Penyakit Lainnya

Otosclerosis

30 Dec 2020 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Otosclerosis
Otosclerosis terjadi karena pertumbuhan tulang pendengaran yang abnormal
Otosclerosis adalah gangguan pendengaran yang disebabkan oleh pertumbuhan tulang abnormal di dalam telinga. Kondisi ini merupakan penyebab paling sering dari gangguan pendengaran pada kalangan dewasa muda.Tulang pendengaran terletak di telinga bagian tengah dan terdiri dari tiga tulang, yakni stapesmalleus, dan incus. Suara yang masuk ke dalam telinga akan menggetarkan gendang telinga dan tulang pendengaran.Getaran tersebut membuat suara dapat tersalur ke telinga bagian dalam, dan diubah menjadi rangsangan saraf yang dibawa ke otak. Otak lalu menginterpretasikan dan mengindentifikasi rangsangan ini.Pada otosclerosis, tulang stapes (tulang sanggurdi) tumbuh secara abnormal. Kondisi ini membuat stapes menyatu dengan tulang di sekitarnya dan tidak dapat bergerak.Sebagai akibatnya, getaran suara dalam telinga bagian tengah tidak bisa disalurkan ke telinga bagian dalam. Proses mendengar pun menjadi terganggu.Otosclerosis umumnya dapat ditangani dengan operasi. Peningkatan kemampuan mendengar pada penderita bisa mencapai sekitar 90 persen setelah pembedahan.Tapi meski jarang, operasi mungkin saja tidak efektif untuk mengatasi otosclerosis pada sebagian penderita. Bahkan kondisi kehilangan kemampuan dengar dikatakan dapat memburuk.Untuk itu, diperlukan diskusi lebih lanjut dengan dokter THT guna mengetahui risiko penanganan tersebut secara lebih rinci.Gangguan pendengaran dengan nama lain otospongiosis ini bisa menyebabkan tuli konduktif, yakni tuli akibat suara yang tidak bisa masuk ke telinga karena terhalang.Otosclerosis juga dapat muncul tanpa gejala atau dirasakan sebagai gangguan pada saraf sensorik. 
Otosclerosis
Dokter spesialis THT
GejalaPendengaran menurun, sulit mendengar suara halus, tinnitus
Faktor risikoKeturunan, usia, infeksi virus
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, rontgen, CT scan
PengobatanAlat bantu dengar, operasi
KomplikasiTuli total, kerusakan saraf, hilangnya indra pengecap
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala otosclerosis atau komplikasi pascaoperasi
Gejala otosclerosis umumnya muncul ketika penderita berumur sekitar 20-an atau 30-an, dan seringkali menyerang kedua telinga. Keluhan utama pasien biasanya meliputi:
  • Gangguan pendengaran yang terus memburuk. Kesulitan mendengar terutama terjadi pada suara dengan intesitas rendah, seperti bisikan.
  • Bisa mendengar dengan lebih baik jika dalam kondisi bising.
  • Berbicara dengan suara pelan karena suaranya sendiri terdengar keras di telinganya.
  • Telinga berdenging (tinnitus).
  • Pusing, namun gejala ini termasuk jarang.
 
Penyebab otosclerosis tidak diketahui dengan pasti. Meski begitu, beberapa faktor di bawah ini diduga bisa berpengaruh:
  • Genetik

Otosclerosis memiliki kecederungan untuk diturunkan di dalam keluarga. Jika salah satu orangtua kandung Anda mengalami otosclerosis, kemungkinan Anda untuk terkena kondisi yang sama adalah sekitar 25 persen.Kemungkinan tersebut akan meningkat menjadi 50 persen apabila kedua orangtua Anda memiliki otosclerosis.
  • Ras

Otosclerosis lebih sering dialami oleh orang dengan ras kaukasian.
  • Kehamilan

Perubahan hormon yang terjadi pada wanita hamil diduga berhubungan dengan terjadinya otosclerosis.
  • Infeksi virus

Infeksi akibat virus diduga berhubungan dengan otosclerosis, terutama virus penyebab campak.
  • Jenis kelamin

Wanita lebih berisiko untuk mengalami otosclerosis.
  • Osteogenesis imperfecta

Osteogenesis imperfecta adalah kelainan genetik dengan gejala utama berupa tulang yang rapuh serta mudah patah. Penderita kelainan ini berisiko lebih tinggi untuk mengalami otosclerosis.
  • Trauma atau stress fracture pada tulang dalam telinga

Adanya cedera atau stress fracture pada tulang dalam telinga juga bisa meningkatkan risiko otosclerosis.
  • Penyakit autoimun

Ada pula dugaan bahwa otosclerosis terjadi karena kondisi autoimun. Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh keliru dan menyerang sel-sel yang sebenarnya sehat. 
Diagnosis otosclerosis ditentukan berdasarkan hasil tanya jawab, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Berikut penjelasannya:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan gejala dan faktor risiko otosclerosis yang dimiliki oleh pasien. Demikian pula dengan riwayat penyakit pasien serta keluarga.
  • Pemeriksaan fisik

Dokter akan memeriksa telinga Anda menggunakan alat otoscope. Dokter kemudian mengevaluasi kemampuan Anda dalam mendengar suara.
  • Pemeriksaan penunjang

Dokter juga akan meminta Anda untuk menjalani serangkaian pemeriksaan penunjang guna memastikan diagnosis. Pemeriksaan ini umumnya meliputi CT scan dan X-ray. 
Pengobatan otosclerosis tergantung pada tingkat keparahan penyakit dan kondisi kesehatan pasien. Beberapa langkah penanganan yang bisa dianjurkan meliputi:
  • Observasi

Perkembangan otosclerosis pada masing-masing pasien tidak selalu sama. Tidak semua pasien akan mengalami gangguan pendengaran yang berat.Pada beberapa kasus, otosclerosis dapat berkembang dengan sangat lambat. Oleh karena itu, dokter akan melakukan pemeriksaan kondisi pasien secara berkala pada kasus yang ringan.
  • Alat bantu dengar

Pada kasus di mana gangguan pendengaran cukup berat, dokter akan memberikan alat bantu dengar. Alat ini akan disesuaikan dengan kebutuhan pasien.
  • Suplemen sodium fluoride

Suplemen sodium fluoride diduga dapat membantu dalam mengurangi kecepatan perkembangan penyakit otosclerosis.
  • Operasi

Pada kasus yang parah, diperlukan operasi bernama stapedectomy. Melalui prosedur ini, dokter akan menempatkan alat di telinga bagian tengah Anda yang menggerakkan tulang stapes yang tersangkut, dengan begitu gelombang suara dapat mengalir ke telinga bagian dalam, sehingga Anda dapat mendengar lebih baik. 

Komplikasi otosclerosis

Bila tidak ditangani dengan benar, otosclerosis dapat menyebabkan komplikasi berupa:
  • Tuli total
  • Hilangnya kemampuan mengecap rasa di sebagian atau seluruh lidah, baik sementara atau permanen
  • Infeksi, pusing, nyeri, atau pembekuan darah setelah operasi
  • Kerusakan saraf
 
Hinga saat ini, belum ada cara efektif yang bisa Anda lakukan sebagai cara mencegah otosclerosis. 
Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika mengalami gejala otosclerosis maupun gangguan pendengaran. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait otosclerosis?
  • Apakah ada anggota keluarga Anda yang memiliki keluhan serupa?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini dapat membantu dokter dalam memastikan diagnosis otosclerosis dan menentukan penanganan yang tepat. 
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/otosclerosis/
Diakses pada 10 Desember 2019
WebMD. https://www.webmd.com/cold-and-flu/ear-infection/otosclerosis-facts#1
Diakses pada 10 Desember 2019
Virginia Choral Directors Association. https://vestibular.org/otosclerosis
Diakses pada 10 Desember 2019
America Hearing Research Foundation. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/ears-otosclerosis.
Diakses pada 10 Desember 2019
Better Health Channel. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/ears-otosclerosis
Diakses pada 10 Desember 2019
Medine Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/001036.htm
Diakses pada 30 Desember 2020
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/859760-overview#a1
Diakses pada 30 Desember 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK560671/
Diakses pada 30 Desember 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email