Maloklusi adalah kondisi di mana gigi tidak tersusun dengan benar, sehingga tampak berantakan. Kondisi ini tak hanya dapat memperburuk penampilan menurunkan kepercayaan diri, tapi juga bisa memicu berbagai masalah kesehatan.

Pada beberapa kasus, maloklusi membuat gigi sulit dibersihkan, sehingga menyebabkan gigi berlubang atau bahkan tanggal. Gigi berantakan juga dapat mengakibatkan gangguan bicara dan masalah makan.

Maloklusi harus ditanggani oleh dokter gigi yang memiliki spelisasi dalam menangani maloklusi, yaitu disebut orthodentists. Tujuan utama pengobatan gigi berantakan adalah mengembalikan gigi-gigi ke posisi seharusnya.

Gejala maloklusi yang utama adalah susunan gigi yang terlihat berantakan. Tiap penderita bisa memiliki posisi gigi yang berbeda-beda.

Gejala maloklusi berdasarkan jenisnya

Terdapat tipe dengan susunan maloklusi yang berbeda. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Overcrowding (Gigi berjejal)

Ini adalah tipe maloklusi yang paling umum. Pada tipe overcrowding, gigi saling tumpang tindih dan biasanya disebabkan oleh terbatasnya ruang untuk gigi tumbuh. Salah satu contohnya adalah gingsul.

  • Overjet berlebih (Gigi tonggos)

Overjet adalah jarak horizontal antara ujung gigi atas dan ujung gigi bawah. Normalnya, seseorang memiliki overjet sebesar 2-4 mm. Jika nilai overjet berlebihan, atau lebih dari 4 mm, gigi akan terlihat maju atau yang biasa disebut dengan tonggos. Kondisi maloklusi ini juga akan menimbulkan gangguan makan dan bicara.

  • Overbite berlebih (Gigitan terlalu dalam)

Overbite adalah jarak vertikal antara ujung gigi atas dan ujung gigi bawah. Sama seperti overjet, jarak overbite yang normal berkisar antara 2-4 mm. Jarak overbite berlebih membuat gigi atas terlalu turun ke bawah, mengakibatkan gigitan yang terlalu dalam atau deep bite.

Pada beberapa kasus, gigi di rahang atas bahkan bisa menyentuh gusi di rahang bawah.

  • Crossbite (Gigitan silang)

Pada crossbite, posisi gigi terlihat seperti tertukar, karena gigi atas terletak lebih masuk dari pada gigi bawah. Susunan ini dapat terjadi pada semua bagian gigi. Mulai dari gigi depan, sisi kiri ataupun kanan, hingga geraham. Crossbite yang terjadi pada gigi depan biasa disebut dengan gigi cakil.

  • Spacing (Susunan gigi renggang)

Pada tipe spacing, susunan gigi tidak rapat sehingga terdapat celah lebar di antara gigi. Kondisi ini bisa disebabkan oleh gigi yang tanggal, ukuran gigi yang kecil, atau kebiasaan tertentu (seperti mengisap jempol atau mendorong gigi dengan lidah).

  • Diastema

Apa Anda pernah memperhatikan gigi depan Madonna yang memiliki celah? Ini adalah salah satu contoh diastema, yaitu terdapat celah lebar di antara dua gigi. Kondisi ini umumnya terjadi pada gigi depan.

  • Impaksi gigi

Impaksi gigi berarti gigi tidak bisa tumbuh sepenuhnya atau bahkan tertanam seluruhnya di dalam gusi. Kondisi ini, umumnya terjadi pada gigi bungsu. Impaksi terjadi apabila gigi tidak memiliki cukup ruang untuk tumbuh karena lengkung rahang yang kecil atau posisi benih gigi yang miring.

  • Hipodonsia atau gigi ompong

Hipodonsia adalah kondisi di mana tidak ada gigi pada area yang seharusnya diisi oleh gigi alias ompong. Kelainan ini dapat terjadi karena cedera atau gigi yang tidak berkembang dengan baik.

Jika tidak dirawat, gigi ompong bisa menyebabkan gangguan pengunyahan serta pergeseran gigi-gigi disebelahnya, membuat gigitan menjadi tidak normal.

  • Open bite (Gigitan terbuka)

Pada open bite, gigi atas sama sekali tidak menyentuh gigi bawah. Akibatnya, akan ada celah lebar di antara keduanya. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh kebiasaan minum dot saat kecil.

Gejala maloklusi berdasarkan tingkat keparahannya

Gejala maloklusi juga dipengaruhi oleh tingkat keparahannya. Secara umum, indikasinya bisa berupa:

  • Perubahan pada struktur wajah.
  • Penderita sering menggigit bagian dalam mulut atau lidah.
  • Rasa tidak nyaman saat mengunyah makanan.
  • Gangguan bicara, misalnya masalah dalam pelafalan.
  • Bernapas melalui mulut.

Sebagian besar penyebab maloklusi adalah faktor keturunan. Ini berarti, kemungkinan Anda untuk mengalami gigi berantakan akan meningkat bila orangtua Anda juga memiliki kondisi yang sama.

Selain itu, kemungkinan terjadinya maloklusi juga bisa meningkat karena hal-hal berikut ini:

  • Ukuran rahang atas atau rahang bawah yang tidak normal.
  • Ukuran gigi yang tidak sesuai dengan ukuran rahang.
  • Bentuk gigi tidak normal.
  • Memiliki bibir sumbing.
  • Memiliki celah di langit-langit mulut (cleft palate).
  • Kebiasaan mengisap jempol.
  • Penggunaan botol susu jangka panjang pada balita.
  • Penggunaan empeng pada balita di atas tiga tahun.
  • Kecelakaan yang menyebabkan tulang rahang bergeser.
  • Gigi yang tidak tumbuh.
  • Penanganan gigi yang tidak tepat, misalnya kesalahan dalam penambalan atau pemasangan kawat gigi.
  • Gangguan pada sistem pernapasan yang membuat penderita bernapas lewat mulut, contohnya pada pengidap alergi.
  • Adanya tumor di mulut atau rahang.

Diagnosis maloklusi akan dilakukan dengan proses tanya jawab, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Berikut penjelasannya:

  • Proses tanya jawab

Dokter gigi akan menanyakan seputar gejala maloklusi yang Anda rasakan serta riwayat penyakit yang pernah dialami. Hal tersebut dilakukan, agar dokter dapat mengetahui penyebab susunan gigi yang berantakan.

  • Pemeriksaan fisik

Dokter kemudian memeriksa kondisi rongga mulut Anda secara menyeluruh. Jika diperlukan, dokter juga akan membuat cetakan dari susunan gigi Anda. Langkah ini dilakukan agar susunan gigi Anda terlihat lebih jelas.

  • Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan rontgen gigi juga akan dianjurkan guna memastikan diagnosis maloklusi.

Penanganan maloklusi tergantung tipe dan tingkat keparahannya. Beberapa langkah yang mungkin dilakukan oleh dokter meliputi:

  • Pemasangan kawat gigi agar gigi bergeser ke posisi yang seharusnya.
  • Pembentukan ulang pada gigi yang mengalami gangguan, misalnya pemotongan gigi yang terlalu besar atau pemasangan mahkota gigi untuk gigi yang terlalu kecil.
  • Pencabutan gigi untuk mengatasi gigi yang saling tumpang tindih.
  • Pemasangan kawat atau plat guna menstabilkan tulang rahang.
  • Operasi untuk membentuk atau memperpendek tulang rahang.

Sama seperti prosedur operasi lain, penanganan maloklusi juga memiliki risiko komplikasi. Mulai dari nyeri, munculnya sariawan (terutama jika menggunakan kawat gigi), gigi berlubang, hingga kesulitan mengunyah atau bicara selama menjalani pengobatan.

Anda dapat mencegah maloklusi (gigi berantakan) dengan menghindari faktor-faktor yang dapat meningkatkan risikonya. Contohnya, tidak membiarkan anak mengisap jempol serta memakai empeng atau botol susu setelah berusia di atas tiga tahun.

Anda dan anak Anda juga disarankan untuk menjalani pemeriksaan gigi secara rutin, yakni minimal enam bulan sekali. Dengan ini, gangguan pada gigi bisa lebih cepat terdeteksi dan ditangani, termasuk maloklusi.

Anda dianjurkan untuk berkonsultasi ke dokter gigi jika menemukan gejala maloklusi atau susunan gigi yang berantakan.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Cari tahu apakah ada anggota keluarga kandung Anda yang juga pernah mengalami maloklusi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait maloklusi?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis maloklusi. Dengan ini, jenis maloklusi akan diketahui dan penanganan yang sesuai bisa diberikan.

Healthline. https://www.healthline.com/health/malocclusion-of-teeth
Diakses pada 3 Desember 2019

Michigan Medicine. https://www.uofmhealth.org/health-library/tn1000
Diakses pada 3 Desember 2019

Artikel Terkait