Malnutrisi adalah kondisi gizi yang tidak seimbang. Ini berarti, malnutrisi tidak hanya mengacu pada kondisi kekurangan asupan makan (undernutrition). 

Istilah malnutrisi juga bisa digunakan untuk menggambarkan orang yang makan dengan cukup, namun nutrisinya tidak seimbang (unbalanced diet), serta orang yang mengalami kelebihan berat badan (overweight). 

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), malnutrisi mencakup berbagai kondisi yang terkait dengan gizi. Beberapa di antaranya:

  • Kekurangan gizi (undernutrition), contohnya pada  kondisi underweight (terlalu kurus untuk usianya), wasting (terlalu kurus untuk tinggi badannya), serta stunting (terlalu pendek untuk usianya).
  • Nutrisi yang tidak seimbang, contohnya kekurangan dan kelebihan mikronutrisi, yaitu vitamin dan mineral.
  • Kelebihan berat badan dan obesitas.

Penyakit tak menular yang terkait pola makan, seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, dan beberapa tipe kanker. 

Secara global, WHO juga memperkirakan bahwa terdapat 1,9 juta orang dewasa yang terlalu gemuk dan 462 juta orang dewasa yang terlalu kurus. 

Sementara 45 persen kematian anak-anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia disebabkan oleh kurang asupan gizi. Kondisi ini sering terjadi pada negara berpenghasilan rendah hingga sedang. 

Pada saat yang bersamaan, angka kejadian anak yang kelebihan berat badan juga mulai meningkat di negara-negara tersebut.

Malnutrisi pada masa kanak-kanak tidak hanya menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang. Tapi gangguan kesehatan ini juga berdampak pada pendidikan dan masa depannya.

Gejala malnutrisi tentu berbeda-beda, sesuai dengan bentuk malnutrisi yang dialami oleh penderita. Berikut penjelasannya:

Kekurangan gizi

Gejala kekurangan gizi meliputi:

  • Kurangnya nafsu makan
  • Mudah lelah
  • Gampang marah atau tersinggung
  • Sulit konsentrasi
  • Sering kedinginan 
  • Kehilangan massa lemak, massa otot, dan jaringan tubuh 
  • Berisiko tinggi untuk sakit. Bila sakit, penderita akan lebih lama untuk sembuh
  • Luka yang lama sembuh 
  • Risiko komplikasi yang meningkat setelah operasi
  • Depresi
  • Penurunan dorongan seksual
  • Gangguan kesuburan

Pada kasus kekurangan gizi yang berat, penderita dapat mengalami:

  • Kesulitan bernapas
  • Kulit menjadi tipis, kering, tidak elastis, pucat, dan dingin
  • Pipi dan mata yang tampak cekung akibat berkurangnya massa lemak di wajah 
  • Rambut menjadi kering, tipis, serta gampang rontok

Pada tahap akhir kekurangan gizi, penderita bisa mengalami gagal napas dan gagal jantung

Bila terjadi pada masa kanak-kanak, gangguan perilaku dan gangguan kecerdasan bisa terjadi. Bahkan dengan pengobatan pun, masalah kesehatan mental dan gangguan pencernaan masih mungkin muncul. 

Orang yang mengalami kekurangan gizi pada saat usia dewasa biasanya dapat pulih total tanpa komplikasi bila menjalani pengobatan yang tepat.

Gizi yang tidak seimbang

Kurangnya asupan makanan mengandung vitamin dan mineral (yang disebut mikronutrisi) disebut sebagai micronutrient-related malnutrition.

Mikronutrisi yang paling banyak menjadi perhatian dunia adalah yodium, vitamin A, dan zat besi. Pasalnya, kekurangan mikronutrisi ini merupakan ancaman besar bagi kesehatan dan perkembangan populasi penduduk dunia, terutama bagi anak-anak dan wanita hamil.

Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia atau kurang darah yang memicu keluhan berupa:

  • Kelelahan dan rasa lemah yang persisten
  • Kulit pucat
  • Nyeri dada
  • Denyut jantung yang kencang dan cepat
  • Sesak napas
  • Sakit kepala
  • Sensasi seperti melayang 
  • Tangan dan kaki yang dingin
  • Peradangan atau luka pada lidah
  • Kuku yang rapuh
  • Mengidam untuk makanan yang tidak bernutrisi, seperti es atau tanah. Kondisi ini sering disebut pica
  • Nafsu makan yang rendah, terutama pada bayi dan anak-anak 

Obesitas atau kegemukan

Obesitas atau kegemukan ditentukan oleh indeks massa tubuh di atas 30. Kegemukan sendiri tidak menimbulkan gejala medis yang nyata.

Namun obesitas dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami penyakit-penyakit kronis. Contohnya, hipertensi, kolesterol tinggi, penyakit jantung koroner, dan stroke. 

Gejala yang dialami pengidap obesitas umumnya berupa:

  • Sesak napas
  • Gampang berkeringat
  • Mengorok
  • Cepat lelah
  • Nyeri punggung dan sendi
  • Masalah psikis, seperti gangguan kepercayaan diri yang rendah dan merasa terasingkan

Penyebab malnutrisi adalah kombinasi dari faktor lingkungan dan faktor kondisi kesehatan yang dialami oleh penderita.

Kekurangan gizi dan nutrisi tidak seimbang

Kekurangan gizi dan nutrisi tidak seimbang biasanya berhubungan dengan:

  • Asupan makanan yang tidak memadai, misalnya karena tidak punya uang atau mengidap penyakit tertentu yang membuat seseorang sulit makan (contohnya sukar menelan). 
  • Gangguan kesehatan mental, seperti depresi, demensia, skizofrenia, anoreksia nervosa, dan bulimia.
  • Penyakit pencernaan tertentu, seperti penyakit Crohn, kolitis ulseratif, dan penyakit Celiac.
  • Kecanduan alkohol. Kondisi ini menyebabkan peradangan pada lambung dan kerusakan pankreas, sehingga sistem pencernaan sulit mengolah makanan, menyerap vitamin, dan memproduksi hormon yang mengatur metabolisme tubuh.
  • Tidak mendapat ASI eksklusif selama masih bayi juga akan meningkatkan risiko malnutrisi pada bayi dan anak.

Obesitas atau kegemukan

Obesitas umumnya disebabkan oleh kombinasi faktor keturunan, metabolik, dan perubahan hormon dalam tubuh. Namun faktor lingkungan, pola hidup, dan stres juga bisa ikut andil sebagai pemicunya.

Diagnosis malnutrisi dipastikan dengan menentukan status gizi seseorang. Dokter akan mengukur indeks massa tubuh Anda dengan mengukur berat badan dan tinggi badan Anda. Berikut penjelasannya:

  • Indeks massa tubuh lebih dari 30: obesitas.
  • Indeks massa tubuh lebih dari 25: kelebihan berat badan (overweight).
  • indeks massa tubuh di bawah 18,5: terlalu kurus.

Pada anak-anak, status gizi akan diketahui dengan menentukan titik status gizi anak sesuai kurva pertumbuhannya. 

Bila dokter mencurigai keadaan yang Anda alami sebagai defisiensi mikronutrien (seperti zat besi, vitamin A, maupun kekurangan hormon tiroid), dokter akan menganjurkan tes darah.

Penanganan malnutrisi tergantung dari jenis dan tingkat keparahan gangguan gizi yang dialami oleh penderita. Berikut contohnya:

  • Kekurangan gizi akut

Pada kekurangan gizi akut yang memicu syok karena dehidrasi berat, dokter akan memberikan terapi untuk memperbaiki kekurangan cairan dan elektrolit. Dokter juga akan memberikan terapi nutrisi baik secara enteral maupun parenteral.

Setelah kondisi penderita stabil, dokter akan mendiskusikan rencana penanganan secara spesifik agar sesuai kondisi yang Anda alami. Demikian pula dengan pola makan yang tepat untuk Anda.

  • Obesitas

Orang yang mengalami obesitas tentu harus memperbaiki pola makan dan gaya hidupnya. Mulai dari mengurangi porsi makan, memperbanyak konsumsi serat, menurunkan berat badan, hingga berolahraga.

  • Nutrisi yang tidak seimbang

Bila yang Anda alami adalah ketidakseimbangan gizi terkait mikronutrien, dokter akan memberikan obat sesuai defisiesi mikronutrisi yang Anda alami. Misalnya, suplemen zat besi, vitamin A, dan sebagainya.

  • Pemantauan rutin

Pemantauan rutin dapat membantu memastikan bahwa asupan kalori dan nutrisi yang masuk sudah tepat. Ini juga dapat menyesuaikan ketika kebutuhan kalori mapun nutrisi pasien berubah, misalnya pasien yang menerima nutrisi tambahan akan mulai makan secara normal jika targetnya sudah tercapai.

Untuk mencegah malnutrisi, seseorang harus menerapkan pola makan yang sehat dan siembang. Misalnya, mengonsumsi makanan dan minuman yang seimbang dalam hal karbohidrat, lemak, protein, vitamin, serta mineral. 

Pada orang-orang yang menderita gangguan saluran pencernaan (seperti penyakit Crohn, penyakit Celiac, kecanduan alkohol, dan penyakit lainnya), mereka sebaiknya mendapatkan penanganan yang tepat untuk menghindari terjadinya malnutrisi. 

Khusus untuk bayi, pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif merupakan cara terbaik untuk mencegah malnutrisi pada anak di kemudian hari.

Segeralah berkonsultasi dengan dokter bila Anda mengalami gejala-gejala malnutrisi, baik yang kekurangan, ketidakseimbangan, maupun obesitas.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Catat pola makan, jadwal makan, dan jenis makanan yang sering Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.

Saat pemeriksaan, dokter mungkin akan mengajukan beberapa pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang Anda alami?
  • Sejak kapan gejala tersebut muncul?
  • Bagaimana pola makan dan jadwal makan Anda?
  • Jenis makanan apa saja yang sering Anda konsumsi?
  • Apakah Anda menderita penyakit pencernaan tertentu?
  • Apakah Anda mengalami gejala anemia, mata kering yang menandakan kurangnya vitamin A, atau gejala kurangnya hormon tiroid?
  • Apa saja riwayat penyakit yang sedang atau pernah Anda alami?
  • Apa saja obat-obatan atau herbal yang rutin Anda konsumsi?
  • Apakah Anda sudah pernah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, bagaimana dengan efektivitas dari pengobatan yang telah diberikan tersebut?

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, dan bisa menganjurkan beberapa pemeriksaan penunjang untuk mencari penyebab malnutrisi yang Anda alami. Dokter juga mungkin merujuk Anda ke dokter ahli gizi klinis agar Anda mendapatkan terapi yang spesifik sesuai status gizi Anda.

WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/malnutrition
Diakses pada 23 Desember 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/obesity/symptoms-causes/syc-20375742
Diakses pada 23 Desember 2019

Health Direct. https://www.healthdirect.gov.au/obesity-symptoms
Diakses pada 23 Desember 2019

Patient Info. https://patient.info/news-and-features/problems-caused-by-being-underweight
Diakses pada 23 Desember 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/179316.php#prevention
Diakses pada 23 Desember 2019

Artikel Terkait