ini terjadi lebih cepat apabila demam paratifus menyerang anak-anak.Gejala paratifus akan muncul secara bertahap pada orang dewasa, akan tetapi gejala-gejala tersebut dapat muncul secara tiba-tiba pada anak-anak.Gejala dan ciri yang sering ditemukan pada penderita paratifus adalah:
  • Demam tinggi yang berkelanjutan. Hal ini biasanya disebabkan akibat tubuh tidak merespons pemberian obat-obatan penurun panas.
  • Penurunan nafsu makan.
  • Rasa tidak enak badan (malaise).
  • Pembengkakan limpa yang dapat menyebabkan ketidak-nyamanan pada area perut.
  • Munculnya ruam berwarna kemerahan pada area tubuh (rose-colored spots). Ruam ini biasanya ditemukan pada area dada pada minggu pertama saat terkena penyakit paratifus.
  • Lidah berubah warna menjadi kekuningan atau keabuan dengan bagian ujung berwarna merah, hal ini dikenal dengan istilah typhoid tongue.
  • Sakit kepala.
  • Batuk kering pada masa awal terkena penyakit paratifus.
  • Sulit buang air besar ataupun diare. Akan tetapi, pada penderita dewasa, konstipasi lebih sering ditemukan.
  • Rasa nyeri pada area perut.
  • Berat badan yang berkurang.
  • Rasa lelah.
  • Apabila tidak ditangani dengan baik, penyakit paratifus dapat menyebabkan luka maupun pendarahan pada area pencernaan.
Baca juga: Sekilas Mirip, Ini Perbedaan Gejala Tipes, DBD, dan Campak
Penyebab paratifus adalah bakteri S. paratyphi (paratifus A), S. schottmuller (paratifus B), serta S. hirschfeld ii (paratifus C). Bakteri-bakteri ini biasa ditemukan dan mudah menyebar di tempat yang sanitasi lingkungannya kurang bersih.Rute penyebaran bakteri terjadi lewat feses ke mulut. Seseorang dapat terjangkit paratifoid ketika mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi feses dan urin dari penderita. Penularan juga dapat terjadi melalui orang-orang yang berpotensi menjadi pembawa (carrier) dari bakteri penyebab paratifus.

Faktor risiko

Terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena paratifus, antara lain:
  • Kebersihan yang tidak terjaga, misalnya tinggal di wilayah kumuh.
  • Bekerja atau bepergian ke negara yang dilanda wabah tipes.
  • Memiliki profesi sebagai tenaga medis, khususnya orang yang langsung berhubungan dengan bakteri Salmonella paratyphi.
  • Kontak dengan penderita, contohnya orang yang tinggal serumah atau petugas medis di rumah sakit.
  • Tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang buruk.
  • Anak-anak.
  • Memiliki riwayat menggunakan obat untuk lambung atau obat-obat imunosupresan.
  • Mengidap gangguan saluran pencernaan atau memiliki kondisi yang menyebabkan tingkat kekebalan tubuh menurun, seperti HIV/AIDS.
Baca jawaban dokter: Apa perbedaan hygiene dan sanitasi?
Tidak ada metode pemeriksaan yang tetap untuk mengidentifikasi serta membedakan penyakit paratifus dan tipes. Oleh karena itu,seringkali diagnosis hanya dilakukan dengan melihat tanda-tanda maupun gejala yang muncul pada penderita.Guna membantu memastikan diagnosis demam paratifus, terdapat beberapa pemeriksaan pendukung yang dapat dilakukan, yaitu:
  • Penumbuhan (kultur) bakteri yang diambil dari darah ataupun sumsum tulang penderita pada masa awal terkena penyakit paratifus. Bakteri tersebut juga dapat ditemukan pada feses maupun urine penderita paratifus pada tahap yang sudah lanjut.
  • Pemeriksaan PCR (polymerase chain reaction), yang dilakukan di laboratorium.
  • Tes serologi, yaitu pemeriksaan untuk mengukur kadar antibodi seseorang, dan dapat mengetahui apakah zat asing (seperti bakteri Salmonella) telah masuk ke dalam tubuh.
  • SPR, pemeriksaan menggunakan teknologi biosensor terhadap sampel dari tubuh penderita. Teknologi ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi apakah dalam sampel tersebut terdapat bakteri penyebab paratifus.
Beberapa penananganan paratifus yang dapat dilakukan meliputi:
  • Mengonsumsi banyak cairan seperti air mineral (air putih) untuk mencegah dehidrasi yang berbahaya bagi tubuh, terutama pada bayi serta penderita usia lanjut.
  • Mengonsumsi obat-obatan antibiotik yang diresepkan dokter. Antibiotik bekerja membunuh bakteri dan mengurangi gejala yang dirasakan. Dengan pengobatan antibiotik yang tepat, penyakit paratifus dapat sembuh dalam 10-14 hari. Antibiotik yang biasanya digunakan untuk mengobati penyakit paratifus antara lain antibiotik golongan fluoroquinolone (misalnya ciprofloxacin), azithromycin, dan antibiotik golongan sefalosporin (misalnya ceftriaxone).

Komplikasi

Jika tidak ditangani dengan baik, paratifus dapat menyebabkan sejumlah komplikasi berupa:
  • Perdarahan usus yang ditandai dengan penurunan tekanan darah secara tiba-tiba, dan darah dalam tinja
  • Perforasi usus atau terbentuk lubang di usus yang memungkinkan isi usus dan darah bocor hingga ke rongga perut
  • Meningitis, yakni peradangan yang terjadi di selaput yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang
  • Peradangan di organ lain seperti pada jantung atau pankreas
  • Infeksi lain seperti infeksi paru-paru (pneumonia), ginjal, kandung kemih atau tulang belakang.
Tidak seperti penyakit tifus, belum ditemukan imunisasi tertentu yang dapat mencegah terjadinya penyakit paratifus.Oleh karena itu, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan guna mencegah terkena penyakit paratifus, antara lain:
  • Selalu cuci tangan setelah menggunakan toilet serta sebelum dan sesudah makan.
  • Menjaga kebersihan diri sendiri dengan cara menjaga tangan tetap bersih, serta menggunting dan menjaga kebersihan kuku secara rutin.
  • Berhati-hati dalam mengonsumsi makanan atau minuman, pastikan kebersihannya sebelum dikonsumsi.
  • Jika tinggal di lingkungan yang rawan terjadi demam paratifus atau tifus, sebaiknya hanya konsumsi makanan yang dimasak, direbus, maupun yang telah dikupas.
  • Hindari mengonsumsi makanan-makanan mentah; misalnya seperti daging maupun seafood mentah dan produk susu yang tidak dipasteurisasi.
  • Hindari membeli makanan di tempat dengan kebersihan lingkungan yang kurang baik.
  • Mencuci buah dan sayur sebelum dikonsumsi dengan menggunakan air mengalir yang bersih, serta hindari mengonsumsi buah-buahan yang kulitnya rusak.
  • Mengonsumsi air yang sudah dimasak sampai mendidih atau air minum kemasan.
  • Menjaga dapur, alat masak, maupun alat makan tetap dalam keadaan bersih.
  • Menggunakan peralatan yang terpisah (misalnya pisau dan talenan) untuk makanan-makanan mentah yang akan dimasak dengan makanan-makanan yang siap untuk dikonsumsi.
  • Tidak berbagi makanan dan minuman serta peralatan makan dan minum dengan penderita paratifus.
Baca juga: 9 Waktu Paling Penting untuk Cuci Tangan Pakai Sabun
Tanpa pengobatan atau perawatan yang baik, penyakit paratifus dapat membahayakan nyawa Anda. Oleh karena itu, sebaiknya Anda segera berkonsultasi dengan dokter apabila Anda mulai merasakan gejala-gejala yang mengarah pada penyakit paratifus.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait paratifus?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis paratifus agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Britannica. https://www.britannica.com/science/paratyphoid-fever
Diakses pada 8 Februari 2019
Healthwa. https://healthywa.wa.gov.au/Articles/S_T/Typhoid-and-paratyphoid-fever
Diakses pada 8 Februari 2019
kflaph. https://www.kflaph.ca/en/partners-and-professionals/Paratyphoid-Fever.aspx
Diakses pada 8 Februari 2019
Cochranelibrary. https://www.cochranelibrary.com/cdsr/doi/10.1002/14651858.CD010452/full
Diakses pada 8 Februari 2019
Health.gov. http://www.health.gov.on.ca/en/pro/programs/publichealth/oph_standards/docs/paratyphoid_fever_chapter.pdf
Diakses pada 8 Februari 2019
Centers for Disease Control and Prevention. https://wwwnc.cdc.gov/travel/yellowbook/2018/infectious-diseases-related-to-travel/typhoid-paratyphoid-fever
Diakses pada 8 Februari 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/septicemia
Diakses pada 8 Februari 2019
Travelhealthpro. https://travelhealthpro.org.uk/factsheet/49/typhoid-and-paratyphoid
Diakses pada 8 Februari 2019
Amboss. https://www.amboss.com/us/knowledge/Typhoid_fever%2C_Paratyphoid_fever
Diakses pada 8 Februari 2019
Healthdirect. https://www.healthdirect.gov.au/typhoid-and-paratyphoid
Diakses pada 8 Februari 2019
Emedicine. https://emedicine.medscape.com/article/231135-overview#a5
Diakses pada 8 Februari 2019
DHS.wisconsin. https://www.dhs.wisconsin.gov/publications/p0/p00119.pdf
Diakses pada 8 Februari 2019
CHP. https://www.chp.gov.hk/en/healthtopics/content/24/48.html
Diakses pada 8 Februari 2019
Prehamukti, A. A. (2018). Faktor lingkungan dan perilaku terhadap kejadian demam tifoid. HIGEIA Journal of Public Health Research and Development, 2(4).
Diakses tanggal 26 Agustus 2021 pada laman: https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/higeia/article/download/24275/11804
Science Direct. https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/paratyphoid-fever
Diakses pada 26 Agustus 2021
National Center for Biotechnology Information. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7400347/
Diakses pada 26 Agustus 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email