Meningitis bakterialis adalah meningitis yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Penyakit ini dapat menyerang berbagai golongan usia, termasuk bayi baru lahir.

Pengobatan medis harus segera dilakukan jika Anda mencurigai seseorang menderita meningitis. Pengobatan lebih awal pada meningitis bakterialis dapat mencegah komplikasi yang serius (kerusakan otak permanen), bahkan kematian.

Gejala meningitis bakterialis serupa dengan meningitis pada umumnya. Beberapa indikasinya bisa meliputi:

Ada pula gejala lain yang menjadi penyertanya, seperti mual dan muntah, penurunan kesadaran, kejang, ruam kulit, dan penurunan nafsu makan.

Bila terjadi pada bayi di bawah 1 bulan, gejala meningitis bakteriasli dapat berupa:

  • Tidak mau menyusu.
  • Bayi tampak lemas dan tidak berenergi.
  • Iritasi.
  • Henti napas sesaat (apnea). 
  • Tidak menunjukkan respons apapun (apatis).
  • Demam.
  • Kejang.
  • Penyakit kuning (jaundice).
  • Syok.

Bakteri dapat memasuki pembuluh darah dan mengalir ke otak dan tulang belakang, kemudian menyebabkan meningitis bakterialis. Tetapi ada juga meningitis bakterialis yang terjadi akibat bakteri yang menyerang meninges secara langsung. Misalnya, melalui infeksi telinga atau infeksi sinus, retak tulang tengkorak, atau prosedur operasi.

Jenis bakteri penyebab meningitis bakterialis umumnya meliputi:

  • Streptococcus pneumoniae

Streptococcus pneumoniae merupakan penyebab meningitis bakteri yang paling umum pada bayi, anak-anak, dan orang dewasa. Bakteri ini lebih sering menyebabkan pneumonia atau infeksi telinga dan sinus. Imunisasi dapat membantu mencegah infeksi dari bakteri jenis ini.

  • Neisseria meningitidis

Neisseria meningitidis adalah penyebab umum infeksi saluran pernapasan atas. Nmaun bakteri ini dapat pula menyebabkan meningitis meningokokal ketika bakteri masuk ke pembuluh darah. Imunisasi juga bisa dilakukan sebagai langkah pencegahan.

  • Haemophilus influenzae

Bakteri Haemophilus influenzae tipe B adalah penyebab dari meningitis bakterialis pada anak. Pemberian imunisasi HIB dapat mengurangi risikonya.

  • Listeria monocytogenes

Listeria monocytogenes dapat ditemukan dalam keju yang tidak dipasteurisasi serta daging yang diawetkan (seperti sosis atau daging kalengan). Wanita hamil, bayi baru lahir, orang dengan sistem imun lemah termasuk kalangan yang paling mudah terkena infeksi bakteri ini.

Diagnosis meningitis bekterialis dapat ditegakkan dengan pengambilan dan pemeriksaan sampel darah dari cairan serebrospinal (cairan otak dan tulang belakang). Cairan ini akan diperiksa di laboratorium untuk melihat apa penyebab dari infeksi.

Langkah pemeriksaan tersebut sangat penting untuk mengetahui penyebab khusus dari meningitis, sehingga dokter bisa memberikan pengobatan dengan tepat.

Pengobatan meningitis bakterialis harus dilakukan secepatnya. Penanganan bisa dengan memberikan antibiotik melalui infus (intravena) dan terkadang ditambahkan dengan kortikosteroid.

Penanganan tersebut membantu untuk memastikan pemulihan dan mengurangi risiko komplikasi, seperti pembengkakan otak dan kejang.

Jenis antibiotik yang diberikan akan bergantung pada tipe bakteri penyebab infeksi meninges. Dokter akan merekomendasikan antibiotik spektrum luas sampai dapat menentukan bakteri pemicu meningitis secara pasti. 

Meningitis bakterialis termasuk penyakit serius dan dapat berujung fatal dalam beberapa hari tanpa pengobatan antibiotik yang benar. Penundaan pengobatan juga akan meningkatkan risiko kerusakan otak permanen bahkan kematian.

Pencegahan meningitis bakterialis dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

  • Membiasakan cuci tangan, khususnya setelah ke toilet atau sebelum makan atau menyiapkan makanan. Langkah ini penting untuk mencegah penyebaran bakteri.
  • Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, misalnya tidak meminjam atau meminjamkan barang-barang pribadi dengan orang lain. Mulai dari handuk, sikat gigi, peralatan makan, makeup, dan banyak lagi.
  • Menjaga sistem kekebalan tubuh agar tetap baik, contohnya dengan mendapatkan istirahat yang cukup, berolahraga secara teratur, serta mengonsumsi makanan sehat dan seimbang (seperti buah dan sayur).
  • Menutup mulut ketika batuk atau bersin.
  • Jangan mengonsumsi makanan mentah, terutama bagi wanita yang sedang hamil. Masaklah makanan hingga benar-benar matang sebelum dikonsumsi.

Melakukan vaksinasi, seperti HiB, PCV13, dan vaksin meningococcal conjugate.

Sebelum menemui dokter, Anda sebaiknya mempersiapkan hal-hal berikut ini:

  • Tanyakan apakah ada pantangan yang perlu dilakukan sebelum menjalani pemeriksaan, misalnya puasa.
  • Catat semua gejala yang dialami.
  • Catat informasi pribadi.
  • Catat semua obat, obat herba, vitamin, dan suplemen yang dikonsumsi 
  • Catat pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter.
  • Ajaklah teman atau anggota keluarga untuk menemani Anda saat berkonsultasi. Dengan ini, mereka bisa membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Carilah pertolongan medis jika Anda atau seseorang di sekitar Anda memiliki gejala meningitis yang meliputi:

  • Demam.
  • Sakit kepala yang parah atau semakin sering dan bertambah berat.
  • Kebingungan atau linglung.
  • Muntah.
  • Kekakuan pada leher.

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut: 

  • Seberapa parah gejalanya? Apakah gejalanya memburuk?
  • Kapan Anda mulai mengalami gejala?
  • Apakah ada hal-hal yang meringankan atau memperburuk gejala?
  • Apakah Anda terpapar dengan orang yang menderita meningitis?
  • Apakah ada orang yang memiliki gejala yang sama di rumah Anda?

CDC. https://www.cdc.gov/meningitis/bacterial.html
Diakses pada 4 Oktober 2019

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/961497-overview
Diakses pada 4 Oktober 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/meningitis/symptoms-causes/syc-20350508
Diakses pada 4 Oktober 2019

Artikel Terkait