Infeksi

Malaria

12 May 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Malaria
Infeksi parasit Plasmodium menjadi penyebab penyakit malaria.
Malaria adalah infeksi parasit yang disebarkan melalui perantara gigitan nyamuk Anopheles betina. Malaria umumnya ditandai dengan gejala demam dan menggigil yang berulang. Penyakit ini diperkirakan menyebabkan 660 ribu kematian di seluruh belahan dunia setiap tahunnya.Intensitas penularan penyakit malaria bergantung pada faktor-faktor penyebaran yang mencakup vektor (penyebar parasit yaitu nyamuk), inang yang digigit (manusia), serta lingkungan sekitar. Penularan malaria cenderung lebih parah di daerah-daerah yang nyamuknya berumur panjang serta lebih senang menggigit manusia dibanding makhluk lain.  Hal ini dikarenakan parasit malaria mesti berkembang selama 7-10 hari di dalam tubuh nyamuk betina untuk kemudian dapat menginfeksi manusia.Penyakit ini jarang ditemui di daerah yang bersuhu dingin, namun masih sering muncul di daerah tropik dan subtropis seperti Indonesia. Dikarenakan daerah-daerah tersebut memiliki suhu yang cukup hangat, sehingga parasit malaria dan nyamuk yang membawanya dapat tumbuh serta berkembang biak.Di Indonesia, malaria dapat ditemukan di seluruh provinsi di Indonesia.  Data terbaru di tahun 2020 mengungkapkan bahwa masih ada 23 kabupaten dan kota yang endemis malarianya masih tinggi, 21 kabupaten atau kota endemis sedang, dan 152 kabupaten atau kota endemis rendah. Tiap wilayah di Indonesia mempunyai masa puncak kasus yang berbeda, Jadi tidak dapat diketahui jenis parasit yang dominan pada suatu wilayah.Pengobatan malaria meliputi pemberian antimalaria, terapi cairan dan transfuse darah. Hingga saat ini, ilmuwan di seluruh dunia sedang berusaha untuk mengembangkan vaksin untuk penyakit malaria.
Malaria
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaDemam dan menggigil yang berulang
Faktor risikoAnak berusia 1-9, orang berusia 15 tahun ke atas, penduduk daerah malaria
Metode diagnosisPemeriksaan sampel darah
PengobatanTerapi ACT (artemicinine-based combination therapy), terapi cairan, transfusi darah
ObatArtemicinine, artecunate, primaquine
KomplikasiAnemia, perdarahan, gagal ginjal, kadar gula darah rendah
Kapan harus ke dokter?Saat demam tinggi, khususnya setelah mengunjungi daerah malaria
Sangatlah penting untuk mengetahui gejala penyakit malaria, terutama apabila bepergian ke daerah yang berisiko tinggi terhadap penyebaran malaria. Gejala-gejalanya antara lain adalah:
  • Demam tinggi (38°C atau lebih)
  • Menggigil
  • Sakit kepala
  • Muntah
  • Nyeri otot
  • Diare
Gejala-gejala tersebut biasanya muncul diantara 7 hingga 18 hari setelah terinfeksi. Namun pada beberapa kasus, gejala-gejala tersebut bahkan tidak muncul hingga sekitar 1 tahun atau lebih.Tipe malaria tertiana menunjukkan gejala dalam siklus 48 jam. Penderita mengalami demam, keringat yang berlebihan serta lemas setiap 48 jam yang diawali dengan menggigil. Gejala-gejala tersebut dapat berlangsung antara 6 hingga 12 jam.Jenis malaria yang paling serius adalah yang disebabkan oleh parasit Plasmodium falciparum, karena dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam nyawa seperti gangguan pernapasan dan kegagalan fungsi organ, seperti hati dan ginjal.
Penyebab malaria adalah masuknya parasit malaria ke dalam tubuh (aliran darah). Parasit tersebut dapat ditularkan melalui:
  • Gigitan nyamuk (penyebab terbanyak)
  • Transfusi darah yang terinfeksi malaria
  • Bayi yang berada di dalam kandungan ibu yang terinfeksi malaria
  • Penggunaan jarum suntik bekas yang terinfeksi malaria
Penyakit malaria pada umumnya tidak dapat ditularkan melalui kontak sehari-hari dengan orang yang terinfeksi. Orang-orang yang rentan terkena penyakit malaria di Indonesia yaitu anak berusia 5-9 tahun berdasarkan point prevalence yang sebelumnya disebut. Selain itu, melalui hitungan period prevalence orang yang paling rentan ialah yang berusia 15 tahun ke atas, dan diikuti oleh anak berusia 1-4 tahun.
Dokter akan mengambil sampel darah untuk kemudian dilakukan pemeriksaan guna mendapatkan informasi berikut:
  • Kepastian apakah pasien terjangkit penyakit malaria
  • Tipe parasit malaria yang menyebabkan penyakit
  • Apakah infeksi disebabkan oleh parasit malaria yang kebal dengan jenis obat tertentu
  • Organ-organ yang terpengaruh oleh penyakit ini
Jenis dan lama pengobatan yang diberikan bergantung kepada: jenis parasit malaria seberapa parah kondisi kesehatan, umur, serta status kehamilan. Pengobatan anti-malaria yang dapat diberikan oleh dokter di Indonesia antara lain terapi kombinasi artemisinin (ACT) dan primakuin, serta injeksi artesunate. Pengobatan akan dievaluasi berkala dengan cara pemeriksaan darah untuk memeriksa jumlah parasit dalam darah.Untuk pasien malaria yang menunjukkan gejala dan hasil diagnosanya dinyatakan positif malaria tetapi tidak sampai parah, pengobatannya antara lain:
  • Pengobatan berbasis-artemisinin yang dikombinasikan (ACT). Metode ini ditujukan pada anak-anak atau orang dewasa (kecuali wanita hamil dalam 3 bulan pertama kehamilan mereka) yang menderita gejala malaria tapi tidak sampai parah. Pengobatan ini diberikan melalui obat yang mesti ditelan (atau jika pasien dianggap tidak dapat menerima obat lewat mulut, dimasukkan lewat anus atau saluran lain).
Untuk pasien-pasien malaria bergejala yang tak sampai parah dengan keadaan tertentu, pengobatannya antara lain:
  • Orang dewasa yang obesitas. Untuk pasien yang mengalami obesitas, dosis obat anti-malaria (seperti ACT tadi) diberikan dalam jumlah yang lebih besar.
  • Wanita hamil dan menyusui. Untuk wanita hamil, terutama di 3 bulan pertama kehamilan, pengobatan yang diberikan meliputi obat quinine + clindamycin selama 7 hari. Sementara wanita hamil yang sudah memasuki trimester kedua dan ketiga, metode pengobatan berbasis-artemisinin yang akan diberikan. Sama halnya untuk wanita menyusui. Metode pengobatan berbasis-artemisinin dianggap aman untuk mereka karena hanya sejumlah kecil zat dari obat tersebut yang ikut terbawa melalui air susu ibu.
  • Bayi dan balita. Terapi ACT dianggap aman bagi bayi dan balita dengan beberapa pengecualian. Pengecualian ini berlaku pada bayi yang baru berusia beberapa minggu, serta juga pada bayi usia 6 bulan. Ada juga zat tertentu yaitu tetracycline yang mesti dihindari untuk bati, Bagi bayi yang beratnya kurang dari 5 kg, dosis obat akan disamakan dengan bayi yang memiliki berat 5 kg.
  • Pasien penderita HIV. Pasien HIV berisiko menderita malaria serta kematian karena malaria. Beberapa penelitian bahkan berpendapat bahwa penanganan malaria pada kelompok pasien ini diberikan dengan meningkatkan pengobatan imunosupresan. Namun, hal ini akan berakibat  pada respon yang kurang terhadap obat-obatan anti-malaria. Untuk pencegahan hal tersebut, penggunaan artesunate + SP dihindari jika pasien sedang dalam pengobatan co-trimoxazole. Selain itu, penggunaan artesunate + amodiaquine juga dihindari jika pasien sedang dalam pengobatan efavirenz atau zidovudine.
  • Pelancong yang tidak imun terhadap malaria. Apabila ada turis yang berasal dari negara-negara di mana penyakit malaria tidak ditemukan atau jarang terjadi di sana, orang-orang ini berisiko menjadi penderita malaria yang parah. Pengobatan ACT dianggap manjur bagi para pelancong yang mengalami gejala malaria tapi tidak sampai parah.
  • Pasien penderita hiperparasitemia (parasit malaria sudah padat di dalam darahnya). Pasien dengan kondisi ini mesti dimonitor secara ketat selain diobati menggunakan terapi ACT.
Untuk pengobatan pasien penderita malaria yang parah, obat anti-malaria mesti diberikan baik lewat anus atau saluran lain dengan segera. Selain itu, terapi ACT juga mesti diberikan lewat mulut dengan dosis yang penuh/maksimal. Pasien dengan malaria parah juga mesti ditangani secara intensif di ICU. Pengobatan yang akan dijalankan pada mereka antara lain:
  • Terapi cairan (seperti diinfus)
  • Transfusi/pemberian darah
  • Penggunaan antibiotik bersama dengan pengobatan-pengobatan tadi
Bagi wanita hamil yang menderita malaria parah, khususnya wanita dalam masa 3 bulan kedua serta ketiga kehamilan mereka, pengobatan menggunakan artesunate melalui saluran-saluran dalam tubuh selain mulut. Pengobatan menggunakan artesunate ini dijalankan selama keseluruhan masa kehamilan, dan jika artesunate tidak tersedia, artemether atau quinine dapat diberikan sampai artesunate tersedia.Baca juga: 9 Obat Malaria Alami yang Mudah Dibuat di Rumah

Komplikasi

Malaria yang tidak diobati dengan baik dapat menimbulkan komplikasi berupa:
  • Anemia
  • Malaria serebral
  • Masalah pernapasan
  • Gagal hati dan penyakit kuning
  • Syok (penurunan aliran darah secara tiba-tiba)
  • Perdarahan spontan
  • Kadar gula darah rendah
  • Gagal ginjal
  • Pembengkakan dan pecahnya limpa
  • Dehidrasi
Baca juga: Bisakah Penyakit Malaria Kambuh Lagi? Deteksi Gejalanya! 
Dokter dapat menyarankan tindakan berikut untuk mencegah malaria:
  • Gunakan obat anti-nyamuk di tempat tinggal untuk membunuh nyamuk yang mungkin dapat menyebabkan malaria
  • Gunakan kelambu ketika tidur untuk mencegah nyamuk menggigit badan
  • Gunakan losion anti-nyamuk untuk menghindari gigitan nyamuk
Hingga saat ini, belum ada vaksin yang dapat mencegah malaria. Maka dari itu, hindari risiko tergigit oleh nyamuk, terutama di daerah di mana penyakit malaria ditemukan.
Segera hubungi dokter apabila Anda mengalami demam tinggi, terutama setelah mengunjungi daerah dengan tingkat risiko penyakit malaria yang tinggi.Baca jawaban dokter: Saya sedang sakit malaria, jika di cek antigen apakah akan berpengaruh?
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, seperti:
    • Apakah penyebab dari gejala-gejala saya?
    • Apakah saya perlu dites?
    • Apa pengobatan yang bisa saya dapat? Pengobatan mana yang direkomendasikan ke saya?
    • Apakah ada efek samping dari pengobatan yang dianjurkan?
    • Berapa lama setelah berobat hingga saya akan merasa lebih baik?
    • Kapan saya bisa kembali beraktivitas di kantor atau sekolah?
    • Apakah saya memiliki risiko komplikasi jangka panjang?
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait malaria?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis malaria agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Diagnostik malaria. https://pusdatin.kemkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/buletin/buletin-malaria.pdf
diakses pada 12 Mei 2021

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/malaria/
diakses pada 12 Mei 2021

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/malaria/symptoms-causes/syc-20351184
diakses pada 12 Mei 2021

Web MD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/malaria-symptoms#1
diakses pada 12 Oktober 2018

WHO guidelines for malaria. https://apps.who.int/iris/rest/bitstreams/1332432/retrieve
diakses pada 12 Mei 2021

Buku Saku Penatalaksanaan Kasus Malaria. http://www.pdpersi.co.id/kanalpersi/data/elibrary/bukusaku_malaria.pdf
diakses pada 12 Mei 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email