Kanker

Osteosarcoma

09 Feb 2021 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Osteosarcoma
Osteosarcoma paling sering menyerang tulang panjang, seperti tulang paha dan lengan atas
Osteosarcoma adalah jenis kanker tulang yang menyerang sel osteoblast, yakni sel yang berfungsi membentuk tulang.Kanker yang juga disebut osteogenic sarcoma ini umumnya diderita oleh anak-anak dan remaja, dengan kecenderungan dialami oleh remaja pria. Namun osteosarcoma juga dapat menyerang orang dewasa.Osteosarcoma biasanya terjadi pada ujung-ujung tulang, tempat terjadinya pertumbuhan paling aktif. Kanker ini paling sering menyerang tulang panjang di sekitar lutut (tulang paha dan tulang betis), serta tulang lengan atas di dekat bahu.Meski jarang, osteosarkoma juga dapat ditemukan pada tulang pinggul, tengkorak, maupun rahang.Osteosarcoma dapat menyebar ke jaringan otot atau tendon di sekitar tulang. Sel-sel kanker ini juga bisa masuk ke pembuluh darah dan meluas ke organ tubuh atau tulang lain.Hingga saat ini, belum ada upaya pencegahan osteosarcoma yang efektif. Namun dengan diagnosis dan pengobatan yang tepat, penderita bisa kembali pulih. 
Osteosarcoma
Dokter spesialis Ortopedi, Onkologi
GejalaBenjolan di sekitar tulang, nyeri tulang, pergerakan tubuh yang terbatas
Faktor risikoUsia 10-30 tahun, laki-laki, pernah menjalani radioterapi
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, pencitraan, biopsi
PengobatanOperasi, kemoterapi, radioterapi
ObatKemoterapi
KomplikasiPenyebaran sel kanker ke organ lain (metastasis), amputasi, efek samping pengobatan jangka panjang
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala osteosarcoma
Gejala osteosarcoma dapat berupa:
  • Bengkak atau benjolan di sekitar tulang atau pada ujung tulang
  • Nyeri pada tulang atau sakit persendian yang terus berlangsung, terasa sepanjang hari, dan memburuk seiring waktu
  • Gerakan tubuh yang terbatas
  • Tulang retak atau patah tulang tanpa alasan yang jelas
 
Hingga saat ini, penyebab osteosarcoma belum diketahui secara pasti. Tetapi beberapa penelitian menunjukkan bahwa perubahan DNA (mutasi genetik) pada sel tulang dapat memicu sel ini menjadi sel kanker. 

Faktor risiko osteosarcoma

Beberapa faktor risiko osteosarcoma dapat berupa:
  • Usia

Risiko osteosarcoma lebih tinggi pada orang berusia 10-30 tahun, terutama saat remaja ketika pertumbuhan tulang mencapai puncaknya. Selain itu, risiko kanker ini akan kembali meningkat pada usia 60 tahun ke atas.
  • Badan yang tinggi

Osteosarcoma lebih sering ditemukan pada anak dengan tubuh yang tinggi.
  • Jenis kelamin

Kaum laki-laki lebih rentan untuk mengalami osteosarcoma daripada perempuan.
  • Paparan radiasi

Pasien dengan tulang yang terpapar terapi radiasi (radioterapi) untuk menangani kanker jenis lain, lebih berisiko untuk mengalami osteosarcoma.
  • Penyakit tulang tertentu

Pengidap penyakit tulang tertentu lebih berisiko untuk terkena osteosarcoma, misalnya penyakit Paget, osteochondroma, dan fibrous dysplasia.
  • Riwayat kanker yang diturunkan

Orang dengan riwayat kanker tertentu dalam keluarga juga lebih berisiko untuk mengalami osteosarcoma. Misalnya, hereditary retinoblastoma, sindrom Li-Fraumeni, sindrom Rothmund-Thomson, sindrom Bloom, sindrom Werner, dan sindrom Diamond-Blackfan. 
Untuk memastikan diagnosis osteosarcoma, dokter akan melakukan serangkaian metode pemeriksaan berikut:

1. Tanya jawab

Dokter akan menanyakan gejala yang dikeluhkan oleh pasien. Bila gejala mengarah pada kanker tulang, dokter akan menyelidiki riwayat medis pasien maupun keluarga secara lengkap.

2. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik kerap menyediakan informasi terkait tumor, seperti adanya benjolan yang tidak normal.

3. Pemeriksaan pencitraan

Pemeriksaan pencitraan akan dianjurkan bila dokter mencurigai kemungkinan osteosarcoma atau kanker tulang lain. Prosedur ini dapat dilakukan untuk mendeteksi kanker, mencari tahu penyebaran kanker, dan menentukan respons tubuh pasien terhadap pengobatan yang diberikan.Beberapa pemeriksaan pencitraan untuk osteosarcoma meliputi:
  • Rontgen tulang

Rontgen tulang merupakan pemeriksaan yang dilakukan pertama kali jika dokter mencurigai adanya kanker tulang, termasuk osteosarcoma.
  • MRI

Prosedur MRI akan menghasilkan gambar struktur tulang serta jaringan lunak pada tubuh pasien dengan lebih jelas.Zat pewarna kontras bernama gadolinium kerap disuntikkan ke dalam pembuluh darah pasien sebelum MRI dilakukan. Langkah ini bertujuan menghasilkan gambar yang lebih rinci.MRI akan menghasilkan gambar tumor tulang yang lebih detail sekaligus penyebaran kanker. Dokter dapat menentukan apakah benjolan pada tulang terjadi karena tumor, infeksi, atau kerusakan tulang lain.
  • CT scan

Bila hasil rontgen menunjukkan adanya tumor, CT scan dapat mendeteksi ada tidaknya penyebaran kanker pada otot, jaringan lemak, dan tendon sekitarnya.CT scan dada juga sering dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya penyebaran kanker ke paru-paru.
  • Rontgen dada

Rontgen dada dilakukan bila osteosarcoma sudah menyebar ke paru-paru. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi tumor besar, namun tidak sebaik CT scan.
  • Pemindaian tulang (bone scan)

Bone scan menggunakan zat pewarna radioaktif yang disuntikkan ke darah hingga mencapai tulang. Alat pemindai lalu dipakai untuk mendeteksi zat tersebut dan menghasilkan gambar terkait tulang.Scan tulang dapat membantu dokter dalam mendeteksi apakah kanker sudah menyebar ke tulang lain atau tidak. Pemeriksaan ini juga bisa bertujuan mengevaluasi pengobatan yang dijalani oleh pasien.
  • PET scan

Sama seperti bone scan, PET scan juga menggunakan zat radioaktif yang disuntikkan ke dalam darah. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi penyebaran osteosarcoma ke paru-paru, tulang, atau bagian lain tubuh serta menilai respons tubuh pasien terhadap pengobatan.

4. Biopsi

Bila hasil pemeriksaan pencitraan menunjukkan kemungkinan osteosarcoma atau jenis kanker tulang lain, biopsi akan dilakukan. Pemeriksaan biopsi adalah pengambilan sampel jaringan untuk diperiksa lebih lanjut di bawah mikroskop.Biopsi tulang akan mengambil sampel dari tulang atau jaringan pada bagian yang bengkak dan sakit. Sampel ini lalu diuji di laboratorium untuk menentukan ada tidaknya sel-sel kanker, serta mengetahui tipe dan golongan sel kanker. Dengan begitu, tingkat keagresifannya dapat ditentukan.Dokter bisa menyarankan jenis biopsi di bawah ini:
  • Biopsi jarum

Dokter akan memasukkan jarum melalui kulit hingga mencapai tumor untuk mengangkat sedikit jaringan dari tumor.
  • Biopsi bedah

Dokter melakukan pembedahan guna mengambil seluruh atau sebagian tumor.

5. Tes darah

Tes darah tidak dapat mendiagnosis osteosarcoma. Namun pemeriksaan ini akan membantu ketika diagnosis sudah dipastikan. Misalnya, untuk mengecek kadar alkaline phosphatase dan lactate dehydrogenase (LDH).Kadar alkaline phosphatase dan LDH yang tinggi dapat menjadi tanda bahwa osteosarcoma tergolong cukup berat.Pemeriksaan darah lengkap juga diperlukan sebelum operasi atau pengobatan osteosarcoma lain. Tes ini bertujuan memantau kondisi kesehatan pasien selama menjalani kemoterapi. 
Pengobatan osteosarcoma akan ditentukan oleh dokter berdasarkan jenis kanker dan penyebarannya, serta kondisi kesehatan pasien secara umum. Beberapa cara mengobati osteosarcoma yang mungkin direkomendasikan meliputi:

1. Operasi

Jika memungkinkan, operasi akan dilakukan untuk mengangkat seluruh kanker. Namun dokter bedah juga melakukan prosedur ini guna mempertahankan fungsi organ dan meminimalisir kecacatan.Operasi osteosarcoma akan tergantung dari beberapa faktor, seperti usia pasien, serta lokasi dan ukuran tumor.Berikut beberapa jenis operasi yang bisa menjadi pilihan:
  • Limb-sparing surgery

Pada kebanyakan kasus, operasi osteosarcoma berfokus pada pengangkatan tumor dan menyelamatkan tungkai pasien agar tetap dapat berfungsi.Dokter akan menentukan perlu tidaknya operasi ini berdasarkan beberapa faktor. Misalnya, penyebaran kanker dan seberapa banyak otot serta jaringan yang harus diangkat.
  • Amputasi

Amputasi adalah operasi untuk memotong bagian tubuh yang tidak bisa diselamatkan. Contohnya, kaki atau tangan yang mengalami osteosarcoma.

2. Kemoterapi

Pengobatan kemoterapi menggunakan obat untuk mematikan sel kanker. Obat kemoterapi biasanya dikonsumsi sebelum operasi dilakukan guna mengecilkan ukuran tumor. Kemudian dikonsumsi lagi setelah operasi untuk membunuh sisa-sisa sel kanker yang tersisa.

3. Radioterapi

Terapi radiasi atau radioterapi menggunakan sinar X untuk membunuh sel-sel kanker. Namun terapi ini tidak banyak digunakan karena kurang efektif dalam mengobati osteosarcoma. 

Komplikasi osteosarcoma

Osteosarcoma maupun pengobatannya dapat menyebabkan komplikasi berupa:
  • Penyebaran sel kanker ke organ lain (metastasis)

Osteosarcoma dapat menyebar ke bagian tubuh lain, sehingga pengobatan makin sulit. Kanker tulang ini paling sering meluas ke paru-paru dan tulang lain.
  • Amputasi

Operasi osteosarcoma akan dilakukan dengan mempertahankan bagian tubuh yang terkena seoptimal mungkin. Namun amputasi kaki kerap diperlukan untuk mengangkat seluruh sel kanker.Setelah amputasi, dokter dapat memberikan kaki palsu. Tapi latihan untuk menggunakan alat bantu ini membutuhkan waktu dan kesabaran yang tidak sedikit.
  • Efek samping pengobatan jangka panjang

Kemoterapi yang agresif untuk mengendalikan osteosarcoma, dapat menimbulkan banyak efek samping, baik jangka pendek atau jangka panjang.Dokter dan petugas medis dapat membantu pasien untuk mengatasi efek samping yang terjadi selama pengobatan. Dokter juga perlu memberitahukan efek samping yang perlu dipantau dalam beberapa tahun setelah pengobatan. 
Karena penyebabnya belum diketahui, cara mencegah osteosarcoma juga tidak tersedia. Yang bisa Anda lakukan adalah mewaspadai gejalanya dan segera memeriksakan diri bila terjadi keluhan yang mencurigakan. 
Hubungi dokter bila anak Anda mengalami gejala yang mengkhawatirkan. Gejala osteosarcoma sering mirip dengan kondisi lain yang lebih umum (seperti cedera olahraga), sehingga dokter perlu mencari tahu penyebab keluhan terlebih dulu.Sementara untuk anak yang mengidap osteosarcoma, konsultasi ke dokter diperlukan bila ia mengalami kondisi-kondisi berikut:
  • Gejala yang memburuk atau tidak membaik meski sudah menjalani pengobatan, misalnya muntah walau sudah minum obat antimual
  • Muncul gejala baru
  • Efek samping pengobatan, seperti demam, menggigil, sesak napas, batuk, diare, serta sulit makan dan minum
 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang di
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang di
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang di
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan?
  • Kapan gejala pertama kali muncul?
  • Apakah pasien memiliki faktor risiko terkait osteosarcoma?
  • Apakah ada anggota keluarga lain dengan gejala yang serupa?
  • Apakah pasien pernah mencari pertolongan medis? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah dicoba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis osteosarcoma. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteosarcoma/diagnosis-treatment/drc-20351053
Diakses pada 25 Oktober 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/bone-cancer/
Diakses pada 25 Oktober 2018
WebMD. https://www.webmd.com/cancer/what-is-osteosarcoma#1
Diakses pada 25 Oktober 2018
Johns Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/sarcoma/osteosarcoma
Diakses pada 9 Februari 2021
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15041-osteosarcoma
Diakses pada 9 Februari 2021
Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/cancer-osteosarcoma.html
Diakses pada 9 Februari 2021
American Cancer Society. https://www.cancer.org/cancer/osteosarcoma/causes-risks-prevention/what-causes.html
Diakses pada 9 Februari 2021
American Cancer Society. https://www.cancer.org/cancer/osteosarcoma/detection-diagnosis-staging/how-diagnosed.html
Diakses pada 9 Februari 2021
University of Rochester Medical Center. https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?contenttypeid=90&contentid=p02778
Diakses pada 9 Februari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email