Penyakit Lainnya

Mati Rasa

Diterbitkan: 01 Jan 2020 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Mati Rasa
Mati rasa adalah kondisi yang ditandai dengan berkurang atau hilangnya sensasi rasa pada bagian tubuh tertentu. Kondisi ini juga dapat berupa sensasi seperti ditusuk-tusuk jarum atau kesemutan, dan paling sering terjadi pada jari-jari tangan, telapak kaki, lengan, atau kaki.Penderita juga seringkali tidak menyadari bagian tubuhnya mengalami mati rasa,. Akibatnya, koordinasi dan keseimbangan antara anggota tubuh pun terganggu.Secara umum, mati rasa merupakan gejala dari gangguan saraf. Gangguan ini dapat berupa cedera pada saraf, adanya sesuatu yang menekan saraf, atau ketidakseimbangan senyawa kimia tubuh yang mempengaruhi kinerja saraf.Kebanyakan kasus mati rasa tidak berbahaya. Namun mati rasa yang disertai dengan kelemahan otot atau kelumpuhan termasuk kondisi gawat darurat.
Mati Rasa
Dokter spesialis Saraf
Mati rasa atau paresthesia dalam bahasa medis merupakan kondisi berkurangnya sensasi rasa pada tubuh. Gejala ini dapat muncul disertai dengan sensasi terbakar, kesemutan, atau perasaan tertusuk jarum.Mati rasa pada tubuh dapat bersifat simetris (terjadi di kedua sisi tubuh) atau hanya pada salah satu sisi tubuh.
Mati rasa adalah gejala dari gangguan saraf dan dapat dipicu oleh banyak hal. Tetapi kondisi ini paling sering terjadi akibat terlalu lama berdiri atau duduk dalam posisi yang sama. Penggunaan pakaian yang terlalu ketat juga dapat menyebabkan kebas.Mati rasa yang disebabkan oleh hal-hal tersebut tidak berbahaya dan akan hilang setelah beberapa waktu. Di samping itu, mati rasa juga dapat terjadi karena:
  • Cedera pada saraf, misalnya cedera saraf leher atau herniasi di tulang belakang (hernia nukleus pulposus).
  • Penekanan pada saraf , seperti carpal tunnel syndrome, pembesaran pembuluh darah, jaringan parut, infeksi, atau tumor.
  • Kerusakan pada kulit, contohnya radang dingin (frostbite) atau herpes zoster.
  • Gangguan medis tertentu, seperti diabetes, neuropati, migrain, Raynaud’s phenomenon, multiple sclerosis, stroke, transient ischemic attack, kejang, pengerasan arteri, hipotiroidisme, serta Hashimoto’s thyroiditis.
  • Gigitan serangga atau binatang.
  • Racun makanan laut.
  • Kadar vitamin B12, kalium, kasium, atau natrium yang tidak normal.
  • Terapi radiasi.
  • Obat-obatan, terutama kemoterapi.
Untuk mendiagnosis penyebab dari mati rasa, dokter akan melakukan tanya jawab, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Berikut penjelasannya:Tanya jawabDokter akan mengajukan pertanyaan tentang gejala yang dialami pasien dan riwayat medis pasien secara menyeluruh.Pemeriksaan fisikDokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada bagian tubuh yang dikeluhkan oleh pasien, terutama evaluasi fungsi saraf sedehana  yang meliputi:
  • Pemeriksaan rangsangan sentuhan
  • Pemeriksaan rangsangan suhu
  • Pemeriksaan fungsi otot
  • Pemeriksaan refleks
Pemeriksaan penunjangDokter bisa melakukan pemeriksaan penunjang yang berupa:
  • Tes darah untuk memastikan atau menyingkirkan kemungkinan penyebab mati rasa.
  • Pungsi lumbal, yakni pengambilan sampel cairan otak dan saraf tulang belakang guna mendeteksi ada tidaknya tanda-tanda infeksi.
  • MRI atau pemeriksaan pencitraan lain.
  • Pemeriksaan elektromiografi dan tes konduksi saraf, terutama bagi mati rasa yang dicurigai disebabkan oleh gangguan saraf.
Penanganan mati rasa tergantung pada penyebabnya. Pasalnya, kondisi ini dapat dipicu oleh banyak kondisi maupun penyakit.Oleh karena itu, metode pengobatan mati rasa juga akan berfokus pada penyebab yang mendasarinya. Berikut contohnya:
  • Mengendalikan kadar gula darah jika mati rasa disebabkan oleh diabetes.
  • Pemberian suplemen vitamin apabila mati rasa terjadi karena kurangnya asupan vitamin dalam tubuh.
Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah kondisi di balik mati rasa meliputi:
  • Perbanyak konsumsi makanan rendah lemak dan tinggi serat
  • Perbanyak konsumsi buah dan sayur
  • Batasi asupan garam
  • Jaga berat badan ideal
  • Rutin berolahraga aerobik intensitas sedang setidaknya 2,5 jam seminggu
  • Batasi konsumsi alkohol
  • Berhenti merokok
  • Rajin mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun
  • Hindari berbagi makanan atau alat makan dengan orang-orang yang rawan terkena infeksi
  • Lakukan vaksinasi secara rutin
  • Jauhi paparan radiasi
Segeralah berkonsultasi dengan dokter apabila mati rasa:
  • Semakin memburuk seiring berjalannya waktu
  • Terjadi di kedua sisi tubuh
  • Hilang timbul
  • Berkaitan dengan aktivitas tertentu, terutama yang bersifat berulang-ulang
  • Hanya terjadi pada satu bagian tungkai, seperti di jari kaki atau tangan
Carilah bantuan medis secepatnya jika mati rasa:
  • Muncul secara tiba-tiba
  • Melibatkan seluruh tangan atau kaki
  • Terjadi setelah Anda mengalami cedera kepala
  • Disertai dengan sesak napas, kelemahan, kelumpuhan, linglung, sulit bicara, atau sakit kepala hebat.
  • Semakin memburuk dan menjalar ke berbagai bagian tubuh.
  • Disertai dengan kesulitan menahan buang air kecil atau buang air besar.
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait mata rasa?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda memiliki riwayat penyakit tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk mencari penyebab mati rasa. Dengan ini, pengobatan bisa diberikan secara tepat.
Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/003206.htm
Diakses pada 01 Januari 2020
Harvard Health Publishing. https://www.health.harvard.edu/decision_guide/numbness-or-tingling
Diakses pada 01 Januari 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/symptoms/numbness/basics/definition/sym-20050938
Diakses pada 01 Januari 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/326062.php
Diakses pada 01 Januari 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/numbness-and-tingling
Diakses pada 01 Januari 2020
WebMD. https://www.webmd.com/brain/tingling-in-hands-and-feet#1
Diakses pada 01 Januari 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

11 Penyebab Kesemutan di Tangan Ini Jarang Diketahui

Penyebab kesemutan di tangan umumnya adalah karena adanya tekanan pada saraf. Namun jika tidak kunjung reda, bisa jadi tanda kerusakan saraf atau gangguan kesehatan.
29 May 2019|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Tekanan berlebihan pada saraf merupakan penyebab kesemutan di tangan ataupun di kaki

Benjolan di Kepala Harus Ditangani dengan Serius, Apa Saja Penyebabnya?

Benjolan di kepala bukan kondisi yang bisa disepelekan begitu saja. Sebab, ada berbagai penyakit yang sebabkan benjolan di kepala. Apa saja?
28 Mar 2020|Fadli Adzani
Baca selengkapnya
Jangan khawatir, kenali dulu penyebab benjolan di kepala Anda.

Komplikasi Akibat Benturan Kepala: Benjol Sampai Cedera Otak

Benturan kepala dapat menyebabkan cedera kepala ringan maupun berat. Cedera ringan bisa berupa benjol atau gegar otak ringan, sementara cedera berat dapat meliputi hematoma, perdarahan, hingga kehilangan nyawa.
05 Sep 2019|Armita Rahardini
Baca selengkapnya
Benturan di kepala bisa memicu perdarahan atau hemoragik di dalam tulang tengkorak