Saraf

Neuropati Diabetik

31 Mar 2021 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Neuropati Diabetik
Neuropati diabetik terjadi karena penyakit diabetes
Neuropati diabetik adalah kerusakan saraf akibat penyakit diabetes. Kondisi ini disebabkan oleh kadar gula darah terlalu tinggi yang berlangsung lama.Kerusakan saraf ini paling sering menyerang saraf-saraf kakim dan biasanya berkembang perlahan-lahan hingga bertahun-tahun.Tergantung saraf yang terkena, gejala neuropati diabetik bisa bervariasi. Mulai dari nyeri dan baal pada kaki hingga masalah pada sistem pencernaan, saluran kencing, pembuluh darah, serta jantung.Pada sebagian penderita, gejala neuropati diabetik bisa bersifat ringan. Namun beberapa pasien lain, keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari bisa saja terjadi.Diabetik neuropati termasuk komplikasi serius yang dapat dialami oleh 50 persen dari penderita diabetes. Namun kondisi ini dapat dicegah dan perkembangannya dihambar dengan mengendalikan kadar gula darah melalui pola hidup sehat. 

Jenis-jenis neuropati diabetik

Diabetes neuropatik erbagi dalam beberapa jenis berikut:
  • Neuropati perifer

Neuropati perifer memicu kerusakan saraf tepi (perifer), yakni saraf di luar otak dan tulang belakang. Kaki merupakan bagian tubuh yang palig sering terkena.
  • Neuropati proksimal (amiotropi diabetik)

Neuropati proksimal memengaruhi saraf di paha, pinggul, atau bokong. Jenis ini jarang ditemukan dan biasanya dialami oleh penderita diabetes pria yang berusia di atas 50 tahun.
  • Neuropati otonom

Neuropati otonom memengaruhi sistem saraf otonom, yakni saraf yang mengendalikan fungsi tubuh. Conothnya, saraf di sistem pencernaan, saluran kemih, kelamin, atau kardiovaskular.
  • Neuropati fokal

Neuropati fokal memengaruhi saraf atau kelompok saraf tertentu di tubuh. Jenis neuropati diabetik ini paling sering ditemukan pada tangan, kepala, atau kaki.Pengidap diabetes perlu memeriksa kadar gula darahnya secara rutin dan segera menghubungi dokter apabila mengalami gejala neuropati. 
Neuropati Diabetik
Dokter spesialis Saraf, Penyakit Dalam
GejalaMati rasa atau kesemutan pada kaki, nyeri atau sensasi terbakar, kelemahan otot kaki
Faktor risikoMengidap diabetes, kadar gula darah tidak terkontrol, penyakit ginjal 
Metode diagnosisTes filamen, pemeriksaan konduksi saraf, EMG
PengobatanMengendalikan kadar gula darah, mengatasi nyeri, akupuntur
ObatPregabalin, gabapentin, amitriptyline
KomplikasiHipoglikemia, amputasi kaki, infeksi saluran kemih
Kapan harus ke dokter?Mengalami luka di kaki yang tidak kunjung sembuh, muncul sensasi terbakar, kesemutan, atau lemah di tangan dan kaki
Gejala neuropati diabetik bervariasi bergantung pada jenisnya di bawah ini:

Gejala neuropati perifer

  • Mati rasa atau kesemutan pada kaki dan tungkai bawah kaki
  • Nyeri atau sensasi terbakar
  • Terkadang dapat terjadi di tangan atau lengan
  • Gangguan keseimbangan

Gejala neuropati proksimal

  • Nyeri pada di satu sisi pinggul, pantat, atau paha
  • Kelemahan otot kaki yang dapat menyebabkan kesulitan berdiri

Gejala neuropati otonom

  • Mual dan muntah
  • Diare
  • Sembelit
  • Pusing
  • Pingsan
  • Cepat merasa kenyang
  • Disfungsi ereksi pada pria
  • Inkontinensia urine (tidak dapat menahan buang air kecil atau mengompol tanpa disadari)
  • Ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih sepenuhnya
  • Penurunan lubrikasi vagina pada wanita
  • Kembung
  • Kesulitan menelan
  • Tekanan darah rendah tiba- tiba saat berdiri (hipotensi ortostatik)
  • Detak jantung saat istirahat terasa cepat

Gejala neuropati fokal

 
Hingga saat ini, penyebab neuropati diabetik belum diketahui secara pasti. Diperkirakan kadar gula darah tinggi dan tidak terkontrol merusak saraf dan mengganggu kemampuannya untuk mengirimkan sinyal.Kadar gula darah yang tinggi juga dapat melemahkan dinding pembuluh darah kecil (kapiler) yang menyuplai saraf dengan oksigen dan nutrisi. 

Faktor risiko neuropati diabetik

Semua penderita diabetes dapat mengalami neuropati diabetik. Tetapi beberapa faktor di bawah ini bisa meningkatkan risikonya:
  • Kadar gula darah yang tidak terkendali

Kadar gula darah yang tidak terkendali akan membuat pasien lebih berisiko mengalami komplikasi diabetes, termasuk kerusakan saraf.
  • Riwayat diabetes

Semakin lama pasien mengalami diabetes, risiko neuropati diabetik akan meningkat. Terutama bila kadar gula darah pasien tidak terkendali.
  • Penyakit ginjal

Diabetes dapat merusak ginjal. Kerusakan ginjal akan menyebabkan keluarnya zat racun ke dalam darah yang memicu kerusakan saraf.
  • Berat badan berlebih

Pasien dengan berat badan berlebih dengan indeks massa tubuh (IMT) 25 atau lebih dapat lebih rentan mengalami neuropati diabetik.
  • Merokok

Merokok akan membuat pembuluh darah menjadi lebih sempit dan keras, sehingga mengurangi aliran darah ke kaki dan tungkai. Hal ini akan membuat luka sulit sembuh dan merusak saraf perifer. 
Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan meninjau gejala dan riwayat medis pasien. Dokter lalu memeriksa kekuatan otot secara keseluruhan, refleks tendon, serta sensitivitas terhadap sentuhan dan getaran.Dokter juga akan memeriksa kaki pasien untuk melihat ada tidaknya luka, kulit pecah-pecah, melepuh, serta gangguan tulang dan sendi.Sembari melakukan pemeriksaan fisik, dokter juga bisa melaksanakan beberapa tes khusus di bawah ini untuk membantu dalam menentukan diagnosis neuropati diabetik:
  • Tes filamen

Dokter akan menyikat serat nilon lembut (monofilamen) di atas area kulit untuk menguji sensitivitas terhadap sentuhan.
  • Pengujian sensorik kuantitatif

Tes ini digunakan untuk mengetahui bagaimana saraf merespon getaran dan perubahan suhu.
  • Pemeriksaan konduksi saraf

Tes ini mengukur seberapa cepat saraf lengan dan kaki dalam menghantarkan sinyal listrik pada otot.
  • Elektromiografi (EMG)

Sering dilakukan bersama dengan pemeriksaan konduksi saraf. EMG mengukur muatan listrik yang dihasilkan di otot.
  • Pemeriksaan otonom

Jika pasien memiliki gejala neuropati otonom, tes khusus mungkin dilakukan untuk menentukan bagaimana tekanan darah pasien berubah ketika berada di posisi yang berbeda, dan apakah pasien berkeringat secara normal. 
Tidak ada cara mengobati neuropati diabetik yang bisa menyembuhkannya. Penanganan penyakit ini bertujuan memperlambat perkembangannya, dan umumnya berupa:

Perbaikan pola hidup

Menjaga kadar gula darah agar kembali normal merupakan cara terbaik untuk mengurangi risiko neuropati diabetik dan mencegah perkembangannya. Berhenti merokok dan berolahraga secara teratur juga perlu dilakukan.

Manajemen nyeri

Obat-obatan dapat digunakan untuk mengurangi nyeri akibat neuropati diabetik. Diskusikan dengan dokter tentang pilihan obat yang tersedia serta efek sampingnya.Beberapa jenis obat yang dapat direkomendasikan untuk mengurangi nyeri antara lain:
  • Obat antikejang

Beberapa jenis obat antikejang juga dapat meredakan nyeri pada saraf. Contohnya, pregabalin dan gabapentin.Namun efek samping obat antikejang perlu diwaspadai. Misalnya, pusing, bengkak, dan rasa kantuk.
  • Obat antidepresan

Obat antidepresan jenis trisiklik pun dapat meredakan nyeri saraf. Amitryptiline, desipramine, dan imipramine merupakan contohnya.Selain antidepresan trisiklik, obat jenis serotonin and norepinephrine reuptake inhibitors (SNRI) juga dapat diberikan oleh dokter. Misalnya, duloxetine dan venlafaxine.Obat antidepresan dan antikejang kerap dikombinasikan oleh dokter untuk mengatasi nyeri apda pengidap neuropati diabetik. Tak hanya itu, obat pereda rasa nyeri seperti paracetamol dan ibuprofen pun bisa diberikan jika dinilai bisa membantu.Terapi alternatif, seperti akupuntur, dapat memberikan bantuan ketika digunakan bersamaan dengan obat-obatan.

Mengelola komplikasi

Bergantung pada jenis neuropati diabetik, dokter akan menyarankan obat-obatan, terapi dan perubahan gaya hidup yang dapat membantu mengatasi gejala dan mencegah komplikasi. 

Komplikasi neuropati diabetik

Bila terus dibiarkan, neuropati diabetik dapat menyebabkan komplikasi berupa:
  • Tidak peka terhadap hipoglikemia (kadar gula darah rendah)

Kadar gula darah di bawah 70 mg/dL (hipoglikemia) umumnya menyebabkan jantung berdebar, berkeringat, dan gemetar. Namun pengidap neuropati diabetik tidak akan menyadari gejala-gejala tersebut, sehingga membahayakan.
  • Amputasi kaki

Kerusakan saraf dapat menyebabkan sensasi baal pada kaki. Akibatnya, luka kecil bisa muncul tanpa disadari dan akhirnya berkembang menjadi borok karena tak diobati.Pada kasus yang berat, infeksi dapat menyebar ke tulang atau menyebabkan kematian jaringan. Bila ini terjadi, amputasi mungkin diperlukan.
  • Infeksi saluran kemih dan inkontinensia urine

Bila saraf yang mengendalikan kandung kemih mengalami kerusakan, pasien akan merasa kesulitan mengosongkan kandung kemih. Bakteri juga dapat menumpuk di kandung kemih dan ginjal, menyebabkan infeksi saluran kemih.Kerusakan saraf juga akan mengganggu rasa ingin buang air kecil sehigga pasien dapat mengalami inkontinensia urine, yakni tidak mampu menahan buang air kecil (mengompol).
  • Penurunan tekanan darah

Kerusakan saraf yang mengendalikan aliran darah dapat mempengaruhi kemampuan tubuh untuk mengatur tekanan darah. Hal ini dapat menyebabkan tekanan darah menurun drastis ketika pasien berdiri setelah duduk, yang memicu pusing dan pingsan.
  • Gangguan pencernaan

Kerusakan saraf yang memengaruhi sistem pencernaan bisa menyebabkan diare, konstipasi, serta gastroperesis.
  • Disfungsi seksual

Neuropati kerap merusak saraf yang mempengaruhi organ seksual. Pria dapat mengalami disfungsi ereksi dan wanita bisa kesulitan mencapai orgasme.
  • Meningkatnya atau menurunnya jumlah keringat

Kerusakan saraf dapat mengganggu kerja kelenjar keringat dan mengganggu pengaturan suhu tubuh. 
Cara mencegah neuropati diabetik dilakukan dengan mengendalikan kadar gula darah. Apa sajakah caranya?
  • Rutin memantau kadar gula darah
  • Minum obat diabetes sesuai dengan resep dokter
  • Menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang
  • Rutin berolahraga, setidaknya 30 menit per hari atau 2,5 jam per minggu
  • Tidak merokok
 
Hubungi dokter jika Anda mengalami:
  • Luka di kaki yang tidak kunjung sembuh
  • Rasa terbakar, kesemutan, atau lemah di tangan atau kaki, yang mengganggu aktivitas sehari-hari
  • Perubahan pada saluran pencernaan, ekskresi, atau fungsi seksual
  • Pusing
Gejala-gejala tersebut memang tidak selalu menandakan adanya kerusakan saraf. Namun keluhan ini dapat menjadi tanda-tanda dari kondisi lain yang memerlukan pemeriksaan medis. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat bepergian yang baru-baru ini Anda lakukan.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
Anda juga dapat meminta keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter. 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait neuropati diabetik?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis neuropati diabetik. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/type-2-diabetes/diabetic-neuropathy
Diakses pada 11 Desember 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diabetic-neuropathy/symptoms-causes/syc-20371580
Diakses pada 10 Desember 2018
Medicinenet. https://www.medicinenet.com/diabetic_neuropathy/article.htm#what_is_diabetic_neuropathy
Diakses pada 11 Desember 2018
WebMD. https://www.webmd.com/diabetes/diabetic-neuropathy-directory
Diakses pada 10 Desember 2018
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email