Kepala

Multiple Sclerosis

03 Jun 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Multiple Sclerosis
Kerusakan sel saraf akan berakibat pada terganggunya hantaran sinyal saraf antara otak dan saraf tulang belakang dengan bagian tubuh lainnya
Multiple sclerosis (MS) adalah penyakit autoimun yang menyerang susunan saraf pusat, yaitu otak dan saraf tulang belakang. Pada penyakit autoimun, sel-sel imun yang seharusnya membantu tubuh melawan penyakit malah menyerang sel-sel tubuh yang sehat sehingga akan menyebabkan kerusakan permanen apabila tidak segera ditangani.Yang diserang adalah lapisan yang menyelubungi sel saraf otak dan saraf tulang belakang (myelin). Hal ini menyebabkan terjadinya peradangan dan kerusakan sel saraf. Kerusakan sel saraf akan mengganggu hantaran sinyal saraf antara otak maupun saraf tulang belakang dengan bagian tubuh lainnya, sehingga mengakibatkan gangguan fungsi organ dengan tingkat yang berbeda-beda.Di dunia, ada sekitar 2 juta-2,5 juta orang yang menderita MS, di mana paling banyak didiagnosis pada usia 20-40 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan penyakit MS berkembang di luar rentang usia tersebut.Multiple sclerosis tidak dapat disembuhkan, tapi terdapat obat-obatan dan perawatan lainnya yang dapat mengelola dan meringankan berbagai gejala MS.
Multiple Sclerosis
Dokter spesialis Saraf
GejalaGangguan gerak, gangguan penglihatan
Faktor risikoRiwayat keluarga, wanita, merokok, kekurangan vitamin D
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, , pemindaian
PengobatanPemberian obat-obatan, fisioterapi
ObatBeta Interferon, Fingolimod, kortikostreoid
KomplikasiRiwayat keluarga, wanita, merokok, kekurangan vitamin D
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami gejala
Gejala multiple sclerosis bisa sangat bervariasi, tergantung tipe, lokasi saraf yang terkena, dan tingkat keparahan pada setiap individu. Biasanya kondisi ini dapat membaik dengan terapi, tapi tetap hilang timbul, sementara pada sebagian orang gejala dapat menetap. Pada MS, ada periode relaps dimana gejala memburuk dan periode remisi dimana gejala membaik atau bahkan hilang.Gejala awal yang sering ditemukan:
  • Gangguan penglihatan
Pada sekitar 1 dari 4 kasus MS, gejala pertama yang terlihat adalah gangguan pada salah satu mata, atau bisa juga terjadi pada kedua mata. Gejala tersebut berupa pandangan kabur, pandangan ganda, kehilangan penglihatan sementara yang biasanya berlangsung selama berhari-hari sampai berminggu-minggu, kebutaan warna, dan nyeri terutama saat menggerakan mata.
  • Gangguan sensasi
Gejala ini dapat berupa mati rasa, kesemutan, baal, rasa terbakar, dan rasa tertusuk jarum di berbagai bagian tubuh yang biasanya menyebar selama beberapa hari. Gejala yang khas adalah adanya Lhermitte’s sign berupa sensasi sengatan pada leher ketika leher digerakan ke depanBagian yang paling sering merasakan gejala ini adalah wajah, lengan, dan kaki.
  • Nyeri, kejang, kelemahan otot
MS dapat menyebabkan otot Anda berkontraksi sehingga kejang, kaku, dan terasa lemah. Hal ini terjadi terutama di kaki dan punggung.
  • Gangguan mobilitas
    MS dapat membuat Anda kesulitan bergerak terutama jika Anda juga mengalami kelemahan otot. Gejala meliputi gangguan keseimbangan dan koordinasi (ataksia), anggota badan gemetar (tremor), pusing, dan vertigo.
  • Rasa sakit
    Beberapa orang dengan MS mengalami nyeri yang terjadi dalam dua jenis, yaitu neuropatik dan muskuloskeletal. Neuropatik disebabkan oleh kerusakan sistem saraf dan menyebabkan rasa nyeri menusuk di wajah, rasa terbakar, dan kesemutan. Nyeri muskuloskeletal meliputi rasa nyeri punggung, leher, dan persendian.
  • Kelelahan saat melakukan aktivitas sehari-hari
  • Gangguan berkemih
    Masalah kandung kemih yang sering terjadi pada MS meliputi frekuensi kemih yang meningkat, tidak bisa menahan kemih, sampai infeksi saluran kemih berulang.
  • Gangguan buang air besar, seperti konstipasi dan tidak bisa menahan buang air besar
  • Disfungsi seksual
    Pria dengan MS sering mengalami kesulitan untuk ereksi (disfungsi ereksi). Sementara wanita biasanya mengalami kesulitan orgasme. Baik pria maupun wanita dengan MS merasa kurang tertarik pada seks dibandingkan sebelumnya.
  • Gangguan kognitif, seperti gangguan memori, atensi, konsentrasi, dan berpikir
    Gejala meliputi kesulitan belajar dan mengingat hal baru (ingatan jangka panjang biasanya tidak terpengaruh), kelambatan memproses informasi atau multitasking, rentang konsentrasi menyingkat, kesulitan dengan kata-kata, kesulitan memproses informasi visual seperti membaca peta, kesulitan merencanakan dan menyelesaikan masalah, gangguan penalaran.
  • Gangguan berbicara dan menelan
    Beberapa penderita MS mengalami kesulitan menelan (disfagia) dan ucapannya menjadi cadel atau sulit dipahami (disartria).
  • Gangguan mental
    Banyak orang dengan MS mengalami periode depresi. Sampai saat ini belum jelas apakah depresi secara langsung disebabkan oleh MS atau akibat stres karena harus hidup dengan MS dalam kondisi jangka panjang. Kecemasan juga menjadi masalah bagi penderita MS karena kondisi MS yang tidak dapat diprediksi. Dalam beberapa kasus, penderita MS dapat mengalami perubahan suasana hati yang cepat dan parah, tiba-tiba menangis, tertawa, atau berteriak marah tanpa alasan yang jelas.
Kebanyakan penderita MS hanya mengalami sebagian kecil dari keseluruhan gejala di atas. Gejala MS bisa mirip dengan gejala penyakit lain, maka disarankan segera menemui dokter jika Anda khawatir akan kemungkinan adanya MS.
Seperti kebanyakan penyakit autoimun, penyebab multiple sclerosis belum diketahui. Namun, mekanismenya adalah karena kesalahan sistem imun. Sementara itu, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang lebih rentan terkena MS, di antaranya adalah:
  • Usia: MS dapat menjangkit semua usia, namun gejala pertama MS paling banyak terjadi di sekitar usia 20-55 tahun.
  • Jenis kelamin: Wanita lebih rentan menderita MS sebanyak 2-3 kali lipat dari pria
  • Riwayat keluarga dengan MS
  • Infeksi, terutama infeksi virus Epstein-Barr yang menyebabkan mononukleosis menular
  • Ras: MS lebih sering ditemukan pada orang kulit putih terutama di Eropa Orang Asia, Afrika, atau Amerika asli memiliki risiko MS paling rendah.
  • Iklim: MS jauh lebih sering terjadi di Negara dengan iklim sedang daripada iklim tropis.
  • Menderita penyakit autoimun lain seperti tiroid, diabetes tipe 1, atau penyakit radang usus
  • Merokok
  • Kekurangan Vitamin D, terutama terjadi pada orang yang kurang terpapar sinar matahari atau tinggal di negara yang tidak mendapatkan sinar matahari yang cukup.
Deteksi dini multiple sclerosis penting karena memberi kita kesempatan untuk mencari dan merencanakan pengobatan. Penegakkan diagnosis MS biasanya dilakukan dengan menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit lain, karena tidak ada alat diagnostik pasti dan spesifik untuk MS.Penegakan diagnosis MS dapat didasarkan pada kriteria di bawah ini:
  • Terdapat minimal dua area kerusakan saraf pusat (otak, saraf tulang belakang, dan saraf mata), yang berarti telah terjadi minimal dua kali serangan
  • Kerusakan tersebut terjadi di waktu yang berbeda, dan dikonfirmasi dengan MRI.
  • Gejala tidak disebabkan oleh penyakit lain.
Untuk mengonfirmasi MS, beberapa pemeriksaan berikut ini dapat dilakukan:
  • Pemeriksaan neurologi (saraf) lengkap, meliputi pemeriksaan lengkap mulai dari status mental, kognitif, keseimbangan, koordinasi gerak, tes kelima panca indra, kekuatan tangan dan otot, serta refleks. Pemeriksaan tersebut dapat mendeteksi kerusakan saraf dan terkadang dapat memberi petunjuk lokasi kerusakan, misalnya di susunan saraf pusat atau tepi (selain otak dan saraf tulang belakang).
  • Pemeriksaan darah untuk menyingkirkan penyakit autoimun lain maupun infeksi
  • MRI, sebagai pemeriksaan radiologi yang akan memberikan gambaran lokasi MS pada otak dan saraf tulang belakang. Pemeriksaan ini dapat mengonfirmasi diagnosis MS jika ditemukan minimal dua area kerusakan. Namun, hasil MRI yang normal tetap tidak dapat menyingkirkan MS sehingga perlu dilakukan pemeriksaan tambahan lain.
  • Pemeriksaan cairan otak dan saraf tulang belakang, yang diambil melalui tulang belakang (pungsi lumbal) dan dilakukan dengan obat bius lokal. Hasilnya dapat menunjukkan kelainan sistem imun (antibodi), juga untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi susunan saraf pusat dengan gejala serupa.
  • Evoked potentials (EP), yang dilakukan dengan memberikan rangsangan elektrik ataupun visual. Rangsangan visual dilakukan dengan melihat semacam pola atau cahaya yang bergerak dan elektroda ditempatkan di kepala. Sementara itu, rangsangan elektrik diberikan pada kedua tangan dan kaki dengan elektroda pada tangan dan kaki. Elektroda ini akan mengukur kecepatan rangsangan tersebut dihantarkan melalui sistem saraf di tubuh, sehingga dapat mendeteksi melambatnya hantaran sinyal saraf di tubuh melambat (menandakan adanya kerusakan saraf).
Multiple sclerosis belum bisa disembuhkan. Namun ada beberapa perawatan untuk mempercepat pemulihan setelah serangan, memperlambat progresivitas penyakit, dan meringankan gejala yang timbul. Untuk gejala yang ringan kadang tidak diperlukan terapi.Terapi MS dibagi menjadi tiga, yaitu terapi saat terjadi serangan, terapi jangka panjang untuk memperlambat progresifitas penyakit, dan terapi untuk meringankan gejala.

Terapi untuk Serangan

  • Kotrikosteroid: untuk menekan aktivitas sel imun sehingga dapat mengurangi peradangan yang terjadi pada sel saraf. Pilihannya adalah prednison oral (minum) dan injeksi metilprednisolon.
  • Plasmapharesis: dilakukan dengan mengeluarkan plasma (bagian cair dari darah) dari tubuh serta memisahkannya dari sel darah merah. Sel darah merah kemudian dicampur dengan albumin (protein) dan dimasukkan kembali ke dalam tubuh. Tujuan tindakan ini adalah untuk ‘mencuci’ sel imun yang ada di plasma agar tidak menyerang sel tubuh yang sehat. Tindakan ini dilakukan saat gejala baru muncul, parah, dan tidak membaik dengan pemberian kortikosteroid.

Terapi untuk Memodifikasi Perkembangan Penyakit

Untuk MS progresif primer, perawatan dilakukan dengan pemberian obat ocrelizumab. Sementara itu bagi MS yang kambuh-reda, tersedia beberapa terapi modifikasi penyakit, melalui pemberian obat suntik, obat minum, dan infus.

Pengobatan suntik meliputi:

  • Obat interferon beta: Obat ini adalah obat yang paling sering diresepkan untuk mengobati MS. Obat akan disuntikkan di bawah kulit atau otot untuk mengurangi frekuensi terjadinya gejala dan mengurangi keparahan apabila gejala kambuh.
  • Glatiramer asetat: Obat ini dapat membantu memblokir serangan sistem kekebalan tubuh terhadap myelin.

Pengobatan oral meliputi:

  • Fingolimod. Obat ini dikonsumsi sehari sekali untuk mengurangi tingkat kek Pasien diharuskan memantau detak jantung dan tekanan darah selama enam jam setelah dosis pertama.
  • Dimetil fumarate. Obat ini dikonsumsi sehari dua kali untuk mengurangi kambuhnya gejala.
  • Diroximel fumarat. Kapsul ini biasanya dikonsumsi dua kali sehari untuk mengurangi gejala.
  • Teriflunomide, dikonsumsi sehari sekali.
  • Siponimod. Penelitian menunjukkan bahwa Siponimod yang dikonsumsi sekali sehari dapat mengurangi tingkat kekambuhan dan membantu memperlambat perkembangan MS.
  • Cladribine, akan tetapi, pasien yang yang memiliki infeksi kronis aktif atau kanker tidak boleh mengonsumsi obat ini, begitu pula wanita yang sedang hamil atau menyusui.

Perawatan infus meliputi:

  • Ocrelizumab: Obat ini merupakan satu-satunya yang disetujui FDA untuk mengobati MS. Uji klinis menunjukkan bahwa obat ini mengurangi tingkat kekambuhan dan memperlambat perkembangan penyakit. Ocrelizumab diberikan melalui infus intravena.
  • Natalizumab: Obat ini dirancang untuk memblokir pergerakan sel yang berpotensi merusak dari aliran darah ke otak dan sumsum tulang belakang.
  • Alemtuzumab: Obat ini membantu mengurangi kekambuhan MS. Pengobatan dengan alemtuzumab dilakukan dengan infus selama lima hari berturut-turut diikuti dengan tiga hari infus pada satu tahun setelahnya. Alemtuzumab biasanya direkomendasikan untuk pasien dengan MS agresif atau sebagai pengobatan lini kedua bagi pasien yang gagal dalam pengobatan MS lainnya.

Terapi untuk Meringankan Gejala

  • Fisioterapi: untuk melemaskan otot yang kaku, menguatkan otot yang lemah, dan melatih pasien untuk menggunakan alat bantu secara tepat untuk mempermudah aktivitas sehari-hari seperti berjalan, jika ada kelemahan kaki maupun gangguan koordinasi atau keseimbangan.
  • Obat pelemas otot: untuk nyeri dan ketegangan/kekakuan otot. Contoh obat: baclofen, tizanidine, dan cyclobenzaprine.
  • Obat untuk meningkatkan kecepatan berjalan, contohnya dalfampridine.
  • Obat untuk meringankan kelelahan, contohnya amantadine, modafinil dan methylphenidate.
  • Obat untuk gejala lain (depresi, nyeri, disfungsi seksual, gangguan BAK dan BAB, disesuaikan sesuai gejala yang ada).
  • Menerapkan gaya hidup sehat dengan mendapat cukup istirahat, berolahraga, memakan makanan sehat, dan meredakan stress.

 Komplikasi

Jika tidak diobati dengan baik, kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi berupa:
  • Otot kaku atau kejang otot
  • Kelumpuhan, biasanya di kaki
  • Gangguan kandung kemih, usus, atau disfungsi seksual
  • Perubahan mental seperti mudah lupa atau suasana hati yang mudah berubah secara ekstrem
  • Depresi
  • Epilepsi
Para ahli belum dapat mengembangkan metode untuk mencegah multiple sclerosis . Salah satu alasan utamanya adalah penyebab MS belum sepenuhnya diketahui. Para ahli percaya bahwa kombinasi faktor genetik dan lingkungan berkontribusi pada perkembangan MS. Mengidentifikasi faktor-faktor tersebut mungkin bisa membantu mengetahui penyebab dan membuka pintu untuk pengengembangan pengobatan dan pencegahan MS.Meskipun MS tidak dapat dicegah, namun dapat dilakukan upaya gaya hidup sehat untuk mencegah serangan, memperbaiki gejala, dan memperlambat perkembangan penyakit, seperti:
  • Menghindari stres
  • Menghindari panas (panas matahari, mandi air panas)
  • Berolahraga teratur
  • Melatih kekuatan dan peregangan otot
  • Tidak merokok
  • Mengonsumsi vitamin D
  • Rajin berjemur
Beberapa penelitian dilakukan untuk mengetahui kemungkinan faktor pencegahan MS, seperti:
  • Berpuasa: sebuah penelitian pada 2016 menemukan bahwa puasa dapat memberikan manfaat bagi penderita MS kambuh-reda.
  • Mengonsumsi kopi: sebuah penelitian pada 2016 menemukan bahwa risiko MS jauh lebih rendah pada orang yang mengonsumsi kopi dalam jumlah tinggi (lebih dari 30 ons, atau sekitar 4 cangkir sehari)
  • Mengonsumsi anggur merah: Sebuah penelitian pada 2017 menemukan bahwa resveratrol (senyawa di dalam anggur merah) menunjukan efek anti-inflamasi pada otak yang dapat memulihkan lapisan myelin.
Jika Anda merasakan gejala-gejala multiple sclerosis yang telah disebutkan sebelumnya, disarankan untuk berkonsultasi ke dokter.
Sebelum melakukan pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Membuat daftar seputar gejala yang Anda rasakan dengan spesifik
  • Mencatat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Mencatat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Mencatat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Membawa hasil pemeriksaan jika sebelumnya telah melakukan pemeriksaan tertentu
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
  • Membuat janji dengan dokter umum. Jika dokter mencurigai Anda kemungkinan menderita MS, dokter akan mengajukan rujukan ke dokter spesialis saraf
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait multiple sclerosis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis multiple sclerosis agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5241505/
Diakses pada 15 April 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/multiple-sclerosis/symptoms-causes/syc-20350269
Diakses pada 15 April 2021
Medbroadcast. https://medbroadcast.com/condition/getcondition/multiple-sclerosis
Diakses pada 29 Oktober 2018
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23045241
Diakses pada 29 Oktober 2018
Healthline. https://www.healthline.com/health/multiple-sclerosis/early-signs
Diakses pada 15 April 2021
Nationalmssociety. https://www.nationalmssociety.org/Symptoms-Diagnosis/Diagnosing-Tools/MRI
Diakses pada 29 Oktober 2018
Web MD. https://www.webmd.com/multiple-sclerosis/multiple-sclerosis-diagnosing#1
Diakses pada 29 Oktober 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/multiple-sclerosis/
Diakses pada 15 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email