Infeksi

MERS (Middle East Respiratory Syndrome)

Diterbitkan: 06 Oct 2020 | Lenny TanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image MERS (Middle East Respiratory Syndrome)
MERS bisa ditandai dengan demam, batuk, dan sulit bernapas
Middle East respiratory syndrome atau MERS adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV). Namun jenis virus corona penyebabnya berbeda dari virus yang memicu penyakit serupa, yaitu SARS dan COVID. MERS pertama kali ditemukan di Arab Saudi pada tahun 2012. Sejak itu, penyakit ini menyebar ke negara-negara Timur Tengah lainnya, kemudian ke seluruh dunia.Sebagian besar kasus MERS ditularkan melalui turis yang datang ke Timur Tengah. Namun masyarakat Timur Tengah yang melancong ke luar negeri juga bisa menyebarkan virus ini.Kebanyakan penderita infeksi MERS-CoV mengalami infeksi saluran pernapasan bawah yang menyerupai pneumonia, dengan gejala demam, batuk, dan sesak napas.MERS dapat menyebabkan gagal napas atau gagal ginjal, dan sering mematikan. Sekitar 3 hingga 4 dari 10 pasien MERS dilaporkan meninggal dunia karena penyakit ini.Oleh sebab itu, waspadalah jika Anda baru saja pulang dari Timur Tengah dan mengalami gangguan pernapasan. Khususnya bagi kalangan lanjut usia (lansia). 
MERS (Middle East Respiratory Syndrome)
Dokter spesialis Penyakit Dalam, Paru
GejalaDemam, batuk, sesak napas
Faktor risikoBepergian ke Timur Tengah dan sekitarnya, lansia, sistem imun lemah
Metode diagnosisTes darah, PCR, rontgen dada
PengobatanIstirahat, obat pereda nyeri, infus
ObatParacetamol, ibuprofen, vasopressor
KomplikasiPneumonia, gagal napas, gagal ginjal
Kapan harus ke dokter?Demam dan gangguan pernapasan dalam 14 hari setelah pulang dari Timur Tengah dan sekitarnya
Gejala MERS mirip dengan gejala influenza, dan biasanya muncul pada 5-6 hari setelah infeksi virus. Akan tetapi, gejala ini juga bisa muncul 2-14 hari pascainfeksi.Pada beberapa kasus, MERS bahkan tidak menimbulkan gejala apapun. Namun bila bergejala, keluhan yang dialami oleh pengidap bisa berupa:

Gejala umum

Gejala lain

  • Menggigil
  • Nyeri dada
  • Pegal-pegal
  • Sakit tenggorokan
  • Rasa tidak enak badan atau malaise
  • Nyeri kepala
  • Diare
  • Mual dan muntah
Infeksi virus MERS-CoV juga dapat menyebabkan komplikasi lebih lanjut. Contohnya, gagal organ (terutama ginjal) dan pneumonia.Pada beberapa kasus, MERS dapat menyebabkan gangguan napas berat dan penderita mungkin membutuhkan alat bantu napas, yaitu ventilator.Baca juga: Kapan Ventilator Dibutuhkan oleh Pasien? 
Penyebab MERS adalah Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV). Namun jenis virus corona ini berbeda dari virus yang memicu penyakit serupa, yaitu SARS dan COVID-19 

Proses penularan MERS

Penularan virus MERS-CoV dapat terjadi melalui dua cara di bawah ini:
  • Binatang ke manusia

MERS-CoV dapat menginfeksi unta, dan unta ini kemudian menularkan virus ke manusia. Penularan dapat terjadi lewat kontak dekat dan konsumsi susu atau daging unta yang tidak dimasak hingga benar-benar matang.
  • Manusia ke manusia

MERS juga dapat menular antarmanusia. Namun penyebaran penyakit MERS tidaklah semudah influenza.Virus MERS-CoV menyebar di antara manusia melalui percikan air liur atau ingus di udara saat penderita bersin maupun batuk.Namun penularan MERS tidak semudah influenza. Penyakit ini menular ketika ada kontak dekat, misalnya orang yang merawat atau tinggal serumah dengan penderita.Hinga kini, para ilmuwan masih terus meneliti proses penyebaran MERS-CoV di antara manusia. 

Faktor risiko MERS

Beberapa faktor berikut juga bisa mempertinggi risiko Anda untuk terkena MERS maupun mengalami komplikasinya:
  • Bepergian ke Timur Tengah dan sekitarnya

Orang yang melancong ke wilayah Timur Tengah dan sekitarnya lebih berisiko untuk mengalami MERS, terutama jika ia juga menunjukkan gejala gangguan pernapasan.
  • Usia

Kalangan lansia memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami MERS.
  • Penyakit kronis tertentu

Orang yang mengalami gangguan medis kronis tertentu bisa memiliki risiko penularan dan komplikasi MERS yang lebih tinggi. Misalnya, pengidap penyakit paru kronis, diabetes, masalah ginjal, serta kanker.Sebagian besar penderita MERS yang meninggal berasal dari pasien yang mengalami penyakit kronis tertentu.
  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah

Sistem imun yang lemah juga termasuk faktor risiko MERS. Contohnya. pengidap HIV/AIDS, orang menjalani prosedur kemoterapi untuk menangani kanker, serta orang yang mengonsumsi obat penekan imun (imunosupresan). 
Untuk menentukan diagnosis MERS, dokter akan melakukan langkah-langkah di bawah ini:
  • Menanyakan gejala yang dialami oleh pasien serta riwayat bepergian.
  • Pemeriksaan fisik, seperti mengecek bunyi napas dengan stetoskop.
  • Tes usap hidung atau tenggorokan (PCR) guna mengambil sampel jaringan dari saluran pernapasan pasien. Sampel ini akan diperiksa di bawah mikroskop untuk memastikan keberadaan virus.
  • Tes darah untuk mendeteksi antibodi terhadap virus dalam tubuh pasien.
  • Rontgen dada guna mengecek ada tidaknya gangguan pada paru-paru pasien.
  • Kultur dahak guna mengecek keberadaan virus pada dahak yang dikeluarkan oleh pasien.
  • Kultur feses untuk mengecek ada tidaknya virus pada tinja pasien.
 
Cara mengobati MERS belum tersedia secara spesifik hingga sekarang. Dokter akan menganjurkan langkah penanganan untuk meringankan gejala serta mencegah komplikasi.Beberapa metode pengobatan MERS yang mungkin dianjurkan oleh dokter meliputi:

1. Pengobatan MERS tingkat ringan

Beristirahat sebanyak-banyaknya agar proses penyembuhan berjalan lancarPemberian obat pereda sakit dan demam, misalnya paracetamol dan ibuprofen

2. Pengobatan MERS tingkat berat

MERS dengan gejala berat biasanya membutuhkan penanganan di rumah sakit. Selama rawat inap, dokter akan memberikan:

- Infus

Infus berisi cairan diberikan untuk mencegah dehidrasi pada pasien

- Oksigen

Pasien yang mengalami sesak napas berat akan memerlukan tambahan oksigen, misalnya melalui masker napas maupun ventilator.

- Vasopressor

Vasopressor adalah obat untuk meningkatkan tekanan darah. Obat ini diberikan jika tekanan darah pasien dinilai terlalu rendah. 

Komplikasi MERS

Jika tidak ditangani dengan benar, MERS bisa memicu komplikasi-komplikasi berikut:
  • Pneumonia
  • Gagal napas
  • Gagal ginjal
  • Syok septik, di mana bakteri menyebar ke seluruh tubuh dan memicu tekanan darah sangat rendah hingga tubuh pasien mengalami syok
Baca juga: Syok Septik, Penyebab Kematian pada Penderita Sepsis 
Sampai saat ini, vaksin MERS masih dalam tahap pengembangan. Namun Anda bisa menghindari penularannya dengan cara-cara di bawah ini:
  • Tidak bepergian ke Timur Tengah dan sekitarnya.
  • Menghindari kontak dengan unta.
  • Menghindari konsumsi susu unta mentah atau produk yang berkaitan dengan hewan ini.
  • Tidak mengonsumsi susu mentah dan makanan apapun yang mungkin terkontaminasi dengan sekresi hewan (baik kotoran, urine, maupun cairan tubuh lainnya).
  • Sering mencuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir selama 20 detik atau lebih.
  • Menutup hidung atau mulut dengan tisu ketika bersin atau batuk. Segera buang tisu yang telah digunakan ke tempat sampah, lalu cucilah tangan Anda.
  • Menggunakan disinfektan untuk membersihkan permukaan barang atau tempat tertentu yang sering disentuh oleh penghuni rumah, misalnya gagang pintu.
  • Jangan sering memegang wajah (misalnya mata, hidung, dan mulut) sebelum mencuci tangan.
  • Jangan saling meminjamkan alat makan.
 
Apabila Anda mengalami demam dan gejala gangguan pernapasan dalam waktu 14 hari setelah pulang bepergian dari negara di Timur Tengah dan sekitarnya, segeralah berkonsultasi dengan dokter. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat riwayat bepergian yang baru-baru ini Anda lakukan.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait MERS, misalnya riwayat bepergian ke negara lain?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda yang menderita gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis MERS. Dengan ini, pengobatan bisa diberikan secara tepat. 
WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/middle-east-respiratory-syndrome-coronavirus-(mers-cov)
Diakses pada 1 Januari 2020
CDC. https://www.cdc.gov/coronavirus/mers/about/index.html
Diakses pada 1 Januari 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sars/expert-answers/what-is-mers-cov/faq-20094747
Diakses pada 1 Januari 2020
Medicine Net. https://www.medicinenet.com/mers_middle_east_respiratory_syndrome/article.htm#what_causes_mers_how_is_mers_transmitted
Diakses pada 1 Januari 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/262538.php
Diakses pada 1 Januari 2020
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/middle-east-respiratory-syndrome-mers/
Diakses pada 1 Januari 2020
Johns Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/middle-east-respiratory-syndrome-mers
Diakses pada 29 September 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email