Mata Kedutan

Diterbitkan: 04 Dec 2019 | dr. Reisia Palmina Brahmana
Ditinjau oleh dr. Reni Utari

Mata kedutan adalah gerakan berulang pada kelopak mata yang tidak disadari dan tidak bisa dikendalikan. Kedutan umumnya dialami oleh kelopak mata bagian atas,namun bisa juga terjadi pada kelopak mata bagian bawah.

Gejala mata kedutan bisa berbeda pada tiap penderita. Perbedaan ini tergantung dari jenis-jenis mata kedutan berikut ini:

  • Myokymia

Myokymia adalah kedutan yang paling umum dan dapat sembuh sendiri. Tipe ini umumnya muncul kemudian hilang dalam beberapa jam, beberapa hari, atau lebih lama lagi.

Gejala myokymia hanya terjadi pada kelopak mata bagian atas atau bawah. Gejalanya juga bisa sangat ringan hingga hampir tidak Anda sadari. Namun kedutan bisa juga terjadi cukup kuat dan menganggu aktivitas.

  • Benign essential blepharospasm

Benign essential blepharospasm adalah mata kedutan yang cukup kuat hingga dapat membuat mata Anda tertutup. Tipe ini termasuk jarang terjadi, namun bisa menjadi parah dan memengaruhi aktivitas sehari-hari.

  • Hemifacial spasm

Hemifacial spasm adalah kedutan pada setengah otot wajah, bisa wajah bagian kiri maupun kanan. Tipe ini merupakan kedutan pada otot sekitar mata yang disertai oleh kedutan pada otot-otot lain pada wajah.

Penyebab mata kedutan tergantung dari jenisnya. Apa sajakah pemicunya?

  • Myokymia

Penyebab mata kedutan tipe myokymia tidak diketahui pasti. Kemungkinan besar, kondisi ini disebabkan oleh iritasi pada saraf-saraf disekitar mata.

Para pakar menduga bahwa faktor-faktor di bawah ini dapat memengaruhi kemunculan myokymia:

  • Stres
  • Kelelahan
  • Konsumsi alkohol atau kafein yang berlebihan.
  • Cahaya yang terang.
  • Iritasi pada permukaan mata atau bagian dalam kelopak.
  • Merokok
  • Polusi udara atau angin.
  • Benign essential blepharospasm

Benign essential blepharospasm diduga terjadi akibat gangguan pada salah satu sel saraf bernama basal ganglia. Kondisi ini mungkin dipengaruhi oleh faktor genetik.

  • Hemifacial spasm

Sebagian besar hemifacial spasm disebabkan oleh pembuluh arteri yang memicu iritasi pada saraf wajah. Beberapa penyakit yang memiliki gejala kedutan meliputi blefaritis, abrasi kornea, mata kering, uveitis, lumpuh otak, bell’s palsy, distonia, multiple sclerosis, penyakit Parkinson, sindrom Tourette, dan banyak lagi.

Di samping penyakit, hemifacial spasm juga bisa muncul sebagai efek samping obat-obatan. Salah satunya obat untuk penyakit Parkinson.

Pada tahap awal, dokter akan menanyakan gejala mata kedutan yang Anda rasakan, serta riwayat penyakit Anda dan keluarga. Setelah itu, dokter akan memeriksa kondisi mata Anda yang mengalami kedutan.

Bila dirasa perlu, dokter kemudian bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang berupa MRI guna menentukan diagnosis mata kedutan. Misalnya, ketika ada kecurigaan bahwa mata kedutan disebabkan oleh tumor otak.

Pengobatan mata kedutan tergantung dari jenisnya. Berikut penjelasannya:

  • Myokymia

Myokymia merupakan tipe mata kedutan yang dapat sembuh sendiri. Ini berarti, Anda biasanya tidak membutuhkan obat tertentu.

Yang bisa Anda lakukan adalah mengurangi stres, menghindari konsumsi kafein, mengganti kaca mata dengan ukuran lensa yang sesuai, dan menggunakan obat tetes mata.

  • Benign essential blepharospasm

Mata kedutan tipe benign essential blepharospasm dapat ditangani dengan obat, injeksi toksin botulinum, atau operasi.

Toksin botulinum adalah pengobatan blepharospasm yang paling sering digunakan. Suntikan dosis sangat rendah akan dilakukan pada otot di sekitar mata Anda.

Efek Toksin botulinum akan bertahan selama beberapa bulan. Anda biasanya harus kembali menerima suntikan sebanyak tiga hingga empat kali setahun.

  • Hemifacial spasm

Mata kedutan jenis hemifacial spasm juga bisa ditangani dengan toksin botulinum atau operasi. Operasi yang dilakukan adalah operasi pada saraf, sehingga memiliki risiko komplikasi yang cukup tinggi.

Oleh karena itu, Anda perlu mendiskusikan risiko komplikasi tersebut secara mendetail dengan dokter.

Pencegahan mata kedutan mungkin dapat Anda lakukan dengan menghindari faktor-faktor risikonya. Misalnya, stres, kelelahan, konsumsi alkohol dan kafein, merokok, dan sebagainya.

Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika mengalami kondisi-kondisi berikut ini:

  • Mata merah, bengkak, atau mengeluarkan cairan yang tidak biasanya.
  • Kelopak mata atas yang turun.
  • Kelopak mata tertutup setiap kali muncul kedutan.
  • Kedutan berlangsung selama beberapa minggu.
  • Kedutan juga terjadi di otot lain pada wajah.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Cari tahu apakah ada anggota keluarga Anda yang juga mengalami keluhan yang serupa.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait jenis mata kedutan tertentu?
  • Apakah ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang serupa?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya. Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis mata kedutan yang Anda alami. Dokter kemudian dapat menganjurkan langkah penanganan yang sesuai.

Healthline.https://www.healthline.com/health/eyelid-twitch
Diakses pada 3 Desember 2019

Mayoclinic. https://www.mayoclinic.org/symptoms/eye-twitching/basics/definition/sym-20050838
Diakses pada 3 Desember 2019

Kellogg Eye Center. https://www.umkelloggeye.org/conditions-treatments/eyelid-spasms-eye-twitching-or-eye-twitch
Diakses pada 3 Desember 2019

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/1212176-clinical#b5
Diakses pada 3 Desember 2019

Artikel Terkait