Perut

Megakolon

11 Jan 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Megakolon
Megakolon adalah usus besar yang meregang dan melebar secara tidak normal
Megakolon adalah peregangan dan pelebaran usus besar yang tidak normal. Definisi dari megakolon bervariasi. Namun, ukuran diameter usus yang lebih dari 12 cm, bisa disebut sebagai megakolon.Berdasarkan penyebabnya. megakolon dibagi menjadi 3 kategori yaitu megakolon akut, megakolon kronik dan megakolon toksik. 
  • Megakolon akut, yang terjadi tanpa penyebab jelas, dan disebut juga dengan istilah sindrom Oglivie.
  • Megacolon kronis biasanya disebabkan sebagai komplilkasi dari penyakit yang sebelumnya telah diderita pasien. Kondisi ini dapat pula disebabkan oleh faktor genetik, misalnya penyakit Hirschsprung dan sindrom Waardenburg-Shah.
  • Egakolon toksik, sebagai kondisi langka yang terjadi akibat pelebaran usus besar, dan berkembang dalam beberapa hari, serta dapat membahayakan nyawa. Kondisi ini berpotensi muncul sebagai komplikasi penyakit radang usus menahun, seperti penyakit Crohn. 
 
Megakolon
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaPerut kembung dan nyeri, mual, konstipasi
Faktor risikoInfeksi, penggunaan obat-obat tertentu seperti antidepresan
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, pemindaian, biopsi
PengobatanOperasi, obat-obatan
ObatAntibiotik, steroid
KomplikasiUsus pecah, syok, sepsis, koma
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami gejala megakolon

Gejala umum dari megakolon: 

  • Perut kembung dan nyeri 
  • Mual 
  • Konstipasi yang berkepanjangan
  • Sakit atau tekanan pada rektum

Gejala megakolon toksik:

  • Sakit perut 
  • Perut kembung 
  • Perut terasa nyeri saat ditekan
  • Demam 
  • Detak jantung cepat 
  • Syok 
  • Diare parah dan dapat disertai dengan darah 
  • Nyeri saat buang air besar
 
Megakolon terjadi karena pelebaran maupun peregangan usus besar. Penyebabnya belum sepenuhnya dipahami, tetapi diduga karena disebabkan gangguan primer yang melibatkan sistem otot dan saraf usus.Berdasarkan tipenya, penyebab megakolon meliputi kondisi-kondisi berikut ini.
  1. Megakolon akut

Megakolon akut (megakolon pseudo-obstruksi) dapat disebabkan oleh:
  • Ketidakseimbangan elektrolit
  • Gangguan metabolik dan hormon (hipotiroid dan hiperparatiroid)
  • Pengobatan tertentu, seperti antikolinergik, antagonis saluran kalsium atau narkotika
  • Penyakit radang usus atau inflammatory bowel disease (IBD)
  • Infeksi
  1. Megakolon kronik

Megakolon kronis dapat terjadi akibat:
  • Penyakit Chagas
  • Penyakit Parkinson
  • Neuropati diabetik (penyakit saraf akibat kencing manis)
  • Amiloidosis
  • Kelainan kongenital (akibat faktor genetik atau keturunan).
  1. Megakolon toksik

Penyebab umum megakolon toksik meliputi:
  • Peradangan: Radang usus menahun, penyakit Crohn, inflammatory bowel disease (IBD), berisiko menyebabkan pembengkakan dan iritasi pada bagian saluran pencernaan. Kondisi ini dapat menyakitkan dan menyebabkan kerusakan permanen pada usus besar dan usus halus.
  • Infeksi: Infeksi Clostridium difficile, Salmonella, Shigella, Campylobacter colitis, Escherichia coliCytomegalovirus, maupun Entamoeba berisiko menimbulkan megacolon toksik.
  • Iskemia: Kondisi kekurangan suplai darah ke jaringan tubuh ini dipicu oleh hipokalemia, penggunaan obat-obat seperti antidepresan, antikolinergik, antimotilitas, barium enema, dan kolonoskopi.
Baca jawaban dokter: Apa yang di maksud dengan irritable bowel syndrome? 
Diagnosis megakolon dilakukan dengan pemeriksaan yang meliputi:
  • Tanya jawab dan pemeriksaan fisik

Dokter akan menanyakan frekuensi penderita buang air besar, informasi mengenai riwayat konstipasi, nyeri perut, serta obat yang sering dikonsumsi oleh pasien.Selain itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan menggunakan stetoskop yang ditempelkan pada perut (pemeriksaan bising usus) untuk mendengar suara dari sana. Suara bising yang dihasilkan usus merupakan perpaduan dari bunyi udara serta pergerakan makanan cairan di dalam usus karena aktivitas peristaltik usus yang dapat mendeteksi penyumbatan di usus. Dokter juga dapat melakukan suatu tes untuk memeriksa kinerja otot rektum pasien, seperti:
  • Pemindaian perut

Pemeriksaan radiologis seperti CT scan atau x-ray dapat direkomendasikan apabila dokter mencurigai pasien mengalami megakolon toksik. Penderita akan diminta minum cairan khusus sebelum menjalani pemeriksaan radiologis, untuk membantu dokter melihat kondisi usus dengan jelas. Jika dokter mendapati usus besar melebar hingga 12 cm dari ukuran seharusnya, diagnosis megakolon dapat ditentukan.
  • Tes darah

Pemeriksaan darah seperti tes hitung darah lengkap serta pemeriksaan elektrolit dalam darah, dapat membantu menegakkan diagnosis. Apabila sel darah merah pasien rendah, disertai dengan elektrolit yang menurun, dapat dicurigai bahwa kondisi tersebut adalah megakolon toksik.
  • Biopsi

Biopsi dilakukan dengan mengambil jaringan dari usus sebagai sampel yang akan diperiksa di laboratorium. Dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan ini jika mencurigai ada sel atau jaringan abnormal pada usus. 
Perawatan megakolon dimulai dengan mengatasi kondisi yang menjadi penyebab megakolon. Berikut ini penjelasannya.
  1. Megakolon akut

Pengobatan megakolon akut dilakukan dengan:
  • Mengatasi penyebabnya, misalnya melalui terapi elektrolit jika megakolon terjadi akibat ketidakseimbangan elektrolit, atau menghentikan konsumsi obat tertentu yang dapat menyebabkan pelebaran usus.
  • Selang nasogastrik, bagi pasien yang tidak diperbolehkan untuk makan dan minum melalui jalur normal. Sebagai gantinya, dokter akan memasang selang nasogastrik agar pasien tetap mendapatkan nutrisi.
  • Pemberian neostigmine yang dapat meningkatkan gerakan otot pada usus besar untuk membantu mengeluarkan feses yang menghambat. Selain itu, obat-obatan pencahar lainnya seperti magnesium hidroksida, sorbitol atau lactulose juga dapat diberikan.
  • Dekompresi nasogastrik untuk mengosongkan isi perut, jika pasien mengalami mual dan muntah. Metode dekompresi dilakukan dengan:
    • Selang rektal. Suatu alat khusus seperti selang akan dimasukkan melalui dubur pasien untuk mengurangi tekanan pada usus maupun rasa nyeri.
    • Dekompresi kolonoskopi. Apabila pelebaran usus tetap terjadi, dekompresi dengan cara kolonoskopi dapat dilakukan.
  • Operasi pembedahan dapat dilakukan pada kasus megakolon yang parah atau untuk menghindari kekambuhan. Pilihan pembedahannya termasuk cecostomy, colostomy, atau colectomy (pemotongan bagian usus yang sakit).
  1. Megakolon kronis

Pengobatan megakolon kronis dilakukan dengan:
  • Mengosongkan usus menggunakan laksatif (obat pencahar) yang dapat meningkatkan gerak peristaltik usus, mempercepat pengeluaran zat beracun di saluran pencernaan. Jenis pencahar yang diberikan dapat berasal dari golongan psyllium, magnesium hidroksida, sorbitol, laktulosa, bisakodil, ataupun larutan Polyethylene glycol (PEG).
  • Operasi pada pasien yang tidak merespon perawatan dengan obat selama satu hingga tiga hari. Pilihan operasi tersebut termasuk kolektomi yang dapat dilanjutkan dengan anastomosis ileorektal dan ileostomi.
  1. Megakolon toksik

Pengobatan megakolon toksik meliputi:
  • Penanganan intensif di rumah sakit
Megakolon toksik memerlukan penanganan medis segera di rumah sakit. Penderita akan mendapatkan cairan infus agar tetap terhidrasi dan mencegah syok sepsis. Syok sepsis adalah kondisi membahayakan nyawa, yang terjadi ketika infeksi di dalam tubuh menyebabkan tekanan darah menurun drastis. 
  • Pemberian dan penghentian obat-obatan, berupa,
    • Penghentian obat-obatan golongan opioid, antikollinergik dan lainnya yang dapat memperparah megakolon
    • Antibiotik untuk kasus megakolon yang menyebabkan robekan atau perforasi pada usus. Antibiotik digunakan untuk mencegah bakteri dari usus menyebar ke seluruh tubuh dari robekan tersebut. Antibiotik yang paling umum digunakan adalah metronidazol atau vankomisin.
    • Antibiotik lain seperti fidaksomisin atau vankomisin dapat diberikan untuk megakolon yang disebabkan oleh Clostridium difficile.
    • Antivirus seperti gansiklovir untuk megakolon akibat infeksi cytomegalovirus.
    • Kortikosteroid seperti hidrokortison atau metilprednison untuk megakolon yang disebabkan oleh IBD. Kortikosteroid diberikan agar dapat menekan reaksi inflamasi (pembengkakan) di usus besar.
  • Operasi pembedahan
Tergantung dari tingkat kerusakan yang dialami usus besar, penderita mungkin perlu menjalani prosedur kolektomi. Prosedur ini dilakukan melalui pengangkatan usus besar seluruhnya atau sebagian. Penderita harus mengonsumsi antibiotik saat dan setelah operasi. Antibiotik akan membantu mencegah infeksi serius seperti sepsis yang bisa menyebabkan reaksi serius pada tubuh hingga dapat mengancam nyawa. Baca juga: Konsumsi Makanan Pembersih Usus untuk Pencernaan yang Bahagia 

Komplikasi

Jika tidak ditangani dengan tepat, megakolon dapat menimbulkan komplikasi berupa:
  • Perforasi, pecahnya usus besar
  • Sepsis
  • Syok
  • Koma
 
Megakolon dapat terjadi sebagai komplikasi dari IBD atau infeksi. Jika mengalami kondisi ini, penderita harus mengikuti anjuran dokter. Hal ini termasuk mengubah gaya hidup dan mengonsumsi obat tertentu. Ikuti petunjuk dokter untuk membantu mengontrol gejala, mencegah infeksi dan mengurangi kemungkinan berkembangnya megakolon toksik.Baca juga: Cara Agar Mudah BAB Bagi Penderita Radang Usus Besar 
Segera temui dokter apabila Anda mengalami:
  • Diare atau konstipasi berkepanjangan
  • Nyeri saat BAB atau nyeri perut yang hebat
  • Diare yang disertai darah
 
Sebelum menjalani pemeriksaan oleh dokter, Anda dapat melakukan beberapa hal di bawah ini.
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini.
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terhadap megakolon?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis megakolon agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Drugs. https://www.drugs.com/cg/megacolon.html
Diakses pada 13 Februari 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/toxic-megacolon
Diakses pada 13 Februari 2019
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/181054
Diakses pada 9 Desember 2020
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/180955-overview
Diakses pada 9 Desember 2020
Medscape.https://emedicine.medscape.com/article/180872
Diakses pada 9 Desember 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5793364/
Diakses pada 9 Desember 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK547679/
Diakses pada 9 Desember 2020
Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/toxic-megacolon
Diakses pada 9 Desember 2020
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email