Penyakit Lainnya

Obesitas

Diterbitkan: 16 Dec 2018 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Obesitas
Penumpukan lemak dan kegemukan adalah tanda obesitas
Obesitas adalah istilah untuk seseorang dengan berat badan berlebih, dan mempunyai persentase body fat atau lemak tubuh yang tinggi.Penambahan berat badan akan terjadi ketika asupan kalori yang masuk lebih banyak daripada yang digunakan tubuh. Kalori yang tidak digunakan tersebut kemudian tersimpan di dalam tubuh, yang sebagian besar disimpan dalam bentuk lemak tubuh. Tentunya, apabila hal ini terjadi dalam waktu lama, maka penumpukan lemak akan terus menerus terjadi hingga menjadi sangat berlebihan.Namun, obesitas tidak hanya terjadi karena kebanyakan makan atau kurang aktif bergerak. Faktor yang memengaruhi obesitas bisa dari faktor genetik, lingkungan maupun pengaruh obat-obatan dan hormon.Untuk mengetahui apakah seseorang termasuk ke dalam kategori obesitas adalah dengan menghitung body mass index (BMI) atau indeks massa tubuh. Untuk orang Indonesia, BMI ≥25 dikategorikan sebagai obesitas. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, sebanyak 28,7% orang Indonesia yang berusia di atas 18 tahun memiliki BMI di atas 25 dan dikategorikan sebagai obesitas. Angka tersebut cukup mengkhawatirkan, mengingat orang dengan obesitas memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit serius, seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan kanker.Baca juga: Cara Menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) yang Akurat 
Obesitas
Dokter spesialis Gizi
GejalaBMI ≥25, lingkar pinggang >90 cm (pria) atau >80 cm (wanita)
Faktor risikoGenetik, gaya hidup keluarga, gaya hidup tidak aktif
Metode diagnosisMenghitung BMI, menghitung lingkar pinggang, skrining ultrasound/CT/MRI
PengobatanPerubahan gaya hidup, obat-obatan, operasi
KomplikasiDiabetes tipe 2, penyakit jantung, hipertensi, infertilitas
Secara umum, tanda dan gejala obesitas diukur dari perhitungan beberapa indikator adalah sebagai berikut ini:
  1. BMI
BMI dihitung dengan rumus: berat badan (dalam kg) : tinggi badan (dalam m)²Hasil perhitungan BMI kemudian dibandingkan dengan panduan klasifikasi BMI untuk orang dewasa.Berdasarkan panduan WHO, BMI diklasifikasikan sebagai berikut:
  • < 18,5: kekurangan berat badan (underweight)
  • 18,5-24,9: berat badan ideal
  • 25-29,9: kelebihan berat badan (overweight)
  • ≥30: obesitas
Sementara itu, klasifikasi untuk BMI orang dewasa di Kawasan Asia pasifik, dibagi menjadi:
  • <18,5: kekurangan berat badan (underweight)
  • 18,5-22,9: berat badan ideal
  • 23-24,9:kelebihan berat badan (overweight)
  • ≥25: menunjukkan obesitas
BMI berhubungan dengan total lemak tubuh, tapi tidak selalu digunakan untuk mendiagnosis obesitas. Sebab, orang yang berolahraga dan berotot terkadang memiliki BMI tinggi, meski tanpa lemak. Untuk kebanyakan orang, BMI merupakan indikasi yang berguna untuk menentukan status berat badan.
  1. Pengukuran lingkar pinggang
Berikut ini adalah ukuran lingkar pinggang dalam kriteria obesitas berdasarkan etnis, yang diterbitkan oleh International Diabetes Federation
  • Eropa: lingkar pinggang pria >94 cm, wanita >80 cm
  • Asia Selatan, Melayu, India: lingkar pinggang pria >90 cm, wanita >80 cm
  • Tiongkok: lingkar pinggang pria >90 cm, wanita >80 cm
 
Penyebab utama obesitas adalah:
  • Tidak aktif bergerak
    Jika seseorang tidak terlalu aktif, maka tubuhnya tidak membakar banyak kalori. Kondisi ini mampu memicu timbunan lemak.
  • Diet yang tidak sehat dan kebiasaan makan
    Penambahan berat badan tidak dapat dihindari jika masih memiliki kebiasaan mengonsumsi banyak kalori, dibandingkan yang dibakar.
Selain itu, kondisi medis berikut ini dapat menyebabkan penambahan berat badan yang mengacu pada obesitas, di antaranya adalah:
  • Polycystic ovary syndrome (PCOS), suatu kondisi yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon reproduksi wanita
  • Sindrom Prader-Willi, suatu kondisi langka yang membuat seseorang dilahirkan dengan rasa lapar yang berlebihan
  • Cushing syndrome, suatu kondisi akibat jumlah hormon kortisol yang berlebihan
  • Hipotiroidisme, suatu kondisi di mana kelenjar tiroid tidak menghasilkan hormon-hormon penting dengan jumlah yang cukup
  • Osteoartritis dan kondisi lain yang menyebabkan rasa sakit yang menyebabkan seseorang tidak aktif secara fisik

Faktor risiko obesitas

Faktor-faktor berikut ini bisa memicu obesitas.
  • Genetik
    Gen dapat memengaruhi lemak tubuh yang tersimpan dan distribusi lemak. Genetik juga berpengaruh terhadap efisiensi tubuh dalam mengubah makanan menjadi energi, dan kemampuan tubuh membakar kalori saat beraktivitas.
  • Gaya hidup keluarga
    Obesitas biasanya diturunkan dari keluarga. Jika salah satu atau kedua orangtua mengalami obesitas, maka risiko obesitas pun meningkat. Hal ini bukan hanya karena genetik. Sebab, satu keluarga biasanya memiliki kebiasaan makan dan aktivitas yang sama.
  • Tidak aktif bergerak
    Jika tidak aktif, seseorang tidak membakar banyak kalori. Tanpa beraktivitas, seseorang akan menerima lebih banyak kalori. Masalah kesehatan seperti artritis juga berpotensi menyebabkan kelebihan berat badan.
  • Diet yang tidak sehat
    Diet dengan kalori yang tinggi, kurangnya asupan buah dan sayuran, banyak mengonsumsi makanan cepat saji, dan makanan berkalori tinggi atau porsi makan yang berlebihan, juga berkontribusi terhadap kelebihan berat.
  • Masalah kesehatan
    Pada beberapa orang, sindrom Prader-Willi dan sindrom Cushing bisa memicu obesitas. Sementara itu, artritis membatasi aktivitas penderitanya, yang akhirnya menyebabkan peningkatan berat badan.
  • Pengobatan tertentu
    Beberapa pengobatan dapat meningkatkan berat badan jika tidak diimbangi dengan diet dan olahraga. Pengobatan ini termasuk dengan antidepresan, obat antikejang, obat diabetes, obat antipsikotik, steroid dan beta blocker.
  • Masalah sosial dan ekonomi
    Obesitas berkaitan juga dengan hubungan sosial dan faktor ekonomi. Misalnya, dalam kesulitan finansial, seseorang sulit mendapatkan asupan makanan sehat. Selain itu, masalah pergaulan dan keluarga juga berpengaruh.
  • Usia
    Obesitas dapat terjadi pada segala umur, bahkan anak-anak. Namun seiring berjalannya waktu dan pertambahan usia, hormon mengalami perubahan. Kurangnya aktivitas olahraga pun dapat meningkatkan risiko obesitas. Sebagai tambahan, jumlah otot di dalam tubuh akan berkurang saat usia bertambah. Otot yang berkurang mengakibatkan menurunnya metabolisme. Perubahan ini mengurangi kalori yang dibutuhkan. Seseorang dengan kondisi ini akan cukup sulit menurunkan berat badan. Jika tidak mengontrol makanan yang dikonsumsi, berat badan tentu akan naik.
  • Kehamilan
    Di masa kehamilan, berat badan wanita akan naik secara signifikan. Beberapa wanita bahkan kesulitan menurunkan berat badan setelah melahirkan. Kenaikan berat badan dapat mengakibatkan obesitas pada wanita.
  • Berhenti merokok
    Berhenti merokok biasanya berhubungan dengan kenaikan berat badan. Beberapa orang bahkan mengalami obesitas setelah menghentikan kebiasaan merokok. Meski demikian, berhenti merokok pasti memiliki dampak baik bagi kesehatan.
  • Kurang atau kelebihan tidur
    Tidak mendapatkan tidur yang cukup atau tidur terlalu banyak dapat menyebabkan perubahan hormon, yang meningkatkan nafsu makan. Akibatnya, akan ada lebih banyak asupan makanan dengan kalori serta karbohidrat, yang dapat mengakibatkan kenaikan berat badan.

Komplikasi obesitas

Obesitas telah dikaitkan dengan sejumlah komplikasi kesehatan seperti:
  • Diabetes tipe 2
  • Penyakit jantung
  • Tekanan darah tinggi
  • Kanker tertentu (payudara, usus besar, dan endometrium)
  • Stroke
  • Penyakit kantong empedu
  • Penyakit hati berlemak
  • Kolesterol Tinggi
  • Sleep apnea dan masalah pernapasan lainnya
  • Radang sendi
  • Infertilitas
 
Dalam mendiagnosis obesitas dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan berikut ini:
  • Menghitung BMI
  • Menghitung lingkar pinggang
  • Skrining menggunakan ultrasound, computed tomography (CT) dan pemindaian magnetic resonance imaging (MRI)
  • Tes darah untuk memeriksa kadar kolesterol dan glukosa
  • Tes fungsi hati
  • Skrining diabetes
  • Tes tiroid
  • Tes jantung, seperti elektrokardiogram
 
Anda dapat meminta bantuan medis dalam mengatasi obesitas. Dokter yang menangani kasus obesitas biasanya bekerja sama dengan ahli gizi, terapis, dan atau staf kesehatan lainnya.Pilihan perawatan yang tersedia di antaranya adalah:
  1. Perubahan gaya hidup dan perilaku
Dokter dan tim kesehatan terkait akan mengedukasi Anda tentang pilihan makanan yang baik untuk dimasukkan ke dalam menu makan sehat yang harus dijalani. Selain itu, dokter akan merekomendasikan program olahraga terstruktur dan peningkatan aktivitas harian sebanyak 300 menit dalam seminggu. Program ini akan membantu Anda membangun kekuatan, daya tahan, dan metabolisme.Anda juga dapat mengikuti program konseling atau bergabung dengan kelompok pendukung untuk dapat mengidentifikasi pemicu obesitas dan membantu mengatasi kecemasan, depresi, atau nafsu makan yang timbul karena tekanan emosional. 
  1. Obat-obatan
Dokter mungkin akan meresepkan obat tertentu di samping menu makanan dan program olahraga yang sehat. Obat-obatan ini biasanya diresepkan pada pasien obesitas yang memiliki angka BMI 27 ke atas dan metode penurunan berat badan lainnya tidak berhasil.Terdapat dua golongan obat untuk menangani obesitas. Obat penekan nafsu makan dan obat yang bekerja penghambat lipase, mengurangi absorpsi asupan lemakObat penekan nafsu makan berupa lorcaserin, phentermin, dan yang dapat mencegah penyerapan lemak adalah orlistat.Obat-obatan ini memiliki efek samping yang tidak menyenangkan. Sebagai contoh, obat orlistat dapat menyebabkan perut mulas, kembung dan sering kentut. Pantauan dokter sangat diperlukan ketika Anda mengonsumsi obat ini. Jadi, jangan mengonsumsinya tanpa resep dokter. 
  1. Operasi
Operasi untuk menangani obesitas disebut sebagai operasi bariatrik. Jenis operasi ini bekerja dengan membatasi berapa banyak makanan yang dapat Anda makan atau dengan mencegah tubuh menyerap kalori dari makanan. Terkadang, beberapa operasi menghasilkan kombinasi dari kedua efek tersebut.Operasi penurunan berat badan bukanlah solusi cepat untuk menurunkan berat badan. Tindakan ini adalah operasi besar yang memiliki risiko serius. Dokter hanya merekomendasikan prosedur ini pada pasien yang berkomitmen terhadap perubahan gaya hidup menjadi sehat.Dokter biasanya merekomendasikan operasi penurunan berat bagi pasien yang memiliki BMI 40 atau lebih. Selain itu pasien yang memiliki BMI 35-39,9 tapi memiliki masalah kesehatan terkait obesitas yang serius, juga dapat menjalani operasi ini. Opsi bedah penurunan berat badan meliputi:
  • Operasi bypass lambung, untuk mengecilkan ukuran lambung. Efek yang dihasilkan adalah berkurangnya ruang tampung makanan di lambung dan proses penyerapan makanan di usus halus ikut berkurang.
  • Laparoskopi adjustable gastric banding (LAGB), berupa pemisahan perut menjadi dua bagian menggunakan suatu pita
  • Gastric sleeve. Pada prosedur ini, sekitar 80% bagian lambung diambil dan menyisakan lambung baru yang tidak dapat menahan jumlah makanan terlalu banyak.
  • Biliopancreatic diversion. Prosedur ini memiliki dua tahapan, yaitu pengangkatan sebagian perut dan menghubungkan bagian ujung dari usus halus ke usus dua belas jari di sekitar lambung. Dengan demikian, makanan yang masuk menjadi terbatas dan dapat diproses lebih cepat.
Jika seseorang memiliki masalah yang harus mendapat perhatian karena komplikasi dari obesitas seperti PCOS, tekanan darah tinggi, diabetes dan kesulitan tidur, dokter akan merekomendasikan pemeriksaan lebih lanjut maupun perawatan khusus.Baca tindakan medis: Apa itu prosedur bypass lambung Roux-en-Y 
Tindakan pencegahan terhadap obesitas tentu lebih baik dibanding harus mengobatinya, meski belum mengalami kelebihan berat badan. Anda bisa melakukan olahraga setiap hari, menjalani diet sehat, serta menjaga berat badan ideal.Langkah tersebut tentunya disertai komitmen terhadap segala sesuatu yang dikonsumsi. Lakukan langkah-langkah berikut ini untuk menghindari kondisi obesitas.
  • Olahraga secara rutin
    Anda perlu berolahraga 150-300 menit dalam seminggu untuk mencegah kenaikan berat badan. Aktivitas fisik yang intensif bisa berupa berjalan dan berenang.
  • Mengonsumsi makanan sehat
    Fokuslah dengan diet rendah kalori, makanan bernutrisi seperti buah-buahan, sayuran dan gandum. Hindari lemak jenuh, makanan manis, maupun konsumsi makanan 3 kali sehari dan kurangi cemilan. Orang yang menjalani diet sehat dapat mengonsumsi makanan tinggi lemak dan berkalori. Namun, intensitasnya dibatasi. Pastikan memilih makanan yang dapat menjaga berat ideal dan bagus untuk kesehatan.
  • Mengontrol pola makan
    Perhatikan situasi yang bisa memicu Anda makan tanpa terkontrol. Cobalah untuk menulis makanan yang dikonsumsi, jumlah, waktu, serta perasaan Anda sebelum dan sesudah menyantapnya.
  • Memantau berat badan secara teratur
    Jika rutin memeriksakan berat badan seminggu sekali, Anda lebih sukses untuk menurunkan berat badan. Pemantauan berat badan dilakukan untuk melihat efektivitas penurunan bobot Anda. Selain itu, pemantauan ini berguna membantu Anda mengontrol kenaikan berat badan.
  • Konsisten
    Tetap jalankan program diet baik di hari kerja maupun libur, untuk mencapai berat badan ideal dalam jangka panjang.
 
Hubungi dokter bila Anda mengalami gejala-gejala obesitas yang telah disebutkan sebelumnya, atau jika memiliki kekhawatiran serta pertanyaan lainnya terkait kondisi yang dialami.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
  • Tanyakan pada dokter mengenai hal-hal berikut ini:
    • Kebiasaan makan atau aktivitas apa yang mungkin berkontribusi terhadap masalah kesehatan dan kenaikan berat badan saya?
    • Apa yang bisa saya lakukan dalam mengontrol kenaikan berat badan?
    • Apakah saya memiliki masalah kesehatan lain yang disebabkan oleh obesitas?
    • Haruskah saya menemui ahli gizi?
    • Haruskah saya menemui terapis perilaku dengan keahlian dalam manajemen berat badan?
    • Apa saja pilihan perawatan untuk obesitas dan masalah kesehatan saya yang lain?
    • Apakah langkah penurunan berat badan secara medis merupakan pilihan bagi saya?
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Berapa berat badan Anda saat SMP atau SMA?
  • Pengalaman apa yang mungkin menyebabkan penambahan berat badan Anda?
  • Makanan apa saja dan berapa banyak yang biasa Anda konsumsi?
  • Apa saja aktivitas yang Anda jalani sehari-hari?
  • Sepanjang hidup, kapan saja Anda mengalami penambahan berat badan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terhadap obesitas?
  • Bagaimana kehidupan sehari-hari Anda dipengaruhi oleh berat badan Anda?
  • Diet atau perawatan apa yang telah Anda coba untuk menurunkan berat badan?
  • Apa tujuan penurunan berat badan Anda?
  • Apakah Anda siap melakukan perubahan gaya hidup untuk menurunkan berat badan?
  • Menurut Anda apa yang menghambat penurunan berat badan? Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan tes penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis obesitas agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
World Health Organization. https://www.who.int/nutrition/publications/bmi_asia_strategies.pdf
diakses pada 24 Juli 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/obesity/symptoms-causes/syc-20375742
diakses pada 24 Juli 2020
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/obesity/
diakses pada 24 Juli 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/obesity#treatment
diakses pada 24 Juli 2020
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. http://p2ptm.kemkes.go.id/dokumen-ptm/factsheet-obesitas-kit-informasi-obesitas
diakses pada 24 Juli 2020
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Ini Perbedaan Minuman Bersoda dan Minuman Berkarbonasi

Selama ini, minuman berkarbonasi sering disamakan dengan minuman soda. Padahal, keduanya sebenarnya berbeda. Salah satu perbedaannya adalah pada kandungannya.
29 Feb 2020|Aditya Prasanda
Baca selengkapnya
Minuman soda berbeda dengan minuman berkarbonasi

Cara Menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) yang Akurat

Mengetahui cara menghitung indeks massa tubuh (IMT) yang benar, sangat berguna bagi kesehatan Anda. Pasalnya, memiliki IMT terlalu rendah atau kelewat tinggi, bisa meningkatkan risiko Anda terkena penyakit tertentu.
02 Oct 2019|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Mengetahui cara menghitung IMT penting jika Anda ingin melihat kondisi Anda terlalu gemuk atau sebaliknya

Dislipidemia Adalah Keabnormalan Kadar Lemak Dalam Darah, Kenali Bahayanya

Dislipidemia adalah kondisi di mana kadar lemak dalam darah berada pada tingkat yang tak normal. Masalah ini bisa menyebabkan risiko penyakit kardiovaskular yang mengancam jiwa.
15 Aug 2020|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
Dislipidemia dapat memicu munculnya penyakit kardiovaskular