OCD atau obsessive compulsive disorder memunculkan obsesi dalam diri penderita yang membuat penderita melakukan tindakan-tindakan yang kompulsif
OCD atau obsessive compulsive disorder memunculkan obsesi dalam diri penderita yang membuat penderita melakukan tindakan-tindakan yang kompulsif

Obsessive-compulsive disorder atau OCD merupakan gangguan mental yang menyebabkan penderitanya memiliki obsesi atau suatu pemikiran, gambaran-gambaran mental, atau dorongan yang menganggu, tidak diinginkan, muncul secara terus-menerus dan menimbulkan kecemasan pada penderita. Obsesi ini mengakibatkan penderita akhirnya melakukan tindakan tertentu secara berulang-ulang (kompulsif) untuk mengurangi kecemasan dari obsesi yang muncul. Namun, kelegaan yang dirasakan hanya bersifat sementara dan pada akhirnya obsesi yang dialami sebelumnya akan muncul kembali dan membuat penderita melakukan perilaku-perilaku yang kompulsif. Hal ini akan membuat penderita terjebak dalam suatu siklus yang berulang-ulang terjadi. Terkadang penderita berusaha untuk menghentikan obsesinya tetapi tidak berhasil.

OCD biasanya melibatkan obsesi dan kompulsi. Namun, terdapat juga kemungkinan penderitanya hanya memiliki gejala obsesif atau hanya gejala kompulsif. Penderita OCD bisa jadi sadar, bahkan tidak menyadari bahwa sikapnya berlebihan dan tidak masuk akal. Penderita juga dapat menghabiskan banyak waktu karena perilakunya tersebut yang pastinya berdampak pada rutinitas sehari-hari, serta pekerjaan, maupun kehidupan sosial.

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5) yang menjadi panduan untuk Asosiasi Psikiater Amerika (American Psychiatrist Association), obsesi pada penderita OCD didefinisikan sebagai pemikiran-pemikiran, dorongan-dorongan, ataupun gambaran-gambaran yang menganggu, tidak diinginkan, dan terjadi secara terus-menerus serta menimbulkan kecemasan. 

Penderita OCD biasanya mempunyai satu tema atau pola tertentu, misalnya, ketakutan akan terkontaminasi oleh kuman yang menyebabkan penderita mencuci tangan berulang-ulang secara kompulsif. OCD biasanya mulai terjadi pada usia remaja atau dewasa muda.

Gejala berdasarkan obsesi

Terdapat beberapa tema maupun pola obsesi pada penderita OCD, yaitu:

  • Ketakutan terhadap kontaminasi atau kotoran.
  • Pemikiran yang tidak diinginkan, meliputi agresi, seks, atau agama.
  • Kebutuhan akan keteraturan dan penataan yang simetris.
  • Pemikiran yang agresif atau menakutkan, seperti melukai diri sendiri atau orang lain.

Beberapa contoh tanda dan gejala obsesi meliputi:

  • Stres yang berat jika suatu objek tidak rapi atau tidak pada tempatnya.
  • Rasa ragu dan tindakan selalu memeriksa hal berulang kali, misalnya mengecek pintu yang sebenarnya sudah dikunci, atau mengecek kompor yang sudah dimatikan.
  • Gambaran yang meliputi menyakiti diri sendiri atau orang lain yang tidak diinginkan dan membuat penderita tidak nyaman.
  • Ketakutan akan terkontaminasi kotoran karena menyentuh benda yang telah disentuh orang lain.
  • Perasaan tertekan karena timbulnya gambaran-gambaran seksual yang tidak menyenangkan secara berulang-ulang di dalam pikiran penderita.

Gejala berdasarkan perilaku kompulsif

Terdapat beberapa pola atau tema pada perilaku kompulsif, seperti:

  • Keteraturan.
  • Rutinitas yang ketat.
  • Mencuci dan membersihkan anggota tubuh maupun barang-barang.
  • Penghitungan pola-pola tertentu.
  • Memeriksa berulang-ulang kali.
  • Memastikan berulang-ulang kali.

Beberapa contoh kegiatan yang menjadi tanda dan gejala kompulsi meliputi:

  • Memeriksa kompor dan pintu berulang kali untuk memastikan sudah dimatikan dan dikunci.
  • Mengatur barang agar menghadap ke arah yang sama.
  • Mencuci tangan berulang kali, bahkan sampai kulit tangan terkelupas.
  • Berhitung dengan menggunakan pola tertentu.
  • Mengucapkan doa, kata, atau kalimat secara diam-diam dan berulang.
  • Mengunci pintu berulang-ulang.

Penyebab OCD belum diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa teori utama, yaitu:

  • Biologis
    Adanya perubahan pada fungsi otak dan zat-zat kimia dalam otak, seperti kadar serotonin dalam otak yang rendah dan sebagainya. Infeksi tertentu juga mungkin dapat menyebabkan OCD, tetapi hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. 

  • Genetik 
    Risiko terhadap OCD cenderung lebih tinggi pada penderita yang mempunyai anggota keluarga dengan riwayat OCD. Terdapat juga gen-gen tertentu yang mungkin berkontribusi terhadap OCD.

  • Kepribadian
    Orang yang rapi, teliti, teratur, memiliki disiplin dan tanggung jawab tinggi, atau orang yang mudah cemas, akan memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami OCD. 

  • Lingkungan
    OCD banyak ditemukan pada orang yang menjadi individu yang pernah mengalami bullying, pelecehan, dan pengabaian.

Dokter dan ahli kesehatan mental lainnya akan mendiagnosis penderita dengan beberapa cara, yaitu berdasarkan:

  • Pemeriksaan fisik, untuk melihat kondisi fisik yang menyebabkan gejala dan untuk menentukan kemungkinan-kemungkinan kondisi medis lainnya.
  • Tes laboratorium, seperti tes untuk melihat ada tidaknya konsumsi alkohol dan obat-obatan tertentu, tes fungsi tiroid, dan sebagainya.
  • Evaluasi psikologis untuk mengetahui pikiran, perasaan, gejala-gejala yang dialami, dan pola perilaku yang dimiliki. 
  • Kriteria diagnosis panduan dalam Diagnosis and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM 5) yang panduan untuk Asosiasi Psikiater Amerika (American Psychiatrist Association).

Terdapat beberapa penanganan yang dapat diberikan kepada penderita OCD, yaitu:

  • Medikasi, berupa antidepresan untuk menyeimbangkan zat-zat kimia dalam otak.

  • Psikoterapi, membantu untuk mengidentifikasi pemikiran, perasaan, dan perilaku yang dimiliki penderita mengenai gangguan yang dirasakan serta membantu penderita menghadapi obsesi yang dimiliki tanpa harus melakukan perilaku kompulsif. Penderita bisa saja dipaparkan dengan situasi yang membuat penderita cemas atau takut dengan aman. Psikoterapi yang dapat diberikan adalah terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy) serta pemaparan dan respon pencegahan (exposure and response prevention).

Jika Anda mengalami OCD, beberapa hal yang dapat Anda lakukan adalah:

  • Tetap mengikuti penanganan yang diberikan.
  • Menerapkan teknik-teknik untuk mengatasi stres dan relaksasi, seperti meditasi, yoga, dan sebagainya.
  • Memperhatikan pemicu-pemicu yang dapat memunculkan gangguan agar dapat siap menghadapi gangguan tersebut jika tiba-tiba muncul.
  • Bercerita dengan orang-orang terdekat mengenai masalah yang dialami atau mengikuti komunitas-komunitas yang terdiri dari orang-orang yang mengalami hal yang serupa agar dapat saling berdiskusi dan mendukung satu sama lainnya. 
  • Melakukan aktivitas-aktivitas lain saat rasa cemas atau takut muncul, seperti berjalan-jalan santai.
  • Menerapkan pola hidup yang sehat, seperti mengonsumsi makanan yang bergizi, istirahat yang cukup, dan berolahraga secara teratur.

Tidak ada cara yang pasti untuk mencegah OCD, tetapi penanganan sejak dini dapat membantu mencegah gejala-gejala yang dirasakan semakin parah. Segera berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya jika Anda mengalami OCD.

Jika Anda atau orang-orang terdekat Anda mengalami gejala-gejala di atas atau bahkan memiliki keinginan untuk bunuh diri atau melakukan percobaan bunuh diri, segera konsultasikan dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya. 

Sebelum berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya, sebaiknya Anda melakukan beberapa persiapan seperti menyiapkan daftar gejala-gejala yang dialami, informasi pribadi, obat-obatan dan zat-zat yang dikonsumsi, serta daftar pertanyaan, seperti:

  • Apakah penyebab dari gejala yang saya alami?
  • Penanganan apa yang cocok untuk menangani gejala saya?
  • Jika saya harus mengonsumsi obat, apa efek samping dan kontra indikasi dari obat yang diberikan?
  • Apakah yang dapat saya lakukan sendiri untuk membantu meringankan gejala tersebut?
  • Apa yang orang-orang terdekat saya dapat lakukan untuk membantu gejala saya?
  • Apakah terdapat brosur, website, atau materi-materi tercetak yang bisa saya peroleh seputar kondisi yang saya alami?
  • Berapa lama penanganan yang diperlukan agar gejala saya membaik?

Dokter dan ahli kesehatan mental lainnya biasanya akan mengajukan beberapa pertanyaan, seperti:

  • Kapan pertama kali Anda merasa mengalami gejala tersebut?
  • Apa saja gejala yang Anda alami? Apakah gejala tersebut muncul berulang-ulang atau hanya sesekali?
  • Apakah Anda mempunyai dorongan untuk mengatur barang dengan cara dan arah tertentu?
  • Apakah Anda harus mencuci tangan, menghitung sesuatu, atau memeriksa sesuatu secara berulang-ulang?
  • Apakah ada pemikiran tertentu yang selalu ada dan berulang, walaupun Anda berusaha mengabaikannya?
  • Apakah Anda pernah mengalami trauma atau stres berat?
  • Bagaimana gejala-gejala ini memengaruhi kehidupan sehari-hari Anda?
  • Berapa banyak waktu yang Anda habiskan sehari-hari untuk obsesi dan perilaku kompulsif yang dialami? 
  • Kondisi apakah yang memperburuk dan yang meringankan gejala Anda?
  • Apakah ada anggota keluarga Anda yang memiliki gangguan serupa atau gangguan mental lainnya?

MayoClinic.
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/obsessive-compulsive-disorder/symptoms-causes/syc-20354432
Diakses pada 17 Oktober 2018. 

NHS.
https://www.nhs.uk/conditions/obsessive-compulsive-disorder-ocd/
Diakses pada 18 Oktober 2018. 

Artikel Terkait